
Di sebuah klinik bersalin yang sangat sederhana, terlihat seorang asisten bidan sedang memeriksa kandungan ibu muda. Ia terlihat sabar dan piawai menangani pasien yang berkunjung untuk melakukan pemeriksaan.
"Tensinya normal, berat badannya juga stabil," ujar wanita itu.
"Baik bunda, cuma saya belum bisa makan nasi,"
"Jangan dipaksa, tapi tetap diusahakan satu atau dua suap juga cukup. Empat sehat lima sempurna juga harus diperhatikan biar banyinya sehat dan cerdas,"
"Iya, Bun. Saya tetap makan. Dikit-dikit. Kalau mual langsung berhenti,"
"Bagus, berarti kamu sudah memberikan yang terbaik untuk anakmu sejak dini," puji wanita yang masih tampak cantik dan sederhana itu meskipun usianya sudah menginjak kepala empat. Kedua wanita itu beranjak dari tempat duduknya dan melangkah ke arah luar.
"Jangan lupa, vitamin saya saya beri juga dihabiskan," wanita itu mengingatkan pasiennya lagi saat mengantarkan ibu muda yang tengah hamil tiga bukan itu hingga ke parkiran dan meninggalkan klinik Mutiara Hati.
Sudah sepuluh tahun Lisha mengabdikan diri di klinik bersalin milik dokter kandungan ternama yang punya jiwa sosial yang tinggi. Klinik ini dibangun bukan untuk mencari kekayaan tapi lebih pada kepedulian sosial.
Siapapun yang berobat dan bersalin di tempat ini tidak dipatok besaran biaya yang harus dikeluarkan. Pasien membayar sesuai kemampuan dan seikhlasnya Bahkan ada yang gratis 100% bagi mereka yang benar-benar tidak mampu.
Meskipun klinik ini tidak begitu besar, berada di pemukiman padat penduduk dan murah bukan berarti pelayanannya asal-asalan. Klinik ini mendapatkan bantuan dari donatur tetap yang peduli dengan kesehatan ibu dan anak, salah satunya adalah Lisha.
Saat ia belum meninggalkan rumah dan masih berstatus sebagai istri Hj. Bahrudin, ia menyalurkan donasi berupa uang setiap bulannya. Namun sejak sepuluh tahun terakhir, ia hanya bisa menyumbang tenaga dan pikiran. Ia tidak menerima bayaran dari hasil kerjanya, sebagai imbalan ia tinggal di tempat ini secara gratis.
Meskipun tidak dibayar dari pekerjaan yang dilakukannya, Lisha menjalankan tugasnya dengan profesional. Semua pasien di tempat ini mengenalnya sebagai Bunda Lis, asisten bidan sekaligus tenaga administrasi yang ramah dan sabar menangani pasiennya.
Ketika ia hendak menutup pintu gerbang, satu suara mengejutkan. Wanita itu langsung mengenali dan menoleh ke arah sumber suara.
"Assalamualaikum, Nyonya," sapa Pak Komar yang sudah berada di pintu pagar. Pria itu membuka helm dan masker yang dikenakan hingga wanita itu langsung mengenalinya.
"Pak Komar?" panggil wanita itu begitu kaget.
"Iya, nyonya. Saya Komarudin," pria itu langsung menghampiri majikannya dan menyalami wanita yang masih begitu segar dan cantik.
"Kok bisa sampai ke sini?" tanya Lisha bingung. Ia mengedarkan pandangannya untuk memastikan bahwa pria itu datang seorang diri.
"Ceritanya cukup panjang," sahut pak Komar lagi.
"Ayo kita ke dalam," ajak Lisha. Ia menyuruh pak Komar membawa masuk motornya agar tidak menggangu hilir mudik kendaraan lain. Maklum, klinik itu berdiri di perkampungan padat penduduk yang ada di Jakarta pusat. Jalanannya hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua.
Lisha mempersilahkan pak Komar duduk di ruang praktek, tempat ia bekerja sehari-harinya.
__ADS_1
"Nyonya sudah lama di sini," tanya Pak Komar sembari menyapu pandangan ke ruang yang berukuran sekitar 5x6 M2 itu.
"Sejak terakhir Pak Komar mengantar saya," ujar Lisha pelan.
"Kenapa Nyonya tidak pernah kembali?" Selidik Pak Komar makin penasaran.
Lisha menarik nafas panjang dan melepaskannya dengan pelan. Ia memaksakan diri untuk tersenyum.
"Apa Pak Komar masih berkerja di sana?" Lisha tidak menjawab pertanyaan mantan sopirnya itu, ia justru bertanya tentang status pekerjaan pria itu.
"Tidak, sudah sepuluh tahun ini saya berhenti. Tepatnya ketika terjadi peristiwa itu?"
"Aku mengetahuinya dari koran dan berita online. Maria ditangkap karena investasi bodong," sahut Lisha getir.
