
Tengah malam Ken terjaga. Ia melirik ke samping, Al tidur pulas di sampingnya. Posisinya miring ke kiri, menghadap ke arahnya. Tangan kirinya ia gunakan untuk menyanggah kepalanya sementara tangan kanannya memegang siku tangan kiri.
Sepertinya ia tengah memandangi Ken yang tertidur pulas hingga akhirnya ia juga ikut terlelap di sisi gadis itu.
"Bajunya sudah ganti?" Ken bisa menangkap perubahan penampilan pria itu meskipun lampu kamar tidak begitu terang.
"Tapi aku tidak membawakannya celana pendek," Ken mencoba mengingat barang yang ia siapkan untuk Al sore tadi.
Ken menarik tubuhnya dengan hati-hati agar gerakannya itu bisa membangunkan Al. Setelah berhasil menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya, Ken duduk di sisi tempat tidur. Kini ia bisa mengamati wajah Al dengan puas.
"Kasian sekali," bisik Ken lirih.
Ken memasang selimut yang ia gunakan tadi pada tubuh Al. Sesat tubuhnya menggeliat dan membuat Ken kaget. Ia kira Al sadar akan tindakannya itu dan membuatnya terjaga.
Ternyata Al hanya mengubah posisi tidurnya. Kini ia berbaring pada posisi yang telentang. Kedua tangannya diangkat seperti seseorang yang menyerahkan diri kepada musuhnya.
"Syukurlah, ternyata dia masih tidur," bisik Ken lirih. Ia jadi lega.
Ken menyapu pandangannya ke sekeliling kamar, ia melihat ada laptop yang tergeletak di atas meja dan tas ransel yang ia bawa juga ada di sana. Di samping dompet, ada kartu tergeletak.
"Ternyata dia sudah mengambil barang-barang ini dari kamarku. Hemmm....dasar curang," gumam Ken kesal. Ken langsung turun dari tempat tidurnya, mengendap-endap berjalan ke arah meja.
"Mau ngapain?" Suara itu membuat Ken kaget. Ia yang sudah memegang kartu segera kabur meninggalkan kamar itu.
"Ken," teriak Al. Tidak ada sahutan karena Ken sudah keburu meninggalkan kamar dan membiarkan dia sendirian.
"Beraninya dia kabur," Al yang masih ngantuk memaksakan diri untuk bangun. Ia menuju ke arah pintu.
Al mendongakkan kepalanya ke arah luar, ia melihat koridor hotel yang sangat sepi. Tidak ada suara sedikitpun.
Merasa aman, Al mengendap-endap ke arah kamar Ken yang berada persis di depan kamarnya.
"Tok..tok...tok...," Suara ketukan pintu itu terdengar begitu pelan. Al yakin orang yang ada di dalam bisa mendengar suara itu dengan jelas. Namun setelah beberapa saat menunggu, tidak ada sahutan apalagi pintu di buka.
"Keterlaluan sekali dia, sudah berani bercanda rupanya," gumam Al begitu kesal.
Karena tidak ingin mengganggu ketenangan tamu hotel lainnya, akhirnya Al kembali ke kamarnya. Ia menghempaskan dirinya di atas kasur. Jarum jam menunjukkan angka 02.10 WIB. Pantas saja suasana hotel sudah sepi.
"Awas kau, tunggu pembalasanku besok pagi," ancam Al, senyum licik mengembang di ujung bibirnya.
Sebelum meneruskan tidurnya, Al masih bisa mengingat wajah Ken yang terus memandangi beberapa saat yang lalu. Ia menangkap wajah yang cantik dan lembut itu mengembangkan senyumnya ketika memasang selimut untuknya.
"Ternyata dia perhatian padaku. Diam-diam mencuri pandang. Hem......," Al memejamkan matanya. Berusaha menghadirkan kembali bayangan itu. Sikap Ken yang begitu lembut dan perhatian membuatnya sangat bahagia.
*****
[ Pagi hari ]
__ADS_1
Meski sudah jam tujuh pagi, Ken masih berbaring di tempat tidurnya. Ia sudah terjaga sejak satu jam yang lalu namun masih enggan untuk meninggalkan kasurnya yang nyaman dan empuk itu.
"Mumpung di hotel, nikmati hidup," ujarnya pada diri sendiri.
"Bebas nyiapin sarapan....bebas beres-beres....yes," pekiknya lagi.
