Temani Aku, Ken!

Temani Aku, Ken!
Aku Datang


__ADS_3

Al keluar dari kamarnya dengan pakaian yang rapi, layaknya orang yang mau keluar rumah. Ia mengenakan celana panjang warna kaki dengan kaos putih lengan pendek. Kaca mata coklat tersemat diatas topi yang ia kenakan. Ia menuruni anak tangga dengan tenang menuju ke kamar Ken.


Al mengetuk pintu kamar itu dengan pelan. Ia ingin memberi tahu pada wanita itu bahwa ia akan keluar sebentar, ada urusan yang harus ia selesaikan.


[ Tok...tok..] suara ketukan pintu di kamar Ken .


[ Ceklek ] suara pintu terbuka.


"Iya, pak," terdengar suara Ken begitu ia muncul dari kamarnya


"Aku mau keluar sebentar, tolong pesankan ojol," pinta Al.


Ken melihat penampilan Al yang tidak seperti biasanya. Pandangannya menyapu pria itu mulai dari kepala hingga ujung kakinya.


"Hey, pesankan ojol buatku," Al mengagetkan Ken yang tengah mengamati dirinya. Ia mengibaskan tangannya ke arah Ken yang tidak berkedip sedikitpun melihatnya.


"Iya, Pak. Bentar saya ambil hp dulu, " sahut Ken malu. Ia membalikkan tubuhnya dan ingin kembali ke kamar.


"Mau kemana?" tanya Al yang berhasil menahan langkahnya.


"Ambil Hp," sahut Ken sambil mengarahkan tangannya ke ranjang, tempat tidurnya.


"Ini," Al mengambil hp dari sakunya dan memberikan benda itu pada Ken.


"Kok ada di Bapak," tanya Ken penasaran.


"Bukannya kamu yang ninggalin hp ini di ruang kerjaku semalam,"


Ken hanya mampu nyengir kuda karena malu. Barisan giginya yang putih serta mukanya yang bersemu merah semakin membuat wajah itu begitu menggemaskan.


"Buruan. Stasiun, ya!"


"Iya, Pak,"


Buru-buru Ken membuat pesanan atas permintaan bosnya itu. Setelah berhasil ia bisa tersenyum dan memamerkan hasil kerjanya itu pada Al.


"Sudah, Pak. Drivernya Udin, plat *****, motornya Mario, sampai dalam 3 menit,"

__ADS_1


"Terimakasih, ya,"


"Iya, pak,"


"Jangan terima tamu yang tidak di kenal. Telpon Pak Parman jika ada sesuatu yang mencurigakan,"


"Baik, Pak,"


Al masih berdiri di depan Ken meskipun ia sudah memberitahu semuanya. Ia masih melekatkan pandangannya pada putri asisten rumah tangganya itu.


"Ken," panggil Al pelan.


"Iya,Pak," sahut Ken. Ia memberanikan diri memandang pria yang berdiri di depannya itu. Aroma tubuh pria itu begitu mengganggu konsentrasi Ken.


Al meraih pundak gadis itu dan membawa Ken dalam pelukannya. Mendapat perlakuan seperti itu, Ken hanya bisa mematung. Kini wajahnya ada di dada bidang milik Al. Ken bisa merasakan degup jantung pria itu yang makin tidak beraturan. Tubuhnya yang wangi mampu menenggelamkan Ken dalam alam khayal yang begitu tinggi.


Cukup lama keduanya diam. Al tidak melakukan apapun kecuali ingin memeluk gadis itu untuk beberapa saat. Ia menundukkan kepalanya sedikit dan mencium lembut ujung kepala gadis itu.


"Tunggu aku, ya!" pinta Al dengan nada suara yang sulit untuk diartikan oleh gadis sepolos Ken.


Ken hanya bisa menganggukkan kepalanya, ia tidak mampu bersuara. Mulutnya tiba-tiba terkunci begitu juga tubuhnya. Seakan telah merekat dalam dekapan pria itu.


"Aku, pergi dulu. Jangan kemana-mana," ucapnya lagi. Kali ini ia melepaskan pelukannya. Ia memandang wajah Ken sekilas. Al bisa menangkap wajah yang semakin merah dan tidak mau menatap dirinya. Al mencolek ujung hidungnya sebelum ia melangkah pergi.


Rey masih mematung ditempatnya. Ia belum juga sadar meskipun Al sudah berlalu dari hadapannya beberapa waktu yang lalu.


