
"Saya ijin dulu, mau ke kampus. Dosennya cuma sampe jam 12 siang," ujar Ken ketika mereka selesai sarapan di ruang tamu.
"Saya? Kok jadi resmi begini," Al mengembang senyumnya. Merasa lucu dengan perubahan sikap Ken yang mendadak kaku.
"Iya, he..he....," Ken jadi ikut senyum. Lebih tepatnya senyum terpaksa.
"Ko enak banget, abis makan langsung pulang. Berasa seperti tamu," gumam Al dengan nada tidak iklas.
"Iya, Pak. Saya cuci piring dulu, sekalian beres-beres juga," buru-buru Ken beranjak dari tempat duduknya dan membereskan piring bekas makan mereka.
"Duduk," perintah Al.
"Saya mau mengembalikan ini ke dapur," Ken mengangkat piring dan gelas bekas makan mereka yang masih tergeletak di meja tamu.
"Duduk kataku," perintahnya lagi. Tanpa membantah, Ken kembali ke tempat duduknya semula. Piring dan gelas kotor masih dipegangnya.
"Aku cuma becanda, kenapa jadi serius begitu," ujar Al dengan nada lebih lembut.
Ken jadi serba salah. Terus terang saja, sejak Al keceplosan menyebut dia itu pacarnya, Ken jadi bingung sendiri. Antara senang dan takut bercampur jadi satu.
"Siapa yang bisa menolak pria setampan dia?" Gumam Ken dalam hati. Tapi mendengar latar belakang keluarganya, Ken jadi bergidik sendiri. Preman, kekerasan, rebutan bisnis, saling mengintai, perkara yang bakal ia hadapi jika memilih bersama pria itu.
Ken tidak munafik, ia senang jika Al menganggapnya demikian meskipun ia belum mengungkapkannya secara khusus. Selama ini ia ingin sekali punya pacar layaknya anak gadis seusianya. Namun karena keadaan, semua itu hanya angan belaka. Mendapat Al bisa jadi suatu anugrah sekaligus bencana bagi dirinya.
"Ken," panggil Al. Menyadarkan lamunan gadis itu.
"Iya, Pak," sahut Ken gugup.
"Udah dibilang jangan panggil Pak. Panggil aku Al saja," Al bicara dengan nada kesal.
"Tapi aku ga bisa. Ga sopan,"
"Kan sudah saku bilang, yang kerja sama aku itu ibumu bukan kamu,"
"Iya, baik Al," Ken berusaha memanggil pria itu dengan sebutan namanya meskipun masih terdengar kaku dan terdengar sedikit gugup.
"Bagus, gadis pinter," puji Al. Senyumnya begitu mengembang.
"Kau berangkat aja, biar aku yang beresin. Mau naik apa?"
"Busway," sahut Ken singkat.
"Ada halte busway sih di depan, kalau mau ke kampusmu ambil jalur dari sebrang. Tapi harus transit, tar malah lama," ujar Al memberi pandangan pada gadisnya itu. Ia membuka Hp dan terlihat sedang mengetik sesuatu.
"9 kilo dari sini. Naik taxi aja. Di depan banyak yang mangkal," Al memberi saran.
"Macet kalau jam segini,"
__ADS_1
"Naik ojol,"
"Iya," sahut Ken lagi.
Ken masih saja duduk, ia belum ada tanda-tanda akan beranjak dari tempat duduknya. Ken hanya diam seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Kenapa? Katanya buru-buru. Kok belum berangkat?" selidik Al penasaran.
"Aku ga punya uang. Di dompet tinggal 15 ribu, tadi abis buat ongkos ke sini. Boleh ga kalau aku cash bon dulu. Potong dari gaji ibu," Ken akhirnya bisa mengungkapkan masalahnya setelah cukup lama ia mengumpulkan keberanian untuk bicara.
Al tersenyum, begitu geli. Bahkan mimik wajahnya seperti orang yang sedang menertawakan lawan bicaranya. Tentu saja hal ini membuat Ken jadi tambah kesal bercampur malu.
"Orang lagi susah malah diketawain," gerutu Ken. Meski lirih namun bisa terdengar jelas oleh Al.
"Kamu lucu, mau ngomong begitu aja pake mikir serius. Udah kayak orang yang lagi di sidang karena ketahuan salah,"
Ken menarik ujung bibirnya secara terpaksa. Bisa jadi tampangnya begitu lucu bagi Al, tapi ia menang cukup malu harus pinjam duit sama orang yang akhir-akhir ini sudah membuatnya mati gara-gara salah tingkah.
"Berapa uang saku yang di kasih Bu Ros padamu?" tanya Al serius.
