
"Bu, apa perlu menyiapkan makan malam?" tanya Ken pada Lisha. Sore itu mereka berdua tengah panen sawo yang ada di belakang rumah.
"Sepertinya tidak perlu, Ken. Al bilang dia akan ke apartemen,"
"Atau ibu ingin dibuatkan sesuatu?" tanya Ken lagi.
"Ga usah. Ibu mau makan buah aja,"
"Oh, berati ga usah masak?" Ken meyakinkan obrolan mereka.
"Iya, beresin ini aja. Sayang banget, ya. Udah tua-tua begini dibiarkan jatuh,"
"Justru yang jatuh itu lebih manis, biasanya sudah siap untuk dimakan?" Ken menjelaskan.
"Gitu, ya? Ibu malah ga tau,"
"Awalnya juga begitu. Sejak beberapa kali memungut sawo yang jatuh dan masih layak makan, manisnya ga ketulungan,"
"Jadi pengen nyobain," ujar Lisha penasaran.
Ken mengambil satu buah sawo yang jatuh dan mengupasnya hingga bersih, kemudian ia memotongnya menjadi beberapa bagian. Ia berikan potongan buah itu pada Lisha. Benar saja, begitu mencicipi buah itu, Lisha merasakan buah yang manis dan segar.
"Bener, Ken. Manis banget. Kalau begitu kita harus rajin-rajin mungut. Sayang kalo dibiarin dipatok ayam tapi ga di makan,"
"Selalu, bu. Saya mungut sawo ini setiap pagi dan sore. Ga pernah bosen,"
"Tiiiinnn.......," Suara klakson mobil mengangetkan mereka.
"Siapa?" tanya Lisha. Mereka berdua saling berpandangan karena ada suara mobil yang minta dibukakan pintu gerbang pada jam segini.
"Biar saya yang buka?" Ken buru-buru lari ke arah pintu gerbang.
"Eh, bapak. Maaf," Saat membuka pintu gerbang, Ken melihat Tuan Baron muncul dari dari kaca mobilnya minta dibukakan pintu.
"Terimakasih, ibu ada?" Tanyanya ketika ia sudah memarkirkan mobilnya di halaman rumah.
"Ada di kebun belakang. Biar saya panggil,"
"Sttt, tidak usah. Biar saya yang ke sana," buru-buru Baron melarang Ken ketika ia sudah membalikkan tubuhnya ke arah kebun.
Ken hanya bisa tersenyum ketika Tuan Baron sudah berjalan ke arah kebun, menyusul istrinya.
"Hem, sepertinya ia memberi surprise pada ibu," gumam Ken ikut senang.
******
"Bang, kok ada di sini?" tanya Lisha kaget. Ia tidak sadar jika Baron sudah berdiri cukup lama memperhatikannya.
__ADS_1
"Apa tidak boleh? Aku pulang ke rumah anakku dan juga kangen sama istriku," ucap pria itu. Ia trus saja berdiri di tempat itu hingga Lisha memintanya untuk mendekat.
" Sini, Apa mau berdiri di situ saja, ga mau mencicipi manisnya sawo ini?"
"Aku senang bisa melihatmu lagi, Lisha. Aku janji akan menyelesaikan semuanya agar kita bisa kumpul lagi," ucap pria itu ketika sudah duduk di sisi istrinya. Memperhatikan istrinya yang tengah mengupas sawo.
"Kita sudah berumur, Bang. Saat ini yang paling kita butuhkan adalah ketenangan hati. Jika harus bersama tapi ada yang harus terluka, kenapa harus dipaksa? Biar waktunya yang menentukan, akan bagaimana hidup kita ke depan," ucap Lisha begitu bijak. Ia merasa sudah bahagia bisa tinggal bersama anaknya dan melihat suaminya tetap sehat walaupun pria yang dicintainya itu harus berada di sisi wanita lain.
"Apa kau tidak menginginkan aku kembali padamu?" tanya Baron cukup serius.
"Seperti ini saja sudah cukup," ucap wanita itu.
"Maafkan aku jika apa yang aku lakukan selama ini telah menutup pintu hatimu,"
"Aku sudah melupakan semua. Mengetahui kau tidak pernah menceraikan ku aku sudah bahagia,"
"Nih," Lisha menyuapkan potongan sawo yang sudah dibersihkannya.
