Temani Aku, Ken!

Temani Aku, Ken!
Menunya apa?


__ADS_3

Ken keluar dari kamarnya begitu matahari sudah tinggi, terlihat jelas dari jendela kamarnya. Ternyata sudah pukul 11.00 WB.


"Pantes aja udah gerah," bisik Ken pada dirinya sendiri.


Tidak terasa, hampir satu jam ia berdiam diri di kamar tanpa mengerjakan apapun. Ia masih bingung dan sedih karena kejadian di kamar bosnya tadi. Apapun yang ia lakukan dirumah ini seperti belum sesuai dengan aturan kerja yang sudah dipesan oleh ibunya.


Ken melangkah menuju kitchen set yang ada di dapur dan membuka daftar menu untuk hari ini. Sop jamur, ikan bakar sambel kecap, menu yang sudah tertulis ibu pada daftar sajian makan siang dan malam untuk 30 hari ke depan.


Kemudian Ken membuka kulkas dan mengecek bahan yang akan diolahnya siang ini. Ada ikan yang sudah dibumbui, disimpan ibu dalam wadah tertutup hingga Ken tidak capek-capek bikin bumbunya. Tinggal mengeluarkan dari box berisi ikan serta bahan-bahan masakan lainnya dan membiarkan dalam suhu ruang.


Ken masih khawatir, bagaimana jika kesalahan-kesalahannya tadi bisa membuat majikannya marah dan berpikir ulang untuk membiarkan Ken menggantikan tugas ibunya.


"Bagaimana jika orang itu benar-benar mengusir nya dari rumah ini? Jika ia cari orang baru, artinya ibu akan kehilangan pekerjaannya di sini?" Pikir Ken jadi sedih. Jika ini benar-benar terjadi berarti ibunya bakal sedih.


"Semua salahku, kenapa aku menjadi tidak becus seperti ini. Sungguh anak yang tidak bisa diandalkan," sesal Ken dalam hati.


"Maafkan Ken, Bu!" bisiknya lagi dengan begitu sedih.


Ruangan itu begitu sepi, ia melihat kamar atas. Pintunya masih tertutup rapat. Sepertinya orang itu belum keluar dari kamarnya sejak tadi.


Ken juga belum mendengar suara Pak Parman sejak ia di kamar.


"Mungkin ia belum selesai nyapu halaman," pikir Ken lagi.


Akhirnya, Ken masuk lagi ke kamarnya. Kali ini bukan untuk bermalas-malasan, tapi ia ingin mengambil handuk dan baju gantinya. Ia ingin menguyur tubuhnya yang sudah mulai gerah.


Cukup lama ia menghabiskan waktu di kamar mandi. Selain airnya yang sejuk, kamar mandi yang terletak di samping kamarnya ini juga cukup lega. Ken sengaja bermain air, keramas, sabun, bilas, sabunan lagi, dan bilas lagi hingga berulang-ulang kali.


Pokoknya segala sabun yang ada di situ ia pakai. Saat mengguyur tubuhnya, ia juga begitu semangat hingga bunyi gayungnya terdengar hingga keluar. Ia meluapkan segala kekesalan saat itu juga.


Pikirannya yang kusut sedikit demi sedikit bisa tenang kembali. Rasanya ingin sekali ia membenamkan diri di kolam kamar mandi itu jika tidak ingat ia sedang berada di rumah orang.


"Seger banget. Ternyata air disini lebih dingin dari air di kontarakan mereka," gumam Ken sembari mengerikan tubuhnya.

__ADS_1


*****


[ Di ruang makan ]


"Jam segini baru mandi," tanya Al dalam hati. Ia melihat jam dinding yang tergantung di atas kulkas dan geleng-geleng kepala.


"Dasar pemalas," pikirnya lagi. Al sudah menduga jika yang ada di kamar mandi itu adalah anak Bu Ros. Tidak mungkin Pak Parman. Karena pria itu tidak pernah menggunakan kamar mandi yang ada di dalam rumah. Jika ada keperluan buang air dan sebagainya, ia menggunakan kamar mandi yang ada di belakang rumah ini.


