
Al tidak kembali ke rumah. Ia tahu, kaki tangan Papanya pasti sudah mengintainya. Agar keberadaannya tidak tercium oleh mereka, ia terpaksa menginap di hotel. Sesuai dengan drama kebohongan yang telah diucapkan di depan Papanya.
"Ah, aku tidak membawa apapun," gumam Al saat sudah masuk di kamar hotel.
Ia merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk. Ingatannya masih tertuju pada kejadian beberapa waktu yang lalu.
"Papa tidak pernah berubah. Ia masih begitu percaya pada wanita yang telah menghancurkan keluarganya sendiri," gumam Al dalam hati. Ia mendadak sedih jika harus mengingat semuanya. Bagaimana wanita yang mampu membuat papanya bertekuk lutut itu, pura-pura mengorbankan dirinya demi masa depan Al.
"Munafik," pekiknya tertahan.
"Aku sudah cukup sabar," keluhnya lagi.
Ia tidak mau larut dalam kemarahannya. Beberapa kali ia menarik nafas dan melepaskannya dengan pelan. Begitu tenang, Al seolah ingat sesutu.
Al melihat jam tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul 17.10 wib. Ia ingat Ken yang tinggal sendiri di rumah.
"Ken," panggil Al begitu wanita itu mengangkat telponnya.
"Iya, Pak," sahut Ken begitu sopan.
"Tolong siapkan beberapa baju untukku dan laptop yang ada di ruang kerja. Antar ke sini," pinta Al dengan nada setengah memerintah.
"Ke sini?" tanya Ken dengan nada bingung.
"Hotel Paris,"
"Ken," panggil Al lagi.
"Iya, Pak,"
"Secepatnya, ya. Naik taxi aja, ambil uang yang ada di nakas paling atas,"
"Kuncinya, Pak?"
"Ga dikunci,"
"Iya, pak. Saya siapkan dulu,"
"Jangan lupa tutup semua pintu sebelum pergi," ujar Al mengingatkan.
"Iya, Pak. Saya siapkan dulu,"
"Ok, pastikan hp mu aktif, ya!"
"Iya, Pak,"
Al menutup telponnya. Tak lama kemudian, ia melakukan panggilan telepon lagi. Kali ini ia tujukan untuk resepsionis hotel, ia akan membuka satu kamar lagi untuk Ken.
__ADS_1
Ia sengaja membuka satu kamar agar tidak ada yang tahu jika tujuan Ken ke hotel ini untuk menemui dirinya. Ia ingin membuat kesan bahwa Ken adalah tamu yang sengaja menginap di hotel ini.
****
[ Satu jam kemudian ]
Sesuai arahan Al, Ken menuju kebagian resepsionis begitu sampai di hotel. Layaknya tamu pada umumnya, ia mengambil kunci kamar dan segera menuju ke lantai tujuh. Tempatnya kamar 705 yang sudah di pesan oleh Al atas nama dirinya.
Mungkin karena waktunya makan malam, suasana lobby cukup ramai. Tamu yang keluar masuk untuk makan atau beberapa tamu yang sedang menerima kunjungan.
"Aneh-aneh aja permintaan orang itu. Kenapa aku harus ke sini dan melakukan semua perintahnya," Ken mulai bergidik. Pikirannya mulai parno.
"Tugas pembantu zaman now memang begini kali ya?" Ken terus saja berpikir selama di perjalanan. Rasa herannya belum juga terjawab. Kenapa tiba-tiba majikan ibunya menelpon dan minta ia segera menyusulnya ke hotel?
"Jangan-jangan?" pikirannya lagi.
"Duh, gimana cara make nya?" Ken jadi bingung ketika ingin masuk kamar namun ia tidak cara menggunakan kartu yang diberikan petugas resepsionis tadi. Sebenarnya ia ingin bertanya, namun gengsinya cukup tinggi. Ia malu jika kebodohannya itu akan jadi bahan tertawaan petugas hotel.
Ken mengamati handle pintu, mencari celah dimana ia bisa memasukkan kartu itu. Belum juga menemukan apa yang dicarinya, ia dikejutkan oleh seseorang yang menyapanya dengan ramah.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang pemuda yang mengenakan kemeja putih berpadu dengan dasi biru motif kupu-kupu.
