Temani Aku, Ken!

Temani Aku, Ken!
Makan Siang


__ADS_3

Setelah menemukan panci grill untuk bakar Ikan, Ken membuka tutorial penggunaan panci itu di YouTube agar tidak terjadi kesalahan lagi.


Kini ikan yang sudah dibumbui itu ia panggang hanya dengan menambahkan campuran kecap, perasaan jeruk nipis, lada bubuk, dan sedikit garam sebagai polesannya. Semua ia pelajari dari internet karena selama ini belum pernah masak yang serumit ini.


"Beli ikan bakar satu bisa buat dua kali makan," pikir Ken dalam hati. Kenapa harus repot-repot masak sendiri. Otak ngiritnya segera bekerja kalau soal makanan dan tenaga.


"Mau makan enak tapi repot, mending makan yang ada bisa nyantai," ocehnya lagi.


"Tapi kalo segede ini berapa harganya, ya?"


"Kenapa tidak dipotong dua, gitu. Kok hanya dibelah begini aja,"


Ken terus mengamati ikan yang besarnya nyaris segede bahunya itu tergeletak memenuhi panggangan. Dibolak-baliknya ikan itu agar matengnya merata.


"Mungkin orang aneh itu maunya seperti ini?" pikirnya lagi.


Setelah terlihat coklat dan sedikit gosong, ikan itu tetap ia biarkan di atas panggangan agar tetap hangat, kini ia menyelesaikan sop jamur karena air kaldunya sudah mendidih.


Sambel kecap dan kerupuk udang sudah siap lebih dulu di atas meja. Begitu juga nasi yang sudah ia tempatkan dalam wadah keramik itu juga masih terlihat ngebul.


"Sopnya sudah pas, kayaknya," setelah Ken mengoreksi rasa dari masakannya itu.


"Tempatkan dalam mangkok, taro di meja makan," perintah Ken pada dirinya sendiri.


"Ikannya juga, letakkan pada piring oval yang besar," lanjutnya lagi.


"Lalapannya belum ada?"


Ken membuka kulkas, memilah-milah tumpukan box yang tersusun rapi, mencari keberadaan lalapan. Ia hanya menemukan timun dan selada air.


Ken hanya mengambil satu timun, satu tomat, dan dua rumpun daun selada.


Setelah memotong-motongnya menjadi beberapa bagian, Ken menyusunnya ke dalam piring yang sudah berisi ikan bakar. Semua masakan itu ditata di atas meja makan. Tidak lupa piring dan satu gelas air hangat juga disiapkannya.


"Sudah seperti di rumah makan," senyumnya puas.


Kali ini ia tidak membuat catatan seperti tadi lagi, Ken hanya meninggalkan kertas kosong dan pulpen di atas meja. Berharap bosnya itu faham dengan maksudnya.


"Kan dia lebih tua dariku. Masa tidak faham maksud benda ini ada di sini," lagi-lagi Ken bicara pada dirinya sendiri.


"Ha..ha.....ha.....," tawanya menahan geli.

__ADS_1


Ken berdiri sejenak di samping meja makan itu, ia mengamati hasil kerjanya sambil mengingat-ingat barang kali ada yang terlupakan. Setelah ia yakin tidak ada yang tertinggal, Ken menutup makanan itu dengan tudung saji dan kembali ke kamar.


"Pas, ini waktunya bos besar makan siang," ucapnya yang masih berdiri di samping pintu.


Seperti biasa, ia ingin tahu apakah bosnya itu sudah turun atau belum.


"Sejak di sini, pekerjaan tambahanku kok jadi tukang ngintip. He...he......,"


Jantung Ken berdebar-debar juga menunggu orang itu turun dari kamar atas. Ia ingin segera tahu bagaimana hasil kerjanya kali ini. Semoga jerih payahnya kali ini membuahkan hasil. Jadi keringat yang masih mengalir di keningnya ini segera terbayar jika usahanya kali ini tidak salah lagi.


