Temani Aku, Ken!

Temani Aku, Ken!
Mulai Ngantor


__ADS_3

Saat sedang kumpul, Al mengungkapkan keberatannya pada Bu Ros. Al sedih, Ken ingin pindah dari apartemen dan tinggal bersama keluarganya.


"Kau jangan terlalu posesif begitu. Biar Ken tinggal bersama ayah dan kakak-kakaknya. Mereka baru saja ketemu, butuh waktu untuk menyesuaikan diri dan saling mengenal," ucap Lisha dengan bijak. Ia tahu putranya sangat berat hati untuk meluruskan keinginan kekasihnya.


"Kan ga harus pindah, dia bisa tinggal di rumah ayahnya satu atau dua hari dalam sepekan,"


Mendengar keluhan putranya, Baron tersenyum menyeringai. Ia faham, hal yang paling memberatkan Al jika Ken tinggal dengan orang tuanya adalah, ia makin sering ketemu Barent.


"Sudah seharusnya dia tinggal dengan orang tuanya daripada numpang di apartemen orang, toh ayahnya masih hidup,"


"Siapa bilang Ken numpang. Apartemen itu akan jadi miliknya,"


"Pak Kadir tidak melihat itu. Sebagai ayah dan wali sah dari Ken, ia wajib menjaga anak gadisnya. Harusnya kau yang sadar situasi," ucap Baron lagi.


"Maksud Papa?"


"Kau ini, masa segini tuanya ga bisa faham maksudku,"


"Baik, kalau dengan cara itu aku bisa melarang Ken tinggal dengan orang tuanya, aku akan melakukannya,"


"Kamu mau apa?" Kini giliran Lisha yang bingung. Ia memandang suami dan putranya secara bergantian. Al dan Baron diam, mereka memasang wajah datar.


"Baguslah jika kau faham maksudku. Kau memang benar-benar mewarisi sifat ku," Ucap Baron dengan bangga.


"Aku gugup, apa dia mau menerima ajakanku. Dia baru saja menikmati hidupnya sebagai karyawan dan ingin mengembangkan karirnya,"


"Coba aja, belum apa-apa sudah menyerah,"


"Hemmmm......aku mulai faham maksud kalian,"


"Ha....ha......mamamu payah, Al. Telat sekali mikirnya," ejek Baron.


"Terus bagaimana dengan Bu Fat, apa Maria sudah mau bicara?"


"Belum ma, besok aku mau menemuinya bersama Barent"


"Jika kau mau membantunya, lakukan dengan sungguh-sungguh, jangan sekedar formalitas saja. Aku yakin dengan begitu Maria mau memberitahu dimana Bu Fat? Bagaimanapun juga, Maria itu wanita dan dia seorang ibu. Dia pasti akan mendengar permintaan anaknya,"


"Iya, Ma. Semoga wanita itu masih punya hati,"


"Sekarang ini dia merasa sendiri. Ia sudah tidak punya apa-apa dan tidak ada yang mau membantunya. Jika kau berbuat baik padanya, mungkin ia akan luruh,"


"Kalo bicara tentang dia, aku ga mau ikut campur. Dia itu sangat berbahaya. Kita sudah tau karakternya," Baron berusaha mengingatkan Al dan Istrinya.

__ADS_1


"Ada Barent, Pa. Masa ia tidak mau mendengar permintaan anaknya. Apa yang dia punya di dunia ini selain Barent. Jika tidak berhasil juga, anggap saja kau sudah berbuat baik pada Barent, calon kakak iparmu,'


"Ternyata dunia ini begitu sempit. Kita harus berurusan dengan orang yang sudah membuat keluarga kita pecah belah," Baron merasa kesal.


"Barent anak yang baik, selama ini ia hanya terpengaruh ibunya," Lisha berusaha bicara dengan logika.


"Iya, coba saja. Aku tidak melarangnya," ujar Baron menyerah.


"Kalaupun dia mendapat bantuan advokasi tidak akan serta merta membebaskan wanita itu. Paling hukumannya bisa lebih ringan lima tahun," guman Baron dalam hati. Ia tidak mau rencananya melenyapkan Maria harus terhalang oleh urusan Al.


