Temani Aku, Ken!

Temani Aku, Ken!
Berubah Pikiran.


__ADS_3

Malam itu, Baron beranjak ke tempat tidur lebih sore. Ia merasa lelah karena abis touring dengan teman satu komunitasnya.


"Rumahku jadi sepi begini, apalagi tempat tidurku," keluhnya.


Sejak Nora ia ungsikan dari rumah hampir setiap malam ia tidur sendirian. Maria dan Barent pergi jam tujuh pagi, paling cepat mereka kembali ke rumah jam sepuluh malam. Lebih sering mereka tidak pulang, memutuskan untuk bermalam di diskotik yang kini sudah semakin besar dan ramai pelanggannya.


Pikirannya melayang, ia mengingat bagaimana kehidupannya dulu sebelum adanya Maria di rumah ini. Hidup mereka begitu bahagia, Lisha yang begitu pengertian dan selalu siap melayannya dalam segala hal dan juga putranya yang tampan dan cerdas melengkapi kebahagiaan keluarga mereka.


"Kalian meninggalkan aku satu persatu. Aku telat menyadari, ternyata kalian begitu tersakiti" keluh Baron lagi.


"Kamu tidak salah Lisha, kau memilih pergi karena ada Maria yang sudah mengambil paksa tugasmu di rumah ini. Kau merasa tidak dibutuhkan lagi. Aku menyesal, sangat menyesal. Kenapa aku terlalu menutup mata atas kesedihanmu," Baron menutup matanya cukup lama. Ia berusaha menyimpan luka hatinya karena begitu kejam terhadap orang yang begitu ia sayangi.


"Aku akan mengembalikan kebahagiaan itu. Aku akan memberikan kebahagiaan kalian yang terenggut walau aku harus kehilangan semuanya," ucap Baron lagi.


"Jam segini sudah masuk kamar, Abang sakit?" tanya Maria yang mengejutkan Baron dari lamunannya. Ia tidak mendengar suara mobilnya masuk garasi, tidak mendengar suaranya mamanggil Bik Sum untuk melayaninya, seperti yang biasa ia lakukan ketika masuk rumah. Maria tiba-tiba masuk kamar tanpa mengetuk pintu atau mengucapkan salam.


"Enggak. Cuma pengen rebahan. Di luar juga sepi, jadi mending istirahat di sini," sahut Baron sembari membenahi posisi tubuhnya. Dari berbaring, kini bersandar di ujung kasur. Menjadikan beberapa bantal yang ada di kasur itu untuk menopang tubuhnya.


"Kamu sudah pulang, tumben?" tanya Baron dengan nada heran.


"Abis dari Sudirman, mau ke diskotik males. Sudah malem," sahut Maria.


"Tadi aku juga sempat mampir ke diskotik, Barent sudah bekerja cukup keras untuk membesarkannya," puji Baron agar istrinya itu senang.


"Aku bilang juga apa. Anakmu itu sudah bersusah payah mengelola bisnis kita sampai-sampai ia melupakan masa mudanya. Diusianya yang sudah kepala tiga ia bahkan tidak memikirkan untuk berumah tangga," keluh Maria. Ia menangkap memanfaatkan situasi ini untuk mendapatkan simpati dari suaminya.


"Iya, aku sudah memintanya bekerja terlalu keras sampai melupakan haknya," ucap Baron dengan nada penuh sesal. Dalam hatinya ia justru menggerutu, selama ini Maria yang menghendaki semua bisnisnya di tangani oleh anaknya itu selama ia di penjara. Bahkan ketika Baron ingin mempekerjakan tenaga ahli yang bisa membatunya, Maria menolak keras.


"Mulutnya lemes juga nih orang," gumam Baron dalam hati. Ia semakin faham bahwa istrinya yang satu ini cukup lihai bersilat lidah untuk mencari muka.


"Aku sudah memikirkannya dan aku juga sudah memutuskan," ujar Baron. Ucapan itu terdengar begitu jelas di telinga Maria. Wanita itu segera menghampiri suaminya, ia duduk di sisi tempat tidur, menghadap sang suami.


