Temani Aku, Ken!

Temani Aku, Ken!
Ada Apa?


__ADS_3

"Dia menemui Papanya!" Nora buru-buru memberi kabar pada Barent, saat pria itu sampai di rumah.


"Kau yakin itu Sutan?" Barent mengeryitkan keningnya. Tatapannya tajam, memandang penuh selidik pada perempuan yang dipekerjakannya di rumah ini.


"Iya, Bos sempat menyebut namanya dengan nada tinggi. Aku langsung menuju ke ruang kerjanya,"


"Hemm.....apa yang mereka bicarakan?" selidik Barent lagi.


"Entahlah, begitu aku muncul, dia menyuruhku meninggalkan tempat itu,"


"Tidak lama setelahnya, dia pergi meninggalkan rumah. Kata Robby, dia menuju hotel Paris menggunakan taxi,"


"Bagus, dia tidak berani tinggal di sini," gumam Barent merasa senang.


"Terus awasi dia! Terutama jika aku tidak di rumah," perintah Barent pada perempuan itu.


"Baik," permisi. Perempuan itu pamit begitu Barent mengibaskan tangannya. Memberi kode agar ia secepatnya meninggalkan tempat itu.


Nora adalah wanita berbayar yang mempunyai banyak pelanggan di tempat hiburan milik Baron. Kecantikan dan kemolekan tubuh perempuan itu menjadi nilai jual baginya untuk menggaet pria hidung belang yang butuh layanan. Perempuan berusia 30 tahun ini dipekerjakan khusus oleh Barent untuk melayani ayah tirinya selama ibunya di penjara.


Ia berpikir, sesetia apapun laki-laki pada istrinya jarang ada yang bisa bertahan jika harus libur urusan ranjang, apalagi dalam waktu yang panjang.


Apa yang dipikirkkannya terbukti. Ayah tirinya itu langsung menanggapi ketika ia memperkenalkan Nora untuk menjadi istri kontrak. Istri yang menggantikan tugas biologi ibunya selama ibu sambung Al ada di penjara.


Barent tidak ingin kehilangan informasi dari ayah tirinya itu. Baginya, pria itu adalah aset yang harus dijaga selama pria tua itu belum melimpah bisnis club itu pada dirinya.


Selama ini ia hanya mendapatkan kepercayaan untuk mengelola, belum menjadi pemilik sepenuhnya. Barent tau, meskipun ia dan mamanya sudah berhasil mencuci otak pria itu hingga ia tega mengusir anak dan istri sahnya namun ia belum sepenuhnya bisa melupakan anak kandungnya sendiri.


Meskipun rumah dan aset berharga yang dimiliki pria itu sudah menjadi milik mamanya, Barent terus berusaha agar kerajaan bisnis pria itu juga beralih ke tangan mereka secara sah.


"Kenapa dia kembali? Apa yang dinginkan anak ingusan itu?" Barent memukul meja yang ada di depan begitu keras.


"Apa dia tau jika Mama akan bebas?" Pikirnya lagi begitu keras.


"Sialan! Aku tidak akan membiarkan mu mengambil apa yang sudah ada dalam genggamanku. Lihat saja, Al. Aku akan benar-benar mengirimmu ke neraka kali ini,"

__ADS_1


ujar Barent semakin garang. Giginya bergemelatak dan mukanya merah padam. Ia benar-benar merasa terancam dengan kedatangan Al yang menemui ayahnya.


******


"Sebentar lagi mama pulang, apa sebaiknya Nora pergi dari rumah ini?" tanya Barent pada Ayahnya. Malam itu mereka tengah menikmati sejuknya angin di balkon, kamar sang ayah.


Barent selalu menyempatkan diri untuk menemui ayah sambungnya itu jika ia ada di ada di rumah.


"Gimana baiknya saja, aku tidak mau ada salah faham antara Nora dan Mamamu. Kasian! Dia sudah banyak berkorban untuk keluarga ini,"


"Aku sudah membicarakan ini dengan Nora, ia faham. Berdasarkan surat perjanjian yang kami sepakati, ia berhak tinggal di sini selama Mama tidak ada," Barent menjelaskan .


"Beri dia tempat tinggal yang layak. Cukupi kebutuhannya. Aku ingin ia tetap menjadi istriku tanpa harus menggeser Maria,"


"Baik, Yah. Ayah bisa mempercayakan ini padaku. Aku akan mengurus semuanya,"


"Terimakasih. Kau memang anak yang berbakti. Meski diantara kita tidak ada hubungannya darah, aku harus mengakui banyak kesamaan diantara kita,"


Barent tersenyum. Ia kerap mendengar kata serupa keluar dari mulut pria tua itu. Pria itu begitu larut dengan skenario yang disusun rapi olehnya.


