Temani Aku, Ken!

Temani Aku, Ken!
Tak Pernah Puas


__ADS_3

Barent melihat jam yang ada di ponselnya, hari masih menunjukkan pukul 02.37 wib. Ia terjaga karena panggilan telpon yang berulang-ulang. Telpon dari Maria.


"Cari lowyer, diskotik kita di grebek polisi," ujar Maria begitu berharap. Dari nada bicaranya ia tampak sedang panik.


"Mama ada di Polres, buruan datang," pintanya lagi.


"I..iya...Ma," sahut Barent terbata-bata. Antara sadar dan tidak, ia masih bingung dengan apa yang terjadi.


Barent masih duduk di sisi tempat tidur, ia menarik ujung alisnya dengan jempol dan telunjuk untuk mengurangi rasa sakit, kepalanya mendadak sakit mendapat kabar mengejutkan dari Sang Mama.


Barent membuka situs berita online. Ternyata beritanya sudah rilis bahkan sudah menjadi highlight di pencarian. Diskotik X digrebek, karena dicurigai sebagai tempat transaksi narkoba dan pesta ****.


Diskotik Adisa sudah beroperasi sejak 10 tahun yang lalu. Semula, diskotek ini dikenal dengan nama Adisa. Setelah berganti pemilik, namanya berubah menjadi NewPlus. 


Diskotik yang awalnya hanya menyajikan live music dan hall dengan musik fungky, kini menyediakan 15 kamar sebagai layanan plus-plus. Mulai beroperasi malam pukul 21.00 hingga dinihari pukul 03.00 wib.


"Kenapa bisa begini," keluh Barent. Baru sebulan ia meninggalkan Mamanya dan tidak mau ikut campur lagi dengan bisnis hiburan malam itu, malah banyak perubahan yang terjadi.


"Kenapa bisa jadi ajang penjualan narkoba dan transaksi sex? Mama......," Pekik Barent begitu kesal.


Tuan Kadir yang mendengar teriakan putranya buru-buru mendatangi kamar Barent. Di rumah itu, mereka hanya tinggal berdua saja, jadi suara sekecil apapun bisa terdengar apalagi teriakan Barent yang memecahkan telinga.


"Ada apa?" tanya Tuan Kadir Panik.


Barent memberikan ponsel yang ada di tangannya pada pria yang masih belum sadar dengan apa yang terjadi.


Setelah melihat pemberian dan membaca beberapa artikel teratas, pria itu hanya menghela nafas panjang.


"Sejak dulu ia tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki," keluh pria itu.


"Jadi bagaimana, Yah?" tanya Barent minta pendapat dengan Ayahnya.


Pria itu menghela nafas panjang. Ia duduk di sisi tempat tidur dan merapatkan tubuhnya ke arah Barent. Dirangkulnya pundak putranya itu dan menepuk-nepuk pelan, agar anaknya sedikit tenang.


"Apa kau mau menemuinya?" tanya Kadir dengan lembut.


"Iya, aku akan datang. Bagaimanapun juga, dia ibuku," sahut Barent.


"Ayah temani,"

__ADS_1


"Terimakasih, Yah," Barent sangat gembira mendapati Ayahnya mau menemui ibunya.


"Sejak kau memutuskan kembali ke rumah ini, sejak itu pula aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Aku akan melindungimu. Apapun yang menjadi masalahmu, akan menjadi masalahku juga. Aku datang bukan karena dia, tapi untukmu," jelas pria itu.


"Iya, aku faham. Terimakasih, Yah!" Ucap Barent. Senyumnya jadi mengembang saat itu juga.


"Kita berangkat usai Sholat. Jangan tinggalkan kewajiban mu," Kadir mengingatkan putranya.


"Iya, Yah,"


Sebenarnya Barent ingin memberitahu masalah ini pada Baron mengingat bagaimanapun juga diskotik itu miliknya meski sudah dihibahkan pada ibunya. Namun ada keraguan dalam hatinya. Apakah papa tirinya itu masih peduli dengan Maria atau tidak?


Sejak ia meninggalkan rumah itu, Barent sudah tidak mengetahui bagaimana hubungan ibunya dan Baron. Selain ibunya tidak pernah membahas soal itu, ia juga tidak ingin mencari tahu.


