Temani Aku, Ken!

Temani Aku, Ken!
Ruang Kerja


__ADS_3

Ken sudah selesai mandi dan sholat isya sejak lima belas menit yang lalu, namun ia belum beranjak dari kamarnya menuju ke kamar Al. Ada perasaan takut yang menyelimuti hatinya, kenapa pria itu minta ia datang ke kamarnya malam-malam begini.


"Naik ga, ya?" tanya Ken pada dirinya sendiri. Ia masih menimbang-nimbang antara datang atau tidak.


Sembari menunggu, iseng-iseng Ken membuka HP-nya. Ia membuka grup kelas yang meninggal notif ribuan chat. Memang sudah lebih dari hari ia tidak membuka grup karena males.


"Ga ada yang penting," Gumam Ken. Hanya ucapan selamat karena beberapa teman satu angkatannya sudah mendapatkan pekerjaan sesuai dengan keinginannya.


Tak lama, ada pesan dari Bos Galak. Ken buru-buru membukanya karena Al pasti tau kalau dia sedang online dan akan menjadi penyebab kemarahan pria itu lagi jika ia mengabaikan pesan itu. Ken memberi nama Al pada daftar kontaknya dengan sebutan Bos Galak.


"Lama banget," pesan yang dikirim Al.


"Iya, saya segera ke atas," balas Ken.


Tanpa menunggu balasan dari Al, Ken segera keluar dari kamarnya. Dengan langkah terburu-buru ia menaiki anak tangga menuju ke kamar Al.


[ Tok... tok.....]


Ken mengetuk pintu hanya sebagai syarat. Tanpa menunggu sahutan ia langsung membuka pintu dan mencari keberadaan Al di ruang kerjanya.


"Sini!" panggil Al yang melihat Ken sudah berdiri di pintu pembatas antara ruang kerja dan kamarnya.


Ken melihat sesuatu yang luar biasa di ruang itu. Lima monitor yang terpampang di dinding itu semuanya dalam keadaan menyala. Anehnya lagi, semua tampilan layarnya nyaris sama. Hanya berupa grafik yang tidak beraturan. Al duduk di depan meja sedang memperhatikan layar laptopnya yang ada di depannya.


"Duduk sini," pinta Al lagi. Ia meminta Ken duduk di kursi yang ada di depannya. Posisinya di samping barisan laptop itu.


"Aku minta bantuanmu malam ini. Tidak keberatan, kan?" Tanya Al begitu lembut.


"Iya, Pak. Saya bisa bantu apa?" Sahut Ken pelan.


"Tadi siang jaringan sangat jelek sekali, internet nyaris tidak bisa digunakan. Jadi aku belum bisa mengejar target harian. Belum tutup, nih," jelasnya sembari memandang serius ke arah laptopnya kembali.


"Ini orang ngomong apa? Target harian? Belum tutup," pikir Ken makin bingung.


Al berdiri dari tempat duduknya, kini ia menuju ke layar monitor yang ada di sisi paling kiri. Masih dengan posisi berdiri, ia menjelaskan sesuatu pada Ken.


"Saya lagi kasih materi di kelas online, jadi tugas kamu cukup simple. Tolong awasi pergerakan garis yang berwarna hijau ini hingga mencapai angka ini atau mendekati. Kamu cukup kasih tau ke aku biar aku yang tindak lanjuti,"

__ADS_1


Ken memutar kursi rodanya. Menggesernya lebih dekat ke arah layar. Kini ia melihat satu persatu tampilan grafik yang ada di depannya dengan seksama. Ternyata warna pada garis antara satu monitor yang satu dengan yang lain warnanya berbeda- beda.


"Kamu fokus sama 3 monitor ini aja, yang lain abaikan. Dia sudah di setting, kok. Bisa nutup dengan sendirinya" Al menjelaskan lagi karena ia melihat Ken masih bingung.


"Yang ini, ini, dan ini," tanya Ken menyakinkan.


"Iya," sahut Al


"Garis batas yang ini disini, yang ini di sini, dan yang ini di sini," tanya Ken ingin memastikan lagi agar tidak terjadi kesalahan.


"Betul. Bisa kan?" tanya Al butuh kepastian.


"Insya Allah," jawab Ken begitu yakin.


"Terimakasih. Ga lama kok. Selesai kasih materi biar aku yang meneruskan,"


Al kembali lagi ke tempat duduknya. Kini ia terlihat begitu serius mengamati laptopnya dan sesekali terlihat ia sedang mengetik sesuatu dalam waktu yang cukup lama.


Sepuluh menit berlalu, Ken masih kuat melotot. Ia tidak mau melakukan kesalahan. Untuk itu ia berusaha menjalankan tugasnya dengan baik. Namun sejauh yang dia amati, belum ada pergerakan sama sekali dari garis yang diamati.


