Temani Aku, Ken!

Temani Aku, Ken!
Sedih


__ADS_3

"Mau nyusul ke sana, gak?" tanya pria itu pada Ken.


"Oh, ya. Fathur," ia memperkenalkan diri. Mengulurkan tangannya ke arah Ken dan tersenyum simpul.


"Kenny," sahut Ken singkat sembari menyambut uluran tangan pria itu.


"Kayaknya enggak, deh. Saya rumahnya jauh. Takut kemaleman pulangnya,"


"Bawa kendaraan?"


"Enggak, aku naik kereta,"


"Tadi antrian juga masih banyak, Pak Arya kan ga mungkin pindah tempat doang. Pasti ada pekerjaan di kampus itu. Kalau dia ada kuliah, berarti harus menunggu lagi. Sudah mau jam 4, aku pulang aja," jelas Ken lagi.


"Aku ga pernah liat kamu di kampus?" tanya pria itu.


"Harusnya aku sudah selesai 2 tahun lalu. Cuma karena cuti, jadi baru bisa skripsi sekarang,"


"Oh, pantes,"


"Pantes kenapa? Sudah keliatan seniornya?"


"Bukan itu maksudku. Pantes jarang lihat,"


" He..he.....Maaf, aku duluan ya. Takut kemaleman sampe rumah," Ken segera pamit begitu mereka sudah sampai di lapangan kampus.


"Iya mbak. Saya mau nyusul ke sana. Siapa tau rezeki,"


"Ok, sukses ya!"


Ken dan Fathur saling melambaikan tangan. Fathur berjalan menuju ke kendaraan roda dua di parkiran sedangkan Ken menuju halte bis. Ia terpaksa menunggu angkot yang menuju ke stasiun karena tidak punya kuota untuk pesan ojek online.


"Belum dapet angkot?" tanya Fathur.


"Belum," jawab Ken singkat sambil menggelengkan kepalanya.


"Aku anter sampai stasiun, kan satu arah," ajaknya.


"Boleh," Tanpa menunggu instruksi lagi, Ken langsung nemplok di jok belakang.


"Terimakasih, ya. Sebentar lagi keretanya lewat. Kamu sudah sangat membantuku,"


"Iya, emang keretanya setiap berapa jam sekali?"


"Satu jam,"


"Oh, pegangan ya. Harus dikebut nih biar ga ketinggalan,"


"Tapi jangan kencang-kencang, aku takut,"

__ADS_1


"Ga, pegangan aja," tanpa bicara lagi, Fathur melaju dengan kencang. Mau tidak mau Ken harus memegang pinggang Fathur karena takut jatuh.


"Pantesan geter, diatas 60," bisik Ken yang sempat melihat spidometer nya. Pada kondisi jalanan yang cukup macet, tentu saja isi perut Ken nyaris buyar karena motor yang di bawa Fathur ini harus nyalip, ngerem mendadak, bahkan masuk ke jalur busway.


"Bener-bener," bisik Ken lagi.


Saat tiba di depan stasiun, Ken langsung berlari dan Fahrur juga segera meninggalkan tempat itu. Ken benar-benar tidak ingin ketinggalan kereta, ia takut Al akan marah padanya.


Rupanya nasib baik berpihak pada Ken, lima menit ia menunggu, ternyata keretanya datang. Ken harus berebut dengan ratusan orang yang menunggu kereta itu agar bisa dapet tempat duduk.


"Alhamdulillah, untung ada Fathur. Jadi bisa sampai di stasiun tepat waktu,"


Sejam kemudian, Ken tiba di stasiun tujuan. Buru - buru ia turun dari kereta, menuju pasar kaget yang ada di dekat stasiun. Tujuannya mencari ikan yang akan ia bakar sore ini untuk sang majikan.


Cukup lama ia mengitari pasar, namun ikan yang dicarinya tidak terlihat. Mau bertanya pada pedagang, Ken sendiri tidak tahu nama ikan yang pernah ia bakar waktu itu. Ia hanya ingat bentuk dan warnanya.


"Hemmm......ikan yang lainnya aja, kali ya?" Ken bertanya pada dirinya sendiri.


"Bu, ikan yang enak di bakar yang mana ya?" tanya Ken pada salah satu penjual ikan di pasar itu.


"Yang ini, Neng. Bawal putih. Selain gurih dagingnya juga banyak,"


"Oh, ini ikan bawal?"


"Iya, dibakar enak. Di gulai atau dimasak apapun enak, kok,"


"Berapa satu begini?"


Ken memilih ikan dengan ukuran sedang, hanya satu ekor saja. Ternyata setelah ditimbang beratnya tidak sampai sekilo. Hanya tiga perempat.


"Satu aja, neng?"


"Iya, Bu. Hanya untuk berdua kok,"


"Oh, masih pengantin baru ya?" tanya ibu itu sembari memandang Ken sekilas.


