Temani Aku, Ken!

Temani Aku, Ken!
Aku Lapar


__ADS_3

"Iya, Pak. Ini ada SMS masuk. Kuota 50GB sudah masuk," teriak Ken dari kamarnya.


"Terimakasih, ya. Ini banyak sekali. Aku aja 5GB untuk sebulan," teriaknya lagi.


Tidak ada sahutan dari Al, saat Ken keluar dari kamar dan memastikan bahwa ucapan terimakasih di dengar oleh pria itu, justru soda itu sudah kosong. Sepertinya Al sudah kembali ke kamarnya.


"Aneh sekali, tadi sepertinya lagi cari-cari Chanel. Dikira mau nonton TV? Eh malah raib orangnya?" gumam Ken tak habis pikir.


Suara Adzan berkumandang, Ken harus segera sholat karena untuk menyiapkan ikan bakar butuh waktu yang cukup lama. Belum lagi menyiapkan yang lainnya. Ia segera mengambil air wudhu dan sholat di kamarnya.


Beberapa saat kemudian, Ken sudah ada di dapur sedang menghaluskan bumbu dengan cobek yang terbuat dari batu kali. Bumbu ikan bakar yang baru saja diperoleh resepnya dari situs resep terkenal.


"Kenapa ga pake blender?" Suara itu yang tiba-tiba muncul di belakangnya cukup mengangetkan Ken.


"Cuma sedikit, nanti malah habis nyelip di pisaunya pak. Lagian kata penulis resepnya, bumbu yang dihaluskan secara manual rasanya lebih gurih," jelas Ken ketika ia tau majikannya itu sudah duduk di meja makan.


"Maaf, Pak. Masaknya masih lama. Tadi aku sholat dulu,"


"Ga apa, aku mau duduk di sini aja,"


"Deq....," Mendadak Ken jadi serba salah, bagaimana ia bisa masak jika diawasi oleh pria itu. Salah-salah masakannya berantakan lagi.


"Tapi masih lama, loh. Ikannya baru mau dibumbui. Belum menyiapkan sayur dan sambelnya," Ken memberi alasan agar pria itu segera pergi.


"Ga apa, aku bisa menunggu,"


"Busyet, keras kepala juga nih orang," bisik Ken makin dongkol.


Merasa tidak mungkin memaksa pria itu pergi, Ken meneruskan pekerjaannya. Bumbu yang sudah halus itu ia balurkan di seluruh bagian ikan yang sudah dibersihkan dan dibelah dua. Kini ia membuat bumbu untuk olesannya. Setelah siap semua dan menunggu ikannya meresap, Ken membuat sayur bening bayem.


"Pak, mau sambel kecap apa sambel terasi?"


"Sambel terasi juga boleh, tapi yang mentah ya," pintanya.


"Iya,"


"Banyakin tomatnya," tambah Al lagi.


"Iya," Ken mengambil wadah bumbu yang ada di kulkas untuk mengambil cabe dan tomat sembari menunggu air untuk bening bayemnya mendidih.


Ken tidak sadar jika kedua mata Al tidak lepas mengawasinya. Pandangannya selaku tertuju pada Ken tanpa mau terlewat sedikitpun apa yang di kerjakan oleh gadis itu.


"Pak, maaf lupa. Terimakasih kuotanya. Banyak sekali," ujar Ken sembari memandang Al sekilas.


"Hemmm," sahut ya dengan suara yang pelan.


"Itu tidak gratis," tambahnya lagi.


"Iya, Pak. Bapak bisa potong gaji ibu atau nanti aku bayar lunas kalau sudah dapat uang bulanan dari ibu. Kalau sekarang ga bisa, uang saya tinggal 250 ribu," jawab Ken begitu jujur.

__ADS_1


Ken tidak melihat reaksi Al karena ia sudah mulai menghaluskan cabe untuk sambel terasi. Sebentar saja, cobek yang berisi sambel terasi itu sudah ia hidangkan di atas meja.


"Lalapannya apa, Ken?" tanya Pria itu


"Ah ....tumben dia menyebut namaku," bisik Ken yang tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya.


"Saya liat dulu di kulkas, mungkin masih ada timun atau sawi," sahut Ken yang nasih berdiri di depan meja.


"Oh, aku ngambil kemangi aja kalau begitu. Ga suka timun atau sawi," Al segera berdiri dari tempat duduknya dan melangkah ke luar rumah.


"Terserah situ," gumam Ken sembari mengangkat kedua bahunya.


Sebentar kemudian, bening bayem campur jagung muda juga sudah matang. Setelah di tempatkan pada mangkok yang cukup besar, Ken menghidangkannya di atas meja. Kini tinggal menu utama. Ikan bakar.


