Temani Aku, Ken!

Temani Aku, Ken!
Sarapan Dulu


__ADS_3

"Sarapannya sudah sudah datang! Tadi harus ngantri jadi agak lama! Rame banget yang belanja, tidak seperti biasanya," Pak Parman yang baru saja muncul dengan tentengan plastik di tangan kanannya menyapa Al yang baru keluar dari ruang GIM. Ia memberi alasan kenapa bisa lama meskipun Al tidak bertanya soal itu.


"Mau sarapan sekarang?" tanya pria paro baya itu pada Al.


"Saya mau mandi, dulu," sahut Al singkat dan melangkah lagi ke arah dapur. Ia ingin mengisi tumblernya dengan air hangat karena ia yakin Ken tidak menyediakan air minum untuk dirinya di kamar.


"Saya kira mau sarapan dulu," Pak Parman bicara seperti itu karena biasanya Al langsung ke kamarnya setelah selesai olahraga.


"Mau isi air," Al memperlihatkan botol kosong yang ada ditangannya pada Pak Parman.


"Ya sudah, saya siapin aja dulu," Pak Parman kemudian meletakkan belanjaannya di atas meja dan mulai mengeluarkan isi kantong plastik itu.


Saat sedang mengisi air minum, samar-samar Al mendengar suara Ken yang ngoceh sendirian di kamarnya. Mungkin ia tidak tahu jika Al sudah keluar dari ruang GIM dan ada di dapur, persis di dekat pintu kamarnya.


"Ternyata bener passwordnya ini. Udah tersambung," pekiknya girang.


"Hah ....dasar orang aneh. Bikin password kok kesannya ngarep banget yang begituan. Dasar aneh, loh," ocehnya lagi.


"Dasar otak mesum," seru Ken lagi.


"Ehem.....," Ken mendengar suara orang berdehem dengan cukup keras dan itu cukup mengangetkannya. Berlahan Ia beranjak dari kasur dan melangkah pelan ke arah pintu. Ken ingin memastikan siapa pemilik suara itu.


"Oh, Pak Parman. Aku kira dia," Ken bisa sedikit lega. Setelah ia mengintip dari balik hordeng jendela kamarnya, ia melihat Pak Parman sedang mengeluarkan kotak putih dari kantong plastik hitam yang cukup besar.


"Ternyata sarapan sudah dateng. Baiklah aku akan berkemas dulu. Setelah itu baru dilanjutkan lagi,"


[ Ceklek ] suara pintu di buka.


Ken muncul dari kamarnya dan langsung menghampiri Pak Parman.


"Biar saya yang nyiapin, Pak!" buru-buru ia mengambil kantong kresek dan membereskannya.


"Iya, sate jeroan dan telur puyuhnya ada di sini," Pak Parman menunjuk sterofoam putih dengan ukuran yang cukup besar ketika Ken sudah berdiri di sisinya.


"Iya, pak. Biar saya siapkan. Emang biasanya Tuan besar abis olahraga langsung makan?" tanya Ken pada pak Parman.


"Saya mau sarapan sekarang,"


Ken memutar tubuhnya, ia berpaling ke arah sumber suara.


"Jeder....," Ken kaget luar biasa. Ternyata Al ada di dapur, tubuhnya ia sandarkan pada kitchen set dan memegang Tumbler berisi air mineral.


Ken tersenyum kecut. Pikirnya jadi ga enak, namun ia bersikap sewajar mungkin di depan laki - laki itu.


"Iya, Pak," sahut Ken sembari mengangguk kepala.


'Saya siapkan dulu," tambah Ken lagi.

__ADS_1


"Saya mau nyapu dulu," Pak Parman langsung pergi meninggalkan mereka berdua.


"Sepertinya ada yang ga beres, nih," bathin Pak Parman sembari keluar. Pria itu menggeleng- gelengkan kepala sambil tersenyum simpul. Ia menuju ke halaman depan, seperti biasa. Setiap pagi ia membersihkan pekarangan rumah lebih dulu sebelum mengerjakan yang lainnya.


[ Di ruang makan lagi ]


Sarapan sudah siap, sate jeroan dan risoles yang ada di kotak sterofoam itu juga sudah dikeluarkan Ken. Setelah menyiapkan sendok dan jus belimbing yang dibuatnya tadi pagi, Ken memutar tubuhnya. Hendak kembali ke kamarnya lagi.


"Jangan masuk dulu," Al yang sudah duduki meja dan mengamati apa yang dikerjakan gadis itu dari sudut matanya, buru-buru mencegah Ken yang akan meninggalkan nya.


