
Siang, tepat pukul 12.30 sebuah minibus hitam produk Toyota berhenti di depan rumah Al. Semua penghuni rumah sudah tahu, mobil itu membawa orang yang sudah mereka tunggu-tunggu sejak pagi.
Bu Ros turun dari mobil dengan pandangan heran. Apa yang terjadi di rumah ini selama ia tinggal selama 40 hari. Kenapa rumah majikannya mendadak hidup setelah sekian tahun mati suri.
Bu Ros masih tersenyum menyeringai melihat majikan dan dua orang yang belum dikenalnya berdiri di depan pintu, menyambut kedatangan. Sampai-sampai ia tidak tahu jika pak Parman dan Ken sudah mengangkat dan memindahkan barang-barang bawaannya ke dalam rumah.
"Tuan, apa kabarnya?" Bu Ros memberi salam pada Al yang sejak tadi sudah tersenyum ramah padanya.
"Alhamdulillah, sehat Bu. Pasti ibu mendoakan saya di sana hingga saya bisa seperti ini," ucap Al yang masih terus menggenggam tangan wanita itu.
"Tuan bisa saja, banyak yang saya minta, pokoknya macem-macem doanya. Utamanya doa untuk Ken agar bisa selesai kuliah dan segera dapet jodoh. Saya juga mendoakan tuan supaya diberi umur panjang dan rezeki yang makin berlipah," terangnya sambil tertawa.
"Selain itu ya, doain orang tua, keluarga, doa untuk kesehatan, untuk teman-teman, semua pokoknya saya doakan," ucap Bu Ros dengan jujur.
"Oh, pantesan. Doa itu ternyata langsung diijabah oleh yang maha kuasa, Bu,"
"Maksudnya bagaimana, Tuan?" tanya Bu Ros bingung.
"Biarkan Bu Ros masuk dan istirahat, Al," tegur Lisha.
"Kenalkan, Bu. Ini papa dan mamaku," Al buru-buru memperkenalkan kedua orang tuanya pada calon mertuanya itu.
"Mereka sekarang tinggal di sini, begitu ngerasa enak di rumah ini pada ga mau pulang ke rumahnya," canda Al.
"Wah, dia merasa keberatan kita tinggal di sini, Ma," balas Baron tidak mau kalah.
"Ha..ha.....," tawa Al merasa lucu.
Kemudian secara bergantian, Bu Ros juga mengalami Baron dan Lisha. Ia tersenyum dan menundukkan kepalanya tanda sangat menghormati kedua orangt ua majikannya.
"Ayo, Masuk. Kita bicara di dalam saja," ajar Baron yang ikut angkat suara.
"Terimakasih, Tuan," sahut Bu Ros merasa sangat diterima kedatangannya.
__ADS_1
"Jangan panggil Tuan. Kita ini keluarga," ucap Baron sembari melangkah ke ruang tamu, mendahului yang lainnya.
Mereka berempat duduk di sofa yang nyaris tidak pernah di duduki oleh penghuni. Karena selama sofa itu di beli, belum ada tamu yang datang ke rumah ini.
"Selamat datang kembali, Bu. Senang bisa bertemu denganmu. Al cerita banyak tentang mu," Lisha membuka pembicaraan.
"Iya, Nyonya. Saya sudah bekerja di sini hampir tujuh tahun. Tuan Al sangat baik, makanya saya tidak pernah punya niat untuk mencari pekerjaan yang lain. Berkat dia, saya bisa menyisihkan penghasilan saya untuk membiayai kuliah putri saya," Bu Ros mengatakan itu sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada dan menundukkan kepalanya berkali-kali.
"He....he.....gaji saya di sini tiga kali lipat lebih tinggi dibandingkan kerja di tempat lain,"
"Jangan seperti itu, Bu. Saya membayar ibu sesuai dengan hasil kerja kok," sahut Al merendahkan diri.
"Itu rezeki ibu dan Ken," sahut Baron menimpali.
Tak lama mereka bicara, Ken memberitahu bahwa makan siang sudah siap. Tanpa menunggu waktu lagi, mereka berempat langsung menuju ke ruang makan.
