
Ken sudah sampai di kampus sebelum jam 08.00 WIB. Ia hanya ditemani Al, karena ia malu minta tolong pada temannya yang sudah bekerja. Takut mengganggu waktu mereka.
Ada satu orang teman satu angkatan Ken yang ikut ujian hari ini. Ken baru tahu ketika mereka bertemu saat lapor ke dosen pembimbing bahwa mereka sudah hadir dan siap mengikuti sidang.
Segala perlengkapan sidang sudah pindah ke mobil Al. Mulai dari laptop, buku-buku referensi, hingga minuman hangat. Al sudah membuat kopi untuk Ken. Supaya tidak ngantuk saat menunggu giliran.
"Aku masuk dulu, ya!" Ken ijin pada Al yang duduk di salah satu bangku, di depan auditorium. Di sana juga ada mahasiswa yang menjadi peserta ujian, pihak keluarga dan teman-teman yang sengaja datang untuk memberikan semangat pada peserta ujian.
"Jangan tegang. Kamu pasti bisa," Al memberi suport pada sebelum Ken masuk ruangan. Ia berusaha meyakinkan gadis itu agar tetap semangat.
"Iya, Terimakasih,"
Selain peserta ujian, tidak ada yang diizinkan masuk. Mereka boleh menunggu di aula. Sementara Ken dan teman-temannya sudah siap di ruangan. Segala persiapan untuk ujian sudah beres. Dari snack untuk dosen, makan siang untuk tim penguji dan tidak lupa oleh-oleh untuk penguji semua sudah disiapkan.
Ken cukup membayar sejumlah uang ke pihak kampus dan paniti yang menyiapkan semuanya.Acara akan dimulai dengan pembukaan yang diikuti oleh seluruh peserta sidang.
Selama mengikuti acara pembukaan yang berlangsung sekitar setengah jam itu, Ken terlihat makin cemas. Rasa mules, puyeng, pengen muncul saat itu juga.
"Rasanya pengen banget bisa men- skip hari ini, agar ketegangan itu cepat berlalu," bisiknya dalam hati.
Karena di kampus ini sidang dilakukan dengan sistem sidang tertutup, jadi setelah pembukaan Ken dan mahasiswa lainnya menunggu giliran masuk ke dalam ruangan sidang atau ruang majelis.
Ken mendapat nomor urutan ke- 3 dari 6 peserta sidang skripsi. Masing-masing peserta ujian mendapat waktu 1 jam. Jadi lumayan lama Ken harus menunggu sambil deg-degan.
Maklum saja, tim penguji skripsinya adalah orang penting di kampusnya. Ada ketua jurusan dari salah satu program pascasarjana, ada juga mantan kepala prodi yang terkenal saglek dan dikenal sebagai penguji yang kerap memberikan pertanyaan-pertanyaan menjebak.
Belum lagi Ken banyak mendapatkan cerita mengenai bagaimana pengalaman teman yang sudah lebih dulu lulus. Ada diantara mereka yang tidak lulus dan harus mengikuti ujian ulang.
Meskipun Al sudah menjelaskan, setiap orang punya cerita sendiri mengenai pengalaman sidang, namun tetap tidak bisa mengurangi rasa khawatirnya.
Perasaan makin campur aduk, antara seneng dan tegang, bahkan di sepanjang perjalanan menuju kampus, ia mual mual terus.
Al dengan sabar tetap berusaha untuk menenangkannya, namun tetap saja perasaan itu muncul lagi ketika melihat temannya yang mendapat giliran pertama keluar dalam kondisi bersimbah keringat.
"Minum!" Al menyodorkan teh hangat yang sudah ia siapkan dalam tumbler ke arah Ken.
"Terimakasih," Ken segera meneguk minuman itu dan perutnya yang mules menjadi sedikit berkurang.
Sambil menunggu peserta berikutnya selesai sidang, Ken mencoba menenangkan diri. Padahal jam udah menunjukan pukul sebelas lebih, namun kok belum juga keluar dari ruang.
"Sepertinya ujiannya bakalan molor, keburu Ishoma. Duh...makin parno aja nih," gumam Ken.
"Sabar," ucap Al untuk yang kesekian kali.
__ADS_1
"Kamu pasti bisa, sayang. Yakin itu," Al yang sejak tadi memegang tas wanita itu. Ia mengelus lembut bahu Ken untuk memberikan semangat.
"Insyaallah,"
"Tetap berdoa, semoga diberi kemudahan" bisiknya lembut.
Ken mengikuti apa yang dikatakan Al. Benar,
setengah jam kemudian, mahasiswa yang sedang mengikuti ujian itu akhirnya ke luar. Sedikit berbeda dari peserta yang sebelumnya, wajah mahasiswa itu justru terlihat lebih tenang meskipun masih terlihat sisa ketegangan di wajahnya.
