Temani Aku, Ken!

Temani Aku, Ken!
Di Taman


__ADS_3

"Kita langsung ketemu mama aja, ya. Ga sabar liat cewek yang mau dikenalin ke aku," canda Al ketika mereka sudah di tempat parkir.


"Ga lucu," Ken masih menunjukkan wajah cemberutnya.


"Kamu itu sebenarnya lagi ngambek atau cemburu? Ekpresinya ga jelas begitu," ucap Al masih saja memancing emosi Ken.


"Siapa yang ga kesel dituruni di jalan tanpa alasan,"


"Tadi aku buru-buru tapi ketinggalan orang yang mau aku ikuti,"


"Siapa?" tanya Ken penasaran. Ia langsung mengenakan helm yang dititipkan di pos satpam.


"Anak mang kadir dan Nora. Mereka keluar dari diskotik dan aku ikuti hingga ke rumah Nora. Tidak disangka, ternyata mereka bersekongkol di belakang papa?"


"Anak mang kadir?" Ken mengeryitkan keningnya. Berpikir keras, siapa yang dimaksud oleh Al.


"Ini, dia. Baru diomongin udah nelpon," ujar Al, ketika ia melihat ada panggilan telpon dari ponselnya dan ternyata itu dari Barent.


Al tidak mau mengangkat telpon itu. Setelah melihat siapa yang melakukan panggilan, ia memasukkan lagi hp itu ke saku kemejanya.


"Kita makan dulu, ya. Aku laper," ucap Al yang sudah siap di atas motornya. Ken hanya mengangguk pelan dan duduk di jok belakang.


"Pegangan, mau ngebut nih,"


"Udah,"


"Belum berasa,"


"Udah pegangan ini," Ken yang sudah memegang pinggang Al menepuk-nepuknya pelan.


"Belum berasa,"


"Apanya?" tanya Ken makin kesal.


"Kok punggungku masih kena angin,"


"Ye....di kampus ini. Masa harus mepet mana tengah hari bolong,"


"Oh, kalau ga di kampus mau, ya?" desak Al.


"Tau, ah," Ken mencubit pinggang Al sedikit keras. Pria itu tidak kaget. Ia sudah menjadi terbiasa mendapatkan cubitan kecil dari Ken.


Motor yang dikendarai melaju ke arah jalan pulang. Saat sudah setengah perjalanan, Al berhenti di sebuah taman yang ramai dengan para pedagang makanan gerobak. Pedagang itu berbaris rapi mengitari taman kota sehingga orang yang mau makan bisa memilih menu sambil melemaskan kaki.


Ken milih siomay bandung sedangkan Al ingin makan ketoprak. Minumannya kompak, mereka memilih es kelapa.

__ADS_1


Al dan Ken duduk di bangku yang memutar di bawah pohon beringin. Suasananya sejuk sejuk sekali, hingga mereka tidak sadar sepuluh menit menunggu makanan namun pesanan belum juga diantar.


"Kok lama,ya?" Pikir Al begitu sadar. Ia langsung berteriak pada sang penjual yang berada beberapa meter darinya. Tidak ada sahutan. Karena penasaran Al membalik badan dan ternyata para pedagang itu sedang berkemas. Mereka buru-buru meninggalkan tempat itu karena ada satpol PP yang menyisir area taman. Sesuai peraturan, pedagang tidak diperkenankan berjualan di tempat itu.


"Lah, kita ga jadi makan dong," keluh Al melongo melihat bagaimana mereka sibuk berkemas.


"Tapi aku masih mau di sini," ucap Ken manja.


"Ya udah. Kita pesan online aja,"


Akhirnya, mereka terpaksa memesan makanan yang ada di lokasi terdekat melali aplikasi online. Sembari menunggu keduanya duduk santai menikmati angin siang yang berhembus.


"Lusa ibu pulang, berarti aku juga harus balik ke kos-kosan," ucap Ken memulai pembicaraan.


"Tidak boleh. Kau akan tinggal di apartemen dan aku kembali ke rumah. Aku tidak mau kau hidup di tempat yang tidak layak," sahut Al dengan mantap.


"Engga bisa begitu. Apa yang dipikirkan oleh ibu,"


"Jadi kau belum bicara juga?"


