
Al mengikuti sedan hitam yang sudah merangkak di jalan. Ia menjada jarak aman agar kehadirannya tidak disadari oleh perempuan itu.
"Siapa yang nyetir?" Pikir Al lagi. Ia merasa familiar dengan mobil itu, namun tidak berhasil mengingat siapa pemiliknya.
Setelah hampir setengah jam, mobil yang dibuntutinya masuk ke kompleks pertokoan. Sesuai dugaan Al, wanita itu memang mengunjungi club dan baru akan pulang ke rumahnya.
Saat mobil berhenti di depan butik, tak lama kemudian Al memarkirkan kendaraan roda duanya persis di samping mobil itu.
Sang sopir membuka kaca mobilnya, bersamaan dengan keluarnya perempuan yang duduk di samping bangku pengemudi. Kedua orang itu langsung mengenali Al yang membuka helm dan menyapa dengan ramah.
"Senang bisa ketemu kalian di sini" sapa Al sembari mengembangkan senyumnya.
"Barent dan Nora saling menatap. Mereka cukup kaget sebelum akhirnya Nora membalas sapaan anak tirinya itu.
"Surprise sekali. Masih pagi kau sudah di sini. Apa mau belanja lagi untuk sang Ratu?" Basa basi yang terkesan dipaksa itu hanya mendapat cibiran dari Al.
"Aku tidak menduga, ternyata kalian punya hubungan di belakang papaku!" Keluh Al memasang wajah prihatin .
Barent menghampiri Al yang masih duduk di atas motor. Pria itu mengulurkan tangan ke arah adik tirinya.
"Senang bisa ketemu kamu lagi," ucapnya kaku. Al tidak menjawab, ia justru menepis tangan kotor yang nyaris menyentuh tubuhnya.
"Papa begitu percaya pada kalian bahkan ia mencampakkan anaknya sendiri demi menghidupi anak dari istri mudanya. Tapi dibelakang dia kalian malah bermain api. Kurang ajar sekali?" Ujar Al lagi dengan sinis.
"Sudah Al, hentikan. Jangan membuat dugaan yang tidak-tidak. Aku bisa menjelaskan semuanya padamu," Nora berusaha meredam kemarahan Al agar tidak terjadi keributan di tempat sepagi ini.
"Ayo masuk. Baiknya kita bicara di dalam," Nora menawarkan Al untuk mampir ke rumahnya.
"Tidak, aku sengaja menyapa agar kalian tau. Aku sudah menjadi saksi dari penghianatan kalian pada papaku,"
"Papa? Bukankah dia sudah mencampakkan mu. Wajar dia berlaku seperti itu karena dari sikapmu ini sudah jelas jika kau tidak layak untuk di kasihi. Menyesal aku menganggap kau seperti saudaraku sendiri?,"
__ADS_1
"Siapa yang minta belas kasih. Faktanya aku bisa hidup mandiri. Tidak seperti anak mang kadir, kalo ibunya ga mikir gimana caranya merebut suami orang ga bisa hidup seperti ini. Kau harus ngaca sebelum menunjuk ke arahku," tegas Al.
"Apa kau bilang. Anak mang kadir?" tanya Barent kurang yakin dengan pendengarannya.
"Iya. Kenapa? Kaget? Dari dulu aku bilang, aku bukan saudaramu. Ibuku bukan mamamu, papaku juga bukan Mang Kadir. Saudara dari mana , hah?" Ucap Al makin sinis.
Barent terlihat makin emosi. Darahnya begitu mendidik mendengar nama ayahnya di sebut-sebut oleh Al. Apalagi melihat ekpresi Al yang begitu meremehkan.
"Aku bilang cukup. Jangan bertengkar. Kita bisa bicara baik-baik. Kenapa harus bersih tegang begini?" Wanita itu nyaris terisak karena tidak mampu melerai anak-anak suaminya.
