Temani Aku, Ken!

Temani Aku, Ken!
Maafkan, Aku!


__ADS_3

Pintu lantai atas di buka, petugas keamanan yang mengantarkannya tadi muncul dari balik pintu. Dengan langkah yang santai, ia berjalan menuruni anak tangga.


"Pak, silahkan masuk. Tuan menunggu anda di dalam," petugas keamanan itu segera memberi tahu Al begitu ia sudah ada di ruang tamu. Berdiri di depan Al yang sudah menunggu kabar darinya.


"Terimakasih, Pak Robby," Al mengucapkan terimakasih sembari mengeja nama yang tertera di seragam pria itu.


"Silahkan, Pak. Mari saya antar," dengan sopan pak Robby mengantarkan Al menuju ruang atas. Langkah mereka begitu teratur, hingga sampai di depan pintu, Pak Robby membuka pintu mempersilahkan Al masuk.


"Silahkan, Pak," Robby segera menutup pintu dan meninggalkan tamunya itu berdua saja bersama majikannya. Kini ia kembali ke pos kerjanya yang berada di sisi pintu gerbang rumah megah itu.


Al menatap tajam pria yang tengah duduk di belakang meja kerjanya. Pria dengan perawakan tinggi besar, berkulit putih dengan kulit yang ditumbuhi bulu-bulu halus di sepanjang lengan yang dibiarkannya terbuka.


"Kau!" seru pria itu. Lidahnya nyaris kelu begitu ia melihat orang yang datang menemuinya.


"Iya," sahut Al singkat.


"Kapan kau kembali?" tanyanya lagi. Pandangan tetap terpaku pada pemuda yang ada di depannya itu.


"Dua hari yang lalu," jawab Al sengaja berbohong. Pria tua itu menganggap Al masih tinggal di Singapura bersama keluarga barunya. Ia tidak pernah mencium keberadaan Al yang sudah tujuh tahun terakhir pulang ke Jakarta dan menetap di Bogor. Tinggal di rumah yang jauh dari keramaian, yang dibelinya dari hasil keringatnya sendiri.


"Kau menginap di mana?"


"Untuk sementara di hotel," kebohongan Al terus berlanjut.


"Duduklah," pria itu meminta Al duduk di bangku yang ada di depan meja kerjanya.


Pria yang masih duduk di kursinya itu memandang Al dengan tatapan yang begitu lekat. Pandangan yang tajam, seolah mampu menusuk ulu hati. Ia mengamati pemuda yang ada di depannya itu dengan teliti.


"Maafkan aku," Al memutuskan untuk mengucapkan kata itu setelah cukup lama keduanya hanya diam.


"Aku ingin membunuhmu, namun sayang. Aku tidak bisa melakukannya," Pria itu mendesah pelan setelah ia mengucapkan kalimat penuh ancaman itu dengan nada yang cukup kasar.


"Maafkan aku, Pa," ujar Al lagi. Kali ini dengan nada yang cukup pelan.


"Aku akan bertanggung jawab atas semuanya. Aku sudah memikirkan itu baik-baik dan untuk itu aku datang ke sini,"


"Kau pikir bisa segampang itu, 10 tahun bukan waktu yang singkat. Sudah banyak darah dan air mata yang berceceran karena kesalahanmu itu,"

__ADS_1


"Lihat ibumu, dia mendekam di penjara karena ulahmu,"


"Maaf, dia bukan ibuku,"


"Kau masih menyangkalnya? Dia yang sudah memungut kau dari jalanan ketika wanita yang tidak tau diri itu meninggalkan kita," ujar pria itu makin meninggikan suaranya.


"Ibu tidak pernah mencampakkan ku," tegas Al lagi.


"Ku pikir selama hidup di Singapura otakmu jadi cerdas, ternyata malah lebih parah. Buka matamu, siapa yang pantas kau maki diantara mereka," bentak pria itu lagi.


"Aku minta maaf. Bagiku mama tidak pernah meninggalkan kita, Masta yang sudah membuat tragedi di rumah ini," Al tidak kalah tegasnya dengan pria itu.


"Jangan sebut wanita itu di depanku," tegur Pria itu dengan tegas.


"Maaf, dia mamaku," sahut Al dengan suara yang tidak kalah tegas.


