Temani Aku, Ken!

Temani Aku, Ken!
Lisha Di Sini?


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan lebih kurang satu jam lewat tol Jagorawi, Al bisa membawa Papanya dengan selamat di kediamannya. Mereka tiba persis saat jam makan siang.


Al membunyikan klakson mobilnya, tidak lama terdengar suara pintu gerbang dibuka dan muncul pak Parman dengan senyum yang mengembang.


"Parkir di dalem, Den?" tanya Pak Parman pada Al .


"Ga usah, di sini aja," Al menghentikan mobilnya di depan garasi rumahnya. Setelah itu Om Ryan dan Baron turun dari mobil dan di sambut oleh Pak Parman dengan menundukkan kepalanya.


"Ayo kita masuk," ajak Al lagi. Pak Parman yang berdiri di situ segera melanjutkan pekerjaannya, membersihkan pekarangan rumah.


Suasana rumah begitu sepi. Al mempersilahkan Om Ryan dan Papanya duduk di ruang tamu.


"Silahkan, Pa. Ini kediamanku," ucap Al mempersilahkan keduanya.


"Asri sekali, meskipun di luar begitu panas masuk ke sini jadi dingin," seru Baron. Ia duduk di sofa ruang tamu yang menghadap ke arah tangga.


"10 tahun yang lalu aku membeli rumah ini. Baru aku tempati 7 tahun terakhir," ucap Al.


"Bukannya kau selama ini tinggal di Singapura dan menjadi kewarganegaraan di sana," tanya Baron kaget.


"Tidak," Al menceritakan bagaimana kondisinya saat dia keluar dari rumah, dibawa pak Komar ke keluarga Bram, trus bekerja di Singapura dan akhirnya memilih kembali ke tanah air.


"Ya Tuhan, maafkan Papa Nak. Selama ini kau berjuang seorang diri. Kau bisa sukses seperti ini, aku tidak punya andil sama sekali. Orang tua macam apa aku ini?" sesal Baron.


"Kenapa bilang begitu? Papa sudah mengizinkanku belajar trading sejak kecil dan itu menjadi sumber utama keuanganku saat ini," sahut Al berusaha bijak.


Ken datang membawa nampan yang cukup besar. Ada mangga dan sawo segar yang ia hidangkan. Sebagai minuman ia juga membawa tiga gelas jus jambu dan air mineral botol.


"Silahkan," usai menghidangkan minuman, Ken kembali lagi ke dapur. Ia harus menyelesaikan tugasnya, bakar ikan yang sudah dipesan oleh Al sebelumnya.


"Banyak sekali," seru Ryan.


"Semua hasil kebun. Kita harus hidup sehat dengan mengkonsumsi buah-buahan segar," ucap Al.


"Al, kau sudah datang," suara Lisha yang muncul dari kamarnya mengagetkan Baron. Lisha hanya melihat Al dan Om Ryan karena Baron duduk membelakangi kamar itu. Tanpa harus membalikkan tubuhnya, Baron tahu persis siapa pemilik suara itu.

__ADS_1


"Lisha," pekiknya tertahan. Jantungnya berdegup kencang, tubuhnya tiba-tiba menjadi kaku.


Lisha menghampiri putranya dan memberi salam pada Om Ryan. Namun langkahnya terhenti, karena Baron berdiri dari tempat duduknya dan memandangnya dengan tidak percaya.


"Kau ada di sini?" seru Baron tidak percaya. Ekpresi wajahnya susah untuk dimaknai. Antara senang dan kecewa berbaur di wajah yang sudah mulai terlihat kerutan halus itu.


Suasana di ruang itu mendadak menjadi hening, Lisha menahan langkahnya sementara Baron terus saja memandang istri yang memilih pergi dan meninggalkan keluarganya itu.


"Aku baru menemukan Mama seminggu yang lalu dan aku memaksanya tinggal di sini agar keberadaannya tidak di ketahui Maria dan anaknya," ucap Al berusaha mencairkan suasana.


"Ayo, Ma," Al yang sudah bangkit dari tempat duduknya menghampiri Lisha, membawa mamanya untuk duduk bersama mereka.


"Aku rasa sudah saatnya mengakhiri kesalahfahaman ini. Kalian tidak bersalah, hanya saja Maria yang menghendaki agar kalian tidak bersatu," ucap Al sembari memapah tubuh Lisha yang mendadak menjadi kaku itu untuk duduk di sisinya, di depan Baron.


Al menjelaskan pada kedua orangtuanya, apa tujuan ia mempertemukan keduanya. Sangat hati-hati, ia tidak ingin salah satu dari mereka tersakiti, terlebih perasaan Mamanya yang begitu lembut.


"Aku terus mendatagi rumah untuk bertemu anakku namun tidak pernah diijinkan masuk oleh penjaga rumahmu. Terakhir kau mengirimkan surat cerai untukku. Sejak itu aku tidak pernah kembali ke rumah itu?" Jelas Lisha, menyambung penjelasan yang sudah uraikan Al.