"Seminggu 200rb. Termasuk uang transport dan makan,"
"Segitu?" tanya Al kurang yakin. Matanya mendelik saking tidak percaya.
"Dari kos ke kampus naik kereta 3rb. Isi saldo sebulan sekali juga cukup. Kalau ga buru-buru dari stasiun jalan kaki. Cuma 500meter ini,"
"Iya, masak nasi sendiri. Lauk dan sayur beli. Paling sering telor dadar atau masak tahu tempe," jelas Ken sedikit malu karena harus menceritakan rahasia dapurnya.
"Saya juga masih punya tabungan waktu kerja dulu. Buat pegangan," ujar Ken menambahkan.
Al masuk ke kamarnya, tidak lama ia keluar dan membawa segepok uang pecahan seratus ribu.
"Ini untuk mu," ujarnya sembari mengulurkan uang itu ke arah Ken.
"Kebanyakan, untuk apa uang sebanyak itu," kelit Ken. Ia membiarkan tangan Al terulur ke arahnya.
"Ini uang Ken, masa kau bilang untuk apa. Kau bisa shoping atau membelanjakan apa saja yang kau sukai. Tidak usah cash bon," ujar Al. Ia meletakkan uang itu di pangkuan Ken.
"Aku ambil segini aja," Ken mengambil 2 lembar saja dari segepok uang yang masih tersusun rapi tertulis 5juta itu.
"Kau menolak pemberianku," guman Al dengan nada sedih.
Ken tidak menjawab, ia bingung harus bicara apa. Setelah ia memasukkan uang yang baru diambilnya itu ke dalam tas, ia segera mengangkat tubuhnya dari sofa yang empuk itu.
"Aku berangkat dulu," pamitnya pelan.
Al juga melakukan hal yang sama, ia bangkit dari tempat duduknya dan berdiri di sisi Ken yang sudah menyandang tas ranselnya.
__ADS_1
"Hati-hati. Maaf ga bisa anter kamu," ujarnya dengan nada yang begitu pelan. Lagi-lagi ia membenarkan letak tas ransel yang sudah terlihat lusuh itu agar terpasang dengan baik di punggung Ken.
"Sepertinya tas ini sudah waktunya di ganti,"
"Tanggung, tinggal beberapa bulan lagi. Kalau sudah selesai skripsi kan ga dipake lagi," Ken memberikan alasan yang cukup logis. Aslinya tas ini satu-satunya yang ia miliki. Kemanapun ia pergi, benda ini bersandar di punggung gadis itu dengan setia.
'"Selalu ada alasan," ujar Al.
Lagi-lagi Ken memasang senyum terpaksanya. Ia mengikuti Al yang sudah melangkah ke arah pintu.
"Ingat kodenya, siapa tau sewaktu-waktu kau ke sini," ujar Al sembari menekan beberapa tombol dari deretan angka yang terpampang di atas mesin kecil yang ada di sisi pintu.
"Iya,"
"Hati-hati," ucap Al lagi. Kali ini ia memegang pundak Ken dengan lembut.
"Iya," sahut Ken sembari menganggukkan kepalanya.
"Naik ojol aja, kalau uangmu habis jangan sungkan bilang padaku,"
"Iya,"
"Ken," panggil Al pelan.
"Iya,"
"Hati-hati. Lekas pulang jika urusanmu sudah selesai,"
"Iya," sahutnya lagi sambil mengangguk.
"Dari tadi cuma bilang iya..iya..doang," protes Al.
Lagi-lagi Ken hanya tersenyum. Senyum terpaksa. Jantungnya berdegup kencang karena jaraknya yang begitu dekat dengan Al. Ia bisa mencium wangi tubuh itu dengan sempurna, membuat pikiran kacau dan mulutnya jadi terkunci.
Al meraih kepala gadis itu dan membawanya ke dalam pelukannya. Hanya sebentar, setelah mengelus rambut Ken dengan lembut, ia membuka pintu apartemennya.
"Hati-hati, ya!" Ucap Al lagi. Entah sudah berapa kali ia mengucapkan kata-kata yang salam dalam waktu 5 menit terakhir.
"Iya," sahut Ken. Sebelum melangkah keluar ia masih sempat meninggalkan senyum untuk Al.
*****
Hay semuanya, maaf ya... aku hanya bisa update satu chapter saja. Terimakasih atas kunjungan dan kesetiaannya mengikuti cerita ini.
Aku tetap menunggu
VOTE, like, dan spam komentarnya di setiap chapter yang aku update.
__ADS_1
Happy reading to semuanya 🤗🤗🤗