Temani Aku, Ken!

Temani Aku, Ken!
Bram


__ADS_3

******


Maaf baru sempat update, Minggu ini sibuk banget sama kerjaan di kantor, maklum kita mah kuli jadi harus taat sama aturan pemerintah biar dapur tetep ngebul. He....he.....


Lanjut ya....


*******


Usai sarapan, Al langsung ke gazebo yang ada di sisi rumah, tepat di depan kamar tidurnya. Tidak seperti biasanya. Akhir pekan biasanya Al keluar dari kamar jam 09 pagi, ia lebih memilih malas-malasan di kamar menikmati akhir pekan, waktu liburnya. Meskipun ia hanya duduk di balkon menikmati udara pagi atau melanjutkan tidur setelah sholat subuh.


Kali ini ia turun sebelum jam 07, bakhan sepagi ini ia sudah duduk manis melihat ikan-ikan peliharaannya di kolam kecil itu. Wajar saja jika Pak Parman jadi heran karena tingkah majikannya itu. Namun ia tidak berani bertanya tentang apapun, pria itu buru-buru membawakan koran yang baru saja di antar oleh loper langganannya dan memberitahu Ken agar menyiapkan minumannya.


"Ken, Den bagus ada di gazebo. Mana minumannya, biar bapak yang bawa,"


"Bentar Pak, masih di rebus. Tinggal saja, biar saya yang antar. Ini juga harus menunggu beberapa saat agar Tumblernya ga meleleh,"


"Oh, ya udah. Bapak mau nyapu dulu, ya,"


"Iya, pak,"


Pak Parman kembali ke halaman dan meneruskan pekerjaannya karena Ken yang akan mengantarkan minuman untuk


majikannya itu.


Ken yang tengah menyiapkan rebusan jahe, kunyit, batang sereh, dan setelah mendidih ia menambahkan perasan lemon dan dua sendok madu pada minuman itu. Ia menunggu beberapa saat hingga air yang baru saja mendidih itu bisa di ruang ke dalam wadah minuman.


"Masih panas banget, biasanya dia kan ga bangun sepagi ini,"


Ken memilih Tumbler yang tahan panas dan menuangkan rebusan itu agar segera di antarkan ke majikannya.


Saat Ken berjalan menuju ke gazebo, dari jauh ia melihat Al yang tengah bermain dengan ikan-ikan yang ada di kolam. Al melihat Ken yang menghampirinya dengan nampan kecil di tangannya.


"Emang sudah jadi?" tanya Al


"Iya, tapi masih panas banget. Tadi buru-buru aku rebus karena bapak sudah bangun,"


"Ga usah buru-buru juga. Biasanya kan bukan jam segini,"


"Iya, Pak. Enggak apa. Bahannya udah siap, kok. Tinggal merebus sebentar. Saya taro di sini ya," Ken meletakkan nampan itu di sisi gazebo Tumbler berisi rimpang dan satu lagi berisi air hangat.


"Mau kemana?" tanya Al begitu melihat Ken melangkah dan ingin pamit dari tempat itu.


"Beres-beres kamar, Pak. Waktunya ganti seprey,"


"Jangan diganti. Besok-besok aja. Kamu bisa ngerjain yang lain," buru-buru Al melarang Ken.


"Iya, Pak. Saya permisi dulu,"


Ken meninggalkan Al yang masih duduk di sisi kolam. Ia akan membereskan kamar tidur Al dan mencuci pakaian.


Al tidak mau wanita itu mengganti seprey yang mereka tiduri semalam. Al masih ingin mencium bau tubuh Ken yang tertinggal di tempat tidurnya.


"Enak aja, mau di ganti," gerutu Al dalam hati.


"Bau seprey itu membuatku tenang. Aku ingin menikmatinya sampai baunya tidak tercium sama sekali," desahnya lagi.

__ADS_1


******


(Di pintu gerbang)


"Pak, saya mau ke atas," Bram baru saja turun dari mobilnya menghampiri Pak Parman yang sudah membukakan pintu gerbang untuknya.


"Den Al ada di samping, lagi mantau ikan-ikannya," Pak Parman segera memberi tahu Bram karena tujuan orang itu sudah pasti akan menemui Al.


"Oh, sepagi ini? Tumben!" Desisnya heran sembari melihat jam tangannya.


"Iya, hari di beliau turun lebih pagi," sahut Pak Parman lagi.


"Ok, Pak. Aku ke sana. Terimakasih,"


"Iya, Den," sahut Pak Parman begitu sopan pada Pria muda yang menjadi satu-satunya orang yang rutin menemui majikannya itu.


Bram segera menuju ke gazebo, dimana Al sedang menghabiskan waktunya pagi ini. Udara pagi yang segar, belum lagi sejuknya angin yang berhembus dari celah-celah pohon yang ditumbuh di sekitar rumah itu membuat orang betah menghabiskan waktunya di sini.


"Tumben, pagi-pagi udah keluar," teriak Bram yang sudah mendekati gazebo.


Al hanya tersenyum, ia segera mencuci tangannya dan mengajak Bram duduk di gazebo.


"Kau juga ga biasanya sepagi ini sudah sampe di sini," sindir Al. Ia duduk di samping Bram yang lenbih dulu menghempaskan pantatnya di sisi gazebo, menghadap kolam.


"Aku ada urusan. Jadi ga bisa lama-lama," ujarnya pelan.


