Temani Aku, Ken!

Temani Aku, Ken!
Pulanglah!


__ADS_3

Harusnya kau tahu, aku menemukan surga yang ku cari pada tatapan itu.


Aku ingin memelukmu selama mungkin, menatap keteduhan itu dalam dekapmu. Merasakan ketenangan itu dari hembusan nafasmu.


******


[ POV Ken ]


Siang itu, jam sudah menunjukkan pukul 11.30 WIB. Sesaat lagi aku harus cek out dari kamar ini karena yang menginginkanku ada di sini menghendaki demikian.


Ia masih di kamarku. Sejak pagi ia tidak meninggalkan ruang ini barang sebentar saja. Ia duduk di sisi kasur, di samping nakas sembari menikmati kopi yang aku buatkan untuknya.


Aku juga membuat secangkir kopi untuk diriku sendiri. Memilih menikmatinya dengan duduk di kursi yang ada di hadapannya.


Sejak sarapan, kami hanya berdiam diri di kamar. Tidak ada yang bisa kami lakukan kecuali duduk sambil ngobrol dan nonton TV. Dia tidak membiarkan sendirian di kamar ini.


"Maaf, kau harus pulang hari ini. Ada baiknya kau di rumah saja. Menunggu hingga suasana benar-benar membaik," tukasnya. Ia menyeruput kopi yang masih hangat itu dengan pelan.


Aku tersenyum sambil mengangguk ragu. Berharap dia memintaku untuk bertahan atau paling tidak memintaku menemuinya kembaki di sini. Aku ingin menghabiskan waktu bersama meskipun aku tahu ada jurang terjal yang menghalangi kami.


"Pulang sendiri, ya?" Senyumnya masih mengembang, senyum yang begitu ku suka. Aku hanya bisa mengangguk, membalas senyumnya.


"Maaf belum bisa menemani?" Ujarnya lagi. Ada nada sesal dari ucapannya kali ini.


Aku menatapnya jengah, salah tingkah.


" Ya Tuhan, Aku harus jawab apa?" Pikirku makin bingung.


"Sejak mengenalmu beberapa waktu lalu, aku begitu ingin bisa melihatmu setiap saat. Seperti ini," suara itu terdengar lagi.


"Kenapa?" tanyaku memberanikan diri. Aku menatap bola mata itu, yang tengah tertuju padaku. Pandangan kami pun bertemu.


Dia kembali mengangkat alisnya. Meletakkan cangkir yang ada ditangannya ke atas nakas, membetulkan tempat duduknya sebelum menjawab, "Kamu perhatian dan bertanggung jawab, meskipun ceroboh dan sangat cengeng,"


Mendadak aku kembali salah tingkah. Antara senang dan jengkel campur jadi satu.


"Enak aja dia bilang aku cengeng,"

__ADS_1


"Wajahmu selalu memerah kalau lagi salah tingkah. Kurasa itu yang paling kusuka dari semuanya," katanya lagi membuatku kian jengah.


"Jadi, selama ini merhatiin aku?" Aku balik bertanya.


Dia hanya tersenyum, tak menjawab pertanyaanku. Cukup lama dia diam, menikmati tegukan kopi yang masih tersisa. Sesekali ia memandangku. Sungguh dia semakin membuatku salah tingkah.


"Duh, aku benci ini. Benci sekali! Kenapa aku sering salah tingkah di depannya dan membuatku lupa cara bernafas dengan benar.


"Jangan takut. Di rumah tidak ada dedemit atau apapun yang kerap kau pikir. Sawo yang hilang waktu itu, aku yang makan. Box yang pindah ke kulkas, aku yang melakukannya," dia membuat pengakuan bak orang yang tidak melakukan kesalahan. Wajahnya polos tanpa dosa. Ekpresinya juga terlihat begitu datar.


"Hah.... Sialan!" Aku jadi kaget seketika itu juga. Aku bangkit dari tempat dudukku menuju ke arahnya. Reflek, tangan kananku melayangkan tinju ke arahnya.


"Keterlaluan sekali," teriakku begitu kesal. Aku menyerangnya saat itu juga. Ia benar-benar sudah membuat lelucon recehan yang membuatku mati ketakutan saat itu.


Ia menangkap tanganku dengan cekatan. Tidak menduga aku akan menyerangnya, tubuh itu yang sedikit mundur ke arah kasur membuat tubuhku terhuyung ke arahnya.


