Temani Aku, Ken!

Temani Aku, Ken!
Ngambek


__ADS_3

Tidak bisa mengelak, selain sudah berlaku ceroboh, Ken juga tidak mempunyai SIM A. Akhir dari cerita sore itu, mereka mendapat surat tilang karena sudah terbukti melakukan pelanggaran lalu lintas.


"Maaf, ya!" Ucap Ken ketika mobil yang masih dikemukakannya itu sudah berjalan lagi.


"Kenapa ga bilang kalau ga punya SIM,"


"Kan kamu tadi cuma tanya bisa nyetir atau enggak. Lagian siapa yang tau kalau bakal ada razia?"


"Ga usah cari alasan. Kalau ga mencuri start juga di diberhentiin. Ga sabaran banget sih," oceh Al.


"Tapi aku ga liat kalau ada polisi,"


"Masalahnya bukan karena ada razia atau tidak. Ada polisi atau tidak, tapi kau sudah grusah- grusuh. Ga sabaran. Tertib berkendara itu bukan karena takut sama petugas tapi demi keamanan berkendara," oceh Al dengan nada tinggi.


"Faham ga sih!" tegas Al lagi.


Ken tidak berani bersuara lagi. Ia memandang lurus ke depan tanpa mau melirik Al sedikitpun. Suara Al yang sedikit keras itu membuat Ken kaget dan ketakutan. Ia tidak menyangka Al bakal semarah ini padanya. Tidak berapa lama, suara Isak tangis terdengar.


"Nangis lagi. Kambuh deh cengengnya," ujar Al dengan nada mengejek. Suaranya sudah tidak sekeras tadi.


"Tidak berperasaan banget. Sudah marah-marah, tega banget dia ngatain aku cengeng. Nyebelin banget," pekik Ken dalam hati.


Isak tangis Ken makin jadi mengetahui Al tidak menggubrisnya sama sekali. Pria itu malah memasang muka kesalnya.


Ken menghentikan kendaraannya di pinggir taman. Tanpa meminta persetujuan dari Al ia membuka pintu mobil dan ingin turun dari mobil.


"Mau ke mana?" tanya Al yang tidak menduga Ken sengambek itu.


Ken tidak menjawab, ia turun dan menutup kembali pintu mobil Al. Ia berdiri di terotoar. Ia melihat Al juga membuka pintu, turun dari mobil dan menghampirinya.


"Kamu kenapa? Kenapa tiba-tiba turun di jalan begini? Ayo naik!" anaknya dengan nada membujuk.


"Ga, aku naik angkot aja?" Sahut Ken. Ia mengusap air matanya yang sudah tak terbendung.


"Kenapa makin mewek. Emang aku salah apa?" Tanya Al bingung.


"Dasar tidak berperasaan," gerutu Ken makin kesal. Ia hanya bisa mengupat dalam hati atas perilaku Al yang tidak bisa berlaku romantis padanya.


"Ayo naik!" ajak Al lagi. Kali ini dengan nada yang sudah sedikit lembut.


"Naik. Kalau kau tetap mematung seperti itu, aku bopong nih," ancam Al.


Ken tidak takut dengan ancaman itu. Ia malah memilih melangkah dan meninggalkan Al yang masih memandang dirinya dengan bengong.


"Ken, berhenti! Jika kau tetap melangkah, aku pecat kau sekarang juga!" Bentak Al dengan nada yang cukup keras dan tegas.


Ucapan itu bak sengatan listrik. Ken segera menghentikan langkahnya dan berbalik arah. Ia melihat wajah Al yang sudah memerah.


"Masuk!" Perintahnya lagi.

__ADS_1


Al tidak menggubris Ken yang sudah berbalik arah, ia masuk ke mobil dan mengambil alih kemudi. Dibiarkannya Ken membuka pintu bangku penumpang.


Al melihat gadis itu dari spion tanpa berkata apapun. Setelah Ken sudah duduk dengan tangis yang sesugukan, Al melajukan mobilnya dengan pelan.


Sepanjang jalan keduanya hanya diam. Ken tau ia sudah melewati apartemen Al namun pria itu tidak berbelok. Ia terus melaju di tengah jalananan yang mulai padat karena jam pulang kerja.


Ken tidak berani bertanya, ia hanya diam dan menjatuhkan pandangannya ke ujung sepatunya.


******


Sepuluh menit kemudian.


"Turun," ajak Al begitu mereka sudah masuk ke mall. Al lebih dulu turun ketika sudah memarkirkan mobilnya di baseman.


"Seperti kerbau dicocok hidungnya, Ken hanya bisa mengikuti perintah bosnya itu.


"Ayo! Senyum, dong! Jangan ditekuk 12 terus tuh muka," ujar Al sembari meraih tangan Ken yang berdiri di depan mobil.


Ia tersenyum ramah kemudian berjalan menuju pintu masuk ke mall. Tangannya tetap menggandeng Ken yang berjalan di sisi kanannya.


Mereka masuk ke lift, menekan tombol ke lantai 5, pusat handphone dan elektronik. Tujuan Al mengajak Ken kemari tidak lain adalah membeli handphone untuk Ken.


