Temani Aku, Ken!

Temani Aku, Ken!
Menemui Maria


__ADS_3

Pagi ini Maria memanggil Ferdy secara khusus karena pria itu sudah menyampaikan keinginan Al untuk bicara empat mata dengannya. Ia tidak menduga jika Al selama ini mengetahui jika ia menyuruh orang-orang untuk mencari tau segala gerak-geriknya.


"Dua Minggu nongkrong di sana hanya itu yang kau dapat? Apa matamu butuh lensa pembesar agar bisa melihat apa yang terjadi?" amarah Maria begitu meledak ketika apa yang dilaporkan Ferdy tidak ada perkembangan.


"Itu lagi.. itu lagi yang kau laporkan," gerutuanya.


"Apa tidak ada perempuan yang mengunjungi atau dia pergi kemana? Rasanya sangat mustahil jika ia tidak pernah keluar dari apartemen itu," gertaknya lagi.


"Satu-satunya perempuan yang suka datang ke apartemen itu hanya pembantunya, itu juga tidak setiap hari. Kerjanya hanya beres-beres rumah, 2 hingga 3 jam saja,"


"Percuma aku membayar sewa apartemen untukmu. Hasilnya Nol,"


"Jika ia keluar, hanya untuk membeli makan. Itu juga tidak lama," Fadlan


"Bagaimana dengan pria yang pernah menemuinya?" selidik Maria.


"Dia Bram. Asisten pribadi yang mengurus usahanya Al"


"Apa kau tau dia membuka usaha apa?"


"Tidak, yang aku tahu beberapa kali aku lihat di ke bank dan BEJ. Itu saja,"


"Apa dia masih sering ke sini?" tanya Maria lagi.


"Tidak, sejak Tuan Barent melarangnya dia tidak pernah ke sini lagi. Aku bisa pastikan itu,"


"Pergilah. Jika kau masih ingin dapat uang, kerjalah yang bagus. Jangan hanya menunggu. Cari info tentang Al sebanyak mungkin,"


"Baik, nyonya. Terimakasih. Saya permisi dulu,"


Ferdy segera meninggalkan Maria yang masih duduk di ruang tamu. Di rumah besar milik Baron.


Ketika ia keluar, ia berselisih jalan dengan Al. Ferdy keluar dari pintu samping karena mau mengambil motornya lebih dahulu sementara Al datang dari pintu depan diantar oleh Roby.


******


"Berani juga kau menampakkan dirimu di hadapan ku," sapa Maria ketika Al sudah berada di depannya. Mereka hanya berdua saja di ruang tamu.

__ADS_1


"Aku tidak melakukan kesalahanan apapun padamu, kenapa harus takut. Aku bisa bertemu saat ini karena kau yang yang selalu menghindar dariku, nyonya," sergah Al tak kalah tegasnya.


"Tidak melakukan kesalahanan apapun? Lantas kenapa kau sembunyi selama ini. Takut?" ejek Maria.


"Tidak begitu. Waktu itu kau menakut-nakuti anak ingusan wajar jika aku mati ketakutan. Kau juga mengancam orang yang coba membantuku, untuk itu aku dia tak mau cari pertolongan. Sekarang kau lihat sendiri! Aku bisa lebih berbahaya dari yang ada di pikiranmu," sahut Al.


"Hem.....," Maria menyapukan pandangannya ke arah Al. Mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki.


"Untuk apa kau menemuiku?" tanya wanita itu.


"Aku sudah tau semuanya. Hentikan sandiwaramu!" perintah Al. Meski Maria tidak mempersilahkannya duduk, dengan tenang ia duduk persis di depan istri papanya itu.


"Kau salah alamat. Aku bukan artis sinetron yang pandai memainkan lakon," elak Maria. Hatinya mulai goyah. Apa yang dimaksud sandiwara oleh putra suaminya ini. Apa ia sudah mengetahui keberadaan ibunya atau perkara yang lain.


Maria cukup cerdik, ia tidak mau terjebak oleh anak ingusan itu. Untuk itu ia tidak mau menebak apa yang ada di pikiran Al, biar saya dia yang menjelaskannya.


"Dasar trader abal-abal," gumam Al kesal. Suaranya sengaja sedikit keras agar Maria bisa mendengarnya dengan jelas.


Al membeberkan semua skenario yang direncanakan wanita itu. Maria sebetulnya tidak punya kemampuan trading yang mumpuni. Hanya bermodal nekad dan menjiplak analisis market trader handal, ia juga berani mencari uang dengan jalan itu.


