
Om Ryan berhasil meyakinkan Al. Dia saja yang menemui Maria agar wanita itu mau bicara yang sebenarnya. Mengingat Al sudah tidak perduli lagi dengannya dan Baron juga sudah mengusirnya dari rumah, Maria pasti tidak mau berbaik hati pada mantan anak tirinya itu.
"Biar aku yang bicara, meski aku susah tidak berhubungan lagi dengannya paling tidak aku bekas orang kepercayaannya,"
"Baiklah, aku percaya sama Om,"
"Sip, kau duduk manis biar aku yang kerja,"
"Terimakasih. Aku turunkan di polres, nanti saya jemput,"
"Ga usah di jemput, saya baik ojol aja,"
"Oh, ok lah. Aku ada janji sama Bram di apartemen. Jadi kami langsung balik,"
"Ok, siap,"
Om Ryan akhirnya turun di polres. Meskipun sudah sangat lama ia tidak menemui wanita itu, ia punya alasan. Ia datang untuk silaturahmi. Apalagi dalam kondisi begini, sudah pasti tidak banyak teman-teman Maria yang mau menjenguknya.
********
"Al, kok diem? Masih mikirin Pak Kadir,ya?" tanya Ken hati-hati saat mereka sudah melaju, menuju apartemen.
"Ga, aku ga mau menduga-duga. Kita pastikan dulu,"
"Aku kok yakin, dia itu papaku," gumam Ken setengah berbisik.
"Apa karena Om Ryan bilang kalian mirip terus kau bilang begitu,"
"Ga juga. Emangnya kau tidak memperhatikan dia, selama kita ngobrol dia terus-terusan mencuri pandang ke aku,"
"Ah, kamu-nya aja yang ngerasa begitu. Aku ga liat," Al berusaha untuk berbohong. Ken memang benar, si Kadir kerap mencuri pandang ke arah Ken.
"Mungkin dia punya feeling yang kuat," ucap Al dalam hati.
"Kalau memang benar aku anaknya bagaimana?" tanya Ken ragu.
"Aku yang seneb harus ketemu sama abangmu yang menyebalkan itu?"
"Abang" tanya Ken bingung.
__ADS_1
"Barent, anak tukang parfum,"
"Hemm......apa dia ganteng?" tanya Ken seolah tidak mengindahkan kekesalan Al.
Al mengangkat kedua bahunya, ia memandang ke arah jalanan yang kusut oleh pengendara roda dua.
"Kamu ga bisa terima kalau aku masih ada sangkut pautnya sama Maria?" Ken makin penasaran karena Al tidak menjawab pertanyaannya.
"Dia ga jawab. Kalau tau begini kenapa juga mau cari tau keberadaan orang tuaku. Toh aku sudah tidak memikirkan hal itu. Bagiku, Bu Ros itu orang tua sesungguhnya bagiku. Meski ia tidak melahirkan aku namun apa yang aku terima lebih dari kasih sayang orang tua kandung," gumam Ken dalam hati.
"Kamu seneng mau ketemu orang tuamu?" tanya Al balik.
"Sejak kecil yang aku kenal hanya ibu dan keluargaku di kampung. Dari dulu aku juga ga punya keinginan cari mereka. Secara logika, Bu Fatma atau Camelia yang menitipkan aku ke Bu Ros, masa ga inget ada barang yang dititipkan ke temennya? Tempat tinggalnya juga ga bergeser satu sentipun. Kalau dia peduli sama anaknya, kenapa ga pernah muncul?"
"Barang?" Al tertawa mendengar Ken menyebut dirinya sendiri sebagai barang yang di titipkan.
"Habis, aku kesel juga. Emosi. Nitipin anak kok ga inget, ini manusia loh darah dagingnya sendiri!"
"Kesel? Emosi? Apa karena ....?" Al sengaja menggantung kalimatnya ia berusaha menahan tawa saat mengucapkan kalimat itu.
"Kamu aneh, sih. Untuk apa dicari tau? Aku lebih nyaman seperti ini aja,"
"Entahlah, tidak ada salahnya juga kalau aku pengen tau siapa keluargamu?"
"Aku sebel kalau harus jadi saudara ipar anak tukang parfum itu," gerutu Al.
"Ha....ha......makanya, ibarat pepatah "jangan suka banting pintu karena suatu saat kau akan kembali padanya". Terbukti kan?" Ejek Ken
"Puas sekali ketawamu," Al jadi kesal ditertawakan seperti itu oleh Ken.
"Pak Kadir orang yang baik, dia juga banyak menderita karena ulah Maria. Aku senang-seneng aja seandainya dia memang benar ayah kandungmu," Akhirnya Al bicara serius.
"Aku tidak punya perasaan apa-apa. Biasa-biasa saja,"
"Itu karena kau sejak lahir ga ketemu dia. Tapi bisa jadi karena kau sudah tidak menganggap mereka ada,"
"Kau harus bersyukur, ketika nikah ada waliku yang sah. Ga pake wali hakim," lanjut Al lagi. Ia melirik ke samping untuk melihat ekpresi Ken.
Ken tersenyum simpul. Rona merah terlihat samar di kedua pipinya.
__ADS_1
"Harusnya kau berterima kasih padaku, jangan diem aja," sergah Al.
"Berterima kasih untuk apa?" tanya Ken pura-pura bloon.
"Aku sudah menemukan keluargamu dan kau mendapatkan pekerjaan juga karena aku. Masa ga mau terima kasih?"
"Emang sudah ada lowongan untukku?" tanya Ken kaget.
"Ini mau ketemu Bram, dia sudah menemui perusahaan yang membutuhkan jasa akuntan dan impianmu untuk kerja kantoran bentar lagi terwujud,"
"Perusahaan?"
"Iya, perusahaan sekuritas. Bram punya banyak kenalan di sana,"
"Beneran?"
"Apa aku pernah bohong,"
"Ah, kamu baik banget, Al. Gaji pertama aku akan traktir kamu di tempat yang paling istimewa,"
"Hem.....," gumam Al.
"Kenapa? Kok ga seneng gitu wajahnya?"
"Itu masih lama. Hadiahnya yang sekarang apa?" Al menggeser wajahnya ke kiri. Kode keras untuk Ken.
Dengan malu-malu, Ken juga menggeser wajahnya ke kanan. Satu kecupan mendarat di pipi Al. Pria itu tersenyum saat itu juga.
"Terimakasih, sayang," ucap Al pelan.
🌳🌳🌳🌳
Terimakasih atas kunjungan, sebelum membaca mohon dibantu
✓ VOTE
✓ LIKE, dan
✓ KOMENTAR-nya
__ADS_1
Bagi yang suka spam komentar diperbolehkan kok, agar novel ini tidak sepi seperti kuburan.
Dukungan dari kalian semua membuat saya makin semangat untuk update, vitamin yang luar biasa mujarabnya untuk menyelesaikan cerita ini. Terimakasih!