Temani Aku, Ken!

Temani Aku, Ken!
Aku Jemput, Ya!


__ADS_3

Al sudah menunggu di


taman, di sebrang kantor tempat Ken bekerja. Sudah  lebih dari 10 menit yang lalu  namun Ken belum juga menampakkan batang


hidungnya. Al sengaja menunggu di situ karena ia ingin tahu lebih jauh bagaimana


kondisi kantor itu dan karakter orang-orang yang bekerja di sana.


Dari pesan WA yang di


kirim Ken 5 menit yang lalu, ia bilang masih ada pekerjaan yang harus selesai


hari ini. Laporan yang akan diminta oleh atasannya besok pagi.


"Lama banget, ngapain aja nih orang? Dia


bilang akan turun 5 menit lagi," Al sudah tidak sabar. Sebentar-sebentar


pandangannya tertuju pada pintu ke luar karyawan.


“Baru masuk kerja udah banyak aja kerjaannya,” oceh Al lagi.


Al  tidak keberatan menunggu namun ia kesal,sudah tiga kali satpam gedung itu


menghampirinya. Ia menaruh curiga pada Al karena memandang kea rah kantornya


sejak tadi.


“Dikiranya aku ******* kali,ya?” pikir Al tidak nyaman.


Al mengambil handphone dari saku dan berencana


menelpon Keny. Namun suara seseorang yang menyapanya dari arah belakang membuat


AL mengurungkan niatnya.


"Nungguin dia?" tanya Bram yang mengagetkannya. Pria itu dari arah belakang. Entah dari mana? Al tidak ambil


pusing. Yang ia tahu, Bram memang sering ke kantor tempat Ken bekerja karena


mewakili dirinya.


"Iya, udah 10 menit di sini dia belum keluar juga,"


"Oh, udah mulai  dibikin sibuk tuh dia. Tapi  aku malah ga liat dia di dalem," ucap


Bram.


"Baru masuk sehari, masa sudah di kasih kerjaan yang banyak,"

__ADS_1


"Mungkin? Aku kan ga tau,"


"Waktu nitipin Ken ke dia kau bilang apa?," tanya Al  pada sahabatnya itu.


“Aku Cuma bilang saudaraku pengen magang,” sahut Bram santai.


"Duh, Ken kemana ini?" AL sudah mulai


bosen. Ia menang tipe orang tepat waktu jadi paling malas kalau harus menunggu.


Al  beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan Bram yang masih ada di taman itu. Ia masuk ke gedung itu tanpa pamit pada Bram.


“Payah, jadi orang ga sabaran banget,” gerutu Bram yang ditinggal sendirian di taman.


Ketika ia mau kmasuk  lift yang menuju ke ke ke lantai atas, saat itu Shabil keluar dari lift di sampingnya.


"Al..!" panggil Ken, suaara panggilan itu menahan langkah AL  yang hendak masuk ke lift di sebelahnya.


"Baru mau di samperin," ucap AL. Pandangannya tertuju pada pria yang ada di samping Ken.


"Ini, bos aku," ucap Ken memperkenalkan atasnya pada AL.


"Kamu bisa aja, kita ini rekan kerja. Tidak ada atasan dan bawahan. Karena aku lebih senior hari kamu makanya bisa menduduki posisi ini . Bukan karena kemampuan semata," sahut pria itu merendahkan diri.


"Pak, maaf ya. Ken saya tahan sebentar karena ada laporan yang dibutukan bos besar besok pagi," ucap pria itu.


"Suaminya?" tanya pria itu dengan pandangan serius.


“Calon suami!” sahut Al dengan yakin.


“Oh, baik Pak saya permisi dulu. Maaf sudah membaut anda menunggu,”


Setelah cukup lama mereka basa-basi di depan lift, akhirnya pria yang dikenalkan sebagai bosnya itu mohon pamit. Mereka harus berpisah di situ karena mobil si bos sudah ada di depan lobi, sopirnya


sudah menunggu.


"Tadi mau bales wa lagi ngobrol sama dia. Maaf, ya," Ken buru-buru minta maaf pada Al. Ia tahu pria itu sudah jenuh menungunya. Wajahnya sudah ditekuk sepuluh


"Siapa?" Tanya AL. Pandangannya tertuju pada pria yang tengah menghampiri mobil sedan hitam.


"Kabag keuangan," sahut Ken setengah berbisik.


"Oh.... seperti dia tipe pekerja keras. Kau akan dibuat repot olehnya. Hari pertama kerja sudah ditahan, dihitung lembur ga tuh?" oceh Al berkepanjangan.


"Emang kenapa?" tanya Ken bingung.


"Dia tipe pekerjaan keras dan segala sesuatu yang di tanganinya harus semaksimal mungkin,"


"Kok kamu tau?"

__ADS_1


"Tau lah. Saking perfect-nya tuh orangsampai-sampai tidak ada pria yang sempurna di matanya. Kau lihat, bagaimana ia memandangku?” ucap Al keasl.


“Mungkin dia merasa aneh, di perkantoran ada orang pakai kaos tanpa kera. OB di sini aja


dandanannya rapi,”


“Kau malu aku berpenampilan seperti ini?” todong Al.


“Enggak, pakai pakaian apapun kau terlihat keren,” puji Ken. Ia berusaha membuat Al senang.


"Sayang, kita ke mall yuk. Shopping!" ajak Al


"Tumben, ada angin apa nih ngajakin nge-mall."


"Kau harus beli pakaian yang pantas. Jangan berpenampilan seperti ini,” ucapnya serius. Sejak ia menunggu Ken di luar, ia mengamati karyawati yang keluar dari gedung ini. Penampilan mereka keren dan


modis.


"Emang kenapa?" Ken membulatkan matanya.


"Pakaianmu lebih mirip pelayan daripada akuntan,” sahut Al sekenanya.


"Terus?" selidik Ken makin penasaran.


"Aku ingin beliin kamu tas, sepatu pakaian kerja, atau apapun yang kau butuhkan untuk menunjang penampilanmu"


"Enggak harus, sekarang. Aku bisa membelinya saat gajian nanti,"


"Aku tidak memberimu secara gratis. Saat kau gajian, kau bisa membayarku dengan cara mencicil?" Al sudah menduga jika Ken pasti akan menolak tawarannya, dengan berkata begini ia berharap Ken


mau menerima tawarannya.


Ken diam sesaat, ia masih mempertimbangkan tawaran itu. Ia memang butuh pakaian kerja dan perlengkapan lainnya, blazer yang ia pakai saat ini itu pakaian kantor satu-satunya yang ia miliki. Dulu,


saat ia kerja tidak seperti ini penampilannya. Ia memakai seragam perusahaan.


"Kalu lihat sendiri car abos mu melihat aku, rasanya ingin aku colok tuh matanya. Meremeskan sekali. Aku takut kau akan diperlakukan sama dengannya. Hanya karena penmpilanmu, dia pikir kau sangat


membutuhkan pekerkjaan itu dan ia akan memeras tenagamu?"


"Oh, masalah itu? Apapun penialian orang dan apalagi bos itu. Ga usah dipikirkan,"


"Ya, tapi aku kan calon suamimu. Baru melihat ekpresi satu atasanmu aku udah emosi, apalagi jika di kantormu ada ribuan orang yang punya otak seperti itu,"


"Ya, udah deh,"


"Jadi, kita shooping , nih?" tanya AL sebelum ia masuk mobilnya.


"Iya," Ken yang sudah lebih dulu duduk di bangku samping Abas, sudah memasang seatbelt. Siap untuk berangkat.

__ADS_1


__ADS_2