Temani Aku, Ken!

Temani Aku, Ken!
Istri - Istriku


__ADS_3

"Selama kau pergi, kamarmu tidak berubah sama sekali. Hampir setiap hari dibersihkan," ucap Baron malam itu, ketika mereka tengah menikmati makan malam bersama. Lengkap satu keluarga. Ada Barent juga di meja itu.


"Iya, Bu. Ayah merawat kamar ibu dengan baik," sahut Barent.


"Kamarnya dirawat, bagaimana dengan hati pemiliknya. Aku mendekam dibalik jeruji, kamu malah enak-enakan di sini. Sama istri mudamu itu," sahut Maria ketus.


"Ibu, jangan salahkan Ayah. Aku yang membawa Nora kemari agar dia bisa mengurus Ayah. Selama ibu tidak ada, Ayah telat makan dan obatnya jarang diminum. Nora yang mengurus semuanya. Lihat sekarang, Ayah terlihat lebih bugar, kan," ucap Barent mulai bersandiwara. Ia sengaja mengarang cerita itu, seolah ibunya tidak tau menahu soal Nora, padahal ia yang punya otak hingga Nora bisa menjaga suaminya dengan baik. Antara Maria dan Nora ada sebuah perjanjian secara tertulis.


"Waktu itu aku begitu shock melihat rumah tanggaku yang berantakan. Dia pergi dengan pria lain, kau dijebloskan ke penjara atas perbuatan yang tidak kau lakukan. Bagaimana aku bisa makan dan tidur dengan tenang?" Sergah Baron dengan nada sedih.


"Ibu tidak boleh menyalakan Ayah, jika ibu mau marah. Marah saja aku. Aku yang merencanakan semua ini," sahut Barent lagi. Ia pura-pura memasang wajah penuh rasa bersalah. Di bawah meja, kakinya bermain dengan sang ibu. Ia memberi kode agar ibunya tetap saja merasa sedih.


"Aku sedih karena dia lebih muda dan cantik dariku. Pasti kau tidak mau melepaskannya," gumam Maria lagi. Ia menyuap makanannya dengan malas, seolah tidak ada nafsu makan.


"Aku tidak bisa kasar dengan perempuan, apalagi pada istri-istriku. Aku tidak mungkin membuangnya begitu saja setelah kau kembali ke rumah ini," tegas Baron dengan nada yang cukup keras.


"Jika kau minta aku menceraikannya,jangan mimpi itu akan aku lakukan. Aku sudah berusaha menyingkirkannya dari penglihatanmu. Anggap saja kau tidak melihatnya, biarkan semua terjadi seperti dulu lagi,"


"Kau bisa bicara seperti itu, tapi bagaimana dengan aku?" tanya Maria dengan sedih.


"Kau sudah mendapatkan lebih dari yang kau inginkan. Apa itu kurang?" desak Baron.


"Ibu, jangan bicarakan ini lagi. Nora sudah meninggalkan rumah ini tadi pagi, aku yang menyiapkan semuanya. Ayah sudah memberinya ruko sebagai tempat usaha. Ia bisa hidup mandiri, tidak akan menggangu kita,"


"Kalian bisa menganggap sepele masalah ini karena kalian laki-laki. Anak dan ayah ga ada bedanya," Maria beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan meja makan. Ia masuk ke kamar dan menutup pintunya dengan keras.


"Maaf, Yah. Aku mau menenangkan ibu. Ayah Jangan khawatir, aku akan mengurusnya," Barent meninggalkan makanan dan menyusul ibunya ke kamar.

__ADS_1


"Aku percaya padamu," sahut Baron. Ia membiarkan putra tirinya itu menemui sang ibu.


"Keterlaluan sekali, apa pasalnya dia mau mengatur hidupku," gerutu Baron. Nafsu makannya mendadak hilang setelah satu persatu temannya di meja makan meninggalkan tempat.


Baron juga berdiri dari duduknya. Ia tidak menyusul Maria dan putranya di kamar. Baron memilih keluar rumah, ia ingin menghirup udara segar di teras samping.


"Bik, bawakan air putih untukku. Aku mau duduk di depan," pinta Baron pada asisten rumah tangganya yang sedang bersiap-siap membereskan meja makan.


"Baik, Tuan," perempuan berusia lima puluh tahun itu kembali ke dapur, menyiapkan minum untuk majikannya.


******


"Ini tuan, silahkan," perempuan itu menghidangkan satu gelas air putih di meja kecil itu. Ia juga menyajikan satu porsi puding buah naga untuk majikannya itu.


"Apa ini?" tanya Baron sedikit kaget. Ia sudah lama tidak menemukan makanan itu sejak Lisha meninggalkannya.


"Puding buah naga Tuan,tadi saya beli buah cukup banyak. Inget Tuan suka sekali puding ini jadi saya buatkan,"


"Maaf Tuan, mungkin rasanya tidak seenak buatan nyonya. Saya sering lihat nyonya bikin puding dan tadi coba bikin sendiri,"


"Hemmmm......," Baron kembali menarik nafasnya.


"Iya, bik. Tinggalkan saja,"


"Saya lihat tuan belum makan,nasinya masih utuh. Puding ini saya bawa untuk mengisi perut agar jangan kosong,"


"Iya, bik. Terimakasih," sahut Baron lagi.

__ADS_1


"Kata nyonya, buah naga itu bisa mengontrol kadar gula darah. Kandungan vitamin B3 yang cukup tinggi dalam buah naga mampu mencegah serta mengatasi penyakit diabetes. Makanya saya selalu bikin jus buah naga untuk tuan,"


"Untukku?" tanya Baron.


"Iya, yang sering dibawa nyonya Maria ke kamar tuan malam hari. Sejak ada nona Nora, tuan Barent tidak memperbolehkan saya membuat jus, karena ada larangan dari dokter,"


"Iya, bik. Terimakasih.


"Saya permisi dulu, Tuan," ucapnya lagi.


"Silahkan," sahut Baron dengan lembut. Meskipun Bik Sum cukup bawel namun Baron menaruh hormat pada perempuan ini. Ia sudah bekerja di rumah ini sejak ia masih lajang. Banyak hal yang yang diketahui perempuan ini yang mungkin saja Baron tidak mengetahuinya.


"Jus naga setiap malam. Larangan dokter minum jus?" Baron mengulang ucapan pembantunya itu.


Sejak Lisha pergi, ia tidak pernah menemukan jus di atas meja kerjanya. Apalagi puding yang senantiasa di buat Lisha untuknya. Bagaimana bisa Bik Sum bicara seperti itu?


"Hemm.... sepertinya ada yang tidak beres ini? Ada rahasia apa antara Barent dan ibunya?" bisik Baron dalam hati.


Baron meraih mangkuk kecil yang beisi dua potong puding buah naga yang begitu menggugah seleranya itu. Dengan pelan ia menyendok dan menyuap ke dalam mulutnya. Hatinya mendadak begitu teriris. Setiap kunyahan, ia berhasil mengingat wajah istri dan putranya dengan baik


"Lisha," bisiknya dalam hati. Air bening itu mendadak turun dari sudut matanya.


*****


Hay semuanya, maaf ya... aku hanya bisa update satu chapter saja. Terimakasih atas kunjungan dan kesetiaannya mengikuti cerita ini.


Aku tetap menunggu

__ADS_1


VOTE, like, dan spam komentarnya di setiap chapter yang aku update.


Happy reading to semuanya 🤗🤗🤗


__ADS_2