"Mama? Apa dia mau tahu anaknya masih hidup atau tidak? Dimana dia sekarang? Kau sendiri tidak tahu,"


"Minggu depan dia keluar dari penjara. Aku harap kalian bisa rukun dan tinggal di rumah ini,"


"Maaf, Pa. Aku sudah memutuskan akan menyelesaikan urusanku dengannya tapi tidak untuk kembali di sini,"


"Aku tidak pernah berhutang budi pada wanita itu. Jika aku harus dipenjara gara-gara karena kesalahanku aku siap,"


Pria itu lagi-lagi menghela nafas. Ia sadar, tidak ada gunanya berdebat dengan putranya itu. Karena Al darah dagingnya, sudah pasti ia mewarisi sifat keras kepalanya itu.


Ia bangkit dari tempat duduknya, ia melangkah menuju ke tempat duduk putranya. Pria itu berdiri di belakang Al dan menepuk pundak putranya dengan kedua tangannya.


"Istirahalah," ujarnya lagi. Suaranya sudah terdengar lebih lembut.


"Selama kau pergi, kamarmu tidak ada yang menempati. Tidak ada orang yang kuijinkan masuk ke kamarmu," ujarnya lagi.


"Maaf, Pa. Aku akan kembali ke hotel," ujar Al tanpa menoleh ke arah pria itu.


"Di luar sana begitu banyak yang menginginkan nyawamu. Aku khawatir nyawamu sia-sia,"


"Bukankah Papa juga berkehendak seperti itu. Lalu apa bedanya?"

__ADS_1


"Sutan!" Teriak Pria itu begitu keras. Suaranya nyaris memecahkan gendang telinga.


Tak lama, pintu di buka. Ada seorang perempuan berusia sekitar 30 tahun masuk ke ruang kerja dengan wajah yang begitu khawatir.


"Ada apa?" tanyanya begitu tatapan wanita itu beradu pandang dengan pria yang di panggil Papa oleh Al.


"Tidak, apa-apa. Tinggalkan kami berdua," sahut pria itu dan meminta wanita itu pergi dari ruangan itu.


Al sempat melihat perempuan itu sebelum ia meninggalkan mereka. Kini ia berdiri dari tempat duduknya. Posisinya sekarang, persis di hadapan Papanya.


"Siapa dia?" tanya Al tanpa bermaksud ingin ikut campur dengan urusan orang tuanya.


Tidak ada jawaban namun Al bisa menebak. Papanya memang tidak pernah lepas dari wanita-wanita muda yang selalu siap melayani dahaganya. Sudah pasti perempuan yang baru saja meninggalkan tempat ini, adalah salah satu dari mereka.


"Aku pamit. Assalamualaikum," Al segera meninggalkan pria itu yang masih berdiri di tempatnya sejak tadi. Ia tidak sanggup menahan kepergian putranya itu meskipun ingin sekali ia minta agar anaknya itu tinggal lebih lama lagi.


Pria itu merogoh ponsel yang ada di saku celananya. Setelah membuka daftar kontak, tidak lama terdengar suara dari arah seberang.


"Ikuti dia, cari tahu dimana dia tinggal," perintah pria itu dan langsung menutup telponnya.


"Pak Robby, ijin duduk sebentar ya. Nunggu taxi," Al minta izin pada penjaga keamanan yang sudah mengantarkan ke dalam karena ia duduk di pos satpam, menunggu taxi yang melintas.


"Silahkan, Pak," sahut Pak Robby dengan ramah.


Al tidak sadar jika ada sepasang mata yang tengah mengintainya. Orang suruhan Papanya yang diminta mengawasi dirinya, kemanapun ia pergi.


"Hotel Paris," Al menyebutkan tujuannya pada sopir taksi yang telah menjemputnya. Sengaja ia mengeraskan sedikit suaranya agar bisa di dengar oleh penjaga keamanan itu.


"Baik, Pak," sahut sopir itu sembari membukakan pintu dan mempersilahkan Al masuk.


Al langsung masuk ke mobil setelah pamit dengan pak Robby dan melambaikan tangannya ke arah pos penjagaan.


******


Hay semuanya, maafkan diriku yang tidak sanggup update lebih dari satu bab. Demi kesetiaanku pada kalian semua, aku sempat-sempatin nulis walau cuma satu Chapter agar target untuk menyelesaikan novel ini di bulan Juni dapat terealisasi.


Mohon maaf, ya!

__ADS_1


Ojo lali!


VOTE, like, dan spam komentar dari kalian tetap jadi semangat untukku.


__ADS_2