Ken menguling-gulingkan tubuhnya di kasur. Menggeliat malas. Pokoknya ia merasa kebebasan itu benar-benar menjadi miliknya saat itu.
"Ting," ponsel Ken berbunyi. Satu pesan diterima.
Ken buru-buru membuka WA karena ia tahu, Pasan itu pasti dari Al karena tidak ada yang biasa menghubungi sepagi ini.
"Turun. Waktunya sarapan," pesan di baca.
"Iya," pesan di kirim.
"Sekarang," pesan di baca.
"Iya, lima menit lagi aku turun," pesan dikirim
"Pura-puralah tidak kenal denganku. Jangan sampai ada yang tahu jika kita saling kenal," pesan dibaca.
"Iya," pesan dikirim.
"Baik, aku turun duluan," pesan dibaca.
"Iya," pesan dikirim
******
Tiba di restoran hotel, Ken berdiri sejenak. Ia mengamati menu sarapan yang terhidang secara prasmanan di ruang yang besar dan
Lega itu.
Ketika melihat menu kesukaannya, Ken langsung mengambil posisi di meja yang menghidangkan bubur ayam. Ia mengambil satu porsi bubur dan segelas teh hangat tanpa gula. Ia mengedarkan pandangannya, mencari tempat duduk yang masih kosong.
Ia sempat menangkap Al yang tengah menikmati sarapannya di pojok ruangan itu sendiri. Sesuai dengan apa yang sudah dipesankan Al padanya, ia pura-pura tidak mengenal majikan ibunya itu.
"Di sini aja," Ken mengambil tempat duduk yang tidak jauh dari meja prasmanan. Posisinya ada di depan Al hanya saja jarak pandangnya terhalang oleh tamu yang lain.
"Kalau mau nambah biar gampang," guman Ken lagi. Ia meletakkan sarapan di meja. Saat Ken menarik kursi yang akan di duduki, ada suara yang mengagetkannya.
"Keny," panggil orang yang sudah berdiri di depannya.
"Iya," sahut Ken. Ia langsung menengok ke sumber suara.
"Dicky... Kok ada di sini," tanya Ken balik saat ia mengenali sosok pria yang menyalanya itu.
__ADS_1
"Aku emang kerja di sini," sahut pria yang mengenakan kemeja navi dasi kupu-kupu itu.
"Sendirian?"
"Iya,"
"Ada urusan apa nginep di sini?"
"Nemuin keluarga, tapi subuh udah pulang lagi ke Surabaya karena pesawatnya pagi banget," sahut Ken membuat alasan palsu.
"Oh," guman Dicky. Tanpak ia membulatkan bibirnya dan menganggukkan kepalanya.
"Gimana kuliahnya, udah mulai lagi?" tanya pria itu lagi.
"Udah, lagi skripsi. Udah revisi bab 3,"
"Bentar lagi itu mah. Bisa wisuda tahun ini kayaknya?"
"Aamiin. Maunya sih begitu. Doainnya biar bisa sarjana kayak yang lain,"
"Pasti. Angkatan kita masih ada 7 orang yang belum selesai. Termasuk kamu,"
"Iya, cuma aku ga pernah ketemu mereka,"
"Ken, aku jalan dulu ya. Mau mantau temen-temen nih. Nomer hp nya masih yang dulu kan?"
"Iya,"
"Di kamar nomer berapa?"
"705 tapi siang ini mau check out,"
"Oh, ok. Sampai ketemu lagi ya. Sukses skripsinya,"
"Iya, terimakasih,"
Pandangan Ken mengikuti langkah Dicky yang berkeliling di sekitar restoran. Meninjau kinerja para pegawai yang menyiapkan sarapan pagi untuk tamu-tamu hotel. Saat itu juga Ken beradu pandang dengan Al yang menatap nya degan pandangan yang cukup tajam.
Ken tau, seperti Al tidak suka melihat ia ngobrol dengan Dicky. Ken tidak bereaksi apapun. Ia benar-benar merasa tidak kenal dengan Al. Saat Ken duduk di kursinya dan mulai menyantap sarapanya, Al masih mengawasi gadis itu dari arah tempat duduknya.
******
Hay semuanya, maaf ya... aku hanya bisa update satu chapter saja karena terbentur dengan tugas kantor yang harus diselesaikan dan butuh konsentrasi penuh. Terimakasih atas kunjungan dan kesetiaannya mengikuti cerita ini.
Ditunggu.......
VOTE, like, dan spam komentarnnya.
__ADS_1