Meskipun baru bermain menggunakan akun demo tapi sudah berani memberikan privat dengan bayaran yang tinggi. Ia dan Om Ryan mencari orang-orang yang mau belajar trading dari media sosial. Akun trading yang di posting untuk menarik minat semua nya hasil trading milik orang.


Modal yang dipercayakan Baron untuk ditradingkan Maria diserahkan pada orang lain dengan sistem bagi hasil. Semua ia lakukan untuk menarik perhatian Baron.


"Kau kaget?" tanya Al. Ia mengamati ekpresi Maria yang tidak ada perubahan sama sekali.


"Tidak," sahut Maria dengan entengnya.


"Jika kau menjelaskan semua ini pada Papamu, dia tidak akan percaya. Ingat! Kau bisa seperti ini karena belajar denganku,"ujar Maria lagi dengan sombongnya.


"Bukan karenamu. Ilmu yang kau berikan padaku semua hasil copi paste dari Masta Dewa," sahut Al tidak kalah sinisnya.


"Baguslah jika kau sudah tau. Terus kau mau apa? Lapor polisi. Orang yang bersangkutan tidak pernah komplain ilmunya di transfer ke orang lain,"


"Bedakan antara transfer dan nyontek. Kau pakai otaknya tapi dengan menyebut itu kemampuanmu sendiri. Itu sudah menyalahi aturan," ejek Al.


"Aku menjelaskan ini hanya untuk mengingat kanmu saja, kau tidak usah sombong denganku. Ilmu yang ku dapat bukan darimu, itu hasil jiplak dari orang lain. Urusan dengan Masta Dewa juga ga ada, aku sendiri yang mencari tau darinya secara langsung,"

__ADS_1


"Dia juga cerita, kau pernah menemuinya dan minta dia untuk mengelola uang dalam jumlah yang besar untuk membangun rumah ibadah. He...he......itu uang papaku kan dan hasilnya sudah menjadi diskotik yang megah," ujar Al lagi.


Maria hanya tersenyum menyeringai, Al benar-benar sudah mencari tau tentang sepak terjangnya selama ini. Al seperti serius sekali untuk membalas dendam padanya.


"Satu lagi yang harus kau ketahui," ujar Al. Ia sengaja menggantung ucapannya untuk mengetahui reaksi Maria.


"Kau tidak penasaran apa yang sudah aku ketahui?" selidik Al lagi.


Maria tidak menjawab, ia meraih gelas yang berisi air mineral dan meneguknya dengan tenang.


"Aku sudah bicara empat mata dengan Abah Kadir. Kenapa kau tidak mengizinkan dia menemui anaknya?"


Apa ya yang diucapkan Al kali benar-benar seperti petir yang menyambar ubun-ubunnya. Maria histeris saat itu juga, gelas yang ada di tangannya dia banting dengan kerasnya. Pecah, berserakan di lantai.


"Kenapa? Kau ingat suamimu?" Ejek Al lagi.


"Pergi kau!" usir Maria. Saat itu juga ia berdiri dari tempat duduknya dan mengacungkan tangannya ke arah pintu. Dengan nada yang cukup keras ia mengusir Al dari rumahnya sendiri.


Keributan di ruang tamu itu mengundang Barent dan Bik Sum datang dengan tergopoh-gopoh. Mereka ingin tahu ala yang sedang terjadi.


Mereka berdua hanya bisa melihat Al yang sudah melangkah menuju pintu dan ingin meninggalkan rumah itu. Bik Sum hanya bisa menarik nafas panjang, lagi-lagi ia harus melihat Al pergi dari rumahnya sendiri.


"Kasian sekali kamu, Al," bisik Bik Sum dalam hati.


"Tunggu apa? Cepat bereskan!" bentak Maria yang melihat Bik Sum memandang Al penuh haru.


"Iya, nyonya. Saya hanya ingin memastikan apakah itu Tuan Al?" tanya Bik Sum pura-pura tidak tahu.


"Ga usah ikut campur. Kamu itu siapa?" Maria pergi meninggalkan Bik Sum yang masih bingung kena semprot sedemikian rupa.


******


Hay semuanya, maaf ya...


Terimakasih atas kunjungan dan kesetiaannya mengikuti cerita ini.


Aku tetap menunggu VOTE, like, dan spam komentarnya di setiap chapter yang aku update.

__ADS_1


Happy reading to semuanya 🤗


__ADS_2