"Sekarang giliran ku yang masuk ke ruang sidang," Ken masih bisa memberi selamat pada teman satu kelasnya itu, sebelum namaya dipanggil untuk masuk ruangan.
"Semangat ya!" seru mahasiswa yang duduk di samping mereka, yang sejak tadi duduk di pojokan dan begitu serius mempelajari skripsinya.
"Iya, terimakasih,"
"Semangat, ya sayang," Al juga ikut bangkit dari tempat duduknya untuk memberikan semangat. Pandangannya mengikuti langkah calon istrinya hingga hilang di balik ruang sidang.
Segala amunisi ujian susah dipersiapkan oleh Ken. Dari Laptop, snack untuk dosen, makalah skripsi pun udah beres. Tinggal menunggu para pengujinya datang.
Dari keempat penguji, baru ada dua yang sudah ada di ruangan. Dosen yang sebelumnya juga menjadi bagian dari tim penguji mahasiswa peserta ujian ke-3.
"Mungkin dia sedang Istirahat," pikir Ken menguatkan diri sendiri.
So finally, ujian di mulai.
"Bismillah," doa Ke dalam hati.
Lcd disambung ke laptop, slide skripsi sudah terpampang di depan para penguji. Ken megambil mic dan mulai memutar slide sambil terus menjelaskan point- point penting dari skripsi yang sudah di selesaikan nya.
Hanya 15 menit waktu yang diberikan padanya untuk melakukan paparan, selebihnya adalah sesi ujian. Ken bisa memanfaatkan waktu itu dengan baik, ia bisa menyampaikan apa yang sudah dibuatnya dalam tayangan slideshow dengan tegas dan jelas.
Kini giliran tim penguji yang bicara, masing-masing dosen penguji dan pembimbing hanya punya waktu 10 menit untuk memberikan pertanyaan, sanggahan, maupun masukkan pada peserta ujian.
Dari keempat dosen yang ada, hanya dua saja yang memberikan pertanyaan. Yaitu penguji satu dan pembimbing dua. Selebihnya hanya minta penjelasan dan memberikan catatan saja.
Ken bisa menjawab dua pertanyaan dari dosennya itu dengan baik. Ia bisa mengungkapkan argumennya sehingga apa yang sudah ditulisnya itu bisa dipertahankan dan dipertanggungjawabkan dengan logis.
Setelah puas memberikan pertanyaan, arahan dan sedikit catatan, akhirnya ujian skripsi kelar. Ken menutup pembicaraan dengan tidak henti-hentinya mengucapkan terimakasih dan menghampiri dosen penguji itu satu persatu untuk mengucapkan terimakasih sebelum meninggalkan ruangan.
Saat ia keluar, wajahnya justru terlihat lebih segar, seperti orang yang baru saja selesai membuang hajat di kamar mandi.
"Alhamdulillah," ucap Ken begitu lega.
__ADS_1
Al yang sudah tidak sabar menunggu, segera menghampiri Ken yang masih berdiri di depan ruang sidang.
"Bagaimana?" tanyanya penasaran.
"Alhamdulillah, Lancar!" sahut Ken begitu senang.
"Alhamdulillah, selamat ya, sayang," tanpa sadar Al merangkul bahu Ken dan menghujani wanita itu dengan kecupan di kening.
"Hus ...ini di kampus," sergah Ken. Ia melepaskan rangkulannya dan menjaga jarak dari Al.
"Sorry, aku lupa. Saking bahagianya," ucap Al malu karena beberapa orang yang ada di ruang ini menatap tajam ke arahnya.
"Apa sudah boleh pulang," tanya Al tidak sabar.
"Waktunya Ishoma, ujian di break dulu. Bagaimana kalau kita cari makan," ajak Ken pada ketiga orang itu
"Harus balik lagi ke sini?" tanya Al heran.
"" Iya, kan ada penutupan dan penerapan kelulusan,"
"Oh, aku kan ga pernah kuliah jadi mana faham," ucap Al sembari tersenyum menyeringai.
*Ach....kenapa dibahas lagi,"
"He...he....," Maaf ucap lagi.
"Aku mau makan yang banyak," ucap Ke n atusias.
"Yuk, biar bisa kembali secepatnya," ajak Al lagi.
🌳🌳🌳🌳🌳🌳
Terimakasih atas kunjungan, sebelum membaca mohon dibantu
✓ VOTE
✓ LIKE, dan
✓ KOMENTAR-nya
Bagi yang suka spam komentar diperbolehkan kok, agar novel ini tidak sepi seperti kuburan.
Dukungan dari kalian semua membuat saya makin semangat untuk update, vitamin yang luar biasa mujarabnya untuk menyelesaikan cerita ini. Terimakasih!
__ADS_1