Al keluar dari kamarnya karena tenggorokannya sudah kering. Di meja kerjanya tidak ada air putih. Biasanya Bu Ros menyediakan air untuknya.


"Lagi-lagi anak itu lalai akan tugasnya," gerutu Al makin kesal.


Al mencari gelas berukuran besar di rak piring besarta tutup gelasnya, mengisinya dengan air hangat dan meneguknya dengan tenang. Tubuhnya ia sandarkan pada meja dapur.


Setelah kosong, ia mengisi kembali gelasnya dan ingin kembali ke kamarnya. Namun langkahnya sengaja di tahan karena ia mendengar handel pintu terbuka dan muncul orang begitu berisik di kamar mandi.


Ken kaget, begitu keluar ia mendapati majikan sedang ada di dapur. Buru-buru ia mendekati dan memberanikan diri untuk bertanya


"Maaf, ada yang bisa saya bantu?"


"Maaf, aku tidak menyiapkan air putih di kamar. Ibu tidak memberitahu hal itu padaku," lagi-lagi Ken berusaha untuk minta maaf atas kesalahan-kesalahannya hari ini.


"Sini Pak. Biar saya yang ke atas," Ken berusaha mengambil gelas yang ada di tangan majikannya namun tidak berhasil. Pria itu malah menarik tangannya agar menjauh dari jangkauan Ken.


"Maaf ya, aku sudah berlaku kasar padamu," tanpa di duga pria itu justru minta maaf pada Ken.


Ia sengaja melakukan karena sejak gadis itu keluar dari kamar mandi, ia bisa membaca kesedihan yang ada di wajah gadis itu.


Ken menundukkan kepalanya, ia bingung harus berkata apa. Pikiran yang sudah sedikit lega karena guyuran air mendadak kusut kembali.


"Memang salah saya. Saya belum faham dengan apa yang harus saya kerjakan di rumah ini. Beri saya kesempatan, mudah-mudahan tidak terulang lagi,"


Al jadi bingung, kenapa gadis ini bicara seperti itu. Jelas-jelas ia sudah minta maaf karena berlaku kasar padanya tadi pagi. Kenapa malah membuatnya jadi sedih. Ia makin tidak tahan melihat gadis itu yang sudah meneteskan air mata. Terus terang, seumur hidupnya ia belum pernah menghadapi situasi yang begini, "apa yang harus di lakukan,"

__ADS_1


Karena bingung, Al memilih membalikkan tubuhnya dan ingin segera kembali ke kamarnya.


"Jadi bapak tidak memberikan kesempatan lagi?" tanya Ken yang makin mewek.


Jelas saja pernyataannya kali ini membuat Al mengurungkan niatnya. Ia kembali memandang gadis yang masih berdiri terpadu di hadapannya itu.


"Kesempatan apa?" tanya pria itu bingung.


"Bapak tetap mengizinkan saya di sini kan?" tanya Ken begitu polos.


"Berapa usiamu?" Ia tidak menjawab pertanyaan Ken justru memberikan pertanyaan baru pada gadis itu.


"23 tahun. Lebih sih. Dua bulan lagi 24 tahun,"


"Setua itu kau tidak faham ucapan ku!" Ia segera melangkah dan meninggalkan Ken yang masih dalam kebingungannya.


Ken hanya bisa melihat punggung pria itu, berjalan meniti anak tangga dengan santainya. Sementara pikirannya, ia masih penuh dengan tanda tanya.


"Ga faham ucapannya?"


"Aku ga faham ucapannya?" Ken mengulang ucapan pria itu berkali-kali.


"Maaf ya, aku sudah berlaku kasar padamu..... berapa usiamu?," cuma itu yang dia katakan. Ken geleng-geleng kepala.


"Jika ada 2 atau 3 orang model begini yang aku temui, bisa kriting otakku yang pas-pasan ini," pekik Ken dalam hati.


*****


Happy reading all! Author tidak bosan-bosan minta dukungannya. Mohon untuk tinggalkan


✓ LIKE


✓ KOMENTAR

__ADS_1


✓ VOTE -nya ya


Apresiasi dari kalian semua membuat saya semakin bersemangat untuk update, terimakasih!!!


__ADS_2