"Aku tidak mau bertengkar. Ia yang mulai. Selain yang sudah aku bilang, aku hanya ingin menegaskan. Jangan pernah ganggu keluargaku. Jika kalian menginginkan harta papaku, silahkan ambil selagi dia iklas memberikan. Aku hanya butuh dia dan mamaku. Jangan pernah sentuh mereka. Dan untuk kau, temui mang kadir. Dia ingin sekali melihat anaknya," ucap Al. Telunjuknya mengarah ke wajah Barent.
Al memang terkesan kurang ajar namun ia terpaksa melakukannya karena dua orang ini akan cukup berbahaya jika terus dibiarkan.
"Apa kau bilang? Ayahku mencariku?"
"Aku tidak bilang ayahmu. Aku bilang mang kadir mencarimu?" Tegas Al yang makin membuat Barent segera melayangkan bogem mentah.
"Hah...bloon sekali kau bujang tua. Jika aku bisa bicara dengan mang kadir sudah bisa dipastikan dia masih hidup. Kau bisa lihat sendiri kakiku masih menapak di bumi,"
"Kau membuatku makin kesal. Aku bertanya serius. Dimana kau ketemu ayahku?" tanya Barent. Terlihat ia begitu menahan diri agar tidak emosi terhadap kelakuan Al.
"Kau membuat dirimu semakin lucu, bapak sendiri sudah kau anggap mati?" ejek Al.
"Aku tanya serius. Dimana ayahku?" tegas Barent menahan marah.
"Jangan membentakku. Apa kau lupa jalan ke arah rumahmu hingga tidak tau kabar orang yang sudah membuatmu ada di muka bumi ini,"
"Jadi dia masih hidup?" Ucap Barent menahan Isak.
Melihat mata Barent yang sudah merah dan suaranya bergetar, Al tidak meneruskan ejekannya lagi. Hatinya jadi tergugah, sepertinya Barent memang tidak tahu jika ayahnya benar-benar masih hidup.
__ADS_1
"Maaf jika aku membuatmu sedih," ucap Al pelan.
"Ibu bilang, ayah sudah meninggal makanya aku di boyong ke rumah itu. Saat aku ingin mengunjungi rumah yang pernah kami tinggali, ibu bilang ia sudah menjualnya karena tidak ada yang menempati," ucap Barent sedih.
Al hanya bisa menarik nafas panjang, begitu juga dengan Nora. Kini Al makin tahu. Maria tidak hanya kejam padanya dan mamanya, anaknya sendiri aja sudah ia bohongi.
"Ini foto ayahmu. Aku mendatangnya sekiitar seminggu yang lalu," Al membuka galeri foto di ponselnya. Ia memperhatikan foto Tuan Kadir yang diambilnya beberapa waktu yang lalu.
"Iya, dia ayahku. Ternyata dia masih sehat," Barent mengembangkan senyumnya.
"Terimakasih, Al. Terimakasih untuk pertemuan ini. Aku segera menemuinya. Sudah belasan tahun aku menganggapnya telah tiada,"
"Temui ayahmu. Ajak ibumu sekalian. Minta dia untuk bertobat," sindir Al.
"Aku berterimakasih padamu bukan berarti kau bisa menghinaku lagi," suara Barent sudah meninggi.
Al menyalakan mesin roda duanya, sebelum meninggal tempat itu ia sempat meninggalkan pesan untuk Nora dan Barent yang membuat telinga kedua orang itu makin panas.
"Aku akan menyembunyikan perselingkuhan kalian jika kalian tidak ikut campur lagi dengan urusanku,"
****
Terimakasih atas kunjungan, sebelum membaca mohon dibantu
✓ VOTE
✓ LIKE, dan
✓ KOMENTAR-nya
Bagi yang suka spam komentar diperbolehkan kok, agar novel ini tidak sepi seperti kuburan.
__ADS_1
Dukungan dari kalian semua membuat saya makin semangat untuk update, vitamin yang luar biasa mujarabnya untuk menyelesaikan cerita ini. Terimakasih!