Setelah menyiapkan pancinya dan memanaskan beberapa saat, Ken meletakkan ikan dengan ukuran yang cukup besar itu di atas panggangan. Sesekali ia mengoleskan bumbu dan membaliknya agar matangnya merata.


"Sepertinya sedap, baunya kecium dari luar," ujar Al yang sudah muncul kembali di ruang makan dengan segenggam daun kemangi yang segar.


"Ikannya udah mau mateng," sahut Ken.


"Pantes, wangi banget. Jadi bau yang masak ketutup," ujar Al tanpa dosa yang sudah berdiri persis di samping Ken untuk mengambil piring kecil.


"Jleppp....," Ken ingin membanting panci namun ia berusaha untuk sabar. Berkali-kali orang ini menyinggung bau badannya dengan tidak berperasaan. Agar emosinya tidak meluap, Ken hanya diam. Pura-pura tidak mendengar ucapan bosnya yang terakhir.


Setelan mengambil piring kecil untuk meletakkan kemangi yang sudah dipetiknya, Al kembali duduk di meja makan. Ia dengan sabar menunggu hidangan utama itu siap disajikan.


"Silahkan, Pak,"


"Kok piringnya cuma satu, apa minta disuapi," tanya Al dengan wajah tanpa Ekspresi. Tentu saja pertanyaannya itu membuat wajah Ken merah padam.


"Saya belum lapar," sahut Ken berbohong. Ia terpaksa melakukan karena tidak ingin makan bareng majikannya jika belum ada permintaan darinya.


"Kita makan bareng, ini perintah!"


"Iya, pak," sahut Ken. Ia melangkah lagi ke arah dapur untuk mengambil piring nasi.


Kini Ken dan Al duduk berhadapan di meja makan. Di depannya terhidang makanan yang serba hangat hasil olahan Ken sendiri.


"Enak," gumam Al ketika ia mencicipi ikan bakar yang masih panas itu.


Tanpa menunggu lagi, Al mengisi piringnya dengan beberapa centong nasi.


"Aku lapar, tadi siang hanya makan mie ayam yang di Pak Parman via online" jelasnya.


"Maaf, tadi saya masaknya jam 11 karena buru-buru mau ke kampus," sahut Ken dengan nada bersalah.


Al tidak menanggapi permintaan maaf itu, ia tetap saja mengambil nasi dan memindahkannya ke piring miliknya juga piring nasi Ken.


"Saya ambil sendiri, Pak," Ken menarik piringnya ketika Al menaruh nasi di piringnya.

__ADS_1


"Cukup," ujar Ken lagi karena Al tetap saja mengisi piringnya dengan nasi padahal ia sudah mengambilkan satu centong untuk Ken.


"Dikit amat makannya, tumben,"


"Masih kenyang,"


"Tadi makan di kampus," selidik Al.


"Enak aja dia bisa makan di kampus dengan teman-temannya sementara dia harus menahan lapar di rumah sendirian," gerutu Al dalam hati.


"Enggak, kan lagi ngirit. Ujung bulan,"


"Ya sudah, makanlah yang kenyang. Jangan malu-malu! Setelah ini kau harus membantuku menyelesaikan pekerjaanku,"


"Pekerjaan?" tanya Ken nyaris membelalakkan matanya.


"Iya, kan uang pulsa tadi tidak grafis,"


"Ah, dia bikin aku makin tidak enak makan aja," keluh Ken. Pulang kampus langsung masak, setelah ini berharap bisa tidur karena ia begitu lelah. Ternyata masih harus membantu pria ini lagi. Entah apa pekerjaannya.


Ken tidak berani bertanya prihal pekerjaan yang harus diselesaikan karena melihat Al yang begitu lahap menyantap makan malamnya. Pria itu juga menncuil daging ikan dan meletakkannya di atas piring Ken.


"Bukannya makan, kok malah bengong. Buruan," Al berusaha menyadarkan Ken dari lamunannya.


"Iya, Pak!"


"Enak, Ken. Ternyata kamu pinter masak," puji Al.


"Terimakasih. Saya bisa masak tapi kalau bikin ikan bakar begini tidak pernah, makanya butuh bantuan Google,"


"Tapi hasilnya enak, kok. Besok-besok bikinin lagi ya!"


"Iya," sahut Ken setengah hati.


Al menyelesaikan makannya tidak lebih dari lima menit. Setelah meneguk air putih dan memandang Ken beberapa saat, ia bangkit dari tempat duduknya.


"Setelah mandi, aku tunggu di kamar,"


******


Happy reading all, terimakasih atas kunjungan setianya!


Jangan lupa vote, like, dan komen yang banyak, ya ( spam komen juga ga apa) biar saya makin semangat untuk update.


Aku juga nulis novel yang lain loh,


Bukan Yang Pertama


Jangan lupa kepoin juga, siapa tau kalian juga suka sama ceritanya.

__ADS_1


__ADS_2