
Pak Komar mengendarai motor matic berwarna merah itu, menembus jalanan yang mulai sepi dengan kecepatan sedang. Nyonya Lisha yang duduk di jok belakang hanya diam sepanjang jalan. Ia lebih ingin mengatur hatinya. Perasaannya menjadi tidak karu-karuan mengetahui ia ingin bertemu Al beberapa saat lagi.
"Apartemennya ada di seberang itu, kita putar balik dulu di depan," Pak Komar menunjuk gedung pencakar langit yang ada di seberang jalan yang mereka lewati. Ada enam bangunan yang sama berdiri tegak dengan cat yang berbeda-beda.
"Iya, Pak. Pelan-pelan saja. Kita tunggu lampu merah," sahut Lisha memperingatkan karena beberapa pengendara memaksa diri menerobos lampu merah untuk berputar arah. Meski cukup aman namun ia tidak mau ambil resiko.
"Iya, nyonya. Menunggu dengan tidak selisihnya hanya beberapa menit. Lebih baik kita sabar," sahut Pak Komar.
"Iya, mematuhi peraturan lalu lintas itu penting untuk aman berkendara," ucap Lisha lagi.
Beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di apartemen. Lisha menunggu di lobby depan, sementara Pak Komar memarkirkan sepeda motornya di belakang gedung, khusus parkir kendaraan selain penghuni.
Tidak lama kemudian, Pak Komar sudah sampai di depan pintu. Setelah melapor ke petugas yang sedang berjaga mereka segera menuju ke lantai 10 menggunakan lift tengah.
Jantung Lisha makin berdengup. Perasaan begitu campur aduk. Meskipun lift yang mereka gunakan langsung menuju ke lantai atas tetap saja waktu begitu lama bagi Lisha.
"Sampai," seru pak Komar ketika mereka sudah ada di lantai 10.
"Kita ke kiri," ujarnya lagi sembari melangkah mendahului Lisha.
Tiba di depan kamar 1015, langkah mereka terhenti. Keduanya saling pandang. Akhirnya pak Komar memutuskan untuk mengetuk pintu itu dengan pelan.
[Tok...tok...tok....]
Tidak ada sahutan, pak Komar mengulanginya lagi. Kali ini dengan menambah tekanannya.
[ Ceklek] suara handle pintu di buka.
Al berdiri tepat di depan pintu. Ia hanya bisa terpaku melihat apa yang dilihatnya saat itu. Mulutnya terkunci, tidak ada satu katapun keluar dari mulutnya. Hanya matanya yang membulat karena kaget. Begitu juga dengan kedua tamunya itu.
"Al...," Panggil Lisha pelan.
Al maju satu langkah, ia hanya diam ketika perempuan itu merengkuh tubuhnya. Memeluknya dengan penuh hangat dan terdengar suara sesugukan.
Sang ibu langsung memeluk Al dan terus meminta maaf.
"Maafkan mama, Nak. Maafkan Mama.." ujar Lisha sambil menangis.
__ADS_1
"Akhirnya aku bisa melihatmu." Ucapnya lagi.
"Aku tau, sejuta ucapan maaf tak akan cukup," tutur Lisha tak henti-hentinya menyesali diri.
"Aku akan terus memelukmu dan meminta maaf hingga engkau mau memaafkan aku yang hina ini, Al " Lisha terus meminta maaf dan memeluk putranya itu.
Al membalas pelukan Lisha, ia belum bisa berkata apapun kecuali mempererat pelukannya. Ia tidak ingin kehilangan wanita itu lagi, ia tidak ingin ditinggal lagi.
Pak Komar yang melihat pertemuan anak dan ibunya itu jadi ikut terharu. Tanpa disadari, air matanya mengalir. Ia menepuk-nepuk pundak Al. Anak majikannya yang pernah ia bawa kabur dari rumah karena amukan Maria.
"Masuklah, kita bicara di dalam," Al buru-buru melepaskan pelukannya dan mengajak keduanya ke dalam. Ia tidak sadar jika sejak tadi mereka masih di depan pintu.
Al mengamit tubuh mamanya agar duduk di sampingnya. Sementara Pak Komar sudah lebih dulu menghempaskankan tubuhnya di sofa yang ada di ruang tengah itu.
"Maafkan Mama, Al," Lisha mengucapkan kata itu lagi setelah Al duduk disampingnya.
"Mama," ucap Al sembari memandangi wanita itu dengan jarak yang begitu dekat.
"Aku juga minta maaf, Ma. Selama ini tidak berusaha mencarimu," akhirnya Al bisa mengucapkan kata-kata itu. Keduanya perlakukan lagi menyadari kesalahannya masing-masing.
