
Seumur hidup, baru kali ini Al datang ke kantor papanya. Ia sudah menelpon sebelum. karena Maria sedang ada di rumah, Baron menyuruhnya datang ke kantor saja.
"Pagi Bos," Di pintu masuk, Al sudah di sambut Ferdy. Laki-laki itu menyapanya dengan ramah.
"Belum sarapan, ya?" tanya Al
"Udah, emang kenapa?" Ferdy bertanya balik.
"Udah jam 10.30 kau bilang masih pagi. Matahari nyaris di atas kepala"
"He..he....belum ngopi," ujar pria itu malu-malu.
"Kau tidak ikut Maria lagi?" selidik Al.
"Aku diminta mengawasi di sini, Bos. Apapun yang terjadi harus lapor padanya,"
"Terus yang jadi setan di apartemenku siapa?" tanya Al penasaran.
"Masih temanku yang lama. Jangan khawatir bos, dia bisa diajak kerja sama,"
"Bagus, kalian sudah mengambil keputusan yang tepat. Aku mau ketemu Tuan Baron!" ucap Al sembari melangkah ke lantai atas menggunakan Lift.
"Iya, Bos sudah bilang tadi. Aku diminta mengantarkan hingga ke ruangannya,"
"Ga usah, satu pengawal sudah cukup. Aku bukan anak sultan, ke kamar mandi butuh puluhan pengawal," canda Al sembari melirik ke arah Om Ryan.
"Bos bisa aja. Di lantai dua ya, sebelah kanan ada tulisan ruang direktur," Ferdy memberi penjelasan.
"Ok, terimakasih," Al masih sempat mengucapkan kata-kata itu sebelum pintu lift tertutup.
🎀🎀🎀🎀
"Siang, Tuan," sapa Om Ryan ketika mereka sudah ada di ruang kerja Baron. Sementara Al tidak bicara apapun, ia langsung duduk di depan meja Papa.
"Siang, kenapa anda ke sini?" tanya Baron antara kaget dan emosi.
"Aku yang minta dia datang. Ada sesuatu yang akan ia sampaikan terkait istri papa," ujar Al. Ia menggeser kursi yang ada di samping agar Om Ryan bisa duduk di depan Baron.
"Ternyata kau masih hidup. Apa karena arwahku tidak diterima bumi hingga muncul lagi ke dunia," ujar Baron dengan nada ketus.
Al hanya bisa menyerigai mendengar ucapan Papanya, apa yang sudah dikatakan Maria hingga seorang Baron bisa segitu bencinya pada Om Ryan? Padahal sumber masalah itu aslinya ada pada wanita yang tak tau diri itu.
__ADS_1
Al segera menceritakan tujuannya datang ke sini dan kenapa ia sampai membawa serta Om Ryan untuk memberi kesaksian.
"Aku sudah curiga kalau dia tidak bisa trading karena uang perusahaan banyak yang masuk ke rekeningnya selama ia dipenjara. Ia bilang untuk membeli semua fasilitas agar bisa nyaman di balik jeruji besi namun jumlahnya yang tidak bisa aku tolerir,"
"Uang itu untuk membayar profit yang dijanjikan pada Karto Mulyono, kakak dari kepala lapas,"
"Hemmm......di tahan pun dia masih menghimpun investasi," keluh Baron.
"Hanya satu orang itu. Aku sudah menyelidikinya ketika ia belum keluar. Beberapa petugas di sana memberi keterangan bahwa Maria bisa keluar masuk dengan bebas selama di sana. Kadang sampai berhari-hari,"
"Luar biasa sekali," Baron menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ada yang lebih luar biasa lagi, Pa. Maria hingga saat ini masih sah sebagai istri Kadir Jaelani," ucap Al pasti. Om Ryan yang diam dari tadi mengeluarkan kertas dari saku kemejanya dan menyodorkannya pada Baron.
Muka laki-laki merah, seperti udang di bakar dengan bara yang menyala. Dengan tangan gemetar ia mengambil gulungan kertas itu. Ada fotokopi buku nikah, KK, KTP Maria dan akta kelahiran atas nama Barent yang di bawa oleh Om Ryan.
"Dari mana kau mendapatkan ini?" tanya Baron masih dengan suara yang bergetar. Ia tidak mengira akan ditipu mentah-mentah oleh Maria.
"Om Ryan sudah bertemu dengan suaminya,"
Baron memukul meja yang ada di depannya dengan keras. Tangannya yang mengepal terlihat begitu gemetar menahan amarah. Giginya terdengar bergemelatak. Pria itu begitu terbawa amarah.
