
Pagi hari di Apartemen
Sepanjang malam, Al dan Lisha menghabiskan waktu bersama. Lisha menceritakan bagaimana ia hidup sebagai tenaga sukarela di sebuah klinik kesehatan setelah meninggal rumah. Ia juga menceritakan bagaimana usahanya untuk mencari Al namun tidak menemukan jejaknya sama sekali.
Usai sholat subuh, Al membuka akun tradingnya sementara Lisha pergi ke dapur. Naluri keibuan, ia ingin menyiapkan sarapan untuk putra tercinta.
"Ma....," Al menghampiri Lisha yang tengah membuat minuman hangat. Ia menatap penuh haru wanita yang ada di depannya. Dengan sedikit menunduk dipeluknya kembali tubuh mungil itu.
"Bagaimana makanmu? Aku melihat kulkas kosong. Tidak ada stok makanan di sana," tanya Lisha cukup khawatir.
"Biasanya beli, sesekali ada yang masakin juga. Belum satu Minggu aku di sini. Aku terpaksa pindah untuk sementara waktu karena aku sudah lelah bersembunyi,"
" Jadi mama cuma bisa bikin teh hangat. Semalam kita tidak tidur sama sekali. Minumlah, biar tubuhmu sedikit hangat," ujarnya lagi.
"Bentar, aku pesan sarapan dulu. Mama mau makan apa?" tanya Al sembari melepaskan pelukannya dan merogoh Hp yang ada di saku celananya.
"Apa aja, yang bikin kenyang," sahut Lisha sembari meletakkan bokongnya di kursi.
"Nasi uduk?" tanya Al yang mengikuti Mamanya. Duduk di kursi yang ada di ruang makan.
"Boleh," sahut Lisha. Ia menyodorkan mug yang berisi teh hangat itu ke arah Al yang duduk di samping.
"Apa mereka masih mengusikmu?" tanya Lisha cukup serius.
Al menceritakan semua yang terjadi setelah ia memutuskan untuk menemui Papanya. Semua. Termasuk Al terpaksa harus menemui pria itu di kediaman istri ketiganya.
"Jadi ia sudah menikah lagi," guman Lisha sedih.
"Ma, apa Papa tidak pernah mencarimu?" tanya Al penasaran.
"Waktu itu, Mama pergi karena ada bakti sosial yang diadakan oleh komunitas peduli kesehatan bekerjasama dengan IDI di Ujung Kulon. Mama izin sama Papamu selama dua hari. Namun ketika mama pulang, tidak diizinkan masuk oleh penjaga rumah yang baru. Mama juga tidak bisa menghubungi pak Komar maupun Papamu. Penjaga keamanan itu bilang sedang tidak ada orang di rumah. Kalian sedang berlibur,"
"Mama percaya?"
"Karena tidak diizinkan masuk, Mama menunggu untuk beberapa waktu di luar, namun tidak ada yang keluar rumah. Mama ke rumah Pak Ben tetangga kita, mereka bilang pagi-pagi masih melihat Maria dan anaknya keluar rumah. Mama putuskan untuk kembali ke yayasan dan menginap di sana sambil terus menghubungi Pak Komar dan Papa. Tidak satupun yang berhasil, seperti papa memblokir mama. Satu hari kemudian, mama terima foto yang dikirim dari hp papamu. Papa menceraikan mama. Talak tiga," ujar Lisha yang mendadak menjadi sedih.
"Benarkah?" tanya Al tidak yakin.
"Iya, sampai sekarang mama masih menyimpan surat itu. Sudah mama print,"
Al diam, dia mencoba mengingat bagaimana sikap Papa-nya selama ditinggal oleh Lisha. Pria itu memang tidak pernah mencari tau, bahkan ia begitu percaya jika Lisha sudah meninggalkannya tanpa alasan.
"Papa tidak pernah cerita itu padaku. Ia hanya bilang kalau Mama meninggalkannya tanpa alasan,"
__ADS_1
"Faktanya begitu. Dia tidak menginginkan aku kembali ke rumah itu,"
"Ma," Al memeluk wanita itu. Ia ingin memberikan kekuatan pada wanita yang begitu disayanginya itu.
"Sudahlah, kita tidak usah mengingatnya lagi. Semua sudah lewat," Lisha mencoba menghibur diri.
[ Ceklek ] suara pintu di buka, bersama dengan munculnya Ken dengan wajah sumringahnya.
"Assalamualaikum," ucap gadis itu yang langsung mendapati Al dan Mamanya di ruang makan.
"Waalaikum salam," sahut Lisha dan Al nyaris bersamaan. Lisha memandang lekat pada Ken yang menjinjing kotak makanan.
"Maaf, aku hanya ingin mengantarkan sarapan," ujarnya dengan nada yang ragu dan malu.
"Sini," ajak Al karena Ken masih saja berdiri di ruang tamu.
Ken melangkah pelan menuju ruang makan. Senyum yang terkesan dipaksakan itu terus mengembang.
"Ma, ini Keny, putri Bu Ros. Bu Ros itu yang bantuin Al mengurus rumah," Al memperkenalkan Ken pada sang Mama karena wanita itu terus saja memandang Ken yang sudah berdiri di sisi meja makan.