"10-15 tahun di penjara sudah membuat wanita itu tidak bisa berkutik. Kalau tidaj mati di penjara, ia keluar sudah tua renta," gumam Baron lagi. Ia tidak ambil pusing dengan rencana Lisha dan anaknya itu.


*********


Pagi-pagi sekali, Al sudah di apartemen. Ia sudah janji sama Ken, akan mengantar wanita itu ke tempat kerjanya. Ia akan memberikan support pada Ken di hari pertamanya sebagai karyawan perusahaan yang cukup besar.


Ken menyambut kedatangan Al dengan penampilan yang rapi, layaknya orang kantoran.


"Sepagi ini kau sudah rapi, mau ngapain. Buka pintu gerbang," sindir Al.


"Enggak, aku siap-siap aja. Namanya juga hari pertama kerja, deg-degan. Aku tidak mau telat,"


"Kita makan dulu, aku sudah bawa sarapan untuk kita?" Al meletakkan box di atas meja.


"Bawa dari rumah?" tanya Ken heran karena tidak mungkin beli jika dilihat dari tempatnya.


"Jadi merepotkan," Ken mengambil dan menyiapkan perlengkapan makan. Al duduk di meja dengan pandangan yang terus mengarah padanya.


"Ada yang aneh, dari tadi kok ngikuti terus"


"Kau terlihat beda kalau pake pakaian seperti ini,"


"Beda? Lebih tua, lebih dewasa, lebih elegan atau lebih cantik?"


Al hanya tersenyum, ia tidak mau menjawab pertanyaan Ken. Cukup ia yang tahu, dengan blazer hitam yang dikenakannya itu, Ken terlihat lebih cantik dan elegan.


"Ayo buruan, aku udah laper," buru-buru Al mengalihkan pembicaraan ketika Ken berdiri dan memandang serius. Menunggu jawaban dari Al.


"Iya, sebentar,"


Ken buru-buru menyiapkan air putih. Setelah itu ia duduk di depan Al. Membuka box yang berisi nasi goreng dan mengisi piring yang ada di depannya dengan beberapa centong nasi.


"Cukup, segitu aja," Al mencegah Ken ketika ia akan menambahkan nasi di piring itu.

__ADS_1


"Kok dikit, tumben?"


"Itu udah banyak,"


"Iya, ya," tawa Ken malu.


"Hemm......baru mau kerja udah ga fokus. Apalagi kalau sudah sibuk dengan urusan kantor,"


"Enggak gitu, tadi aku udah bilang. Aku gugup,"


"Ya sudah, buruan makan. Cepet selesai kita cepat berangkat,"


"Iya. Maaf udah ngerepotin. Kamu ga dagang dong gara-gara nganterin aku,"


"Tadi pagi udah TP sekali. Lumayan, aku kira lebih besar dari gajimu sebulan," ucap Al bangga.


"Ah.... sombong sekali. Emang tau gaji aku berapa?" Ejek Ken.


"Tau, Bram udah cerita,"


"Ah.....payah. Ga suprise lagi dong. Padahal aku mau traktir kamu kalo udah gajian,"


"Oh, traktir apaan?"


"Rahasia,"


"Ya sudah, suka-suka kaulah,"


Al menikmati sarapannya tanpa bersuara. Ken juga melakukan hal yang sama. Begitu sudah selesai sarapan, mereka meninggalkan apartemen menuju ke kantor Ken.


Al tahu ini terlalu lagi, jam masih menunjukkan pukul 07.30 sedangkan jam kantor di tempat kerja Ken mulai dari pukul 09.00 hingga pukul 17.00. Demi Ken, agar ia deg-degan karena takut terlambat, Al memilih mengikuti keinginan gadis itu.


Masih ada 1,5 jam lagi, padahal jarak tempuh dari apartemen ke kantornya hanya sekitar 15 menit saja. Apalagi naik motor, mereka bisa sampai lebih cepat.


*******


Semangat 💪💪💪 update walaupun pembacanya sepi🙈🙈🙈.


Untuk kalian yang masih mengikuti kisah Ken feat Al, jangan segan-segan untuk meninggalkan :


* Komentar


* Like

__ADS_1


* Vote-nya


Dukungan dari anda menjadi semangat imbalan yang tak ternilai harganya. Terimakasih....... Happy reading 😘😘😘


__ADS_2