"Duduk di situ, jangan berdiri di aja. Pangeran aja tidak butuh mengawal saat di meja makan," tegur Al karena Ken masih saja berdiri di sampingnya.


"Iya, Pak," dengan sedikit ragu, Ken duduk di kursi yang ditunjuk oleh Al, kursi yang persis ada di depannya.


"Ayo makan,"


"Masih terlalu pagi, Pak. Jawab Ken mencari alasan. Bagaimana juga ia masih malu dengan kejadian tapi, apalagi jika Al mendengar gerutuanya di kamar tadi.


"Saya sarapan sekaligus makan siang. Jam 10, Pak,"


"Kenapa,"


"Biar irit aja,"


"Sekarang makanlah. Kau tidak harus berhemat selama di sini,"


Al mulai menyendok buburnya,dengan tenang ia melahap bubur Betawi yang masih hangat itu.


"Kenapa? Apa ada yang aneh?" tanya Al lagi. Ia melihat Rey masih diam dan belum menyentuh makannya.


"Tidak,"


"Baguslah kalau kau sudah berubah pikiran. Tadi kau menyebutku dengan sebutan mahluk aneh,"


"Glek.....," lagi-lagi Ken meneguk lidahnya sendiri.


"Duh, ternyata dia denger," seru dalam hati. Ia berusaha tetap tenang karena menahan malu.


"Jangan heran, tembok di rumah ini lebih canggih dari cctv. Dia tidak hanya bisa merekam tingkah laku orang di rumah ini, ia juga bisa membaca isi hati seseorang,"


"Huek...," Ken berlagak mau muntah mendengar ucapan Al yang lebai itu.


"Kau kira aku kecil apa. Tadi kau memang denger ocehanku, makanya bisa bilang seperti itu," bisik Ken.


"Makanlah, apa harus disuapi?"


"Iya.... iya," Ken buru-buru mengambil sendoknya. Sebentar kemudian mulutnya sudah menguyah dengan lembut bubur ayam yang masih hangat itu. Ia tetap menunduk, tidak berani menatap Al meskipun orang itu tidak sedang mengamatinya.

__ADS_1


"Pak, saya minta izin. Saya mau ke kampus. Konsultasi,"


"Jam berapa?"


"Abis Dzuhur,"


"Hari ini kau banyak meminta padaku,"


Ken diam saja, dia tidak faham dengan arah pembicaraan orang yang ada di depannya itu.


"Kalau tidak boleh, saya pergi lain waktu saja," ucap Ken putus asa. Sepertinya majikan ibunya keberatan jika ia minta izin meninggalkan pekerjaan. Mungki. Karena ia baru dua hari di rumah ini.


Al terus saja menyendok buburnya, sesekali ia mengigit tusukan sate jeroan sebagai lauknya. Terus saja seperti itu hingga isi sterofoamnya kosong.


Setelah itu ia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah galon. Mengambil gelas, mengisinya dengan air hangat dan meneguknya hingga isi gelas itu kosong.


"Ah, aku lupa menyiapkan air putih," Ken kembali menyesali kepikunannya namun ia membiarkannya karena pria itu sudah melakukannya sendiri.


Kini Al sudah berbalik arah dan ingin kembali ke kamarnya. Ia membiarkan Ken yang masih duduk di meja makan karena buburnya masih tersisa setengah wadah.


"Boleh ga, Pak?"


"Kau harus kembali sabelum magrib,"


"Siap, Pak. Ga lama kok. Karena hari ini dosen pembimbingku tidak memberikan kuliah,"


Al hanya diam, ia tidak memberikan reaksi apapun atas penjelasan Ken. Ia kembali ke kamarnya, tentu saja dengan ciri khasnya. Melangkah dengan santai, meniti anak tangga itu satu persatu. Jika sudah begini, Ken akan terus memandanginya dari jauh, ia begitu menikmati punggung laki-laki itu yang melambangkan kekokohan dirinya.


Setelah Al menghilang dari pandangannya, Ken segera menghabiskan bubur ayamnya, cuci piring dan kembali ke kamarnya. Ia harus memastikan bahwa tidak ada alasan yang bisa membuat dosennya mencoret-coret kembali skripsinya itu.


Ken begitu bersemangat, ia sudah mendapatkan izin dan akan memanfaatkan kepercayaan itu dengan baik.


******


Happy reading all, terimakasih atas kunjungan setianya!


Jangan lupa vote, like, dan komen yang banyak, ya ( spam komen juga ga apa) biar saya makin semangat untuk update.


Aku juga nulis novel yang lain loh,



Bukan Yang Pertama


I am Feeling Blue


__ADS_1


Jangan lupa kepoin juga, siapa tau kalian juga suka sama ceritanya.


__ADS_2