Temani Aku, Ken!

Temani Aku, Ken!
Rahasia Laki-laki


__ADS_3

Al dan Baron duduk di gazebo. Akhir pekan, mereka memilih untuk menikmati pagi di tepi kolam ikan sembari ngopi dan membaca koran.


"Sejak kapan papa suka minum kopi," Al memperhatikan Papanya yang tengah meneguk kopi hangat dari cangkir berukuran kecil,motif balik. Koran yang ada di tangannya ia biarkan terbuka.


"Sejak mamamu pergi. Kopi panas sekalu terhidang untukku. Awalnya aku tidak tertarik cuka karena aromanya begitu menggoda, aku mencobanya dan mulai kecanduan."


"Bukannya penderita diabet dilarang mengkonsumsi minuman manis?"


"Harusnya memang seperti itu. Aku mengabaikannya. Tapi sekarang sangat jauh berkurang. Dalam seminggu paling banyak 3 cangkir ini. Namun sepertinya aku bakal kecanduan lagi,kopi buatan Ken kok nikmat sekali. Pas ukurannya," puji Baron.


"Masa? Coba aku cicipi!"


"Kau mau minum satu cangkir denganku," canda Baron.


"Bisa jadi waktu kecil aku makan bekas lepehan mu, kenapa sekarang merasa jijik hanya minum dari cangkir yang sama,"


"Sembarang aja kamu. Mamamu itu tenaga medis, ia faham sekali menjaga kesehatan dan kebersihan anaknya. Mana boleh kau diberi makan dari mulut orang. Semua harus steril, makanan panas pun ia dinginkan dengan caranya sendiri, bukan ditiup atau dimasukkan dulu ke mulutnya,"


"Ha..ha....aku cuma bercanda. Kenapa papa seserius itu,"


"Iya, Pa. Kopinya enak," ucap Al setelah mencoba minuman itu dua tegukan.


"Bener kan. Udah. Isa buka kafe itu. Lumayan buat sumber keuangan yang baru,"


"Enggak bisa, aku tidak akan membiarkan ia bekerja. Dia hanya boleh mengurusku,"


"Kau mau cari istri atau pengasuh?" ledek Baron


"Siang ini ibunya Ken pulang," ucap Al. Wajahnya tiba-tiba jadi murung.


"Bukankah Bu Ros sudah lama bekerja denganmu?" tanya Baron penasaran karena melihat wajah Al yang berubah menjadi tegang.


"Iya. Tapi selama ini aku tidak punya hubungan dengan anaknya. Aku takut ia melarang Ken menikah denganku. Aku sangat menyayangi dan ingin segera bersama,"


"Aku faham. Apa yang kau rasakan saat ini pernah aku alami. Kenapa kau bisa berpikir Ibu Ros tidak merestui mu?"


Al menceritakan semuanya. Termasuk Bu. Ros yang tidak pernah tau apa pekerjaan. Apa mungkin ia menerima Al yang hanya mempunyai ijazah SMP sedangkan anaknya sudah mau jadi sarjana. Untuk memperoleh gelar itu ia harus pandai-pandai mengelola keuangannya. Belum lagi status Ken yang tidak pernah diketahui dengan jelas siapa orang tuanya.


"Iya, semua terjadi karena kesalahanku. Kau tidak bisa sekolah seperti anak-anak pada umumnya. Kau jangan panik. Aku akan melakukan apapun agar kau bisa memilikinya," ucap Baron begitu yakin.

__ADS_1


"Terimakasih, Pa," ucap Al senang. Ia merasa diperhatikan meskipun ia yakin bisa menyelesaikan semuanya sendirian.


"Pak..," panggil Ken yang berjalan ke arah gazebo. Sepertinya ia tengah mencari keberadaan pak Parman.


"Pak Parman lagi panen pisang di belakang sana. Ada apa," tanya Al begitu wanita itu sudah berada di depan gazebo. Ken tersenyum dan memberikan hormat pada Baron yang melihat ke arahnya.


"Mau Bangkep ikan. Ibu bilang mau bikin pepes ikan untuk makan siang,"


"Oh, kau tidak bisa melakukannya?"


"Bisa. Siapa bilang ga bisa. Gampang ini mah,"


"No bukti, hoax"


"Dih, lihat nih. Aku akan mendapatkannya hanya dalam satu gerakan,"


"Papa masuk dulu, cuacanya sudah mulai panas," Baron berangkat dari tempat itu dan meninggalkan mereka berdua bersitegang prihal menangkap ikan.


Tidak ada yang menanggapi ucapan pria itu, saat ia pergi dari situ pun mereka berdua tidak ada yang perduli.


Al melihat Ken mengubek-ubek kolam. Mengejar ikan emas yang berukuran paling besar. Ia berlari ke sana kemari mengelilingi kolam, mengikuti arah larinya ikan.


