
"Genit," ujar Al begitu ketus ketika ia berhasil menerobos masuk ke kamar Ken.
"Siapa?" tanya Ken dengan begitu polosnya.
"Itu, yang ngobrol sama pegawai hotel sini. Pake senyum-senyum sok akrab gitu," protes Al.
"Aku?" Ken baru sadar jika yang dimaksud Al adalah dirinya.
"Dia teman kuliahku. Udah lulus lebih dulu dan katanya kerja di sini. Aku juga baru tahu," Ken menjelaskan apa yang terjadi di bawah tadi.
"Sepertinya kalian cukup akrab?"
"Masa sih? Aku ga begitu kenal sama dia. Waktu kuliah juga nyaris ga pernah bertegur sapa. Akrab dari mana?" tanya Ken penasaran.
"Aku sudah bilang, jangan bertegur sapa sama siapapun di bawah!"
"Aku sudah melakukannya. Kalau sama Dicky itu diluar rencana. Namanya ga sengaja ketemu,"
"Pokoknya aku ga mau liat kamu sok akrab, apalagi dengan lawan jenis," larang Al yang terlontar begitu saja.
Ken mendelik, ia nyaris tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.
"Kenapa ada perintah seperti itu? Apa dia cemburu?" Pikir Ken dalam hati.
"Jangan mikir yang macam-macam. Aku tidak ingin terjadi apa-apa padamu. Ingat! Kau di sini atas permintaanku. Jangan sampai karena sifat genitmu itu orang bisa dengan mudah mendekatimu," Al seperahitiannya bisa membaca pikiran Ken.
"Iya, maaf," Ken males untuk berdebat, akhirnya ia memilih mengakhiri pembahasan itu.
Al duduk di sisi tempat tidur. Sementara Ken masih berdiri di mematung.
"Sini," Al meminta gadis itu duduk di sisinya.
Ken mengikuti perintah pria itu. Ia maju beberapa langkah ke depan dan duduk di samping Al.
Al menepuk-nepuk paha Ken yang sudah duduk manis di sampingnya. Terdengar ia menarik nafas dan melepaskannya dengan paksa.
"Maaf, aku sudah bikin kamu ga nyaman," ujarnya dengan suara yang cukup pelan.
Ken tidak menjawab, ia hanya menundukkan kepalanya. Tidak ingin melihat orang yang ada di sampingnya itu.
"Jangan dipikirkan lagi, ya!" pinta Al. Kali ini ia merebahkan tubuhnya di kasur. Sementara kakinya dibiarkan menggantung di sisi kasur.
"Mau ngapain nih kita? Tidur jam segini bisa bikin penyakit," gumamnya lagi.
"Kok diem aja, ngambek?" Selidik Al karena sejak tadi Ken hanya diam saja.
"Enggak,"
__ADS_1
"Kau berani sendirian di rumah?"
"Berani,"
"Kalau malem?"
"Iya, sudah biasa kok. Di kontrakan juga sendiri," Ken tidak mungkin jujur, sebenarnya dia takut kalau malem ga ada temannya di rumah sebesar itu. Apalagi jauh dari tetangga.
"Baguslah kalau begitu," tukas Al.
"Kau bisa fokus nyelesain skripsi mu. Biar Pak Parman yang beres-beres rumah,"
"Jadi beneran bapak ga pulang ke rumah?" tanya Ken ingin memastikan.
"Hemm....bapak lagi!"
"Bingung mau panggil apa?"
"Boleh Abang, Kakak, atau Han?"
"Kok Han, sih?" tanya Ken bingung.
"Honey, maksudnya," sahut Al disertai tawanya yang renyah.
"He...he.....lawak," gumam Ken
"Canda, cuma kalo kamu ga keberatan aku juga ga bisa nolak,"
Lagi-lagi Ken hanya diam. Bingung juga dia, kalau mau manggil Al degan sebutan yang diutarakan Al tadi. Kalau ibunya sampai tahu, bisa murka. Ken bisa dianggap sudah berlaku tidak sopan sama bosnya.
"Jadi beneran ga pulang ke rumah?" Ken mengulang pertanyaan yang belum sempat dijawab oleh bosnya itu.
"Iya, Maria dan Papaku menduga, selama ini aku ada di Singapura, makanya aku nginep di sini. Biar mereka percaya kalau aku memang baru tiba di Jakarta. Jika mereka tau tempat tinggal ku malah bikin ribet,"
"Kenapa jadi ngumpet-ngumpet begini?" Ken masih penasaran karena Al belum sempat cerita kemarin.
"Ribet, kamu pasti pusing dengerinnya?"
"Cerita aja. Aku kuat dengernya. Kan abis makan bubur ayam dua mangkok,"
"Hemm...,"
"Maaf, canda doang," Ken.
"Karena posisinya sudah terpojok, Maria ingin cuci tangan. Bagaimana caranya agar Papa mau menyelesaikan masalah investasi bodong itu. Ia dan Om Ryan memaksaku untuk mengakui pada Papa bahwa dana dari investor itu memang aku kelola di beberapa broker nasional maupun broker luar . Karena dana yang dimainkan di broker luar itu terlalu besar jadi pencariannya terhambat bahkan dicurigai oleh pihak pemerintah sebagai bisnis pencucian uang. Sedangkan akun yang terdaftar di broker dalam negeri mengalami los karena kekeliruan. Biasanya kerugian aku dibatasi 15% dari saldo akun ketika bertransaksi. Seandainya transaksi mengalami kerugian, maka kita masih punya cadangan berupa 85% balance. Namun yang terjadi sebaliknya. Perlu waktu untuk mengurus semuanya jadi ia berhahap Papa bisa menggunakan kekuatannya untuk mengantisipasi investor yang meminta uangnya secepatnya," Al meneruskan ceritanya yang sempat tertunda.
