
Sampai di rumah sudah menjelang isya. Al turun dari mobilnya untuk membuka pintu gerbang. Rumah tampak sepi, hanya lampu taman yang dinyalakan. Sepertinya Pak Parman tidak datang ke rumah sore ini.
Repot sekali laki-laki muda itu. Setelah membuka gerbang agar mobilnya bisa masuk, Al harus kembali lagi ke mobil, memarkirkan mobil di garasi kemudian menutup kembali pintu gerbang.
"Nih orang masih tidur aja," gerutu Al. Ia melihat Ken yang masih tertidur pulas di jok penumpang tanpa terganggu sedikitpun dengan suara pintu gerbang dan mesin mobil yang sudah di matikan.
"Ken bangun!" Al menepuk-nepuk bahu gadis itu dari pintu penumpang. Tepat dimana Ken menyandarkan tubuhnya di bantalan jok yang masih terbungkus plastik.
"Ken!" Panggil Al lagi. Meskipun ia sudah mencubit pipinya beberapa kali, Ken tetep tidak bergeming sedikitpun. Al hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dan menarik nafas dalam-dalam.
Tidak ada jawaban. Akhirnya Al menutup kembali pintu mobilnya. Ia membuka pintu rumah dan menyalakan lampu ruang tamu.
"Ga bangun juga," Al melongok ke arah mobil ketika ia ingin naik ke kamarnya. Mobil belum dikunci dan masih ada Ken yang berada di al mimpi.
Merasa sia-sia membangun gadis itu, Al akhirnya membopong Ken masuk ke dalam. Berat, terlihat ia menahan beban yang cukup berat.
"Lumayan berat juga nih cewek,"
Ia membawa Ken ke kamarnya, menapaki anak tangga dengan pelan. Ia pandangi wajah Ken yang begitu tertelap dalam gendongan itu.
"Hu.....hu......," suara hembusan nafas Al yang sengaja di sapukan ke arah mata Ken.
"Rupanya dia bener-bener tidur," pikir Al dalam hati.
Al tidak sadar bagaimana Ken harus berjuang keras untuk menahan tawa. Sebenarnya Ia sudah terjaga saat Al memarkirkan kendaraannya di garasi namun ia masih memejamkan matanya berharap Al itu masuk lebih dulu. Ia masih kesal dengan sikap pria itu yang sudah berkata dengan nada yang keras padanya.
Ternyata diluar dugaannya, Al malah membopongnya ke dalam. Meskipun Ken senang ga karuan bisa merasakan bagaimana rasanya di gendong ala bridal style bak di film-film yang sering ia tonton, ia juga bisa mencium wangi tubuh Al dari jarak yang begitu dekat.
"Wangi sekali. Ingin rasanya berlama-lamaan berada di situasi begini," harap Ken dalam hati. Sebagai wanita yang tidak pernah dekat dengan laki-laki, tentu saja Ken sangat gugup dan tidak bisa menahan dengup jantungnya yang berdetak tidak karuan.
"Kenapa di bawa ke kamarnya?" tanya Ken lagi. Antara takut dan bingung ia terpaksa harus meneruskan sandiwaranya.
Sampai di kamar, Al membaringkan tubuh Ken di kasur. Begitu hati-hati seolah tak ingin Ken terjaga. Tidak lupa, Al juga melepas skacer yang dikenakan wanita itu.
"Ya, Allah. Kotor banget. Bauk lagi. Ini sepatu da berapa taun ga di cuci," Al menahan nafasnya agar tidak mencium bau tidak sedap dari aroma sepatu Ken.
__ADS_1
"Bener-bener jorok," Dengan entengnya, ia melempar sepatu itu ke keranjang sampah yang ada di dekat ruang ganti.
" Hih.... kebangetan nih cewek," oceh Al lagi.
"Tapi kaos kakinya bersih," pikir Al saat ia melepas bagian terakhir dari alas kaki yang menutupi kaki Ken.
"Jangan-jangan itu satu-satunya sepatu yang dia punya," Al melihat penuh sesal ke arah tempat sampah yang ada di kamarnya itu, satu sepatu sudah masuk ke keranjang, satu lagi masih tergeletak di lantai.
Kaki yang sudah telanjang itu ia rapatkan. Al duduk di sisi kasur, dipandanginya dengan seksama wajah yang begitu polos tanpa polesan make up, yang tengah terpejam dengan tenangnya.
