Temani Aku, Ken!

Temani Aku, Ken!
Kau Milikku!


__ADS_3

Bedengan yang disebut sebagai kontrakan tempat tinggal Ken sepi. Pintunya tertutup rapat namun lampunya menyala. Al mencoba mengintip dari celah hordeng yang tidak terlalu rapat, di ruang yang kira-kira berukuran 3x4 M2 tidak ada orang.


"Mungkin dia di kamar mandi?" Pikir Al dalam hati. Al bisa melihat,di ruang itu ada ruang kecil, pintunya menghadap tempat kompor. Sepertinya itu kamar mandi.


[Tok..Tok....] Al mengetuk pintu dengan pelan. Ia tetap mengintai dari celah hordeng itu.


Karena belum ada sahutan, ia sampai mengulang ketukan pintu itu hingga dua kali. Dengan tekanan yang lebih keras hingga suaranya terdengar dari dalam.


"Sebentar," suara Ken dari kamar mandi.


"Heh ... ternyata benar, dia pasti sedang mandi. Kebiasaan banget tuh orang. Malem begini baru mandi," oceh Al. Ia masih berdiri di depan pintu, menunggu empunya rumah mempersilahkan masuk.


"Siapa?" tanya Ken dari dalam. Terdengar ia sedang memutar kunci pintu. Al tidak menjawab, hingga pintu terbuka dan Ken menjadi terbelalak.


"Kamu? Kok bisa sampe sini?" Ken langsung kaget melihat Al yang sudah berdiri di depan pintu, memasang wajah galak.


"Iya, kenapa? Kaget?'" Tahta Al. Ia mendorong tubuh Ken agar ia bisa masuk ke ruang itu.


"Ada tamu kok ga disuruh masuk," ucapnya lagi.


Al mengamati semua sudut yang ada di ruang itu. Fasilitas hidup yang dimiliki Ken memang sangat minim sekali. Di ruang itu hanya ada tv tabung 14 inci, kasur busa single tanpa dipan yang tersandar di dinding, kompor satu tunggu dan gas melon. Al juga melihat peralatan masak seadanya, satu panci dan satu wajan ukuran kecil serta piring dan gelas seadanya. Di situ juga ada lemari susun 4 kotak ukuran kecil, mungkin sebagian tempat pakaian mereka.


"Ke sini cuma mau mendata perlengkapan rumah?" sindir Ken yang merasa tidak nyaman dengan pandangan Al.


"Kau tidak menyuruhku duduk," sahut Al cari alasan.


"Duduk aja tuan, disini ga ada kursi jadi cuma geleprak di ubin," Ken mencontohkan dengan duduk lebih dulu di lantai tanpa alas apapun. Duduk bersila layaknya orang mau bancakan. Melihat itu, Al juga mengikutinya.


"Kenapa pergi ga bilang-bilang?" todong Al ketika mereka sudah duduk berhadapan. Al baru sadar, matanya tertuju pada konstum yang dikenakan Ken. Ia hanya menggenakan shot pant dan tangtop.


Saat duduk, celana itu tertarik hingga ke atas paha, Al bisa melihat paha mulus itu untuk yang pertama kali.


"Kau sedang tidak menggodaku, Kan?" Ucap Al merasa canggung setelah ia melihat pemandangan yang ada di depannya. Ken juga tidak memakai pelindung dada, dari tangtop yang berbahan tipis itu terlihat samar bentuk benda yang menggantung di bagian dadanya.


Ken buru-buru menutupnya dengan menyilang kedua tangannya. Al jadi terkekeh melihat reaksinya.


"Memang aku tau kau akan bertamu, enak aja bilang begitu. Bahkan aku juga belum selesai mandi, kau sudah sangat menggangu dengan ketukan yang bertubi-tubi," protes Ken.


"Jadi kau biasa menerima tamu dengan pakaian seperti ini?" tanya Al dengan suara tinggi.


"Ga ada yang bertandang ke rumah ini selain ibu yang punya kontrakan, tau ga?"


"Masa?"


"Ga percaya ya udah,"


"Aku melihat pakaian ibu-ibu yang nongkrong di gang-an model-model begini,"


"Sialan....kau berani menyamakan aku dengan mereka," protes Ken. Ia mengarahkan tangan kanannya, hendak memukul Al.


Sebelum pukulan itu mengenai sasaran, Al sudah menangkapnya lebih dulu. Bahkan ia menarik tubuh itu ke arahnya. Ken yang tidak siap mendapat perlawanan seperti itu, dapat dengan mudah dilumpuhkan. Kini ia sudah hampir menindih tubuh Al.

__ADS_1


"Apa-apaan,ih!" Protes wanita itu. Buru-buru ia menarik tubuhnya, namun Al menahan dengan kedua tangannya. Ken sudah berada di dalam pelukan Al.


"Kenapa pergi?" Ucapan dengan suara yang bergetar.


"Kan ibu sudah pulang. Tugasku sebagai pembantu pengganti si rumah itu sudah selesai. Jadi mau apa lagi," sahut Ken sambil menarik tubuhnya.


"Jangan mengelak," Al kembali menahan tubuh itu. Bahkan karena Al lebih kuat, Ken jatuh di atas tubuhnya, posisi Al malah sudah tertindih tubuh Ken.


Al bisa melihat wajah Ken yang bersemu merah, ia tersenyum menyeringai. Tampak malu-malu. Begitu juga dengan Al.


"Pintunya terbuka, nanti dilihat orang," ucap Ken mengingatkan Al agar melepas tubuhnya.


Al tidak mau tertipu, hanya dengan satu tendangan, pintu itu sudah tertutup rapat.


