Temani Aku, Ken!

Temani Aku, Ken!
Tamu Pagi Ini


__ADS_3

Saat tengah menikmati sarapannya, Al terganggu oleh Bram yang datang dengan seorang wanita ke apartemen itu. Keduanya memberikan senyum pada Al, nyaris bersamaan.


"Ada apa?" tanya Al tanpa memalingkan wajahnya ke arah Bram yang sudah duduk di meja makan. Tepat di depannya. Sementara Chica duduk di ruang tamu.


"Aku ijin ya, hari ini ada urusan sama dia," ujar Bram.


"Mau kemana?" Selidik Al penasaran.


"Urus surat-surat," sahut Bram pelan


"Surat-surat?" Al memperjelas pertanyaannya.


"KUA," sahut Bram setengah berbisik.


"What? Kalian mau menikah? Mendadak sekali?" Seru Al kaget. Ia menahan sendok yang sudah ada di ujung bibirnya.


"He..he....anakku ada di perutnya. Sudah tida bulan ini," sahut Bram sembari tersenyum malu.


"Setan juga kau. Anak orang kau bikin bunting,"


"Kebablasan. Tapi kan mau dinikahi. Aku tanggung jawab kok,"


"Bukan itu maksudku. Kau itu kayak ga ada ahlak, begituan dulu baru dinikahi. Dikira dia itu apa?" protes Al merasa tidak terima atas sikap Bram yang terlalu menganggap enteng masalah itu.


"Iya, aku kan udah bilang tadi. Kebablasan,"


"Ya udah. Pergi aja. Kapan kalian mau nikah?"


"Minggu ini. Akad dulu, pestanya mungkin bulan depan,"


"Sono. Tinggalkan tempat ini. Kalian benar-benar kelewat ih,"


"Enak Al, makanya aku ga bisa mengendalikan diri. Kau belum nyobain ya?" selidik Bram nakal.


"Udah sono. Aku ga sebejad kamu tau ga?"


"Halah, kalo da ngerasain juga minta buru-buru kawin," ledek Bram.


"Sialan. Pergi sono,"


"Pagi ini aku mau jemput mama dan mengantarnya ke rumah. Mungkin aku akan tinggal di sana satu dua hari ini,"


"Nah, aku nginep di sini ya?" Pinta Bram


"Ga. Enak aja. Masa kau mau berbuat mesum di rumahku,"


"Aku sendiri. Chica ga akan diijinkan orang tuanya nginep sama aku,"


"Dia sudah kau bikin bunting, sebentar lagi kalian mau kawin. Mana mungkin orang tuanya ga izinin. Da telat kalau mau mencegah kalian berzina. Apartemen aku kunci. Jangan datang ke sini,"


"Kejam. Aku kan harus wara wiri urus persiapannya. Waktunya sudah mepet, kalau aku nginep di sini kan lebih mudah kemana aja,"


"Ga ada. Jangan membujukku," tegas Al yang tidak mau terbujuk oleh rayuan Bram.


"Ya sudah. Dasar pelit. Raja tega. Awas kau kalau butuh apa-apa minta bantuanku,"


"Kalo sudah ga mau kerja sama aku segera buat surat resigh, biar aku cari penggantinya,"


"Sialan. Kejam loh. Kompeni bukan tapi ga ada toleransi,"

__ADS_1


"Dah sono. Pergi. Aku mau meneruskan makanku,"


"Dari tadi kau tetap mengunyah makanamu. Bahkan kau tidak bertanya kami sudah sarapan atau belum. Kau ini bikin aku kesal,"


Oceh Bram tak kalah sewot.


"Dah sono....kabur....," Usir Al lagi.


Meski agak terpaksa, Bram akhirnya beranjak dari tempat duduknya. Ia akan meninggalkan tempat itu setelah berkali-kali Al mengusir. Ia tau sahabat dan sekaligus bosnya itu hanya bercanda, makanya dia tidak ambil pusing dengan sikap Al yang kadang pura-pura kejam itu.


"Yuk, kita cuz. Yang punya rumah lagi ga mau di ganggu," Bram menghampiri Chica yang sudah berdiri dari tempat duduknya.


"Pak Al, kami pamit ya" pamit Chica. Tidak terlihat kekecewaan pada wajah gadis itu meskipun ia mendengar perdebatan calon suaminya itu dengan sang majikan. Ia sudah mengenal karakter Al dari cerita Bram. Mereka memang tidak pernah ketemu, tapi ia tahu bahwa Al orang yang baik.


"Iya, maaf ya. Aku lagi ga mood liat wajah dia sepagi ini," ucap Al sembari melipar wajahnya.


"Iya, Pak. Tidak apa. Maaf sudah mengganggu," ucap Chica sekali lagi sebelum ia beranjak pergi.


Belum juga maju, pintu dibuka. Muncul Ken dengan tangan kosong. Tidak hanya Bram dan Chica yang kaget, Ken juga tidak menduga jika sepagi ini Bram sudah sampai di sini.


"Oh pantesan ngusir. Rupanya ada seseorang," sindir Bram. Ia melirik kesal ke arah Al. Ia menduga Ken menginap di sini karena wanita itu muncul dengan tangan kosong.


