
"Dia tidak berkabar sama sekali," gumam Ken dalam hati. Sejak check out dari hotel Minggu siang, Ken tidak menerima pesanan apapun dari Al. Baik itu bertanya kabar atau memberi tugas padanya.
Ken hanya sendiri, usai sholat isya ia memilih nonton TV di ruang tengah. Seharian ini ia tidak kemana-mana. Ia menghabiskan waktu untuk beres-beres rumah dan menyiapkan skripsi yang akan dibawanya menghadap ke dosen pembimbing esok pagi.
"Hem...kalau dia suka sama aku pasti tidak begini," Ken menepuk kedua pipinya, seakan baru sadar jika sejak tadi ia hanya memikirkan Al, membiarkan TV menyala namun pikirannya kemana-mana.
"Sadar, Ken. Mungkin dia hanya perhatian sama kamu sebatas bos dan majikan," gumamnya lagi.
"Ah....," Ken lagi-lagi memukul kedua pipinya. Ia masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana Al menatapnya dan degub jantung dan nafas pria itu yang begitu tidak beraturan saat Ken tidak sengaja ada di atas tubuhnya.
"Aku tidak boleh terbawa suasana. Sadar...sadar.....," Pekik Ken lagi. Ia segera mematikan TV dan bangkit dari tempat duduknya.
Setelah memastikan semua pintu terkunci, Ken melangkah ke kamar. Jam sudah menunjukkan pukul 22.40 WIB dan suasana rumah juga semakin hening.
"Sebaiknya aku tidur biar ga kesiangan," ujarnya lagi.
*******
"Aku ambil barang-barangmu sekarang aja, besok harus urus surat jual beli ke notaris dan melunasi sisa pembayaran," Bram segera pamit ketika sudah mengantarkan Al dengan selamat ke apartemen yang baru saja di belinya beberapa jam yang lalu.
"Mampir sekalian,"
"Ok, terserah saja. Bawa pakaianku secukupnya saja. Yang penting barang yang sudah aku list tadi," Al mengingatkan Bram yang sudah berjalan ke arah pintu.
"Terimakasih, ya. Kau memang hebat. Dalam sekejap bisa menemukan apartemen sesuai dengan yang ku mau," Al masih saja menyapukan pandangannya ke sudut ruang tempat tinggal barunya itu. Ia sangat puas dengan hasil kerja Bram.
"Dari dulu juga begitu. Aku bisa membaca pikiranmu dengan baik. Jadi hasilnya juga sesuai dengan apa yang mau inginkan,"
"Iya, ha...ha....," tawa Al begitu renyah. Harus diakui, Bram lebih tau seleranya daripada dirinya sendiri. Mereka yang dipertemukan dalam keadaan susah, punya ikatan bathin melebihi saudara. Al teramat yakin akan hal itu. Pertemanan yang kuat antara dirinya dan Bram dan hubungannya dengan Bram yang sudah seperti keluarga.
"Bener-bener anugrah" gumam Al dalam hati.
"Ok, aku pulang dulu. Keburu pintu keluar di tutup," Bram segera pergi, meninggalkan Al yang mengantarnya hingga depan pintu.
__ADS_1
******
Karena sudah larut malam, meskipun hari kerja jalanan menuju ke Bogor mulai legang. Penduduk Bogor dan sekitarnya yang mencari nafkah di Jakarta sudah kembali lagi ke rumah, kumpul bersama keluarga mereka.
Hanya butuh waktu 40 menit, Bram sudah sampai di rumah Al. Tampak rumah begitu sepi namun lampu taman dan bagian luar rumah semuanya menyala. Rumah pekarangan rumah juga bersih dan rapi.
"Meskipun Al tidak di tempat, sepertinya Pak Parman dan Bu Ros tetap bekerja dengan baik," pikir Bram dalam hati.
Bram memarkirkan mobilnya di luar pintu gerbang agar lebih mudah keluar. Meskipun pekarangan rumah Al cukup luas, tapi Bram males kalau harus putar balik. Belum lagi tidak ada yang membantunya parkir. Salah-salah ia merusak tanaman yang ada di rumah itu dan kena semprot Al.