"Maksud Abang apa?" Selidik Maria.


"Sini," Baron memegang kedua tangan Maria dan meminta wanita itu agar semakin mendekat ke arahnya. Maria tidak menolak. Ia membaca ada sinyal positif dari arah pembicaraan suaminya, untuk itu ia mengikuti kemauan pria tua itu.


"Beberapa hari ini aku sudah berpikir, menimbang sebelum menjatuhkan sebuah keputusan. Aku sangat berterima kasih kepada kalian berdua. Kau dan Barent tidak hanya melengkapi kebahagiaaku di rumah ini tapi kalian punya andil yang cukup besar dalam memajukan bisnis yang sudah aku kelola sejam puluhan tahun ini. Untuk itu sebagai tanda terima kasih pada kalian, aku sudah membuat surat pelimpahan," ujar Baron dengan yakin dan tegas.


"Maksudnya, Bang?" tanya Maria makin penasaran. Ia memegang erat tangan Baron yang sejak tadi menggenggam tangannya. Ia butuh penjelasan yang konkret dari ucapan suaminya itu.

__ADS_1


"Aku sudah membuat surat pelimpahan. Jadi diskotik itu sepenuhnya sudah aku serahkan untukmu dan Barent. Aku tidak akan ikut campur dengan menejemennya lagi. Kepemilikan usaha sudah aku buat atas nama Barent. Semua penghasilan untuk kalian," ucap Baron begitu pasti.


"Benarkah?" tanya Maria masih tidak percaya. Kejutan yang diberikan Baron benar-benar membuatnya tidak percaya.


"Besok notarisku akan ke sini. Kita tanda tangan surat pelimpahannya agar sah menjadi milik kalian," sahut Baron meyakinkan Maria.


"Aku shock banget. Abang begitu baik padaku dan Barent," ucap Maria dengan mata berkaca-kaca.


"Barent sudah aku anggap sebagai anak kandungku sendiri. Ia berhak mendapatkan semuanya,"


"Ya Tuhan. Abang baik sekali,"


"Karena aku juga butuh pemasukan untuk menghidupi keluargaku, kantor yang di Sudirman aku ambil alih. Kau dan Barent fokus di diskotik, aku akan kembali bekerja. Bosen tinggal di rumah ga ada kegiatan apapun,"


"Iya bang. Jika Abang menghendaki itu aku akan turuti,"


"Apa kantor itu akan menjadi milik Al dan Nora?"


"Nota sudah punya butik dan dia sudah cukup bersyukur mendapatkan itu semua. Ia sudah tidak mau menerima uang bulanan dariku, penghasilannya sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya,"


"Sok banget tuh perempuan," bisik Maria dalam hati.


"Aku masih sehat dan segar bugar. Jika semua aku limpahkan terus aku mau makan dari mana? Lagian aku juga belum bisa menerima sikap Al yang makin keras dan arogan. Ia begitu dendam padaku dan ingin sekali menyingkirkan aku dalam hidupnya," sahut Baron sengaja berbohong.


"Ah, ternyata dia belum bisa menerima Al meskipun anak sialan itu sudah kembali. Aku bisa memanfaatkan situasi ini agar kantor di Sudirman dan rumah ini semua menjadi milikku,"


"Siapapun yang setia di sisiku hingga akhir hayatku, mereka yang akan mewarisi semuanya. Bisa Al, kau atau Barent. Kalian punya hak yang sama. Siapa tahu Al berubah pikiran dan mau kembali ke rumah ini,"


"Kau baik sekali sayang," Maria merapatkan tubuhnya dan memberikan kecupan lembut di pipi Baron.


"Pastikan Barent ada di rumah sebelum jam 10.00," Baron mengingatkan Maria lagi.


"Iya, aku akan menelponnya secepat mungkin. Aku mau mandi dulu. Tunggu ya," Maria mengedipkan mata kirinya dan tersenyum menggoda pada suaminya.


