Temani Aku, Ken!

Temani Aku, Ken!
K2


__ADS_3

Ken sudah sampai di parkiran sebuah kompleks pertokoan yang ada di daerah Jakarta Utara. Ia baru saja turun dari ojek online yang di tumpangi ketika seseorang yang ada di belakangnya menyapa.


"Lama banget," tegur Kevin sambil menepuk pundak gadis itu.


"Bikin kaget," sergah Ken yang tengah membuka tasnya, mengambil uang untuk membayar ongkos ojek.


"Aku sudah nungguin dari 10 menit yang lalu. Udah laper kelamaan nunggu kamu," gerutu Kevin.


"Maaf, macet banget," Ken memberi alasan lagi agar saudara kembarnya itu percaya.


"Terimakasih, Bang. Kembaliannya ambil aja," ucap Ken.


"Ayo, masuk!" ajak Kevin.


"Tadi bilangnya mau ngajakin makan, kok malah masuk ke sini," gumam gadis itu.


"Ini kantorku. Tadinya aku mau ngajakin kamu makan di depan situ, cuma aku pikir-pikir lebih santai kalo makan di ruanganku. Jadi aku pesan duluan,"


"Lah, bilangnya kelamaan nunggu,"


"He..he....," Tawa Kevin renyah.


"Ini kantorku. Ga terlalu besar, sih. Masih nyewa lagi," Kevin mengajak Ken masuk ke ruko yang ia peruntukan untuk kantor. Di ruang itu ada 3 orang yang dikenalkan Kevin sebagai staf dan tim advokatnya.


"Adeknya, Bos," tanya salah satu stafnya.


"Iya, cantik kan adek gua," ucap Kevin dengan bangga.


"Iya, kalian mirip banget," ujar pegawainya yang lain.


"Namanya juga saudara. Kembar lagi," ucap Kevin. Ia merasa bangga memperkenalkan Ken pada pegawainya.


"Aku sudah pesan makan siang untuk kalian. Aku ke dalem, ya! Ada sesuatu yang mau kami bahas," tambah Kevin lagi.


"Ok, terimakasih bos," sahut mereka nyaris bersamaan.


Tiba di ruangannya, Kevin mempersilahkan Ken duduk di sofa, untuk pertama kalinya kedua saudara ini bisa bicara empat mata setelah pertemuan di rumah ayahnya beberapa hari yang lalu.


"Bagaimana dengan Maria. Aku sudah menyelidikinya, berkas perkaranya


sudah ada di kejaksaan, tinggal menunggu sidang," Kevin membuka pembicaraan.


"Aku bingung. Satu sisi ia sudah teramat kejam pada ibu dan juga keluarga AL namun kita tidak boleh membalas sakit hati atas perlakuannya. Kita harus memikirkan perasaan Kak Barent. Bagaimanapun juga, Maria itu adalah ibu kandungnya,"


"Aku sempat begitu tapi jika kita biarkan, begitu ia keluar dari penjara pasti akan balas dendam. Bisa-bisa kita yang jadi incaran utamanya," tegas Kevin.


"Aku tahu. Kira-kira berapa tahun dia di penjara?'"


"Hasil penyelidikan menyebutkan, diskotik itu tidak hanya sebagai tempat prostitusi tapi juga terbukti sebagai tempat untuk pesta narkoba. Parahnya lagi, Maria termasuk sebagai pengedar atau pelabtara. Dia bisa kena pasal berlapis. Lama hukumnya, bisa 5-20 tahun jika tidak ada yang mendampinginya,"


"Ya, Allah. Apa dia sudah sekalap itu dengan uang. Al bilang, dulu diskotik itu hanya sebagai tempat hiburan malam. Tuan Baron melarang keras ada peredaran narkoba dan prostitusi," jelas Ken.


"Aku tidak tahu sejak kapan ia mulai menyimpang. Aku hanya dapat informasi secara globalnya saja,"


"Al masih berharap, Maria mau buka suara. Dimana ibu saat ini. Hanya dia yang tahu keberadaannya?"

__ADS_1


"Iya juga sih. Soal ibu kita pikirkan sama-sama. Ayah juga tidak tinggal diam. Ia juga minta bantuan Barent agar bisa membujuk Maria. Aku mengundangmu kemari karena ada sesuatu yang perlu kita bicarakan,"


"Tentang apa?" tanya Ken penasaran.


Obrolan mereka terhenti kerena makan siang yang dipesan oleh Kevin sudah datang.


"Aku pesan ayam bakar Kalasan, suka kan?" tanya Kevin.


"Aku pemakan segala. Mana mungkin bisa pilih-pilih makanan, bisa makan tiga kali sehari aja udah alhamdulillah,"


"Tapi aku lihat hidupmu tidak susah-susah banget,"


"Kelihatannya...,Aku bisa kuliah sejak Bu fat bekerja di rumah Al. Tapi kami harus hidup dengan prihatin agar bisa mencukupi kebutuhan tanpa menyusahkan orang lain,"


"Apartemen yang kau tempati?" selidik Kevin lagi.