"Kau tumbuh jadi anak yang tampan dan sehat, sayang. Mama merasa berdosa tidak bisa melihat tumbuh kembangmu hingga seusia ini,"
"Beberapa hari ini aku mencari nyonya kemana-mana, mulai dari kampung, tempat kerjanya yang dulu, hingga yayasan yang dulu pernah dikunjungi. Aku tidak menyangka ternyata dia ada begitu dekat dengan kita," ujar Pak Komar.
"Bagaimana bapak bisa menemukannya," tanya Al ingin tahu.
"Setelah mendatangi lokasi yang pernah nyonya kunjungi tidak ada hasil, aku nyaris putus asa. Aku membuka akun media sosial yang sudah lama sekali tidak pernah aku sentuh. Melalui akun FB dan IG aku berusaha searching nama nyonya. Dari puluhan akun yang muncul dengan nama yang sama, tidak ada satupun wajah yang aku kenali,"
"Terus," selidik Al.
"Aku searching kegiatan- kegiatan sosial hasilnya juga nihil. Aku coba cari bantuan kesehatan murah, ternyata ada beberapa rumah sakit dan klinik yang muncul. Pada tampilan gambar aku lihat satu persatu pengobatan gratis yang dilakukan oleh beberapa tenaga medis yang punya jiwa sosial yang tinggi. Entah pada halaman berapa, aku melihat ada foto nyonya ketika sedang memberikan imunisasi pada pekan hari anak nasional. Dari situ aku cari alamat kliniknya dan langsung menuju ke TKP,"
"Ya Allah, terimakasih pak, bapak sudah banyak membantu saya," ujar ibu dan anak itu nyaris bersamaan.
"Aku sering ngintip media sosial mencari nama anakku, ternyata hasilnya nihil,"
"Aku tidak punya sosmed, Ma. Buronan mana bisa bermain sosmed,"
__ADS_1
"Jangan bicara begitu!" tegur Lisha. Dengan halus ia mengusap pundak putranya itu.
"Nyonya, Al... Aku pamit dulu, sudah malam. Aku harus balik ke Bekasi," Pak Komar mohon undur diri.
"Bermalam di sini saja, Pak. Sudah jam 10. Berbahaya mengemudi jam segini untuk seusia bapak,"
"Saya sudah biasa, Nyonya. Pulang kerja saya biasa ngojek, kok,"
"Bermalam di sini saja, Pak. Aku juga sudah lama sekali tidak ketemu bapak," pinta Al lagi.
"Mama juga akan di sini, kan?" tanya Al khawatir.
"Iya, mama akan memelukmu sepanjang malam," sahut Lisha diikuti senyumnya yang mengembang dengan sempurna.
Pak Komar faham, ibu dan anak itu butuh waktu untuk melepaskan kerinduan mereka. Meskipun Al dan mantan majikannya itu mencegahnya pulang, Pak Komar memaksakan diri untuk pamit. Ia berjanji akan mengunjungi mereka lagi dalam waktu dekat.
"Hati-hati, Pak. Jangan ngebut-ngebut!" Lisha memperingatkan Pak Komar yang sudah berdiri di depan pintu. Al memberikan amplop berwarna coklat yang cukup tebal, yang ia ambil dari kamarnya.
"Titip salam untuk ibu, berikan ini padanya," ujar Al.
"Apa ini, Nak. Kau tidak usah seperti ini. Aku melakukan ini dengan iklas," Pak Komar tidak mau menerima amplop itu. Ia bisa menebak, isinya pasti uang dalam jumlah yang cukup besar.
Al sering melakukan hal itu, meskipun tidak secara langsung. Bram sering mentransfer uang ke rekening Pak Komar atas permintaan Al.
"Aku titip untuk ibu," ujar Al memaksa.
"Sudah, bawa saja Pak. Salam untuk Bu Mira, ya. Lain waktu ajak ia kemari," ujar Lisha menimpali.
"Baik, Nyonya. Saya permisi dulu," Pak Komar memasukkan amplop pemberian Al ke dalam saku jaketnya. Setelah itu, ia meninggalkan Al dan Mamanya, buru-buru masuk lift yang akan menuju ke bawah.
******
Hay semuanya, maaf ya... aku hanya bisa update satu chapter saja. Terimakasih atas kunjungan dan kesetiaannya mengikuti cerita ini.
Aku tetap menunggu
VOTE, like, dan spam komentarnya di setiap chapter yang aku update.
__ADS_1
Happy reading to semuanya 🤗🤗