
[ Masih di Restoran ]
"Al," panggil Ken manja.
"Iya," sahutnya pelan. Pandangannya masih ke layar TV dengan mimik yang semakin tegang.
"Udah jam 9," Ken mengingatkan.
"Bentar lagi. Kan kita mau nonton midnight," ujarnya memberi alasan.
Mendapat jawaban seperti itu Ken hanya dia, ia mengambil minumannya dan menyedotnya cukup keras. Sengaja, selain untuk mencari perhatian Al, juga untuk menghilangkan kejenuhan yang sudah lama menunggu di situ.
"Sruuuttttt,"
"Berisik. Ga sopan tau," tegur Al. Ia memalingkan wajahnya ke arah Ken.
"Iklan aja, baru mau liat aku," gerutu Ken dalam hati.
"Sebentar ya, 10 menit lagi. Finalty ini," ucap Al sembari mengelus bahu Ken yang terlihat begitu bete.
"Iya,"
"Aku lupa kalo malem ini ada jadwal bola. Maaf ya," ucap Al lagi.
"Iya,"
"Pesan makanan lagi," Al menawarkan.
"Ga, udah kenyang," sahut Ken. Mulutnya ia arahkan ke meja yang ada di depannya. Beberapa piring dan gelas kosong sudah memenuhi meja itu. Belum lagi snack dan menu lainnya.
Ken harus bersabar hingga 10 menit ke depan sesuai yang di janjikan Al. Pandangannya menatap jauh ke arah jalanan melalui kaca yang ada di sisinya. Malam Minggu, pasangan muda-mudi yang mengendarai sepeda motornya memenuhi jalanan. Tampak begitu mesra. Memeluk sang kekasih dari belakang, bercanda ria. Satu pemandangan yang belum pernah dialami Ken selama hidupnya.
"Romantis banget mereka," bisik Ken dalam hati.
Pandangannya kini beralih pada Al, ia mengamati pria yang tengah asik menyaksikan bola di luar jadwal kencan yang mereka rencanakan. Meskipun kesal, Ken tidak bisa marah dengannya. Wajah tampan dan tatapan teduh pria itu akan selalu meluluhkan kemarahan.
*******
Tepat pukul 21.30 wib, mereka sudah sampai di sebuah mall. Al memarkir mobilnya di lantai tujuh sesuai saran petugas parkir agar lebih aman dan posisinya dilantai yang sama dengan bioskop. Tidak jauh dari pintu masuk.
Tanpa membuang waktu, mereka langsung membeli tiket kemudian menuju food court untuk membeli snack dan minuman hangat, saat itu juga terdengar pengumuman "penonton yang telah memiliki karcis dipersilakan masuk ruang teater".
"Wah, pas banget. Kita ga perlu lama-lama nunggu nih," Ujar Al. Tangan kanannya sudah menjinjing kantong berisi popcorn dan minuman khas bioskop yang terkenal over priced itu.
Akhirnya impian Ken nonton bioskop bersama pacar bisa terwujud, midnight lagi. Pasti ini akan menjadi suatu pengalaman yang akan diingat sepanjang hidupnya. Keedua masuk ruang teater dengan tenang, atas permintaan Ken juga, mereka duduk di kursi paling belakang. Meskipun malam Minggu, malam itu penontonnya tidak begitu banyak hingga ia memilik tempat duduk yang belum terisi.
"Mungkin kalau midnight ga banyak penonton nya kali ya? Enak begini ini," ujar Ken sembari duduk di bangku yang mereka pilih.
"Ga tau juga, aku juga ga pernah nonton di luar jam midnight," sahut Al yang duduk di sisi Ken.
"Lagian sekarang film-film box office terbaru sudah banyak di YouTube. Mungkin mereka memilih menunggu sampai ada di situs internet daripada nonton di bioskop. Lebih santai,"
"Iya juga ya,"
__ADS_1
Lampu dalam ruang teater telah gelap, namun ruang teater masih terisi sedikit orang saja, yang apabila dihitung tidak akan lebih dari 40 orang. Film sudah dimulai ketika penonton-penonton ngaret mulai berdatangan dengan ditemani sinar senter petugas yang silaunya nggak santai itu.
Hawa ruang juga terasa semakin dingin, entah karena hanya sedikit orang dalam ruang teater atau karena petugas bioskop lupa mengganti baterai remote AC sehingga mereka nggak bisa mengontrol suhu dalam teater.
"Dingin?" tanya Al yang melihat Ken merapatkan tangannya ke dalam tubuhnya.
"Iya," sahut Ken malu.
Tanpa diminta, Al meraih bahu gadis itu dan membawa tubuh itu merapatkan ke arahnya. Tangannya juga mengelus--elus bahu Ken agar lebih hangat.
Ken menyandarkan kepalanya di bahu Al. Tangan kirinya ia jatuhkan di atas paha laki-laki itu.
"Udah enakan?" tanya Al dengan nada perhatian. Ken hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Ia bisa menikmati film horor yang sudah diputar dengan tenang di dalam rengkuhan Al.
Film baru berjalan kurang-lebih satu jam, tiba-tiba Ken mulai merasakan ada hal yang tidak beres. Perutnya mendadak mual ketika melihat adegan pembunuhan yang dilakukan oleh peran antagonis.
Refleks, Ken meraih minum yang diletakkan di bangku samping. Perlahan ia meneguh minuman itu dan berharap rasa mual itu reda. Lima menit berlalu, rasa mual itu tidak kunjung hilang dan membuatku ingin segera berlari ke toilet.