"Kan aku udah bilang. Mau jemput mama. Emang kenapa kalau dia ikut denganku?" sahut Al ketus.


"Ya engga sih. Tapi kan ga sepagi ini juga mau jemput nyonya Lisha? Hayo mau ngapain buru-buru ngusir kita?" Selidik Bram curiga.


"Dalam situasi seperti ini, orang sepertimu akan punya pikiran mesum," ucapan Al itu tujukan pada Bram


"Sialan. Ayok kita pergi! Makin lama di sini kupingmu makin panas," ajak Bram yang sudah menggandeng tangan calon istrinya itu.


"Permisi ya, Ken....Pak Al," ucap Chica dengan sopan.


"Iya," sahut Ken pelan sambil menunduk kepalanya ke arah Bram dan Chica.


"Sakit," pekik Bram


"Lagian, iseng aja," Ujar Chica yang tidak tahan dengan keusilan Bram.


"Abis tuh orang pagi-pagi da bikin jengkel,"


Ken mengantarkan keduanya hingga ke pintu, setelah menutup pintu pintu apartemen itu, Ken membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah meja makan.


"Udah makan belum?" tanya Al.


"Belum. Dari rumah jam 5, mana sempet," Ken menarik kursi yang ada di samping kiri Al dan duduk dekat dengan pria itu.


"Duh, aku cuma pesan satu lagi. Ini! " Al menyodorkannya sendok yang ada di tangannya ke arah mulut Ken. Ia hendak menyuapkan bubur ayam itu pada Ken.


"Tar ga kenyang," elak Ken.


"Liat kamu sepagi ini udah bikin aku kenyang,"


"Gombal,"


"He...he....makan dulu yang ini. Tar pesen lagi. Ak ..." ujar Al sembari membuka mulutnya sendiri. Sendok itu sudah mendarat dan langsung ditangkap oleh Ken yang sudah membuka sejak tadi. Jujur, karena kena angin sepagi ini membuat perutnya begitu lapar.


Bubur ayam yang masih hangat itu dikunyah pelan oleh Ken. Ia merasa begitu dimanjakan. Sepagi ini sudah sarapan pagi dengan sang kekasih disuapin lagi.


Senyum Al mengembang begitu sempurna. Hingga pesanan berikutnya datang, Al terus menyuapi gadis itu. Mereka juga minum dari gelas yang sama. Al terlihat begitu sabar melayani gadisnya pagi ini.

__ADS_1


"Kau terlihat cantik jika seperti ini,"


"Gombal,"


"Ga ada omongan lain apa. Terus aja bilang begitu,"


"Iya, iya...," buru-biru Ken berlaku manis begitu melihat Al yang sudah mulai ngambek.


"Kita berangkat jam berapa?" tanya Ken mengalihkan pembicaraan.


"Jam sepuluh aja,"


"Lah, kenapa minta aku dateng pagi-pagi,"


"Kangen. Aku mau di temeni,"


"Dih, aku udah buru-buru juga. Sampe lupa bawa HP,"


"Ga heran, itu alasan klise. Biasanya juga begitu. Tadi naik apa?" tanya Al


"Ojek pengkolan. Mahal lagi. Karena masih pagi dia minta 100 ribu,"


"Ga bawa hp tapi inget bawa duit," sindir Al.


"Ya Tuhan," pekik Ken sambil memukul keningnya begitu keras dan bangkit dari tempat duduknya.


"Kenapa?" Tanya Al panik.


"Aku lupa, abang ojeknya nunggu di bawah. Aku belum bayar ongkosnya,"


"Inalillahi, Ken!" teriak Al tak kalah kesal.


"Sudah Kenyang perutmu baru inget kalau sudah men-dholimi orang. Buruan bayar," perintah Al lagi.


"Aku ga bawa duit. Kan tasnya ketinggalan,"


Al terlihat sedang melihat sekeliling, ia memang tidak melihat tas butut Ken tergeletak di sekitarnya.


"Nih, kasih 200 ribu ke dia," Al menyodorkan dompetnya ke arah Ken.


"Buruan, kasian dia sudah nungguin lama. Jangan-jangan tuh orang udah kabur, dikira kau membohonginya," keluh Al.


"Iya, aku turun dulu,"


"Ambil secukupnya. Dompetku jangan di bawa, tar ketinggalan lagi,"


"Iya," sahut Ken lagi. Ia mengambil dua lebar uang seratus ribuan dari dompet Al dan bergegas meninggalkan tempat itu.


"Ya Allah. Apa yang ada dipikiran anak itu. Kenapa ia begitu pikun diusia segitu?" Keluh Al yang terus memandangi Ken hingga hilang di balik pintu.


*********


Terimakasih atas kunjungan, sebelum membaca mohon dibantu


✓ VOTE


✓ LIKE, dan


✓ KOMENTAR-nya

__ADS_1


Bagi yang suka spam komentar diperbolehkan kok, agar novel ini tidak sepi seperti kuburan.


Dukungan dari kalian semua membuat saya makin semangat untuk update, vitamin yang luar biasa mujarabnya untuk menyelesaikan cerita ini. Terimakasih!


__ADS_2