"Iya, parahnya lagi ia melibatkan Al," tambah Pak Komar.
Lisha memejamkan matanya sejenak, hatinya begitu teriris mendengar pria itu menyebutkan putra kesayangannya.
"Aku pernah datang untuk kesekian kalinya ke rumah itu, hanya untuk mencari tahu keberadaan putraku. Aku tidak diizinkan masuk. Satpam dirumah sudah ganti, dia tidak mengenaliku. Dia bilang Al sudah meninggal karena dihajar massa," ujar Lisha sembari sesugukan.
"Tidak Nyonya, Al baik-baik saja. Saat Maria terlibat pertengkaran dengan asistennya, aku yang membawa pergi anak itu. Aku amankan di rumah keluargaku agar keberadaannya tidak tercium oleh Maria dan anaknya,"
"Nyonya, jangan seperti ini," Pak Komar mengangkat tubuh perempuan itu dan membawanya kembali ke kursi yang ditempati wanita itu tadi.
"Al sehat walafiat, aku hanya mendapat kabar dari keluargaku. Terakhir aku dengar dia membeli rumah di daerah Bogor dan tinggal seorang diri. Ia mengasingkan diri dari masyarakat karena rumor yang di hembusan oleh Maria. Ia bisa hidup dari hasil trading nya," ujar Pak Komar.
"Hidupnya dipenuhi rasa bersalah dan ketakutan. Ia tumbuh menjadi pemuda yang pendiam dan tidak pandai bergaul," lanjut pria itu lagi.
"Al....," seru Lisha yang tidak bisa menahan isaknya.
"Aku ingin ketemu dia, Pak. Tolong....Bawa aku padanya....Bawa aku ke sana," ajak Lisha tidak sabar. Suaranya begitu bergetar menahan rindu serta haru.
"Iya, Nyonya. Kita akan menemuinya,"
"Sekarang, Pak! Ayo kita berangkat!" ajak Lisha begitu tidak sabar.
"Sebentar, saya ambil tas dulu dan pamit dengan suster Ana," Lisha buru-buru bangkit dari tempat duduknya dan setengah berlari ia naik ke lantai dua. Tempat ia biasa beristirahat sekaligus tempat tidurnya.
Tidak lama, ia turun dengan tas kecil di tangannya. Ia berlari ke arah samping, menuju ruang bersalin dan rawat inap pasien untuk menemui suster Ana.
__ADS_1
Pak Komar yang melihat semangat perempuan itu ikut terenyuh. Ia bisa membayangkan bagaimana perasaan wanita itu setengah sepuluh tahun lebih berpisah dengan putra kandungnya. Pak Komar melihat ke arah dinding, jam sudah menunjukkan pukul 21.10 WIB.
"Hem .... Aku harus menghubungi Bram dulu," Pak Komar terlihat sedang menekan ponselnya dan segera terhubung dengan Bram. Ia ingin memastikan alamat apartemen Al terlebih dahulu sebelum membawa majikannya itu menemui anaknya.
"Paman sudah ketemu dengannya?" tanya Bram dari seberang.
"Iya, aku sedang bersamanya," sahut Pak Komar begitu bahagia.
"Ya Allah, aku ikut terharu. Paman bisa menemukan dia secepat itu,"
"Bram, kami akan segera ke rumah Al. Tolong share alamatnya," pinta Pak Komar bersemangat.
"Untuk sementara Al tinggal di apartemennya di Jakarta pusat, saya kirim alamat via WA," jawab Bram.
"Oh, dia tidak di Bogor. Baguslah berarti lebih dekat dari sini," sahut Pak Komar lagi.
Aku juga mau menuju ke sana. Kita ketemu di apartemen,"
"Baik, Terimakasih," ucap pak Komar yang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
Pak Komar menutup telponnya, ia segera membuka WA. Bram sudah mengirimkan alamat Al melalui pesan itu.
"Ini sangat dekat dari sini," pekik Pak Komar.
"Siapa, Pak?" tanya Lisha yang sudah berada di ruang itu lagi.
"Ternyata Al ditinggal di apartemen Piramid,"
"Ya Tuhan, ternyata anakku begitu dekat denganku namun aku tidak menyadarinya," seru Lisha makin terharu.
Tanpa menunggu waktu lagi, keduanya segera meninggalkan klinik itu, menelusuri gang sempit menuju ke arah jalan raya. Tujuan mereka hanya sekitar 25 menit dari tepat tinggal Lisha, klinik bersalin Mutiara Hati.
******
Hay semuanya, maaf ya... aku hanya bisa update satu chapter saja. Terimakasih atas kunjungan dan kesetiaannya mengikuti cerita ini.
Aku tetap menunggu
VOTE, like, dan spam komentarnya di setiap chapter yang aku update.
__ADS_1
Happy reading to semuanya 🤗🤗