"Aku hanya ingin berbakti pada orang yang telah memberikan kehormatan padaku dan juga mama. Ayah jangan khawatir, aku akan melakukan apapun asal itu bisa membuat ayah bahagia,"


"Jangan katakan itu, aku melakukan semuanya dengan ikhlas,"


Baron menarik nafas panjang dan melepaskannya dengan pelan. Sesaat dia diam. Pandangan begitu kosong.


"Al sudah datang," ujar pria tua itu setelah menarik nafas beberapa kali dan melepaskannya dengan terpaksa.


"Oh, ya? Aku senang mendengarnya. Apa dia baik-baik saja?" Seru Barent pura-pura kaget mendengar berita itu. Ia tidak ingin pria itu mengetahui rencana liciknya pada anak kandungnya.


"Ia. Dia sehat dan tumbuh dengan gagah. Aku hampir tidak mengenalinya. Selama 10 tahun tidak pernah melihatnya sama sekali, banyak perubahan yang kulihat pada dirinya,"


Ujar pria tua itu dengan nada yang begitu berat. Seperti ada beban yang begitu ingin ia lepaskan.


"Dia baru tiba di Indonesia dan untuk sementara ini ia menginap di hotel," pria itu kembali menarik nafasnya. Ada nada kecewa dari ucapannya itu.

__ADS_1


"Apa Ayah ingin ia tetap tinggal?" selidik Barent. Ia ingin mastikan perasaan sang ayah pada putra tunggalnya itu.


"Aku tau kesalahan yang ia perbuat pada ibumu tidak termaafkan. Sebagai orang tua aku hanya ingin kalian bisa damai. Hidup rukun dan tinggal di rumah ini layaknya keluarga,"


"Jika Ayah mau, aku akan membawanya kembali untukmu!" Barent sengaja bicara begitu agar ayahnya punya kesan, ia tidak menaruh dendam pada putra kandungnya itu.


"Urusan ibu, bisa kita bicarakan nanti," sambungnya lagi.


"Biarkan saja dulu. Kita bicarakan dulu dengan ibumu. Untuk sementara waktu, kau bisa mengawasi adikmu itu. Cari tau apa yang dia lakukan di luar sana dan pastikan dia baik-baik saja," pinta Baron pada putra tirinya itu.


"Aku berharap orang-orang tidak mengenalinya lagi. Jadi ia tidak menjadi amuk massa, investor yang menitipkan uang pada ibumu dan masih menaruh dendam karena harus kehilangan modal karena ulahnya,"


"10 tahun waktu yang lama,sudah pasti banyak perubahan pada Al. Bisa saja orang-orang tidak mengenalinya lagi," Barent mencoba menghibur pria itu.


"Itu tugasmu. Pastikan dia baik-baik saja," tegas Baron dengan nada perintah.


"Baik, Yah. Aku akan mengawasinya,"


" Istirahatlah. Kau terlihat begitu lelah. Terimakasih sudah menemaniku,"


"Iya, aku baru kembali dari Bogor. Karyawan kita sudah tidak masalah dengan menejemen yang baru,"


"Aku yakin kau bisa mengurusnya dengan baik. Penuhi hak mereka, keluarganya butuh makan,"


"Iya, apapun solusinya aku tetap mengedepankan prinsip yang selalu ayah terapkan dalam berbisnis. Aku pamit dulu. Ayah juga harus istirahat. Besok kita harus kontrol,"


"Iya, terimakasih," sahut Baron terharu.


Baron, papa kandung Al sudah tiga tahun terakhir menderita diabetes. Ia sudah tidak bisa sebebas dulu untuk keluar rumah.


Jika gula darahnya tinggi, ia harus istirahat di rumah. Rasa kebas di kedua kakinya membuat ia sudah untuk beraktivitas. Ia merasa beruntung, Barent begitu sabar dan perhatian terhadapnya. Urusan bisnis bisa dikelola oleh anak itu.


******


Hay semuanya, maaf ya... aku hanya bisa update satu chapter saja karena terbentur dengan tugas kantor yang harus diselesaikan dan butuh konsentrasi penuh. Terimakasih atas kunjungan dan kesetiaannya mengikuti cerita ini.

__ADS_1


Ditunggu.......


VOTE, like, dan spam komentarnnya.


__ADS_2