Diraihnya tangan Ken dengan lembut, dibawanya ke pangkuannya. Tangan yang begitu halus dengan jari yang panjang dan kurus.
"Melihatmu tidur begini aku sangat senang. Maaf jika sudah membuatmu menangis," ucap Al. Diangkatnya tangan kiri Ken dan diciumnya dengan lembut.
"Aku bingung bagaimana cara memenangkan mu jika sudah ngambek seperti tadi. Maaf ya," bisik Al lagi.
"Selama hidup aku nyaris tidak punya teman, apalagi teman perempuan. Jangan pernah seperti itu lagi. Aku lebih suka melihatmu marah dari pada menangis. Aku tidak suka cewek yang cengeng,"
Ken sudah gatel ingin mengumpat Al yang berani bicara seperti itu pada saat ia sedang tidur. Ia tidak terima terus- terusan dibilang cengeng. Namun apa boleh buat, ia harus menahan diri. Ia biarkan Al curhat sesuka hatinya. Hal itu cukup menghibur, secara tidak langsung ia bisa tau isi hati pria yang tengah memandanginya itu.
"hu....hu.....," ujar Ken dalam hati. ia begitu terharu mendengar ucapan itu.
"Kamu orang yg pertama yang aku pikirkan saat membuka mata dan yang terakhir aku impikan sebelum menutup mata. Tetaplah seperti ini, jangan pernah menggoyahkan hatiku," ucapnya lagi.
"Jadi pengen meluk," bisik Ken lagi.
Ken jadi terharu, ia ingin bangun dan memeluk pria itu. Lagi-lagi ia tidak punya keberanian. Ia hanya bisa merasakan betapa bahagia Al mau mengakui perasaannya padanya saat itu.
"Andai kita berada pada situasi yang berbeda, aku akan membenamkan diri dalam dekapmu. Kau membuatku terbang," ucap Ken dalam hati.
Perasaan jadi tidak karu-karuan. Jantungnya berdegup kencang apalagi saat tangan yang terasa begitu dingin itu mengusap pipi dan membenahi anak rambut yang menutupi kening Ken.
"Duh, dia mau ngapain?," Ken mencoba menduga-duga apa yang akan dilakukan Al. Beberapa saat tidak terdengar suaranya lagi.
Ken sudah berpikir jauh, ia mengira Al akan memberikan satu ciuman seperti waktu itu. Jantungnya kian berdegub. Lidahnya sudah gatel, ingin sekali ia membasahinya agar terlihat lebih menggoda.
__ADS_1
Beberapa saat menunggu namun kelembutan tangan pria itu malah tidak bisa ia rasakan lagi. Meskipun begitu ia belum berani membuka mata walau sedikit saja.
"Tidurlah. Tunggu aku ya,"
Al bangkit dari tempat duduknya, ia berjalan ke arah ruang ganti yang ada di sisi tempat tidurnya, tidak lama kemudian terdengar suara air bergemricik dari arah kamar mandi.
Kini Ken bisa membuka matanya dengan sempurna.
"Ya, kirain?" Ken memukul kepalanya dengan keras.
"Dasar otak ngeres," pikirnya lucu. Ia tidak bisa menahan tawanya. Pikirannya memang benar-benar payah.
"Kabur," tiba-tiba ia bangun dari tempat tidur yang nyaman dan empuk itu. Tanpa melihat ke arah kamar mandi lagi, Ken segera keluar dari kamar dan berlari ke kamarnya sendiri.
Ken Merasa tubuhnya sudah begitu lengket dan sangat tidak nyaman. Keringat yang sudah berkali-kali mengering sendiri di tubuhnya itu membuat aroma tubuhnya kecut.
"Asem," bisik Ken ketika ia mencium bau ketiaknya sendiri saat menuruni anak tangga.
Ia merasa malu, jangan-jangan Al juga merasakan aroma tidak sedap ini ketika membopongnya tadi.
"Ya Tuhan, malu," ucap Ken lagi.
*********
Terimakasih atas kunjungan dan kesetiaannya mengikuti cerita ini.
VOTE-nya tetep diharapkan
LIKE - nya sih hanya bisa satu kali/bab
KOMENTAR-nya bisa ratusan 🙈🙈
Bagi yang suka spam komentar diperbolehkan kok biar nih Novel ga sepi kayak kuburan 🤗
Happy reading to semuanya 🤗
__ADS_1