"Cerdik sekali dia?"
__ADS_1
"Iya, jika aku melakukan itu Papa pasti percaya. Namun yang aku khawatirkan ia akan membenciku dan semakin memperkuat posisi Maria dan anaknya di rumah. Mindset Papa yang menganggapku anak tidak berguna dan Barent sebagai anak yang berbakti pada orang tua semakin kuat jika aku melakukan hal ini,"
"Trus, apa yang dilakukan Maria setelah kau menolak rencananya?"
"Investor punya bukti transfer ke rekening Maria, jadi mereka yang sudah tertipu menyusun kekuatan untuk membuat LP dan membawa masalah ini ke ranah Hukum. Maria semakin ketakutan. Ia memaksa Om Ryan untuk menjual aset yang mereka miliki agar bisa mengembalikan uang investor,"
"Lalu?" desak Ken makin penasaran
"Om Ryan ternyata lebih culas. Ia tidak mau menjual secuilpun aset yang dimilikinya. Ia malah memberi saran agar membiarkan investor itu mengangkat masalah ini, paling lama hukumannya 15 tahun penjara. Sebagai suami Papa juga akan membelanya, bisa jadi hukuman itu lebih ringan. Biar dihukum mereka punya kerajaan bisnis yang tidak akan habis dimakan 7 turunan. Jika loyal dengan orang penjara, Maria juga bisa dapat ruang yang nyaman,"
"Parah, sudah pasti Maria menolak usulan itu. Sekeras-kerasnya perempuan, ia pasti takut jika harus menginap di balik jeruji besi," tebak Ken.
"Betul itu. Akhirnya mereka ribut. Pertengkaran mereka di kamar Maria sore itu terdengar hingga ke kamarku. Karena ada suara gaduh dan teriakan minta tolong, aku buru-buru masuk ke kamarnya yang tidak di kunci,"
"Apa yang terjadi?"
"Aku melihat Om Ryan sudah bersimbah darah. Ada pecahan botol minuman yang menempel di pelipis mata dan bagian perutnya. Sementara Maria berdiri di pojok disisi meja dengan wajah ketakutan. Ia membiarkan Om Ryan yang mengiris bersimbah darah dan meringis kesakitan. Buru-buru aku mendekati Om Ryan, mengambil pecahan botol yang masih menancap di perut karena ia minta tolong begitu melihat aku muncul di depan pintu,"
"Kuat sekali si Maria hingga ia bisa mengalahkan Om Ryan," Ken sesaat berdecak kagum atas kekuatan Maria yang bisa melumpuhkan lawan jenisnya.
"Kaki Om Ryan tidak sempurna, panjang kaki laki-laki itu sedikit berbeda. Sepertinya cacat bawaan. Jalannya agak pincang,"
"Duh, sudah cacat fisiknya cacat juga moralnya. Dasar manusia bejad," Ken makin geram.
"Lalu, kau yang dituduh melakukan semuanya," Ken mencoba menebak akhir cerita itu.
"Iya, rupanya teriakan minta tolong itu di dengar juga oleh penghuni rumah yang lain. Tidak lama setelah aku datang, muncul Barent, penjaga keamanan di rumah kami dan Pak Komar. Melihat ada yang datang, Maria teriak. Ia menuduh aku yang melakukan percobaan pembunuhan pada Om Ryan dan minta Barent segera menghubungi polisi,"
"Pak Komar berhasil mengecoh Barent. Anak itu diminta untuk menenangkan ibunya, penjaga keamanan menghubungi rumah sakit dan dia sendiri yang akan menelpon kantor polisi. Pak Komar memintaku untuk meninggikan rumah, menuju ke alamat yang ditunjukkannya. Dia bilang akan menyusulku secepatnya,"
"Sejak itu kau jadi buruan?"
"Iya, karena ada sidik jariku di botol kaca itu," sahut Al sedih.
"Papa juga percaya?"
"Entahlah, sejak aku meninggalkan rumah dia tidak mencariku. Saat dipersembunyian ada orang suruhannya yang berhasil menemukanku. Aku dihajar hingga babak belur, untuk warga setempat berhasil menyelamatkanku. Aku menyimpulkan, Papa lebih ingin melihatku mati daripada anaknya di penjara. Sejak penyerangan itu, Pak Komar minta pada keluarga Bram untuk menyelamatkan aku. Aku dibawa ke Singapura oleh keluarga itu dan cukup lama tinggal bersama mereka,"
"Siapa Bram?" tanya Ken.
"Orang yang sering ke rumah. Memang kamu belum pernah ketemu?"
"Belum," sahut Ken sambil menggelengkan kepalanya.
******
Hay semuanya, maaf ya... aku hanya bisa update satu chapter saja karena terbentur dengan tugas kantor yang harus diselesaikan dan butuh konsentrasi penuh. Terimakasih atas kunjungan dan kesetiaannya mengikuti cerita ini.
__ADS_1
Ditunggu.......
VOTE, like, dan spam komentarnnya.