"Mampir, Kak. Diskon 10% untuk berbagai merk hp. Bisa cash atau kredit!" Teriak SPG counter HP sambil menghampiri pengunjung yang melintas di depan tokonya.


"Mampir dulu, Kak. Bisa liat-liat dulu Kok," ajak perempuan yang mengenakan celana hitam dan kemeja merah sembari menghampiri Al yang berjalan ke arahnya.


"Saya mau hp yang paling lengkap speacnya. Memorinya yang gede," pinta Al.


"Ini ada beberapa merk dengan spec paling lengkap di kelasnya. Silahkan dilihat dulu," ujar pria bertubuh gemuk yang duduk di depan etalase. Ia menyodorkan 3 buah Hp ke arah Al. Sepertinya ia pemilik counter itu.


"Kamu mau yang mana?" tanya Al pada Ken.


"Aku?"


"Iya. Katanya HP mu ilang?"


"Iya," sahut Ken sembari mengangguk pelan.


"Mau yang mana?" desak Al lagi.


"Duh si Kakak! Disuruh pilih malu-malu. Ini spesifikasinya," ujar SPG itu sembari merapat ke arah Ken dan menjelaskan spec hp yang sudah disodori oleh bosnya itu satu persatu.


Karena Ken masih dia dan sesekali hanya tersenyum tipis pada SPG itu, Al juga merapatkan kursinya ke arah Ken. Dengan pelan ia mengelus bahu Ken yang masih belum mau memandangnya.


"Sepertinya ini lebih cocok untukmu," Al menunjuk pada satu hp dengan merk ternama.


"Yang ini?" tanya SPG itu untuk meyakinkan pilihan Al pada Ken


"Terserah," Ken mengangkat kedua bahunya dan memaksa tersenyum pada Al.

__ADS_1


"Yang ini aja," Al menyodorkan HP yang dipegangnya.


"Ok, kita kasih yang masih segel ya, Kak" ujar SPG itu lagi sembari memasukkan kembali HP yang dijadikan contoh. Sementara sang pemilik toko mengambil kotak dari dari etalase yang ada di belakang tempat duduknya dan menyodorkannya pada Al.


"Mau diinstal sekalian, Bos?" tanya pria bertubuh tambun itu.


"Tidak," sahut Al singkat sembari mengeluarkan dompet dan mengambil kartu debit.


"Saya ga bawa uang tunai," ujar Al sembari menyodorkan kartu berlogo bank internasional.


"Ga masalah, bisa kok," pria itu mengambil benda kecil berwarna biru yang berisi deretan angka. Setelah ia menggesek kartu yang diberikan Al, ia membalikkan mesin itu ke arah Al.


"Silahkan PIN-nya. Saya beri diskon 10% ya. Masih ada promo dari pebriknya karena keluaran terbaru,"


"Oh, terimakasih," sahut Al tersenyum ramah pada pemilik toko itu.


Tidak lama setelah melakukan transaksi dan Al sudah menerima barang yang dibelinya itu, Al bangkit dari tempat duduknya.


"Terimakasih ya, Kak. Sering-sering belanja di toko kami," ucap SPG itu dengan ramah.


"Iya, terimakasih," sahut Al. Setelah mengamit tangan Ken, ia keluar dari toko itu.


"Mau pulang atau makan dulu?" tanya Al ketika mereka sudah beberapa langkah menuju ke lift.


"Terserah,"


"Kok masih marah aja. Kan sudah dibeliin hp baru," Al mengangkat tas kecil yang ada ditangannya. Memamerkan benda yang baru saja dibelinya untuk Ken.


Ken hanya melihat sekilas, tanpa ekspresi apapun. ia tetap mengayunkan langkahnya di samping Al.


Al terlihat kesal, ia tahu Ken masih ngambek karena ulahnya namun ia tidak tahu bagaimana caranya membujuk gadisnya itu agar tersenyum kembali.


Lift terbuka, keduanya melangkah hampir bersamaan. Di dalam lift cukup padat, jadi mereka Al melepaskan tangan Ken agar tidak menghalangi yang lain. Al melirik ke arah Ken, gadis itu menatap lurus ke arah pintu tanpa mau melihat Al sedikit saja.


Al menarik nafas panjang, hingga lift itu sudah mengantarkan mereka kembali ke baseman, Keduanya masih diam. Tidak ada pembicaraan satu katapun. Begitu juga ketika langkah membawa keduanya ke mobil.


"Keras kepala," bisik Al dalam hati ketika Ken hanya berdiri di sisi pintu sebelum Al masuk ke mobilnya. Masih di pintu yang sama, Ken memilih duduk di kursi penumpang.


*********


Terimakasih atas kunjungan dan kesetiaannya mengikuti cerita ini.


VOTE-nya tetep diharapkan


LIKE - nya sih hanya bisa satu kali/bab


KOMENTAR-nya bisa ratusan 🙈🙈


Bagi yang suka spam komentar diperbolehkan kok biar nih Novel ga sepi kayak kuburan 🤗

__ADS_1


Happy reading to semuanya 🤗


__ADS_2