"Sini Bu, duduk di sebelah sini," Lisha menarik kursi yang ada di sampingnya sebagai tempat duduk Bu Ros.
"Orang yang pulang dari umrah atau haji itu doanya mudah dikabulkan. Selama 40 hari setelah pulang dari tanah suci, malaikat masih melekat di tubuhnya. Suatu kehormatan jika ibu mau makan bersama kami," bujuk Lisha lagi.
Bu Ros makin tersudut, tidak ada alasan baginya untuk menolak permintaan itu apalagi Pak Parman juga sudah duduk bersama mereka.
"Hari ini kita makan bersama khusus untuk menyambut kedatangan Bu Ros kembali di rumah ini. Mama dan Ken sudah masak spesial untuk kita semua. Ayo kita nikmati selagi hangat," ajak Baron yang sudah duduk di kursi paling ujung. Disampingnya ada Lisha dan Bu Ros. Al dan Ken duduk berdampingan di depan Lisha sedang pak Parman kebagian posisi yang menghadap tuan Baron.
"Saya jadi ga enak, sudah seperti tuan besar saja kalau duduk di sini," ucap Pak Parman malu-malu.
"Sudah, urusan duduk tidak usah diperkarakan. Kita semua duduk di sini kan tujuannya pengen makan bukan bahas masalah enak dan tidak enak," ucap Baron lagi.
Lisha lebih dulu mengabulkan nasi untuk suaminya, baru dikuti oleh Al dan yang lainnya.
"Apa Ken bekerja dengan baik?" tanya Bu Ros. Ia memberanikan diri bertanya seperti itu karena melihat putranya berani duduk di samping Al tanpa diminta.
Baron, Lisha, Al tidak ada yang menjawab, mereka justru saling pandang. Otomatis reaksi ini membuat suasana hati Bu Ros menjadi tidak enak.
__ADS_1
"Apa dia berbuat kesalahan?" Tatapan Bu Ros tertuju pada Ken yang duduk di depannya, di samping Al majikannya.
"Dia melakukan tugasnya dengan baik. Ibu tidak usah khawatir," jawab Lisha berusaha menenangkan hati wanita yang duduk di sampingnya.
"Syukurlah kalau begitu. Saya khawatir ia tidak dia bisa apa-apa,"
"Masakan enak kok, Bu dan.....," buru-buru Al menimpali.
Al belum selesai bicara,satu tendangan sudah mendarat di kakinya. Al bisa membaca kalau Ken tidak ia melanjutkan kalimatnya. Al tidak tinggal diam, ia membalas tendangan itu dengan kekuatan maksimal.
"Au..," teriak Ken kaget. Namun ia buru-buru menahan suaranya, khawatir didengar yang lain.
"Kasih tau sekarang," bisik Al pada Ken. Ken pura-pura tidak mendengar permintaan itu. Rasanya ia tidak mungkin memenuhi permintaan Al yang terlalu kekanak-kanakan itu. Ia akhirnya menyuap kembali makanannya.
"Hus...," Al memperingatkan Ken lagi. Al tidak hanya menyentil wanita itu dengan isyarat namun tendangan kakinya juga ikut bicara.
Bu Ros menangkap ada hal yang tidak beres diantara mereka, apalagi ia sempat melihat Al melotot ke arah putrinya.
"Habiskan makanannya dulu, baru membahas perkara masa depan," Seru Baron yang bisa membaca pikiran anaknya. Semuanya menahan senyum, hanya Bu Ros yang memasang wajah penuh tanda tanya.
🎀🎀🎀🎀🎀
Terimakasih atas kunjungan, sebelum membaca mohon dibantu
✓ VOTE
✓ LIKE, dan
✓ KOMENTAR-nya
Bagi yang suka spam komentar diperbolehkan kok, agar novel ini tidak sepi seperti kuburan.
Dukungan dari kalian semua membuat saya makin semangat untuk update, vitamin yang luar biasa mujarabnya untuk menyelesaikan cerita ini. Terimakasih!
__ADS_1