Ia memegang kedua tanganku, tubuhnya setengah menahan tubuhku yang terhempas ke arahnya. Terdengar ia mengatur nafasnya yang ngos-ngosan dan membuat wajahku yang mungkin saja memerah terkena kipas alami. Satu tarikan berikutnya, aku sudah tenggelam di dadanya yang bidang. Lagi-lagi, harum tubuhnya membuatku ingin berlama-lama tenggelam dalam pelukannya.


Cukup lama kami saling memandang, ia menarik sudut bibirnya. Mengembangkan senyum yang sulit untuk diartikan ke arahku.


"Sangat tampan, " pikirku lagi hingga aku tidak sanggup mengontrol dengub jantungku sendiri.


"Aku...," terdengar suaranya bergetar. Butuh kekuatan baginya untuk bisa meneruskan ucapannya yang tersendat itu. Ketika ia mulai membuka mulutnya dan ingin melanjutkan kata-katanya, suara dari arah pintu itu membuyarkan segalanya.


"Tok...tok ...tok....," Suara ketukan pintu itu mengagetkan kami.


Ambyar," bisikku dalam hati. Padahal aku masih penasaran, apa yang akan diucapkan olehnya saat itu.


Buru-buru aku menarik tubuhku dari dekapannya. Ia juga bangkit dari tempat tidur begitu tubuh ini sudah tidak lagi menindihnya. Ia bergegas melangkah ke arah pintu untuk mengetahui siapa yang sudah begitu berani mengganggu acaranya kali ini.


"Kenapa di sini?" todongnya dengan nada yang begitu kesal saat ia membuka pintu, ada seorang pria yang tengah berdiri dan tersenyum padanya.


"Lah, kan situ yang minta aku ke sini," pria yang baru datang itu bingung dengan ucapannya.


"Ini bukan kamarku," bentaknya sedikit keras.


"Situ bilang 705, Emang aku salah," pria itu menunjuk nomer kamar yang terpampang di depan pintu dengan memonyongkan bibirnya.

__ADS_1


"Masuklah dulu, sebentar lagi aku menyusul," perintahnya pada tamunya itu sembari menunjuk pada kamar yang ada di depan.


"Kuncinya?" Pria itu mengadakan tangannya ke arah Al.


Al mengambil kartu yang ia letakkan di atas nakas dan membiarkan pintunya dalam keadaan terbuka. Pria yang baru datang itu melongok ke dalam dan mengembangkan senyum terpaksanya ke arah Ken yang tengah duduk di sisi kasur.


"Pergilah," usir Al begitu ia memberikan kartu itu pada tamunya.


"Rupanya kau brengsek juga, bro," ujarnya sembari memutar tubuhnya, menuju ke kamar yang ada didepannya.


*****


"Siapa dia," tanyaku begitu ia sudah menutup pintu dan kembali duduk di sampingku.


"Bram. Aku memintanya ke sini karena ada hal yang perlu diurus," jelasnya padaku.


"Oh," aku hanya mengangguk-anggukan kepala.


Tak lama, bangkit dari tempat duduknya. Ia mengambil tas ransel yang tergeletak di atas nakas dan memberikannya padaku.


"Bawa tas ini. Masa kau keluar dari hotel lenggang tangan doang," ujarnya tersenyum.


Aku mengambil benda itu dan memasangnya pada pundakku secara bergantian.


"Pulanglah," ia membenahi tas ransel yang ada dipundakku. Sesaat kami saling bertukar senyum sebelum akhirnya aku berdiri dan melangkah ke arah pintu. Ia mengikutiku dari belakang, membukan pintu dan membiarkan aku meninggalkannya seorang diri di kamar hotel itu.


"Ya Tuhan, perpisahan macam apa ini? Setidaknya ia memelukku lebih dulu. Memberikan kecupan lembut di keningku sebagai tanda perpisahan," pekikku sembari melangkah menelusuri koridor itu.


"Benar-benar aneh," pikirku dalam hati.


"Hem....kenapa aku berharap ia melakukan itu padaku? Apa kami pacaran?" tanyaku kemudian. Aku tersenyum kecut jika harus mengingat sikapnya beberapa hari terakhir.


"Entahlah, aku tidak berani menafsirkannya," busukku lagi.


*****


Hay semuanya, maaf ya... aku hanya bisa update satu chapter saja karena terbentur dengan tugas kantor yang harus diselesaikan dan butuh konsentrasi penuh. Terimakasih atas kunjungan dan kesetiaannya mengikuti cerita ini.

__ADS_1


Ditunggu.......


VOTE, like, dan spam komentarnnya.


__ADS_2