*********


Berita penangkapan pemilik diskotik NewPlus juga di baca oleh Al. Tidak lama kemudian, Bram juga memberitahu munculnya berita tersebut di berbagai media online.


"Aku sudah baca, tidak disangka ternyata ia tidak hanya mengubah nama usaha tapi juga mengubah manajemen yang sudah berjalan dari bisnis hiburan jadi tempat maksiat," gumam Al geram.


"Sepertinya ia akan berakhir. Selain transaksi sex, dari 107 pengunjung yang datang 83 diantaranya positif. Jika ada keterlibatan pihak diskotik, berarti tamatlah Maria. Bisa jadi usaha itu akan di tutup. Apa dia mampu membayar lawyer. Untuk menangani kasus berlapis seperti ini pasti butuh waktu yang lama dan tentu saja tidak murah," jelas Bram.


"Aku juga sanksi, pria simpanannya itu mau bersusah payah membantu dia," ujar Bram lagi.


"Waduh, cukup serius juga ya?" gumam Bram.


"Apa ada kemungkinan Tuan Baron mau membantuku ya?" Selidik Bram penasaran.


"Aku pastikan tidak. Sudah sebulan ini Maria di usir dari rumah dan mereka tidak pernah komunikasi lagi,"


"Baguslah, berarti selain anaknya tidak ada yang membela wanita sundel itu," tukas Bram.


"Aku ingin ia benar-benar berakhir," sahut Al.


"Ha...ha.....parah loe, emak sendiri lagi dapet masalah kau malah bertepuk tangan," gurau Bram.


"Tutup mulutmu, sejak dulu aku tidak pernah menganggap dia sebagai ibuku, begitu juga anak tukang parfum itu. Dia tidak pernah jadi kakakku,"


"Dendam sekali," ledek Bram lagi. Ia makin bersemangat untuk menggoda karena Al sudah mulai emosi.

__ADS_1


"Kau jangan kurang ajar dengan majikanmu," sergah Al pura-pura galak.


"Ha.. ha.....udah ah. Aku mau serangan fajar dulu. Sejak usia kehamilan Chica masuk tri semester kedua dia makin cantik dan menggoda. Bener-bener bikin nagih," canda Bram.


"Sialan.....," Al langsung menutup sambungan teleponnya, ia masih sempat mendengar Bram yang tertawa puas karena berhasil membuatnya kesal.


*********


Al turun dari kamarnya, ia melihat Papanya ada di ruang tengah sedang nonton TV. Al menghampiri pria itu dan duduk di sisinya.


"Apa Papa sudah mengetahuinya?" selidik Al. Ia menatap Papanya dengan mimik menyelidik.


"Iya, bahkan beritanya juga sudah tayang di tv,"


"Oh, ya? Al kaget.


"Apa papa akan membantunya?" selidik Al penasaran.


"Aku pernah bilang padamu, akan mengakhiri hidup wanita itu dengan caraku sendiri. Kau bisa lihat, kan? Sifatnya yang tidak pernah puas bisa dengan mudah membawanya pada jalan kematiannya sendiri,"


"Papa yang melaporkan?" tanya Al curiga.


"Sejak dulu memang aku sudah membayar orang untuk mengintai. Ada 100 gram sabu yang tersimpan di kamar Maria. Dan itu belum diberitakan. Dia akan membusuk di penjara dengan kasus berlapis," jelas Baron begitu puas.


"Bagaimana Papa tahu jika ada 100gram sabu di kamarnya?"


"Yang memimpin penggeledahan itu memberi tahu langsung padaku,"


Al tersenyum menyeringai, ia terpaksa mengacungkan jempol untuk papanya, kali ini ia sudah memberikan balasan yang setimpal pada wanita yang merebut kebagian mamanya.


🌳🌳🌳🌳🌳


Terimakasih atas kunjungan, sebelum membaca mohon dibantu


✓ VOTE


✓ LIKE, dan


✓ KOMENTAR-nya

__ADS_1


Bagi yang suka spam komentar diperbolehkan kok, agar novel ini tidak sepi seperti kuburan.


Dukungan dari kalian semua membuat saya makin semangat untuk update, vitamin yang luar biasa mujarabnya untuk menyelesaikan cerita ini. Terimakasih!


__ADS_2