"Belum. Aku mau bicara langsung, tidak lewat telepon,"


"Tinggal saja di rumah. Selagi kau belum bicara ke Bu Ros. Sekarang ada Mama dan papa di rumah. Jadi tidak ada salahnya jika Bu Ros butuh tenaga bantuan. Biar aku yang minta ke ibumu?"


"Minta sebagai apa?" Tanya Ken kaget.


"He..he.....," Ken tersenyum malu.


"Tapi kalau beneran diminta mau kan?"


"Iya, mau,"


"Seriusan,"


"Iya, kasian ibu ga ada yang bantuin," sahut Ken menahan tawa. Kini giliran Al yang dibikin panas wajahnya oleh Ken.


"Drettt .....drettttt....," Hp yang ada di saku kemeja Al kembali bergetar. Ternyata Barent masih berusaha menghubungi Al.


"Ada apa?" tanya Al begitu ia mengangkat telpon itu. Ia khawatir ada sesuatu yang berhubungan dengan papanya, makanya Barent terus menghubunginya.


"Aku mau mengucapkan terimakasih. Aku sekarang ada di rumah Ayahku. Ternyata kau benar Al. Dia masih sehat walafiat,"


"Terus apa hubungannya denganku?" tanya Al ketus. Ia merasa Informasi itu tidak penting baginya. Tak ada gunanya berlama-lama bicara dengan orang ini.


"Ayah sudah menceritakan semuanya padaku. Atas nama ibuku, aku minta maaf padamu,"

__ADS_1


"Sudah terlambat. Semua sudah mulai membaik karena kebenaran itu tidak akan kalah oleh kecurangan yang kalian lakukan," ucap Al.


"Aku janji padamu, aku pastikan ibu tidak akan menggangu keluargamu lagi,"


"Jangan janji padaku. Janji saja pada diri sendiri, sebelum ibumu kembali membusuk di penjara,"


"Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih karena bisa bertemu lagi dengan ayahku dan minta maaf atas dosa-dosa ibuku pada keluargamu," ucap Barent dengan suara yang serak. Sepertinya ia begitu haru bisa menemukan ayahnya yang selama ini dibuang oleh Maria sudah meninggal dunia.


Al menutup sambungan telepon itu meskipun masih ada suara dari seberang sana. Hal itu membuat Ken merasa takut dengan sifat kerasnya.


"Anak Mang Kadir?" tanya Ken.


"Iya,"


"Oh, Barent itu anak Mang Kadir?"


"Tuan Kadir. Ayahnya pedagang parfum di daerah Jakarta Timur Sono,"


"Oh," guman Ken pertanda ia faham dengan siapa Al tadi bicara.


"Ternyata dia begitu keras dan galak pada orang yang tidak disukai. Bagaimana jika sewaktu-waktu ia juga berlaku seperti itu padaku," bisik Ken dalam hati. Tiba-tiba ia ingat bagaimana Baron membiarkan anak dan istrinya pergi hanya karena wanita lain.


"Bagaimana jika Al mewarisi sifat papanya?" Ken makin takut mengingat itu semua.


"Makanan kita sudah datang. Yuk kita makan. Kalau begini jadi kayak orang pacaran beneran ya," sindir Al. Ia sengaja bicara seperti itu karena Ken bengong memandangi pucuk pohon.


"Iya, aku udah laper,"


Dua porsi ayam geprek yang dipesan oleh Al sudah di tangan. Masih hangat dan sambalnya juga sangat menggugah selera. Al menikmati makan siangnya dengan lahap begitu juga Ken.


Al merasa senang bisa memenuhi permintaan Ken meskipun harus mengorbankan waktu tradingnya. Hari ini ia tidak membuka akunnya sama sekali, tidak ada pundi-pundi yang masuk ke kantongnya.


Tapi ia senang karena sudah bisa menikmati hidup, layaknya manusia pada umumnya. Punya keluarga dan ada seseorang yang akan diperjuangkannya sebagai pendamping hidup. Wanita yang sudah membakar semanganya untuk kembali ke dua nyata.


🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀


Terimakasih atas kunjungan, sebelum membaca mohon dibantu


✓ VOTE


✓ LIKE, dan


✓ KOMENTAR-nya


Bagi yang suka spam komentar diperbolehkan kok, agar novel ini tidak sepi seperti kuburan.

__ADS_1


Dukungan dari kalian semua membuat saya makin semangat untuk update, vitamin yang luar biasa mujarabnya untuk menyelesaikan cerita ini. Terimakasih!


__ADS_2