
Sepulangnya Om Ryan dan Bram, kini tinggal mereka berdua. Ken masih duduk ditempatnya semula, sedang Al menggeser tubuhnya, mendekati gadis itu.
"Aku keterlaluan, ya?" tanya Al merasa menyesal.
"Ga, orang yang punya kuasa kan bebas," sahut Ken. Ia berusaha tersenyum meskipun terasa hambar.
"Marah?"
"Enggak, aku kan berhutang banyak padamu. Mana berani aku marah,"
"Tapi kok nada bicaranya begitu?"
"Maunya seperti apa? Dari dulu juga begini-begini aja. Ga ada yang dibuat-buat,"
Al makin yakin jika Ken merasa kesal dengan tingkah. Karena Ken tidak mau menunjukkan kekesalannya, ia memilih minta maaf daripada sepanjang hari Ken bersikap seperti itu.
"Ok ...ok.....aku janji. Ga akan mengulanginya. Aku memang keterlaluan. Selalu saja bersikap tidak sopan pada kakak iparku," ucapnya menyesal.
"Kakak iparmu?" kini malah Ken yang bingung.
"Iya, kau marah karena aku terus-menerus menyebut Barent dengan panggilan anak tukang parfum kan?"
"Enggak, aku ga bilang seperti itu. Kalau Barent itu benar-benar kakakku berarti kalau kita jadi menikah kau juga akan di sebut sebagai menantu tukang parfum. Adil kan?"
Al nyengir kuda mendengar ucapan Ken, "He....he. ... benar juga, ya?" Gumamnya sambil garuk-garuk kepala.
"Kecuali jika kau mempertimbangkan untuk tidak melanjutkan hubungan kita. Mungkin kau malu punya mertua penjual parfum,"
"Udah, ga usah dibahas. Aku kan sudah minta maaf,"
"Iya, hari ini minta maaf besok juga diulang lagi,"
"Enggak, aku janji,"
"Kalau kau kesal sama Barent kenapa harus bawa-bawa ayahnya. Pak Kadir tidak punya salah padamu,"
"Iya," Al tersenyum geli.
"Kenapa ketawa?"
"Kau itu kalau bicara seperti itu udah mirip nenek-nenek. Bikin aku takut. Takut kualat,"
Belum juga kelar berdebat, Hp Al berbunyi. Ada panggilan masuk. Ternyata itu dari Barent.
"Nih, baru juga diomongin sudah panas aja kupingnya,"
"Siapa?" tanya Ken sembari melongok ke arah layar Hp.
"Anak........itu maksudku, abangmu," Al baru saja akan menyebut anak tukang parfum namun buru-buru mengoreksi jawabannya.
"Kenapa?" Al langsung tanya tujuan orang itu menelponnya tanpa basa - basi.
"Aku tau dari Om Ryan kalau kau mencari keberadaan Bu Fatma,"
"Terus?"
"Aku ada di yayasan, tempat ibuku membuangnya dulu,"
"Terus?"
Terdengar suara Barent menarik nafas beratnya. Mungkin ia kesal atas tanggapan Al yang sejak tadi hanya bilang terus... dan terus.
"Apa kau mau menemuinya?" tanya Barent cukup lama tidak terdengar suaranya.
"Menemui Bu Fat?"
"Bukan! Pemilik yayasan. Ia punya data yang lengkap tentang identitas Bu Fat dan anak-anaknya,"
"Oh, aku kita Bu Fat ada di sana!"
__ADS_1
Ken yang ikut menyimak pembicaraan mereka, akhirnya ikut bicara.
"Apa aku boleh bicara padanya?" Ken meminta ponsel itu dari tangan Al.
",Hallo, ini Keny. Coba kirim alamat yayasan nya. Aku akan segera ke sana," tanpa basa-basi, Ken langsung bicara pada Barent.
"Iya, aku kirim map-nya. Jika kau mau ke sini, aku tunggu,"
"Aku segera ke sana. Tunggu, Ya,' pinta Ken.
Telpon itu langsung di tutup oleh Barent. Tidak lama kemudian, muncul pesan WA dari Anak tukang parfum yang mengirim Map.
"Nih, terimakasih," Ken memberanikan Hp ptu pada Al.
"Kau mau ke sana sekarang?"
"Kalau sudah niat mau mencari keberadaan ibuku, kenapa harus berhenti di jalan. Walaupun tidak ada orangnya di yayasan itu,paling tidak mereka di menyimpan data yang mungkin saja kita butuhkan,"
"Aku ikut," Al segera bersiap-siap.
"Alamatnya mana?" tanya Al lagi.
"Tuh, sudah di kirim map-nya sama anak tukang parfum," sindir Ken.
"Iya, nanti aku ganti nama kontaknya,"
Al terlihat sedang melihat peta lokasi yang dikirim oleh Barent. Ia berpikir sejenak sebelum Berangkat.
"Lokasinya deket, tapi macet. Motornya di rumah,"
"Ga apa, Barent masih nungguin kok,"
*******
Sebenarnya Al mulai tidak bersemangat mencari keberadaan orang tua Ken ketika semua bukti mengarah pada Pak Kadir yang berarti ia akan berhubungan lagi dengan Barent.
Bukan perkara ia anak Pak Kafir tapi Barent yang membuatnya jengah. Sebisa mungkin ia menjatuhkan diri dari Maria, kenapa kok takdirnya muter-muter di situ saja.
Mobil yang dikendarai sudah merayap di jalan raya, sejak mulai berangkat Al melihat orang yang duduk di sampingnya lebih banyak diam. Ia lebih milih memandang carut marutnya wajah jalanan.