"Manis," ucap Baron begitu ia sudah menelan buah itu.
"Iya, buah jatuhan. Sudah tua pasti manis,"
"Sama kayak yang ngupas, tambah tua makin manis," puji Baron.
"Abang, apaan sih. Ga inget umur," sahut Lisha malu.
"Beneran. Senyum dan kelembutanmu membuatku ingin balik lagi ke sini,"
"Hayo pada ngapain?" Suara Al mengagetkan Baron. Anak itu sudah mengganggu acara, niatnya untuk merayu istrinya jadi buyar saat itu juga.
"Kok balik ke sini, katanya mau ke apartemen?" tanya Lisha makin bingung. Bapak dan anak kok kelakuan sama saja. Bilang mau pulang ke rumah masing-masing malah kembali ke sini lagi.
"Aku mau ketemu Papa sama Mama, apa itu salah?"
"Nah, lihat itu. Ucapanmu tadi sama persis dengan anakmu," ujar Lisha menahan tawa.
"Masa?" tanya Al.
"Namanya juga ayah dan anak, kelakuannya pasti ga jauh beda," sahut Baron.
"Aku tadi telpon Ferdy tanya keberadaan papa, dia bilang papa menuju kemari. Mamanya aku juga ikutan pulang,"
"Halah, itu alasan kedua. Padahal kau paling ingin melihat Ken, kan?" tebak Baron yang membuat wajah calon mantunya itu malu-malu.
"Tau aja," guman Al.
"Papa pernah muda, dia saksinya," Baron menunjuk ke arah Lisha.
__ADS_1
"Ha..ha.....," Tawa Baron dan putranya membuat suasana kebun yang ada di samping rumah itu menjadi meriah.
"Pa, sepertinya Maria curiga padamu. Pagi-pagi dia sudah mengintrogasi Ferdy. Kenapa semalam papa ga pulang pulang ke rumah," ucap Al mulai khawatir.
"Aku takut ia menyuruh orang membututi Papa. Jika ia tahu kita semua ada di sini, matilah kita," tambah Al lagi.
"Jangan khawatir, saat ini ia sibuk dengan proyek barunya. Jika ia masih sempat mengintai keberadaanku biarkan saja"
"Aku takut jika ia mengintai mama atau Ken,"
"Bisa jadi begitu. Jadi untuk sementara ini, jika sedang ada di luar harus waspada. Jika ada yang mencurigakan, alihkan perhatian mereka dengan mengambil jalan lain sebagai pengecoh,"
"Sudahlah,ada Ferdy dan orang-orangnya yang papa tugaskan untuk mengawasi mereka. Kita minum kopi dulu," ajak Baron
"Ken, kita punya tugas baru nih. Menyiapkan makan malam," ujar Lisha mengingatkan calon mantunya itu.
"Iya, Bu,"
"Ga usah masak, Ma. Kita pesan makanan siap saji aja,"
"Terserah kalian, kalau mau di masakin, kita masak,"
"Biar papa yang masak, kalian istirahat,"
"Lah, emang bisa?" tanya Al ragu.
"Gini-gini, papa ini mantan orang sudah. Namanya masak itu kerjaan papa waktu kecil. Udah percaya aja,"
"Ya sudah, kita tunggu buktinya aja, ma,"
"Iya, mama juga baru tahu kalau papa bisa masak,"
"Tuh, kan?"
Kekhawatiran mereka rupanya cukup beralasan, tanpa sepengetahuan mereka berempat ada sepasang mata yang mengawasi. Orang itu bersembunyi di balik pagar beton rumah Al.
Setelah mendapatkan beberapa foto dari jepretan kameranya, ia segera turun dari pohon mangga yang menopang tubuhnya.
******
Terimakasih atas kunjungan, sebelum membaca mohon dibantu
✓ VOTE
✓ LIKE, dan
✓ KOMENTAR-nya
__ADS_1
Bagi yang suka spam komentar diperbolehkan kok, agar novel ini tidak sepi seperti kuburan.
Dukungan dari kalian semua membuat saya makin semangat untuk update, vitamin yang luar biasa mujarabnya untuk menyelesaikan cerita ini. Terimakasih!