"Oh, mau minum apa?" tanya Al.


"Ga usah. Kan sudah ku bilang, aku ada urusan,"


Al hanya melirik amplop itu tanpa ada keinginan untuk memeriksanya. Ia sudah percaya 100% pada orang yang sudah di kenalnya sejak ia kenal dunia trading sepuluh tahun yang lalu.


Orang yang kemudian menjadi dewa penolong dalam kehidupannya hingga ia bisa seperti sekarang ini. Orang kepercayaan yang mengurus segala sesuatu di luar sana terkait aktivitas trading dan juga beberapa outlet milik Al.


"Sepertinya Minggu ini kurang beruntung. Ada apa, bro," tanya Bram menyelidik.


"Kemarin jaringan eror sampe sore. Abis isya baru bisa pulih. Aku sudah berlanjur transaksi dari pagi, ya begitulah. Akhirnya satu masih menggantung dan satunya lagi zonk," keluh Al.


"Ruginya lumayan besar, mudah-mudahan Senin bisa nutup,"


"Iya, sangat disayangkan sekali. Mana itu akun kramatku lagi," sesal Al.


Bram menepuk pundak Al dengan pelan, ia berusaha memberikan kekuatan moral pada sahabat sekaligus bosnya itu.


"Sabar, ya. Semoga dewa keberuntungan masih bersama kita,"


"Aamiin,"


"Bram, aku mau menemui Masta"


"Serius?" sahut Bram begitu kaget mendengar keinginan Al yang begitu tiba-tiba.


"Iya, aku jenuh hidup seperti ini. Aku ingin seperti orang pada umumnya. Bisa hidup normal,"


"Memang selama ini kau tidak normal. Aku jadi merinding, nih," Bram pura-pura memasang wajah ketakutan

__ADS_1


"Aku serius. Kau faham maksudku. Jika aku seperti candaamu itu, sudah habis kau jadi mangsaku,"


"Ha...ha.....kenapa jadi perasa begini. Iya, aku faham. Cuma aku kaget aja. Mendadak kau ingin menemui wanita itu,"


"Tidak mendadak, aku sudah memikirkannya akhir-akhir ini. Hanya saja aku belum punya keberanian untuk melakukannya,"


"Apa kau sudah siap?" tanya Bram meyakinkan


"Iya, begitu ia keluar dari penjara. Aku akan menemuinya,"


"Ada baiknya kita izin dulu, aku khawatir ia tidak bisa menerima semua itu. Yang dia tau kau sudah musnah dari muka bumi ini,"


"Bagaimana cara memberi tahunya?" tanya Al serius.


Bram tidak langsung menjawab, tampak ia tengah berpikir untuk menjawab pertanyaan Al yang terlihat begitu sederhana itu.


"Aku lebih khawatir jika ia yang menemukanku. Jangan sampai hal itu terjadi, lebih baik aku muncul dan menyerahkan diri," jelas Al lagi.


Bram hanya bisa menarik nafas panjang. Ia belum siap dengan situasi seperti itu. Jujur saja, ia tidak ingin Al terluka lagi, bisa jadi wanita itu tidak akan memaafkan


Al justru akan berbuat nekad pada bosnya ini.


"Bagaimana?" desak Al lagi.


"Kita pikirkan dulu dengan matang. Jangan sampai kita salah langkah. Kasih aku waktu satu atau dua hari untuk memikirkan hal ini agar bisa berpikir jernih. Jika di todong seperti ini otakku mendadak mampet," kelit Bram memberi alasan.


"Sejak kapan otakmu encer. Dari dulu kayaknya begitu-begitu aja," ledek Al.


"Sembarangan, jika otakku mampet mana bisa kau menikmati udara segar seperti ini. Yang ada kau di sekap wanita keji itu,"


"Iya, percaya. Pokoknya aku minta kau selidiki orang-orang yang bisa memberikan informasi tentang Masta. Cari tau kelemahannya saat ini biar kita bisa antisipasi jika ia masih begitu posesif,"


"Iya, sabar ya. Aku kasih kabar satu dua hari ini. Aku mau pamit dulu, ada urusan," Bram bangkit dari tempat duduknya diikuti Al yang hendak mengantarnya.


"Mau ketemu Chica?"


"Gak, belakangan ini dia begitu menyebalkan. Aku lagi males berurusan dengannya. Biarin aja?"


"Ada wanita lain?" selidik Al


Bram tidak menjawab, ia hanya mengerdipkan mata kirinya ke arah Al. Senyum liciknya mendadak mengembang dari wajah tampannya.


"Dasar Playboy cap gayung,"


"Mumpung ada yang mau," dalih Bram sembari menoleh ke arah Al yang berdiri di sisi Baleno hitam. Ia segera duduk di belakang kemudi dan meninggalkan Al yang terus mengawasi hingga ia meninggalkan rumah itu.


*******


Hay semuanya, maafkan diriku yang tidak sanggup update lebih dari satu bab, minggu-minggu ini ada tugas negara yang harus diselesaikan dan butuh konsentrasi penuh. Demi kesetiaanku pada kalian semua, aku sempat-sempatin nulis walau cuma satu chapter.


Mohon maaf, ya!


Ojo lali!


VOTE, like, dan spam komentar dari kalian tetap jadi semangat untukku.

__ADS_1


__ADS_2