Lisha melemparkan senyum manisnya ke arah Ken, begitu juga gadis itu. Ken juga menundukkan kepalanya tanda hormat pada perempuan yang di panggil Mama oleh Al.
"Kamu bawa apa?" tanya Al mencairkan suasana di antara mereka. Sementara pandangannya tidak bergeser sedikitpun. Mata itu terus saja memandang Ken yang terlihat begitu beda pagi itu.
Ya, pagi ini Ken mengenakan pakaian yang dibelikan Al beberapa hari yang lalu di butik milik Nora. Penampilannya sangat berbeda dari biasanya. Ia terlihat anggun dan elegan.
"Nasi goreng seafood dan salat buah," Ken meletakkan box susun dua itu di atas meja. Ia sadar, dua pasang mata yang ada di depannya itu terus saja menatapnya.
"Aku ambilkan piring dulu," Ken bergegas menuju ke dapur dan menyiapkan perlengkapan makan.
Setelah Ken kembali lagi ke meja makan, Al dengan sigap membantu gadis itu menyiapkan piring. Membuka box nasi yang berisi nasi goreng yang masih hangat dan menyendok untuk dirinya sendiri ke piring yang ada di depannya.
"Aku suka banget sama nasi goreng buatannya. Rasanya ngangenin, Ma," ujar Al begitu polos.
Ia tidak sadar atas ucapan itu. Seketika itu juga kedua pipi Ken memerah karena ia menangkap senyum simpul dari wanita yang duduk di samping Al.
"Duduklah, kita makan bareng," ajak Lisha yang masih melihat Ken tetap berdiri di sisi meja.
"Kamu kok udah duluan aja, bukannya mama diambilin, gitu," Lisha pura-pura merajuk karena melihat Al yang sudah lebih dulu menyuap makanannya sementara yang lain masih asik memperhatikannya.
"He..he... iya, Ma. Maaf. Aku sudah laper banget," sahut Al.
Ken mengisi piring yang masih kosong dengan nasi goreng yang masih tersisa di box dan memberikan pada Lisha.
__ADS_1
"Ini Bu, silahkan," ujar Ken dengan sopan.
"Terimakasih, sepertinya enak banget. Kamu pasti pinter masak sampe Al jadi kelaparan seperti ini,"
"Enggak juga, saya belajar masak dari tutorial YouTube," sahut Ken malu-malu.
"Tapi masakannya enak, pas dilidah aku," puji Al lagi.
Lisha melihat Al yang begitu bahagia pagi itu. Sebagai ibu, ia bisa merasakan bahwa anaknya sedang jatuh cinta. Memang tidak dipungkiri, wanita muda yang tengah ada di antara mereka itu sangat cantik dan anggun. Bahkan Lisha sendiri kurang yakin jika gadis ini anak dari pembantu rumah tangga yang bekerja dengan anaknya itu. Menilik dari penampilannya pagi ini, terlihat pakaian yang ia kenakan adalah barang-barang branded.
"Ibunya pengurus rumah tangga di rumah anakku, putrinya kok keren begini. Terlihat elegan dan terpelajar," gumam Lisha dalam hati.
"Ma, kok bengong aja," tegur Al yang melihat Mama terus mengamati Ken.
"Iya, bener katamu Al, nasgornya enak sekali. Kalau buka restoran pasti laku," puji Lisha.
"Eh jangan! Ngapain buka restoran. Dia hanya boleh masak untukku," sahut Al yang sudah menunjukkan sikap posesif nya.
Lisha hanya bisa tersenyum melihat tingkah anaknya itu. Ia juga bisa melihat Ken yang makin serba salah atas sikap Al yang terus bersikap kenak-kanakan itu.
"Kamu kok ga ikut makan?" tanya Lisha.
"Saya sudah sarapan di rumah, Bu," sahut Ken terpaksa berbohong. Ia hanya membawa nasi
goreng untuk dua porsi saja. Pagi -pagi sudah buru-buru datang ke apartemen dengan harapan bisa menikmati sarapannya dengan Al. Mendapati hal yang seperti ini, ia harus menahan lapar.
"Nasib," keluh Ken dalam hati. Ia meneguk air liur berulang kali melihat ibu dan anak itu makan dengan lahapnya.
Ken harus puas hanya dengan menyaksikan ibu dan anak itu menikmati sarapannya hingga selesai. Ken juga menyiapkan piring dan sendok untuk salad buah yang dibuatnya sendiri sebagai hidangan penutup. Lagi-lagi ia hanya bisa menelan ludahnya sendiri.
"Nyesel banget kenapa aku harus berbohong. Aku jadi laper begini," gerutu Ken makin menjadi.
Ketika ia membereskan piring bekas makan mereka ke dapur, Ken buru-buru minum air putih yang banyak untuk mengisi perutnya. Dua gelas air putih hangat ia tengguk hingga tetes yang terakhir.
"Heeekkk....," suara sendawa keluar dari mulutnya. Entah karena kembung atau masuk angin. Yang ia ingat, terakhir makan nasi sekitar jam 16.00 sore kemarin.
******
Hay semuanya, maaf ya...
Terimakasih atas kunjungan dan kesetiaannya mengikuti cerita ini.
Aku tetap menunggu VOTE, like, dan spam komentarnya di setiap chapter yang aku update.
__ADS_1
Happy reading to semuanya 🤗