"Ken!" panggil Al
"Hem...,"
"Kau baik-baik saja,kan?"
"Iya,"
"Kenapa diam?"
"Aku deg-degan,"
"Aku tidak menyangka, ternyata aku punya saudara. Seperti apa wajahnya?" gumam Ken sembari matanya terus menerawang.
"Iya, kau punya saudara laki-laki. Dua orang lagi. Mereka pasti menyayangimu. Aku jadi takut?"
"Kenapa takut?" Ken mengeryitkan keningnya. Ia belum faham arah pembicaraan Al.
"Kalau aku membuatmu kesal, kau akan lari ke mereka. Bisa-bisa aku babak belur di hajar mereka,"
"Oh, masalah yang itu. Baguslah jika kau berpikir ke situ,"
"Kok ngomongnya begitu?"
"Ha.....ha......kissing,"
"Al, aku berpikir. Jika memang Pak Kadir itu ayah kandungku, aku akan tinggal sama dia,"
"Mana bisa begitu. Aku ga mau. Pokoknya kau harus tetap di apartemen sampai kita menikah,"
__ADS_1
"Ya ga bisa begitu. Aku punya orang tua, selama ini dia tidak pernah tahu keberadaanku, jadi aku ingin punya waktu untuk lebih dekat dengan mereka," pinta Ken.
Sebenarnya ia tidak serius dengan ucapannya. Ken hanya ingin balas dendam. Ingin tau reaksi Al.
Jika ia tinggal dengan keluarga ayahnya, otomatis Al akan lebih sering ketemu dengan Barent.
"Ga bisa. Jika kau punya niat begitu. Aku mau puter balik, nih," Al begitu serius menanggapi.
"Ha...ha....," Ken terkekeh melihat ekpresi Al. Sangat lucu.
"Aku becanda, kok. Aku akan tetap tinggal di apartemen itu karena dekat dengan tempat kerja. Itu juga jika engkau memberi izin,"
"Gitu dong. Kau bisa tinggal sesukamu. Bukankan apartemen itu akan menjadi milikmu. Bukan itu saja, semua yang aku punya akan menjadi milikmu selama kau tidak melepaskan aku,"
"Hem.....,"
"Kenapa? Aneh?" Tanya Al tidak suka dengan ekpresi Ken.
"Kau begitu lucu kalau berusaha untuk romantis. Aku lebih suka melihat wajahmu yang membuatku kesal,"
"Ha...ha..... berarti kita memang jodoh,"
"Oh, ya?"
"Aku juga lebih suka melihatmu cemberut karena teraniaya. Lucu dan menggemaskan,"
"Ih, tega banget,"
Al mengacak-acak rambut Ken dengan tangan kirinya. Al menangkap tangan itu dan membawa ke pangkuannya.
"Terimakasih, ya. Kau sudah berbuat banyajk untukku," Ken mencium lembut tangan itu, hingga Al menarik paksa.
"Jangan ganggu orang lagi nyetir"
Ken Akhirnya kembali diam, Apr ke tempat yang di tuju ia lebih memilih melihat jalan raya daripada melihat wajah Al yang merasa
menang karena sudah mempermainkannya.
******
Setelah berpisah dari Om Ryan, Barent tidak langsung pulang, ia mendatangi yayasan sosial yang pernah di kunjungi ibunya untuk mencari keberadaan Bu Fatma. Entah kenapa, ia punya feeling, pasti ada sesuatu kenapa ibunya sering datang ke situ?
Barent masih ingat, ia pernah melihat Ibunya mengusir perempuan yang ia kenal sebagai pembantu rumah tangganya itu sebelum ia sering diajak ke tempat ini.
Maria juga pernah mengajak Barent menemui seseorang di yayasan itu. Saat itu Maria menjemput Barent dari sekolahnya dan ia bilang ingin mampir, menemui temannya.
Barent bisa mengingat semuanya karena waktu itu ia sudah berusia 8 tahun. Sudah duduk di kelas 2 SD. Kebetulan yayasan itu dekat dengan sekolahnya dan tidak hanya sekali ibunya pergi ke sana.
Yayasan swasta yang di kelola oleh pensiun Bidan Desa itu sangat kecil dan sumpek. Penghuninya makin lama makin banyak sementara donaturnya tidak bertambah.
Barent cukup beruntung, ia bisa bertemu langsung dengan pemilik yayasan. Dari wanita yang sudah berkepala enak itu, Barent banyak mendapatkan informasi.
Dari arsip yang ditunjukkan oleh wanita itu, menang benar. Fatma melahirkan anak kembar, laki -laki dan perempuan di waktu yang sama. Ini dibuktikan oleh surat kenal lahir yang si simpannya.
Barent buru-buru memberitahu Al, sambil menunggu kedatangan Al dan adiknya, Barent menjelaskan tujuannya datang ke sini pada wanita tua itu.
********
Untuk kalian yang masih mengikuti kisah Ken feat Al, jangan lupa meninggalkan :
* Komentar
* Like
* Vote-nya
Dukungan dari anda menjadi semangat imbalan yang tak ternilai harganya. Terimakasih....... Happy reading 😘😘😘
Dan..... numpang promo ya!
__ADS_1
Saya punya novel di rumah sebelah, itu loh rumah yang bercat kuning (Nome), mampir ya..... kepoin. Aku update minimal 2 bab di sana.
The Sevent Day menunggu kedatanganmu 🤗🤗🤗🤗🤗