"Itu garis bergerak ga sih, perasaan dari tadi di situ- situ aja," gumam Ken. Untuk meyakinkan penglihatannya, ia maju sedikit. Melihat dengan konsentrasi penuh dari satu grafik ke grafik yang lain.


Ken ingin bertanya pada Al, biasanya butuh waktu berapa lama ada pergerakan namun ia mengurungkan niatnya karena pria itu terlihat begitu serius.


"Sebenarnya ini grafik apaan,sih?" tanya Ken dalam hati. Jujur saja, baru kali ini ia melihat tabel yang bentuknya seperti ini.


"Ada US Dollar, ada Foudnsterling, ada juga Uero. Untuk apaan, sih?" tanya Ken makin penasaran.


Menunggu pergerakan garis tipis sembari berpikir apa yang sedang dikerjakan saat ini membuatnya otaknya cukup jenuh. Entah sejak kapan, Ken terlelap dengan sendirinya. Bersandar pada bangku kursi empuk yang sedang ia duduki.


Tepat pukul 21.30 WIB, Al sudah menyelesaikan tugasnya. Ia melihat kursi yang diduduki Ken tidak bergerak sama sekali sejak sejam yang lalu. Untuk memastikan kecurigaannya, ia berangkat dari tempat duduknya bergerak ke arah Ken.


"Ah,bener juga dugaanku," bisik Al dalam hati. Ia melihat Ken sudah terlelap.


"Ga bisa diarepin nih orang. Untung belum ada pergerakan," ujarnya lagi.


Meskipun ia tengah konsentrasi memberikan materi online, Al tetap memantau pergerakan dilayar monitornya. Bukan karena tidak percaya pada Ken, namun ia khawatir gadis itu belum faham dengan apa yang dimaksud.

__ADS_1


Yang terjadi malah lebih parah, disuruh mengawasi malah tidur dengan lelap.


Al berusaha membangunkan Ken dengan menyentuh bahu gadis itu. Mulai dari gerakan yang begitu pelan, hingga digoyang-goyangnya cukup keras. Bukannya bangun, dengkurannya justru semakin keras.


"Susah juga mbagunin nih orang,"


Karena usahanya tidak berhasil, akhirnya Al membopong tubuh Ken ala bridal style menuju ke kamar tidurnya. Ia baringkan Ken yang masih tetap terlelap diatas tempat tidurnya. Tidak lupa, Al juga menyelimuti gadis itu agar tidak terganggu dengan dinginnnya AC yang ada di ruang itu.


"Bener-bener nih orang. Tidur sudah kayak orang mati. Rumah dibakar orang juga belum tentu dia bangun," gerutu Al sembari meninggal Ken. Ia kembali lagi ke ruang kerjanya karena harus menunggu hingga bisa nutup.


"Kenapa hari ini begitu tidak beruntung. Siang pasarnya bagus, sinyal malah eror. Malam hari sinyalnya kenceng malah pasarnya yang jelek," gerutu Al.


Al melihat HP Ken tertinggal di kursi itu. Otak isengnya segera bekerja, ia segera membuka hp itu untuk mengetahui isinya.


"Dasar ceroboh, ponselnya saja tidak ia pasang pengaman,"


"Jika hilang atau ada yang iseng, bagai mana coba?"


"Ini model ponsel tahun berapa?" tanya Al sembari membolak-balik Hp milik Ken yang warnanya sudah sangat kusam dan penuh baret-baret kecil.


Al tersenyum tipis begitu melihat tampilan depan layar ponsel Ken, begitu juga dengan daftar kontak yang tersimpan di sana.


"Ini hp minim sekali sosmednya, daftar kontaknya apalagi,"


"Bos galak! Enak sekali dia kasih nama sepeti itu untuk nomerku," Al jadi kesal begitu mengecek riwayat WA.


"Jadi seharian ini hanya aku yang menghubungi dia? Bagaimana ia bisa tidak punya teman padahal kuliah di kampus ternama dan sedang menyelesaikan skripsi. Aneh sekali,"


"Baiklah, kau akan mendapat sedikit pelajaran dari Bos Galakmu ini," senyum isengnya mulai mengembang.


******


Happy reading all, terimakasih atas kunjungan setianya!


Jangan lupa vote, like, dan komen yang banyak, ya ( spam komen juga ga apa) biar saya makin semangat untuk update.


Aku juga nulis novel yang lain loh,

__ADS_1


Bukan Yang Pertama


Jangan lupa kepoin juga, siapa tau kalian juga suka sama ceritanya.


__ADS_2