"Pa, tenangkan dirimu. Aku akan membatu Papa menyelesaikan urusan ini. Percayakan padaku," ucap Al agar Papanya bisa tenang.
"Aku tidak ingin ada pertumpahan darah,"
"Tidak, biarpun aku di kenal sebagai orang yang tidak baik tapi aku belum pernah menghilangkan nyawa seseorang dan itu tidak akan pernah aku lakukan. Percayalah,"
"Aku percaya, Pa," ucap Al lagi. Ia meraih mug yang ada di atas meja dan memberikan pada Baron. Meskipun ia sendiri tidak tahu apa isi cangkir yang berukuran besar itu, namun ia yakin ada isinya.
"Minum dulu, Pa," ucap Al lagi.
"Kita bisa bikin laporan jika Tuan mau, Maria sudah menyembunyikan identitas untuk menipu seseorang," ucap Om Ryan.
"Aku sudah memikirkan cara untuk mengirimnya kembali ke penjara. Mendapat fakta seperti ini, aku akan mempercepatnya,"
"Pa, dalam situasi begini ada baiknya kita mengenangkan diri dulu. Jika memaksa untuk bekerja, hasilnya juga tidak maksimal. Bagaimana jika papa ikut denganku. Kita ngopi bareng," Al menawarkan itu agar ia punya alasan untuk membawa pria itu ke rumahnya.
"Apa papa tidak ingin menikmati waktu denganku? Putramu yang sudah lama kau lupakan," canda Al. Ia berusaha untuk tersenyum agar suasana tidak begitu tegang.
"Baik, ayo kita ngopi. Kau mau bawa papa ke mana?" Selidik pria itu. Meskipun emosi, ia merasa senang. Kini Al sudah bisa berlaku sewajarnya dengan dirinya. Ia tidak menemukan kemarahan dan dendam pada putra kesayangannya itu.
__ADS_1
"Suatu tempat. Aku yakin jika sudah di sana Papa tidak mau kembali,"
"Benarkah?"
"Aku bisa memastikan hal itu," ucap Al begitu yakin.
"Baiklah, ayo kita berangkat," ajak Baron Begitu bersemangat.
"Ikut mobilku saja ya, Pa. Nanti aku antar lagi ke sini,"
"Oh, kau sudah beli mobil. Banyak juga dulu," ledek Baron.
"Tidak begitu. Cuma kalau untuk mendirikan perusahaan seperti Papa, aku bisa membuatnya 10 perusahaan sekaligus," canda Al.
"Sombong sekali kau," Baron menepuk bahu putranya cukup keras. Mereka bertiga segera meninggalkan ruang, menuju ke lift.
Tidak lupa, sebagai laporan Al menghampiri Ferdy sebelum meninggalkan gedung itu.
"Kita mau keluar, jika mau bikin laporan pada bosmu jangan bilang kalau Tuan pergi bersamaku," ucap Al sambil menyelipkan beberapa lembar uang pada Ferdy.
Terimakasih, Bosku," ucap pria itu dengan senyum mengembang.
"Buat ngopi, biar matamu tidak beler,"
"Siap, Bosku," ucap Ferdy lagi. Kali ini disertai dengan senyum yang lebar dan mencium lembaran kertas yang diterimanya.
Baron dan Om Ryan hanya bisa tersenyum melihat kelakuan Al. Mereka tahu arah pembicaraan Al pada Ferdy.
"Ayo, Pa....Om ...biar aku yang nyetir," Al membukakan pintu untuk papanya. Setelah pria itu duduk di samping bangku sopir, Al menutup kembali pintunya dan memutar tubuhnya.
Beberapa saat kemudian, ia sudah berada di balik kemudinya. Al akan membawa mereka berdua ke rumahnya. Sebelumnya ia sudah memberitahu Ken agar menyiapkan hidangan istimewa dan memastikan Mamanya ada di rumah.
********
Terimakasih atas kunjungan, sebelum membaca mohon dibantu
✓ VOTE
✓ LIKE, dan
✓ KOMENTAR-nya
__ADS_1
Bagi yang suka spam komentar diperbolehkan kok, agar novel ini tidak sepi seperti kuburan.
Dukungan dari kalian semua membuat saya makin semangat untuk update, vitamin yang luar biasa mujarabnya untuk menyelesaikan cerita ini. Terimakasih!