
"Gedungnya setelah perempatan Tugu ya, Mbak?" tanya driver taksi online yang di tumpangi Ken.
"Saya kurang tau, belum pernah ke daerah sini,"
"Oh, saya kira mbak-nya tinggal di situ,"
"Enggak, saya cuma mau anter barang,"
"Berarti kita ikut map aja ya?" tanya driver itu lagi.
"Iya, Pak. Terserah aja. Yang penting sampai tujuan," sahut Ken sembari tersenyum hambar.
Setelah menanyakan titik lokasi, driver itu tidak banyak bertanya lagi. Ia fokus mengemudi di tengah jalanan yang mulai padat oleh kendaraan.
Ken membuka Hp, ia ingin tahu apakah Al menghubungi pagi ini?
"Belum berkabar juga. Apa aku WA dia kalau lagi menuju ke sana?" tanya Ken dalam hati.
Cukup lama dia menimbang antara berkabar atau tidak.
"Ga usahlah, langsung aja," Ken akhirnya memutuskan.
Ken kembali menatap jalanan, sudah hampir setengah jam ia meninggal rumah namun mobil yang ditumpanginya itu baru bergerak sekitar 10km saja.
"Macet banget, ya Pak?" Ken akhirnya membuka pembicaraan.
"Iya, Mbak. Hari kerja dan waktunya para pekerja dari Bogor menuju Jakarta,"
"Oh, iya. Pantes saja rapat sekali jalanan," keluh Ken.
"Tau begini mending baik kereta aja, lebih cepet," keluhnya lagi.
"Lewat tol aja, Mbak?"
"Boleh," sahut Ken seketika.
"Ada kartu e-tolnya?"
"Ga ada,"
"Saya juga belum ngisi, nih. Sepertinya sudah habis. Tadi udah tiga kali bawa penumpang semua minta naik tol,"
"Ga bisa cash pak?"
"Ga bisa. Harus isi ulang dulu. Tapi ga semua gerbang tol bisa melakukan isi ulang,"
"Oh, berarti kita lewat jalan biasa pak?"
"Iya, paling beda 20 menit,"
"Paling? Itu mah lumayan," gerutu Ken lagi.
"Ya sudah pak. Saya ikut aja lah pokoknya,"
"Ngomong-ngomong kok udah dapet 3 penumpang aja. Emang mulai jalan jam berapa?"
"Jam 4 saya sudah keluar. Mangkal di diskotik XX. Lumayan, selalu dapet orderan banyak dari situ, udah itu penumpang baik-baik. Suka kasih tips gede-gede,"
"Jam 4 bubar?" tanya Ken heran.
"Iya, namanya juga hiburan malam. Kadang mereka masih dalam kondisi mabok. Tidak jarang mereka melakukan hal-hal yang di luar nalar di mobil tumpangan. Pernah dapet penumpang yang mabuk berat, begitu masuk langsung buka baju dan ganti pakaian kerja di mobil saya. Pusing saya kalo nemu yang begituan," oceh sang driver.
"Parah ya, Pak?"
"Mereka dalam pengaruh alkohol, jadi urat malunya udah putus,"
__ADS_1
"Iya, ya. Pengunjungnya pasti orang berkelas?" Tebak Ken.
"Iya, diskotik terbesar, sih. Pemiliknya juga bukan orang sembarangan,"
"Punya pejabat?" Selidik Ken lagi.
"Bukan, yang punya bos preman yang terkenal. Diskotik XX dan rumah karaoke yang ada di depan itu, punya Tuan Baron,"
"Baron?" Selidik Ken. Ia cukup kaget mendengar nama itu. Jiwa penasarannya membuat ia ingin lebih tau tanggapan orang sekitar tentang orang tuanya Al.
"Iya, dia bos preman. Masa ga tau Mbak?"
"Saya ga ngikutin berita kriminal, Pak. Serem!" Ken memberi alasan agar tidak terkesan bodoh di depan driver itu.
"Baron preman yang baik. Denger-denger ia tidak suka melakukan tindak kriminal. Dia punya massa preman karena punya bisnis jasa dept collector. Tapi entahlah, persisnya seperti apa saya juga ga tau. Cuma yang namanya bisnis begituan sangat mustahil jika bersih dari darah,"
"Maksudnya, Pak,"
"Bisa saja dia sama kejamnya dengan preman pada umumnya. Darah dan nyawa manusia sudah seperti ayam. Karena ia sangat dermawan bisa jadi kejahatannya tertutup oleh sifatnya yang senang mengulurkan tangan ke orang yang kurang mampu,"
"Oh....sadis juga, ya!" Ken pura-pura baru faham.
"Prinsip mereka, yang kuat yang bisa bertahan menguasai lahan,"
"Gitu, ya," guman Ken lagi. Ia makin bergidik seandainya Baron juga punya sifat yang kejam layaknya preman pada umumnya. Ken takut, darah kriminalnya itu juga mengalir di tubuh Al.
"Astagfirullah, amit-amit," Ken memejamkan matanya. Membayangkan saja ia tidak sanggup.
"Ting," HP yang dipegang Ken berbunyi. Sekilas Ken bisa melihat, ada pesan WA yang masuk. Ken merasa senang, dikira Al yang menghubunginya, ternyata bukan. Notifikasi itu berasal dari grup alumni yang sudah lama tidak ia ikuti.
Ken menarik nafas berat. Ia berharap bisa secepatnya sampai hingga ia bisa langsung ke kampus untuk konsultasi.