Dugaannya tidak meleset, pria itu turun dan langsung menuju ke meja makan. Ia membuka tudung saji dan sekilas melihat hidangan yang sudah tersaji di atas meja. Mencium aromanya sesaat. Mencuil ikan bakar dan mencicipinya


Pria itu diam sejenak. Tak lama kemudian, ia mengambil air minum dan meneguknya setengah bagian dengan tenang. Tanpa di duga oleh Ken, ia beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan ruang makan. Bukan ke kamarnya namun ia melangkah ke arah pintu depan.


"Ada apa ini?"


"Apa masakannya ga enak?"


"Kemana dia pergi," pertanyaan- pertanyaan itu bertubi-tubi memenuhi kepala Ken.


"Ya, Tuhan. Salah lagi. Aku sudah berusaha masak sebisa mungkin. Kuotaku abis hanya untuk buka tutorial memanggang ikan. Ternyata masakannya ga di makan," Ken jadi mewek saat itu juga.


Cukup lama ia menunggu, barang kali yang punya rumah berubah pikiran dan kembali lagi ke meja makan. Satu menit.....dua menit......tiga menit......dia tidak muncul juga.


Tangannya yang sudah mengepal, ia tunjukan ke tembok kamar dengan sekuat tenaga.


"Aduh," pekiknya lagi karena menahan sakit.


*****


POV Al


Dari kamarnya dia sudah mencium aroma ikan yang begitu wangi. Perutnya yang sudah kosong semakin berisik untuk diisi makanan. Begitu anak Bu Ros selesai masak, Al langsung turun. Bergegas menuju ke meja makan.


Benar saja, di meja sudah tersaji makan siang yang serba ngebul. Aromanya begitu menggugah selera. Al mencuil ikan yang masih panas itu dengan ujung tangannya.


"Enak," bisiknya senang.


Ia melihat hanya ada potongan tomat, timun, dan daun selada yang ada dipiring itu. Padahal jika makan ikan bakar ia paling suka bareng lalapan kemangi.


"Dia belum faham seleraku," pikirnya.

__ADS_1


Setelah membasahi mulutnya dengan setengah gelas air, Al bergegas meninggalkan meja makan. Ia ingin memetik kemangi yang di tanam Pak Parman di samping kolam ikan.


"Sementara menunggu masakan agak dingin. Bisa mendidih lidahku kalo semuanya masih ngebul begini," ujarnya lagi.


"Cari apa, Den?" tanya Pak Parman yang sedang mengganti air kolam.


"Mau ambil kemangi buat makan ikan bakar,"


"Oh, pasti Ken belum tau kalau disini ada lalapan," ujar Pak Parman.


"Ken?" Al mengeryitkan keningnya.


"Itu, anaknya Bu Ros. Namanya Keny siapa gitu, tapi dipanggilnya Ken,"


"Oh," Al menanggapi dengan bergumam.


"Yang sebelah sini Den yang masih muda, itu sudah pada berbunga. Terlalu tua kalau untuk lalap," Pak Parman menunjuk ke arah tanaman kemangi yang belum berbunga.


Al memetik segenggam kemangi yang masih muda dan mencucinya hingga bersih dengan air selang yang ada di tangan Pak Parman.


"Cukup, Pak," ujar Al setelah cukup lama Pak Parman mengarahkan air itu ke arah Al.


"Aku makan duluan ya, Pak. Udah laper," ujar Al sembari berdiri dan meninggalkan tempat itu.


"Iya, Den. Bapak bersiin kolam dulu. Tanggung," sahut pak Parman yang entah didengar atau tidak oleh majikannya itu karena jarak mereka sudah begitu jauh.


Dengan semangat, Al kembali lagi ke meja makan dengan segenggam daun kemangi yang baru dipetiknya sendiri di kebun


Ia sudah tidak sabar ingin menikmati ikan bakar yang hangat dengan lalapan kemangi.


" Ssettt.....,"' buru-buru ia menahan air liurnya yang mendadak keluar membasahi rongga mulutnya.


*******


Happy reading all! Author tidak bosan-bosan minta dukungannya. Mohon untuk tinggalkan


✓ LIKE


✓ KOMENTAR


✓ VOTE -nya ya

__ADS_1


Apresiasi dari kalian semua membuat saya semakin bersemangat untuk update, terimakasih!!!


__ADS_2