
Terimakasih atas kunjungan, sebelum membaca mohon dibantu
✓ VOTE
✓ LIKE, dan
✓ KOMENTAR-nya
Bagi yang suka spam komentar diperbolehkan kok, agar novel ini tidak sepi seperti kuburan.
Dukungan dari kalian semua membuat saya makin semangat untuk update, vitamin yang luar biasa mujarabnya untuk menyelesaikan cerita ini. Terimakasih!
******
"Dih, kemana tuh orang?" tanya Al pada dirinya sendiri. Ketika keluar dari ruang ganti sudah tidak menemukan Ken di tempat tidurnya.
Al muncul dengan kostum ala rumahan, Paduan kaos oblong dan celana pendek. Wajahnya terlihat lebih segar, apalagi rambutnya yang terlihat masih basah. Membuat ketampanannya begitu susah untuk tidak dinikmati oleh mata yang sempat menangkapnya.
"Mau main-main nih sama aku," ucapnya gemes.
Perasaan tiba-tiba menjadi tidak enak. Ia mencium sesuatu yang tidak beres dari kaburnya perempuan itu saat di tinggal mandi.
"Awas aja," ancamnya lagi.
Meskipun jengkel, Al tidak lekas mencari keberadaan Ken. Ia justru memilih ke ruang kerjanya dan mengamati keadaan ruangan yang sudah beberapa hari ini tidak terjamah olehnya.
"Bersih dan rapi," bisik Al. Ia tersenyum tipis, berarti selama ia tidak di rumah Ken tetap membersihkan ruangan ini.
Sebelum Al membuka komputernya, ia lebih dulu memesan makanan untuk makan malam. Via online karena jam segini tidak tega membiarkan Ken masak untuknya.
"Sate aja lah, kayaknya enak nih," pikirannya ketika melihat daftar menu yang muncul di aplikasi go food di layar ponselnya. Al melakukan pemesanan, dalam laporan tertulis pesanan akan diantar dalam waktu 30 menit.
"Masih lama," gumam Al. la meletakkan ponselnya di atas meja kerjanya.
Al membuka menyalakan komputernya, ia ingin mengecek akun tradingnya sebelum turun ke bawah. Empat akun yang sudah dikelolanya lebih dari sepuluh tahun dan menghasilkan nominal yang tidak sedikit untuknya, hingga ia punya bisnis distro sebagai back up jika sewaktu-waktu dunia trading tidak menjanjikan lagi.
__ADS_1
Hampir setengah jam Al memantau grafik yang ditampilkan dari komputer-komputernya itu. Ia bisa lupa waktu jika Ken tidak datang menghampirinya.
"Makanannya sudah datang. Sudah aku siapin di meja makan," suara Ken dari arah belakang cukup mengalihkan konsentrasinya.
Al menoleh kearah gadis itu, ia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Ken yang masih berdiri memandang ke arahnya. Gadis itu menyadarkan tubuhnya di pintu pembatas antara kamar dan ruang kerja Al. Penampilannya sudah beda. Sepertinya ia sudah membersihkan diri karena terlihat lebih segar. Rambutnya yang masih basah dibiarkannya terurai.
Melihat ekspresi Ken yang sudah terlihat normal, Al jadi curiga. Jangan-jangan ia sudah dikerjai oleh gadis ini. Namun ia bisa menahan diri untuk tidak menjebak Ken saat ini. Seperti halnya Ken, Al berlaku sewajarnya saja. Pura-pura tidak ingat dengan apa yang terjadi.
"Yuk, aku udah laper," ujar Al sembari berjalan mendahului Ken.
"Aneh," pikir Ken dalam hati.
"Bisa-bisanya dia bersikap seperti itu setelah kejadian tadi. Dasar orang aneh," gerutu Ken dalam hati. Ia mengikuti langkah Al, menuruni anak tangga menuju ke meja makan.
Al langsung mengambil posisi duduk. Dihadapan sudah terhidang sate kambing dengan bumbu kecap serta SOP yang masih ngebul. Semua sudah disiapkan Ken, begitu juga nasi dan piring untuk mereka.
"Kamu suka sate kambing? Waktu pesan kau masih tidur. Karena lagi pengen aku pesen aja," ucap Al. Suaranya memang dibuat sedatar mungkin namun jika Ken peka dia pasti tahu jika Al menyindirnya. Saat mengucapkan kaya tidur, Al sengaja melirik ke arah gadis itu.