"Mandilah. Aku mau istirahat dulu. Aku menunggumu bukan untuk yang saru itu," Baron terpaksa bicara begitu karena sejak keluar dari penjara Maria tidak mau disentuh olehnya sama sekali dengan alasan dia sudah berkhianat dengan menikah dengan Nora, ini lah itulah untuk menghindar dari tanggung jawabnya sebagai istri.


Baron faham, Maria begitu senang malam ini untuk itu ia menawarkan diri untuk melayani suaminya. Namun hati pria itu terlanjur sakit, ia tidak mengenal kata di tolak. Setelah Maria mutuskan untuk menjauh, ia juga sudah mengharamkan tubuh wanita itu untuk ia sentuh.


"Aku sudah tidak menarik lagi?" goda Maria yang membuka kancing bajunya satu persatu di depan Baron.

__ADS_1


"Kau masih tetap cantik dan menarik hanya saja aku begitu lelah hari ini. Kita masih punya banyak waktu untuk melakukannya," elak Baron ketika Bibir Maria sudah begitu mendekat ke arahnya.


"Mandilah, tubuhmu bau alkohol," ujar Baron lagi. Ia menarik wajahnya dari serangan istrinya.


"He..he....tadi ada tamu yang mau mengajak kerjasama. Aku menjaminnya," ujar Maria malu.


Maria segera beranjak dari sisi tempat tidur. Blues yang ia kenakan sudah terbuka sempurna kancingnya. Tubuhnya yang mulus bisa dilihat Baron dengan jelas.


Baron membiarkan istrinya itu menanggalkan semua pakaian yang ia kenakan di depannya. Ia hanya bisa tersenyum melihat kelakuan Maria yang selalu berlaku manis jika kemauan sudah di penuhi. Hanya beberapa detik saja, tubuh yang berdiri di depan Baron itu sudah polos, tanpa penutup sedikitpun.


Maria tersenyum menggoda, ia masih berusaha menarik simpati suami dengan gayanya yang dibuat gemulai dan bicara dengan nada nakal.


"Aku tidak menolak jika Abang mau mandiin aku," ujarnya sembari mengangkat kedua dadanya ke atas. Bibirnya ia basahi dengan ujung lindahnya.


"He..he....kau ini. Aku bisa rematik jika mandi ham segini," elak Baron yang terus melawan godaan istrinya itu.


Karena Maria begitu bahagia dan ingin memberikan layanan prima pada suaminya, ia melupakan sesuatu. Tanda merah yang masih membekas di gundukan putih itu tertangkap oleh Baron. Ia tidak sadar jika mata Baron tertuju pada stempel cinta yang entah dibuat oleh siapa?


"Dasar wanita ******, ternyata dia main api di belakangku. Pantas saja dia begitu dingin padaku," umpat Baron begitu marah. Giginya bergemelatak. Ia cukup bisa menahan diri. Semua itu tidak ia tampakkan di depan Maria yang menunjukkan wajah seolah tidak berdosa itu.


"Mandilah, nanti mau masuk angin," tegur Baron lagi.


Maria hanya tersenyum dan mengikuti apa kata suaminya itu. Sebelum ia beranjak ke kamar mandi, ia masih sempat memberikan kecupan jarak jauh pada Baron.


"Sebentar lagi tamat, kau," ujar Baron Begitu geram. Ia menarik tubuhnya ke bawah, menutupi tubuhnya dengan selimut. Ia berusaha memejamkan matanya, harus sudah tertidur sebelum Maria keluar dari kamar mandi.


********


Terimakasih atas kunjungan, sebelum membaca mohon dibantu


✓ VOTE


✓ LIKE, dan


✓ KOMENTAR-nya


Bagi yang suka spam komentar diperbolehkan kok, agar novel ini tidak sepi seperti kuburan.


Dukungan dari kalian semua membuat saya makin semangat untuk update, vitamin yang luar biasa mujarabnya untuk menyelesaikan cerita ini. Terimakasih!

__ADS_1


__ADS_2