"Aku lupa menaruh kartu," Ken terpaksa berbohong karena kepergok oleh orang yang mungkin saja telah melihat kebodohannya itu.
"Oh, sebentar," pria itu terlihat sedang mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, namun belum tau apa yang akan dilakukannya, Ken menerima panggilan telpon.
"Iya, iya," sahutnya lagi.
"Maaf, Mas. Ibuku sedang menuju kemari. Aku tidak ingin ia beranggapan yang tidak-tidak terhadap Anda. Saya nunggu dia saja, ternyata kartunya ada sama dia," Ken memberikan alasan agar pria itu segera menyingkir dari hadapannya.
"Baik, saya tinggal. Selamat beristirahat," ujar pria itu begitu sopan.
"Siapa dia. Karyawan sini atau malaikat pengintai,"
"Ah, bodo amat. Yang leting sudah aman," bisik Ken lagi.
Setelah ia tegak tengok, memastikan tidak ada orang di sekitar situ, Ken pura-pura membuka tas ranselnya dan mengeluarkan sesuatu dari dalam saku bagian depan.
Dengan layaknya yang sok tau, ia memasukkan kartu sesuai arahan Al barusan.
"Alhamdulillah, bisa," teriaknya dalam hati begitu ia berhasil membuka pintu.
"Tau aja dia kalau aku kebingungan membuka pintu. Ha.. ha....," Ken mentertawakan kebodohannya. Ia sangat bersyukur dalam situasi yang begitu panik, Al menelponnya dan memberi petunjuk atas kesulitannya.
"Ndeso....ndeso," gumannya lagi sembari tertawa sendiri.
Ken meletakkan tas ransel yang berisi pakaian dan laptop milik Al di sofa yang ada di sisi tempat tidur. Karena tidak tahu apa yang akan dilakukan setelah ini, Ken merebahkan dirinya, sembari menunggu perintah dari bosnya lagi.
__ADS_1
"Kalau kamar ini sudah dipesan atas namaku, berarti malam ini aku bisa tidur di sini," pikirnya.
"Wow...... seumur-umur baru kali ini tidur di hotel mewah," serunya lagi.
"Iya, Pak," sahut Ken begitu ia mengangkat panggilan telpon dari Al.
"Keluarlah, aku tunggu di kamar 715, depan lamamu,"
"Lah," seru Ken heran.
"Buruan!"
"Iya, pak,"
Ken yang sudah merebahkan diri dengan malas, terpaksa bangun dan keluar dari kamar yang belum ia nikmati dengan sepenuh hati kenyamanannya.
Benar saja, Al sudah menunggu di kamarnya. Hanya dengan sekali ketukkan, pria itu sudah membukakan pintu untuk Ken dan menggiringnya ke sisi tempat tidur.
"Mana laptopku?" tanya Al bingung karena Ken datang hanya membawa tubuhnya. Lenggang tangan.
"Di kamar," jawabnya polos.
" Sini! Mana kartunya?" tanya Al lagi. Ia mengulurkan tangan ke arah wanita itu untuk minta kunci kamar. Al akan mengambil barang-barang yang di tinggal Ken di kamarnya.
"Di kamar,"
"Ken," pekik Al yang mulai kesal.
"Bagaimana bisa masuk kamarmu jika kartunya kau tinggal?"
"Oh, harus di bawa ya?" tanya Ken dengan wajah tanpa dosa.
"Ken....!" Teriak Al makin gemes. Ia ga habis pikir, bagaimana bisa ketemu orang seceroboh ini?
"Jadi gimana?" tanya Ken antara panik dan takut.
"Tidur saja di sini,"
*****
Hay semuanya, maafkan diriku yang tidak sanggup update lebih dari satu bab, minggu-minggu ini. Demi kesetiaanku pada kalian semua, aku sempat-sempatin nulis walau cuma satu Chapter agar target untuk menyelesaikan novel ini di bulan Juni dapat terealisasi.
Mohon maaf, ya!
Ojo lali!
VOTE, like, dan spam komentar dari kalian tetap jadi semangat untukku.
__ADS_1