Ken tidak menjawab, ia hanya tersenyum ramah pada ibu yang berusia sekitar 45 tahun itu. Setelah ia menyerahkan satu lembar uang 50 ribu dan mendapatkan kembalian, Ken segera putar balik. Buru-buru ia menuju ke pangkalan angkot.


Jam menunjukkan pukul 17.20 Wib, Ken masih bisa bernafas lega karena ia bisa sampai di rumah sebelum adzan magrib berkumandang.


******


[ Tiba di rumah ]


"Bagus, kau bisa pulang tepat waktu," ujar Al yang berdiri di depan pintu. Mungkin ia berniat ingin menutup pintu gerbang karena adzan magrib sebentar lagi berkumandang.


"Telat satu menit saja, kau bisa tidur di luar," ujarnya lagi begitu ketus.


"Brakk," terdengar suara pintu yang ditutup dengan tenaga ekstra. Ken semakin takut, ia khawatir pria ini benar-benar marah karena ia pulang se sore ini.

__ADS_1


Ken tidak menjawab, nafasnya masih tersengal-sengal karena harus berlari dari pinggir jalan menuju rumah ini, naik tanjakan lagi. Ia hanya tersenyum kecut dan menundukkan kepalanya sedikit.


Ken hanya berdiri melihat pria itu yang tengah mengunci pintu, ia tidak bisa berbuat apa-apa. untuk masuk ke dalam pun tidak berani karena khawatir orang itu masih akan menyampaikan sesuatu.


"Dasar tidak berprikemanusiaan, orang mau nafas aja sudah malah diomelin. Dia ga pernah idup sudah, makanya semena-mena saja sama babunya," Ken begitu kesal diperlakukan seperti itu.


Bagian punggung Ken sudah basah oleh keringat, begitu juga kening gadis itu. Lari dengan kecepatan tinggi dengan jarak 500 meter nyaris membuat nyawanya putus saat mencapai garis finis. Dengkulnya gemetar, matanya berkunang-kunang.


"Nasib.... Nasib....kok begini amat," keluh Ken. Air mata nyaris menetes dari kedua pipinya. Namun ia bisa menyembunyikan kesedihannya itu hingga Al tidak bisa melihatnya.


"Permisi, Pak. Boleh saya masuk?" tanya Ken begitu hati-hati.


Al hanya melihat sekilas ke arah Ken, tanpa anggukan atau sahutan ia kembali lagi meneruskan pekerjaannya.


Ken segera meninggalkan Al yang masih berdiri di depan pintu gerbang, ia melakukan gontai menuju ke kamarnya, melemparkan tas ranselnya ke atas kasur dan menuju ke dapur untuk membersihkan ikan yang baru di belinya.


"Bumbunya apa, ya?" Ken jadi bingung, karena waktu bakar ikan yang lalu sudah disiapkan oleh ibunya semua. Ia tinggal masak.


Ken balik lagi ke kamarnya, mengambil hp untuk browsing, namun ketika ia mengaktifkan WiFi ternyata password sudah ganti, ia diminta untuk menulis password yang baru.


"Hah....medit sekali manusia itu. Aku pakai internet kan untuk kepentingannya juga," Ken benar-benar kesal. Ia sudah tidak tahan dengan situasi yang dihadapi sekarang ini.


Baru saja ingin menemui Al, Ken justru melihat orang itu duduk dengan tenangnya di sofa. Menunggu adzan magrib.


"Pak, minta passwordnya. Aku mau browsing bumbu ikan bakar," dengan nada yang begitu memelas, Ken bicara pada Al yang sedang memegang remote TV, memindah-mindahkankan Chanel tv.


"Paket yang aku kirim belum masuk?" tanyanya datar. Tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi.


"Paketan? Apa dia kirim paketan?" tanya Ken nyaris tidak percaya. Ia sendiri tidak mengecek sambungan internetnya sejak tadi karena merasa tidak punya pulsa. Bahkan mematikan sinyal khawatir pulsanya yang tinggal sedikit tersedot habis.


"Saya tidak tau, belum ngecek," sahut Ken pelan.


"Aku tidak mengubah password WiFi, dari siang ada gangguan. Gak curigaan sama orang kenapa?" Ketusnya lagi.


"Maaf, saya kira diubah," sesal Ken. Ia makin menjatuhkan pandangannya ke lantai.


"Jika ia kirim kuota kenapa ga bilang, ia bisa naik ojol biar ga kayak orang kesurupan seperti ini," sesal Ken lagi.


Ken membalikkan tubuhnya dan kembali ke ke kamar untuk mengecek apa benar sudah kuotanya sudah bertambah.


*****


Happy reading all, terimakasih atas kunjungan setianya!


Jangan lupa vote, like, dan komen yang banyak, ya ( spam komen juga ga apa) biar saya makin semangat untuk update.


Aku juga nulis novel yang lain loh,


Bukan Yang Pertama

__ADS_1


Jangan lupa kepoin juga, siapa tau kalian juga suka sama ceritanya.


__ADS_2