"Surat cerai?" tanya Baron bingung.


"Iya, kau mengirimnya dari ponselmu, bagaimana kau tidak tahu?"sahut Lisha geram. Sebagai suami, Baron tahu. Jika nada suara perempuan yang begitu dicintainya itu sudah seperti itu, berarti perempuan ini sedang kesal dengan. Baron mencoba untuk mengembangkan senyumnya meskipun terlalu getir.


"Maaf, jika menilik dari apa yang sudah kita ketahui, bisa jadi ini ulah Maria. Apa nyonya masih menyimpan surat itu?" Tanya Om Ryan.


Lisha mengeluarkan Hp miliknya yang sudah terlalu ketinggalan zaman, ia memperlihatkan foto surat cerai yang dikirim dari nomer ponsel suaminya, tertera tanggal 11/05/2009, pukul 23.10 WIB. Meskipun ss foto itu terlihat buram, namun nama Lisha dan Baron jelas tertulis di sana.


"Berarti dia menggunakan ponselku saat aku lengah," gumam Baron. Lisha hanya diam, ia percaya suaminya tidak pernah bohong padanya namun ia butuh waktu untuk menata hari.


"Kau juga bisa lihat ini, aku baru mengetahuinya. Ryan yang memberikan semua ini padaku. Dia bilang sejak Barent lahir, suaminya meninggalkan mereka. Dia harus banting tulang agar bisa membayar kontrakan dan cukup untuk makan," kenang Baron. Ia memberikan lembaran kertas yang didapatnya dari Om Ryan pada Lisha


"Iya, aku masih ingat. Itu kau ucapkan waktu kau minta izin menikahi," sahut Lisha. Tangannya terulur untuk mengambil kertas yang diberikan suaminya.


Beberapa saat ia mengamati lembaran itu satu persatu. Keningnya mengeryit, matanya terbelalak. Ia tidak menyangka Maria mempunyai keberanian untuk melakukan semua itu. Lisha hanya bisa menarik nafas panjang.


"Ternyata dia masih berstatus sebagai istri sah dari Kadir dan tujuannya melakukan ini semua hanya untuk menguasai hartaku," ujar Baron makin geram.

__ADS_1


Om Ryan juga baru mengetahui hal itu, ia jadi terharu. Selama ini ia tau dari Maria jika Nyonya rumah itu sudah dicerai oleh suaminya.


"Licik sekali wanita itu," gumam Om Ryan ikut kesal.


"Maafkan aku, karena ulahku kalian berdua menjadi menderita," Baron sangat menyesali ulahnya.


"Sudahlah, Pa. Al senang Papa dan Mama sudah ketemu. Aku harap kalian mau tinggal di rumah ini. Untuk sementara aku akan tetap di apartemen," pinta Al pada kedua orangtuanya.


Baron dan Lisha saling pandang, ia tahu anaknya menginginkan mereka bersatu lagi. Keduanya hanya diam sampai Al mengangetkannya.


"Apa papa takut ketahuan Maria?" selidik Al.


"Sejak aku memberikan diskotik Adisa itu padanya. Dia jarang pulang ke rumah,"


"Papa memberikan diskotik itu padanya?" tanya Al tidak percaya.


"Aku sudah lama mencium adanya judi dan prostitusi di tempat itu makanya aku serahkan sepenuhnya secara resmi pada mereka. Tinggal sentil sedikit, mereka berdua akan mendekam di penjara dan aku tidak punya urusan dengan itu semua," jelas Baron meyakinkan.


"Aku sempat membaca timeline berita online bahwa ada laporan masyarakat jika di sana sering ada pesta narkoba namun beberapa kali dilakukan penggerebekan ternyata tidak terbukti," tambah Om Ryan.


"Pasti ada oknum yang melindungi, nanti kita pakai cara yang lain. Jangan tergesa-gesa," ujar Baron lagi.


"Kita bisa memikirkannya nanti. Sekarang waktunya makan siang. Papa dan Om Ryan belum pernah nyobain ikan bakar homemade, kan? Ayo kita makan?" ajak Al. Mendengar itu, Lisha segera berdiri dari tempat duduknya dan beranjak ke meja makan untuk memastikan semuanya sudah siap di meja.


"Ayo Pa, Om ....," Ajak Al lagi. Ia sudah berdiri lebih dulu dan berjalan menyusul mamanya. Baron dan Om Ryan menyusul di belakang.


*******


Terimakasih atas kunjungan, sebelum membaca mohon dibantu


✓ VOTE


✓ LIKE, dan


✓ KOMENTAR-nya

__ADS_1


Bagi yang suka spam komentar diperbolehkan kok, agar novel ini tidak sepi seperti kuburan.


Dukungan dari kalian semua membuat saya makin semangat untuk update, vitamin yang luar biasa mujarabnya untuk menyelesaikan cerita ini. Terimakasih!


__ADS_2