"Sekarang mau bilang apa?" dengan pandangan yang siap menikam, Al menatap Ken yang masih ada di atas tubuhnya. Al mempererat pelukannya. Ia bisa merasakan dada gadis itu yang bergemuruh dan muka yang semakin merah padam.


"Aku tidak mau jika kau pergi dengan cara seperti ini. Kau faham dengan maksudku, kan?" Ucap Al. Suaranya sudah mulai parau.


"Aku sudah pamit, kau yang tidak membaca pesanku. Saat aku menunggu ojek, aku berharap ada keajaiban. Kau tiba-tiba keluar dari kamar dan menahanku. Tapi harapan itu sia-sia. Jangankan menahanku, kau bahkan tidak membalas WA yang aku kirim hingga saat ini," ucap Ken mulai sesugukan. Ia mendadak jadi melo di dalam pelukan Al.


Al menarik tubuhnya ke belakang, kini posisi mereka bersandar di dinding membelakangi pintu. Al masih tidak mau melepas tubuh Ken yang mulai bergetar, ia mulai terisak.


"Kau sedih karena meninggalkan aku?" tanya Al pelan. Ken tidak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya pelan.


"Aku senang mendengarnya," Al menepuk-nepuk punggung Ken untuk menenangkan. Al mencium ujung kepala Ken dengan lembut.


"Terimakasih," bisik pria itu pelan Cukup lama mereka berada di posisi itu hingga Ken mendengar perut Al yang berbunyi.


"Kamu lapar?" tanya Ken sambil menarik tubuhnya.


"Aku belum makan. Begitu aku tidak menemukanmu di meja makan dan Bu Ros bilang kau sudah pulang, aku langsung ke sini,"


"So sweet banget. Kayak di film-film," ledek Ken dengan nada yang masih terisak.


"Ini serius. Kenapa kau bilang so sweet," ucap Al cukup tersinggung.


"Tapi aku ga punya makanan," Ken memasang wajah memelas.


"Cepatlah berkemas, kita pergi sekarang!" ajak Al.


"Mau kemana?"


"Jangan banyak tanya. Ikut aja,"


Ken masih diam, belum beranjak untuk ganti pakaian.


"Buruan ganti baju atau kau mau pergi dengan kondisi seperti itu," ucap Al sambil memandang ken dengan tatapan nakal.


"Dih, kau masih di sini. Bagaimana bisa aku mau ganti baju,"


"Terus aku harus kemana?" Protes lagi.

__ADS_1


"Keluar dulu, sono," usir Ken sambil mendorong bahu Al dengan tangannya.


"Di luar ada Salsa, kau tidak takut kalau dia merayuku,"


"Hah....kau sudah kenal dia," Ken kaget hingga kedua matanya membulat begitu Al menyebut nama itu. Salsa yang di kenal warga sekitar sini sebagai pekalor kelas kakap.


"Enggak... enggak. Kau di sini aja," buru-buru Ken bangun dan dengan sigap ia membalikan tubuhnya ke arah lemari plastik yang ada di dekatnya.


Al mengamati gadis itu. Ia mengambil pakaian dalam dan kaos oblong warna putih. Sambil beranjak ke kamar mandi, ia menyambar celana jeans yang ada di balik pintu.


"Aku mau mandi dulu," ucap Ken buru-buru. Ia menutup bagian dadanya dengan kaos oblong yang diambilnya dari lemari kotak itu.


"Aku sudah liat," ucap Al sambil terkekeh. Ia merasa lucu melihat Ken yang jadi malu-malu seperti itu.


"Buruan ya!" Teriak Al lagi begitu Ken sudah ada di kamar mandi.


"Iya, teriak Ken. Suaranya cukup keras karena suara gayung susah mulai ramai,"


"Hah..... kebiasaan. Mandi kok kayak orang berantem," guman Al sambil tersenyum geli. Al kembali mengamati ruangan itu.


"Pantesan gerah, cuma ada satu kipas angin. Kecil lagi," gumam Al. Ia cukup prihatin melihat kondisi kontrakan yang ditempati Ken. Bangunan ini juga sudah tua dan tidak terawat. Cat dinding sudah lusuh, plapon di ruang itu juga sudah mau ambruk.


Tidak lama kemudian, Ken berteriak. "Al, tolong ambilin anduk di belakang pintu," teriak Ken dari kamar mandi.


"Ogah, keluar aja sendiri,"


"Buruan, dingin," ucap Ken lagi. Satu tangannya sudah melambai-lambai di balik pintu.


Al tidak menyahut, ia langsung beranjak dari duduknya dan meraih handuk yang tergantung di belakang pintu. Satu-satunya pintu di lontarkan itu selain pintu kamar mandi. Tak lama kemudian ia sudah berdiri di depan kamar mandi.


"Kau sengaja kan, biar aku ikut masuk ke dalam," goda Al.


"Ah...... buruan. Udah dingin," ucap Ken makin tidak sabar.


Al mengulurkan handuk itu ke tangan Ken. Ia coba mendorong pintu kamar mandi dengan maksud menggoda. Ken malah teriak dan menarik diri di balik pintu.


"Buruan, aku sudah laper," teriak Al lagi. Ia kembali duduk di ubin di samping pintu.


"Iya, tunggu. Aku pake baju dulu," sahut Ken.


🎀🎀🎀


Terimakasih atas kunjungan, sebelum membaca mohon dibantu


✓ VOTE


✓ LIKE, dan


✓ KOMENTAR-nya


Bagi yang suka spam komentar diperbolehkan kok, agar novel ini tidak sepi seperti kuburan.

__ADS_1


Dukungan dari kalian semua membuat saya makin semangat untuk update, vitamin yang luar biasa mujarabnya untuk menyelesaikan cerita ini. Terimakasih!


__ADS_2