Ikan bukan lawanmu, kau harus menjinakkannya bukan menyerang,” ucap Al sembari memainkan air kolam, hingga airnya bergerak-gerak resah, dan ikan di bawahnya berlari ketakutan.


Ken tersenyum menyeringai, kening berkerut. Perlahan ia mencoba mengartikan ucapan Al dan sesaat kemudian membuatnya mematung kebingungan.


“Seni?” gumam Ken dengan wajah mengejek.


“Ikan memang hidup dan dipelihara untuk dimakan. Tapi menangkapnya tidak dengan kekerasan.” ucap Al sambil terus memainkan air kolam: dipukul-pukulnya, dengan mata lekat menatap ikan yang berlari ketakutan.


Ken duduk memunggungi Al. Ia berselonjor di bibir kolam dengan celana dan baju yang telah basah.


Al memutar tubuhnya. Kini ia bisa melihat yang duduk di depannya dengan mata yang tetap membidik ikan-ikan itu. Hanya dari mulut dengan bibir yang lembut dan merah alami itu perkataannya tertuju kepada Al.


"Coba kau tangkap ikan itu untukku," tantang Ken.


"Bahasamu terlalu melebih-lebihkan. Bilang saja ‘pelan-pelan saat menangkap ikan’, tidak usah menyebutnya dengan seni!” Ucap Ken dengan suara agak meninggi dan sinis.


“Bedanya bahasa orang yabg terlahir dari keluarga pemakan ikan dengan penangkap ya begitu!” tukas Al tidak mau kalah.

__ADS_1


Ken mendengus panjang. Ia merasa lucu dengan sikap dan ucapan Al pagi ini. Perkara menangkap ikan saja harus berteori ke sana ke mari.


"Tangkap ikan begitu ia merasa tenang. Menang terlihat gampang namun tidak semua orang mampu melaksanakannya,"


“Setidaknya, di detik-detik akhir hldupnya, kita memberi kelembutan dan kasih sayang saat memisahkan dia dari tempat hidupnya!” suara Al terdengar pelan karena ikan yang sudah mendekat ke arahnya terlihat merasa tenang.


Al membungkukkan tubuhnya ke dalam kolam, hingga separuh tangannya basah. pelan sekali, gerakan itu mengarah pada ikan yang menjadi sasaran. Ia tidak ingin satu ikan pun merasa terganggu dengan kehadirannya.


Aku mengamatinya dengan seksama. Semakin tangan Al mendekati ikan, semakin pelan gerakannya, hingga riak airnya tidak nampak sama sekali. Ikan-ikan yang ada di sekitar tangannya tidak merasakan kehadirannya.


Berilah sentuhan lebut untuk yang terakhir dalam hidupnya. Ikan sudah faham, ia hidup untuk makan. Tangkaplah ia dengan seni, agar ia semakin gurih saat kita nikmati” ucap Al dengan tenang. Ia memberikan satu ikan dengan ukuran yabg paling besar pada Ken. Ikan yang ditangkapnya untuk pujaan hatinya.


Ken mengulurkan tangannya dengan senyum yang mengembang. Ia kagum dengan keahliannya dan kesabaran yang dimiliki oleh Al. Tanpa alat bantu, ia bisa menangkap ikan dengan mudah.


"Hebat," puji Ken begitu surprise.


"Berapa ekor lagi?" tanya Al sembari menikmati senyum gadis itu.


"Lima," sahut Ken yakin.


"Baiklah. Tetaplah duduk di situ. Aku akan menangkap ikan itu untukmu sambil menikmati cantiknya wajahmu," gombalan itu akhirnya keluar juga.


"Beh..... bahkan aku belum mandi. Kau sudah bilang aku cantik. Aku tak akan membasuh muka da tubuhku agar kekagumamu padaku tetap utuh," balas Ken tak kalah gombalan.


"Al.....," Teriak Ken ketika air kolam itu sudah menyiram wajah dan tubuhnya. Al begitu gemes diperlukan seperti itu hingga keisengan tidak bisa berhenti. Tubuh Ken basah kuyup seketika itu juga.


Al beranjak dari tempat duduk. Ia mengambil serokan yang ada di sisi gazebo. Hanya dengan satu gerakan, ikan sudah masuk dalam serokan.


"Kenapa tidak bilang kalau ada alatnya," ucap Ken kesal. Al tertawa puas. Pagi ini ia sudah bisa membuat gadis itu jengkel dan ia begitu menikmati ketika wajah itu berkali-kali cemberut karena ulahnya.


🎀🎀🎀🎀🎀


Terimakasih atas kunjungan, sebelum membaca mohon dibantu


✓ VOTE


✓ LIKE, dan


✓ KOMENTAR-nya

__ADS_1


Bagi yang suka spam komentar diperbolehkan kok, agar novel ini tidak sepi seperti kuburan.


Dukungan dari kalian semua membuat saya makin semangat untuk update, vitamin yang luar biasa mujarabnya untuk menyelesaikan cerita ini. Terimakasih!


__ADS_2