Ken menceritakan pada saudaranya itu bagaimana ia bisa dekat dengan Al hingga tinggal di apartemennya sekarang,"


"Nah itu dia yang mau aku omongin. Kau tinggal sendirian di apartemen, aku juga tinggal sendirian di ruko ini. Lantai dua aku jadikan sebagai tempat tinggal. Ayah semalem telpon dan mengajak kita tinggal bersama dia,"


"Bagaimana denganmu?" Ken ingin tahu lebih dulu jawaban Kevin.


"Aku sih tidak masalah. Ada baiknya jika saat ini kita tinggal dengannya, selain hubungan kita makin dekat kita bisa koordinasi untuk mencari ibu,"


Ken belum bicara apapun, ia hanya mengangguk-anggukan kepalanya sembari memahami ucapan Kevin.


"Apa kau perlu ijin pada Al?"


"Tidak, kalaupun aku ingin tinggal bersama Ayah, aku yakin dia tidak malarangku. Yang aku pikirkan hanya Bu Ros, aku harus bicara dulu dengannya,"


"Baik, Kak," sahut Ken.


"Hem ....kakak?"


"Bolehkan aku manggil kakak. Rasanya seneng punya kakak laki-laki. Aku merasa dilindungi,"


"Boleh saja, yang penting kau senang. Lagian kau bilang wajahku lebih boros jadi aku rasa aku cocok jadi kakakmu," canda Kevin.


"He....he......aku becanda, kok. Kau tampan dan keren. Pasti banyak gadis-gadis di sekitarmu,"


"Kau lihat sendiri, di kantor ini semuanya laki-laki," elak Kevin.


"He..he....kakak bisa aja,"


Mereka menikmati makanannya dengan terus melanjutkan obrolannya. Kevin dan Ken, dua saudara kembar yang baru dipertemukan itu terlihat akrab. Satu sama lain cepat menyesuaikan diri. Mereka benar-benar terlihat kompak.


"Tau punya kakak seorang pengacara tenar, mending aku jadi asisten pribadimu aja. Enak, bisa masuk TV," ucap Ken sambil menyuap makanannya.


"Kau jurusan apa?"


"Akutansi,"


"Akutansi mau jadi asisten pengacara, bisa apa? Aku butuh team terutama asisten yang bisa menyusun gugatan, reflik duplik, dan bisa bersidang. Kalau jurusan aku akutansi apa yang kau kerjakan di sini?" ejek Kevin


*Aku bisa mengatur keuangan di kantor ini,"

__ADS_1


"Halah, kasus yang aku tangani masih bisa di hitung dengan jari. Uang yang di dapat juga masih itungan receh, apa yang mau di atur?"


"Masa, tapi kakak kan lagi naik daun. Sering diundang ke sana kemari jadi narasumber. Masa ga ada duitnya?"


"Uang yang di dapat Alhamdulillah cukup buat operasional, bayar gaji team yang ada di depan tadi, sewa gedung ini dan yang paling utama menyisihkan dana buat Bu Susi, makin ke sini banyak anak-anak yang dititipkan sementara donaturnya tidak bertambah,"


"Kakak baik Banget,"


"Aku bisa seperti ini karena kebaikan Bu Susi, masa aku tidak mau balas budi,"


"Iya, juga sih. Meskipun ibu mengalami nasib yang sangat tragis tapi anak-anaknya diurus oleh orang yang bertanggung jawab,"


"Iya, bener itu," seru Kevin membenarkan ucapan adiknya.


Saat mereka tengah asik-asiknya berbincang, Ponsel Ken bunyi. Ada panggilan masuk.


"Dari Al, Ya?" Selidik Kevin ketika Ken membuka ponselnya dan mengeryitkan keningnya.


"Iya,"


"Sepertinya dia sayang sekali sama kamu. Baru keluar beberapa menit udah di cari,"


"Dia baik, cuma sering ngeselin,"


"Ha......ha...... karena suka ketus sana Barent?"


"Iya,"


"Aku bisa melihatnya. Dia orang yang baik dan paling penting, dia sayang sekali sama kamu,"


"Iya, kak," Ken tersenyum bahagia. Ia merasa senang, saudaranya ternyata menyukai Al meskipun tingkahnya kerap membuat kesal.


"Kenapa ga diangkat?" tanya Kevin heran.


"Bentar, lagi makan," Ken memamerkan jari tangannya uang kotor pada Kevin.


"Makannya lama, aku udah abis dari tadi,"


"Aku yang lama atau kakak yang kecepatan?"


"Iya, ya? Sepertinya aku laper jadi udah ga dikunyah lagi. Langsung di telen. Ha....ha.....,"


********


Semangat 💪💪💪 update walaupun pembacanya sepi🙈🙈🙈.


Untuk kalian yang masih mengikuti kisah Ken feat Al, jangan segan-segan untuk meninggalkan :


* Komentar


* Like


* Vote-nya


Dukungan dari anda menjadi semangat imbalan yang tak ternilai harganya. Terimakasih....... Happy reading 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2