*****


" 27.000, pak," ujar driver itu ketika Al turun dari motornya dan menyerahkan helm yang dikenakan pada bang ojol.


"Ini, pak. Kembaliannya ambil aja," Al menyodorkan satu lembar uang kertas berwarna pink pada sang driver.


"Terimakasih, pak. Semoga rezekinya makin lancar dan sehat selalu," teriak sang abang yang begitu senang mendapat bonus dari penumpangnya itu. Bagaimana tidak, ongkos hanya 27rb tapi Al memberi uang 100rb padanya tanpa minta kembalian.


Al terus melangkah, menuju ke arah kasir. Kali ini ia akan menemui seseorang yang sudah begitu lama tidak dikunjungi. Rumah yang ada di kawasan elit, di wilayah Jakarta Selatan.


Sepanjang perjalanan ia berpikir keras untuk mengatur kata-katanya ajar orang yang akan di temui ini bisa memahami kondisi, kenapa Al memilih pergi dan meninggalkannya sepuluh tahun yang lalu.

__ADS_1


"Bismillah, semoga engkau merestui niat hamba ya Allah. Hamba ingin hidup layaknya manusia lainnya. Bisa berbaur dengan sesama tanpa harus menyembunyikan diri lagi," doa Al dalam hati.


"Lembutkan hatinya. Hapus kemarahan yang selama ini ia tujukan padaku," pintanya lagi.


*****


Tiba di jalan Pattimura, No. 4 Al turun dari taxi yang ditumpanginya. Setelah memencet bel beberapa kali, muncul petugas keamanan rumah yang menemui Al memperkenalkan diri dan maksudnya datang ke rumah ini. Setelah itu, ia diantar petugas keamanan menuju ke ruang tamu. Rumah ini tidak banyak berubah, sepi seolah tanpa menghuni.


Al bisa melihat barisan mobil mewah yang berjajar di garasi, juga moge yang kerap muncul di FB sang pemiliknya juga ada di depan rumah.


"Aku datang tepat waktu, ia ada di rumah," bisik Al dalam hati. Meskipun jantungnya berdebar kencang dan langkahnya semakin berat ia mencoba menata perasaannya.


"Aku harus bisa, kalau tidak sekarang kapan lag" ujarnya meyakinkan diri.


Al terus mengikuti langkah pria yang mengenakan seragam biru itu. Tanpa ada basa-basi diantara keduanya, mereka berjalan menembus halaman rumah yang cukup luas menuju ke rumah induk.


"Tunggu sebentar, saya kasih tau bapak dulu. Beliau ada di ruang kerjanya," ujar pria yang berusia seumuran dengannya itu.


"Baik," ujar Al dengan sopan. Ia tersenyum simpul dan sedikit menundukkan kepalanya begitu laki-laki itu meninggalkannya dan menuju ke ruang atas.


Al duduk di sebuah kursi yang tidak jauh dari pintu masuk. Ia tahu petugas keamanan itu belum mempersilahkan dirinya untuk duduk, namun ia tetap melakukannya demi mengurangi rasa khawatir yang makin menguasai dirinya.


"Lama sekali, apa yang mereka bicarakan?" tanya Al karena hampir 5 menit sejak petugas keamanan rumah itu menuju ke ruang bosnya, pria itu belum juga keluar.


"Semoga dia mau menemuiku," Al semakin berharap karena ia terlanjur sampai di sarang macan. Jika empunya tidak mau menemui, belum tentu ia punya keberanian lagi datang ke sini.


Pintu lantai atas di buka, petugas keamanan yang mengantarkannya tadi muncul dari balik pintu. Dengan langkah yang santai, ia berjalan menuruni anak tangga.


"Pak, silahkan masuk. Tuan menunggu anda di dalam," petugas keamanan itu segera memberi tahu Al begitu ia sudah ada di ruang tamu. Berdiri di depan Al yang sudah menunggu kabar darinya.


******


Hay semuanya, maafkan diriku yang tidak sanggup update lebih dari satu bab. Demi kesetiaanku pada kalian semua, aku sempat-sempatin nulis walau cuma satu Chapter agar target untuk menyelesaikan novel ini di bulan Juni dapat terealisasi.


Mohon maaf, ya!


Ojo lali!

__ADS_1


VOTE, like, dan spam komentar dari kalian tetap jadi semangat untukku.


__ADS_2