"Suka. Kan aku sudah bilang. Semua makanan aku suka," sahut Ken yang sudah mengambil tempat duduk di depan Al.
"Oh, gitu. Yuk kita makan. Udah laper nih," ajak Al. Ia bergegas mengisi piring yang ada di depannya dengan nasi dan lauk pauknya. Tidak lupa, ia juga menyondorkan nasi ke piring Ken.
"Makan yang banyak, bersandiwara juga butuh tenaga," sindir Al.
"Betul itu, pemain sandiwara juga bagian dari pemikir jadi butuh banyak asupan makanan," canda Ken untuk menutupi perasaannya yang makin tidak enak.
"Kau mendengarnya,kan?" tanya Al. Tatapannya tertuju pada kedua mata gadis itu.
"Mendengar apa?" tanya Ken. Ia masih pura-pura tidak tahu dengan arah pembicaraan Al.
Al tidak langsung menjawab, ia mengigit sate yang sudah sejak tadi dipegangnya. Dengan tenang ia mengunyah makanannya namun pandangan tetap tertuju pada Ken.
"Aku merasa dihakimi?" Gumam Ken. Suaranya sengaja agak diperjelas agar Al bisa mendengar.
"Kalau merasa terhakimi, berarti kau mengakui," desak Al.
__ADS_1
Ken tersenyum malu. Ia tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang mungkin saja begitu memerah saat itu.
"Iya, kan?" desak Al lagi.
"Iya," sahut Ken pelan. Tidak ada pilihan lain baginya selain mengakui perbuatannya.
"Kenapa pake pura-pura tidur?"tanya Al kesal.
"Tadinya aku memang tertidur, begitu terjaga sudah sampai di rumah. Aku takut kau masih marah. Makanya aku pura-pura tidur.
"Apa yang aku lakukan sudah sesuai dengan harapanmu, kan?" Selidik Al lagi.
Ken bingung mau menjawab apa. Jujur saja ia sangat bahagia diperlakukan seperti itu oleh Al apalagi ia sudah mendengar langsung pengakuan pria itu. Kini Ken jadi tahu bagaimana perasaan Al padanya.
"Suka?" tanya Al lagi. Ken hanya menjawab dengan anggukan kepala.
"Ha...ha.....," Suara tawa Al menggelegar. Ia hampir saja tersedak karena makanan yang ada di mulutnya belum semuanya tertelan.
Buru-buru ia mengambil air putih yang ada didepannya. Beberapa saat ia memandang Ken dengan perasaan yang sulit untuk di artikan.
"Kamu bener-bener polos, Ken. Setua ini kau tidak bisa membedakan mana yang bener mana semua sandiwara?" Al meneruskan makannya yang tinggal beberapa suap lagi. Sementara bibirnya terus tersenyum, lebih tepatnya senyum menertawakan.
"Maksudnya," tanya Ken begitu polosnya.
"Aku tau kau pura-pura tidur makanya aku bawa ke kamarku. Jangan anggap kau sudah berhasil membodohi ku," ucap Al dengan entengnya.
"Jadi yang kau katakan tadi, semua bohong," tanya Ken lagi.
"Gitu aja masih nanya. Polos banget sih," ejek Al.
Ken langsung meletakkan tusuk sate yang sudah berada di depan bibirnya. Ia mendorong kursinya dan meninggalkan meja makan. Ken berlari ke arah kamar, menyembunyikan dirinya yang begitu malu karena sudah punya pikiran yang terlalu jauh.
Al tidak mencegah gadis itu. Ia terus saja tertawa tanpa menghiraukan Ken. Setelah gadis itu masuk kamar dan menutup rapat pintunya, Al kembali meneruskan makan malamnya. Sate dan sop yang tersisa ia habiskan tanpa ada sisa sedikitpun.
"Ya Tuhan. Malu sekali. Dia yang keterlaluan atau aku yang terlalu tinggi menaruh harapan? Kok jadi seperti ini," Ken menenggelamkan wajahnya di balik bantal. Tangisnya pecah seketika itu juga.
__ADS_1
"Aku kira dia benar-benar mengakui perasaannya. Ternyata ia hanya mempermainkan perasaanku," Ken meratapi kebodohannya sendiri.
"Malu......aku malu. Mau gimana ini?" Isak Ken makin menjadi.