"Kenapa, kok gelisah sekali," tegur Al yang melihat Ken merasa tidak nyaman.
"Pengen ke toilet,"
"Buang air," selidik Al. Ken hanya menggelengkan kepalanya.
"Tempatnya agak jauh. Tuh ikuti panah itu. Tapi di luar sana pasti sepi" ujar Al lagi.
Karena jarak toilet cukup jauh sedangkan dorongan itu maki kuat, Ken yakin ia pasti akan muntah di tengah jalan. Oleh karena itu, ia mencoba mencari jalan lain. Ia melihat ke sekeliling, mencari sesuatu yang bisa memberikan pertolongan pertama.
"Habisin," pinta Ken sembari menyodorkan gelas itu pada Al.
"Aku belum mau minum. Apalagi itu bukasmu. Ogah," sahut Al sekenannya.
"Tolong..... harghh... mau muntah..’
"Hah?" Ucap Al kaget.
"Tolong....."Ucap Ken lagi.
Belum sempat dipindahkan, aku sudah muntah duluan di gelas itu.
"Ken," teriak Al yang merasa jijik. Meskipun muntahan itu tidak mengenai tubuhnya namun baunya cukup mengganggu pernapasan. Setelah sukses membuat suasana panik, kali ini Ken langsung lari ke toilet untuk bersih-bersih. Al hanya bisa geleng-geleng kepala tanpa tahu apa yang harus ia lakukan.
Tidak lama, Ken sudah kembali, ia duduk di sisi Al yang sejak tadi terus saja memandanginya penuh selidik.
"Apa mau pulang?" tanya pria itu.
"Ga, udah ga apa-apa kok. Tadi itu aku enek liat darah," sahut Ken memberi alasan.
"Filmnya udah mau abis. Kalau yang kedua ini masih horor, kita pulang aja," ujar Al.
Setelah insiden tak terduga itu, Ken sebetulnya malah ingin segera pulang namun ia tidak enak dengan Al. Akhirnya mereka memutuskan untuk terus menonton, adegan honor berganti romantis dengan plot twist yang tidak mudah ditebak.
Ken mengadakan pandangannya ke sekeliling, ia melihat beberapa penonton yang datang dengan pasangannya dan mengambil jarak dari penonton yang lain sudah membuat adegan sendiri. Ada yang tengah asik berciuman, ada yang wanitanya sudah duduk dipangkuan pasangannya. Mereka tidak ambil pusing apakah kelakuannya itu dilihat orang lain atau tidak.
__ADS_1
"Pandangannya ke layar, ngapain liat tontonan yang lain," tegur Al begitu menyadari Ken tengah mengamati seorang wanita yang tengah bergerak maju mundur di pangkuan pria.
"He..he....," Ken merasa malu di tegur seperti itu.
"Cewek itu kenapa?" tanya Ken polos.
"Mungkin dia kedinginan. Sama kayak dirimu,"
"Tapi kenapa juga harus di pangku seperti itu, kan ga bisa lihat ke arah layar," sahut Ken penasaran.
"Haduh, nih orang bener ga tau atau pura-pura polos," gumam Al dalam hati. Ia tidak mungkin menjelaskan pada Ken jika orang yang dimaksud itu sedang enak-enakan.
"Mana ku tahu. Udah ga usah kepo sama urusan orang," Al menyapu wajah Ken dengan tangannya agar gadis itu mengalihkan pandangannya.
"Aku mau minum," ujar Al lagi.
Ken memberikan gelas yang berisi kopi hangat itu pada Al, sementara untuk dirinya, Ken membuka popcorn. Mereka terus menyaksikan layar sambil menikmati minuman dan cemilan yang di bawa.
Satu jam yang terasa seperti satu abad bagi Ken akhirnya berlalu, film-nya akhirnya kelar. Keluar dari bioskop, seluruh sudut mal sudah remang-remang karena jam juga sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Untungnya, kendaraan kami terparkir dekat bioskop dan bisa segera pulang.
"Kenapa?" tanya Al. Ia melihat Ken yang tidak henti-hentinya mendengus, hidungnya di arahkan pada bagian baju yang dikenakannya.
"Apa baunya masih tercium," tanya Ken karena ia kurang yakin dengan penciumannya sendiri.
"Kalo deket iya, udah diluar begiini mah udah kesapu angin," sahut Al yang sudah mendekati mobil dan membuka pintu untuk Ken.
"Pantesan aja, sejak kembali dari toilet Al tidak mau merangkulnya lagi," bisik Ken menyesali.
"Ah.....," Gumam Ken makin kesal . Bayangan bisa melakukan hal-hal yang romantis bersama Al bubar gara-gara tragedi itu.
"Zonk," umpatnya lagi.
"Apa yang zonk," Tanya Al yang sudah duduk di belakang kemudi.
"Ga. Bukan apa-apa," sahut Ken berbohong.
"Langsung pulang ya. Biar kamu bisa cepat mandi,"
"Iya," sahut Ken lemas.
*********
Terimakasih atas kunjungan, sebelum membaca mohon dibantu
✓ VOTE
✓ LIKE, dan
✓ KOMENTAR-nya
Bagi yang suka spam komentar diperbolehkan kok, agar novel ini tidak sepi seperti kuburan.
Dukungan dari kalian semua membuat saya makin semangat untuk update, vitamin yang luar biasa mujarabnya untuk menyelesaikan cerita ini. Terimakasih!
__ADS_1