*****
"Sampe sini aja ya, kalo masuk harus bayar parkir dan muter segala mau keluar lagi," ujar sang Driver ketika mereka sudah sampai di depan apartemen.
Ken membayar sejumlah nominal yang tertera di aplikasi, ia juga melebihkan 20 ribu sebagai tips karena kondisi jalan yang macet menyebabkan mereka lama di perjalanan.
"Maaf hanya segini," ujar Ken sembari mengulurkan uang tersebut ke sang driver.
"Wah, ada tambahan. Terimakasih Mbak. Semoga rezekinya lancar dan sukses,"
"Aamiin,"
Ken kemudian mengangkat tas milik Al dan melangkah ke arah pintu utama. Ia melihat ada petugas keamanan yang sedang berjaga di balik meja, sebelah ruang tunggu. Karena belum pernah masuk apartemen, akhirnya Ken menghampiri petugas itu dan memberitahu tujuannya.
"Naik aja, Mbak. Bisa lewat sini. Posisinya ada di samping kiri lift ya," ujar pria berusia sekitar 30 tahun itu.
"Iya, Pak. Terimakasih,"
(Lima menit kemudian)
Ken sudah tiga kali mengetuk pintu, namun tidak ada sahutan. Ia berusaha mengingat-ingat, nomer yang disebut oleh Bram tadi pagi.
"Bener kok, lantai 10 nomer 1015. Kok ga ada orang?"
"Ceklek," Ketika ia hendak membalikkan tubuhnya, menuju ke ruang informasi lagi, terdengar suara pintu di buka.
"Kok," seru Al kaget melihat orang yang ada di depan pintu. Ia segera menarik Ken ke dalam dan menutup pintunya kembali.
"Ada apa?" tanya Al heran.
"Nganter ini," Ken mengangkat tas yang sejak tadi di jinjingnya.
"Ke mana Bram?"
__ADS_1
Ken tidak menjawab, ia menundukkan pandangan. Ia malu melihat Al yang hanya berbalut handuk setinggi lutut dan bertelanjang dada.
"Maaf, aku habis mandi," ujarnya yang baru sadar akan kondisinya. Buru-buru ia mengambil tas yang dibawa oleh Ken dan berjalan menuju ke ruang yang tertutup, sepertinya itu kamar pribadinya.
"Sebentar, ya," ucapnya setengah berteriak.
Sementara menunggu, Ken memilih duduk di sofa yang ada di tengah ruangan. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang.
"Kenapa ia di sini? Kapan mulai di sini?" Tanyanya dalam hati.
"Baru semalem aku pindah ke sini," ujar Al begitu ia keluar dari kamar dan mengambil tempat duduk di samping Ken. Ia seolah bisa membaca pikiran gadis itu.
"Kenapa Bram menyuruhmu ke mari?" tanya Al penasaran.
Ken menceritakan kronologis yang terjadi hingga ia bisa sampai di sini. Mendengar itu, Al tidak marah. Justru ia terkekeh, membayangkan wajah Bram yang kena pukulan wajan.
"Aku takut terjadi sesuatu pada kepalanya karena ia pingsan cukup lama,"
"Enggak. Kepalanya terbuat dari besi. Untung penggorengan mu tidak penyok," sahut Al lagi menahan tawa.
"Aku serius," gumam Ken yang merasa sedih karena ceritanya dianggap lelucon oleh Al.
"Ga apa, ga usah sedih begitu. Kalau dia pingsan lagi tinggal bawa ke rumah sakit,"
"Sepagi ini kau sudah sampe di sini. Hemmm....pasti belum mandi?" tebak Al. Setelah keduanya diam.
"Iya," sahut Ken malu.
"Belum sarapan?" tanyanya lagi. Ken hanya menggeleng.
"Wah, kurang ajar tuh si Bram. Dia sarapan sendiri sementara pacar gua ga dikasih makan," oceh Al sepontan.
Ken terkesiap, ia kaget mendengar ucapan Al. Mukanya merah saat itu juga. Namun Al tidak menyadari mulutnya yang keceplosan itu hingga ia bingung mengapa muka Ken tiba-tiba merah jambu seperti itu.
"Kenapa?" tanyanya tanpa dosa.
"Enggak," sahut Ken makin grogi.
"Laper?" tanya Al lagi.
"Iya..iya...," Buru-buru Ken menyahut.
"Gitu aja kok malu. Bilang aja kalau laper," protes Al.
"Aku sudah pesen lontong Padang, kau mau apa?" tanya Al dengan lembut.
"Samain aja,"
"Ok, tambah satu porsi lagi, ya?" Al langsung mengetik sesuatu dari ponselnya.
"Minumnya apa?" tanya Al lagi.
"Biar aku ambil sendiri," Ken buru-buru bangkit dari tempat duduknya. Namun ia bingung, menoleh ke sana sini tidak melihat dapur di sekitar situ.
"Dapurnya di balik partisi," Al menunjuk ke arah pembatas ruang yang bentuknya seperti bufet.
"Iya, saya ambil minum dulu," belum selesai bicara, Ken langsung kabur menuju dapur. Al hanya tersenyum melihat Ken yang bertingkah serba salah itu.
******
Hay semuanya, maaf ya... aku hanya bisa update satu chapter saja. Terimakasih atas kunjungan dan kesetiaannya mengikuti cerita ini.
Aku tetap menunggu
VOTE, like, dan spam komentarnya di setiap chapter yang aku update.
__ADS_1
Happy reading to semuanya 🤗🤗🤗