Bram membuka pintu gerbang dan pintu rumah tanpa harus membangunkan orang yang ada di dalam. Karena ia sudah dianggap sebagai keluarga sendiri, sejak dulu Bram memang punya kunci rumah Al. Selalu ia simpan di dalam mobilnya. Sewaktu-waktu dia datang tengah malam, bisa buka tutup pintu sendiri.
Sampai di ruang tamu, rumah tampak sepi. Jam dinding yang ada diruang itu menunjukkan pukul 12.10 WIB. Ia melongok ke arah kamar Bu Ros dan lampu dikamar itu tampak redup.
"Dia sudah tidur," pikir Bram dalam hati. Ia tidak mau membangun pengurus rumah tangga itu pada jam segini. Bram langsung menuju ke kamar Al, mengemasi barang yang diminta pemiliknya.
Bram memilih-milih pakaian Al yang tersusun rapi di lemarinya. Memasukkan dalam tas yang sudah ia siapkan lebih dulu. Ia juga membuka laci yang ada di bagian dalam lemari, mengambil jam tangan dan beberapa gepok uang tunai.
Karena kepentingan hanya di ruang ganti, Bram membiarkan kamar itu dalam kondisi gelap. Ia hanya menyalakan lampu di kamar ganti agar mempermudah dirinya mengambil barang yang dipesan oleh Al. Ia tidak sadar jika ada sepasang mata yang mengintainya dari ruang yang gelap sejak tadi.
"Bug," bunyi pukulan yang masih bisa didengar oleh Bram. Setelah itu kepalanya menjadi pusing, dunia serasa berputar.
"****** lu, dasar maling," Bram masih bisa mendengar suara itu sebelum ia jatuh ke lantai dan tidak ingat apapun.
Sebelum menghubungi Pak Parman, Ken mengikat kedua tangan dan kali Bram mengunakan sabuk ya ia ambil dari lemari. Kini posisi Bram dalam keadaan tengkurap, kedua tangannya diikat kebelakang, kakinya juga sama. Sementara mulutnya disumpal rapat dengan gulungan kaos kaki milik majikannya.
"Aku telpon Pak Parman dulu sebelum menghubungi polisi," Ken bicara dengan dirinya sendiri. Sementara tangannya sibuk mencari daftar kontak Pak Parman di HP miliknya.
Jantungnya berdetak kencang, meski ia sudah berhasil melumpuhkan lawannya namun Ken takut jika mendadak orang itu sadar dan melakukan perlawanan. Ia juga tidak tahu, apakah di luar sana ada komplotannya atau tidak.
Saat ia mengintip dari jendela kamarnya, memang kondisi pintu gerbang terbuka dan mobil yang terparkir di luar dalam kondisi tertutup.
"Ini malingnya, Pak," teriak Ken begitu ia mendengar suara Pak Parman yang memanggil namanya dari arah ruang tamu.
__ADS_1
"Buruan, Pak," teriak Ken lagi. Suaranya terdengar begitu panik dan sedikit bergetar karena rasa takut yang menghantuinya.
Pak Parman yang sudah berada di kamar langsung menuju ke ruang ganti. Buru-buru ia melepas ikatan Bram dan memberikan pertolongan pada pria itu. Ia tidak memperdulikan Ken yang berdiri di sisi lemari. Tubuhnya gemetar, sementara mukanya yang panik mendadak berubah menjadi rasa heran.
"Pak, dia malingnya," teriak Ken kesal. Ia seolah menyadarkan tindakan pak Parman yang menyalahi aturan.
"Bangun, Nak. Duh....gimana itu," teriak Pak Parman. Setelah berhasil melepas ikatan di tangan dan kaki Bram, ia juga mengambil kaos kaki yang digunakan untuk menyumpal mulut pria itu.
"Nak, Bagun," Pak Parman terus saja mengoyang tubuh Bram dan sesekali memukul pipi agar ia segera sadar.
"Waduh, bahaya ini. Jangan -jangan di geger otak. Kau pukul pakai apa?" tanya Pak Parman begitu panik.
"Ini," Ken menunjukkan wok pan marble ukuran besar yang masih dipegangnya.
"Apa? Wajan segede itu kau pukulkan ke kepalanya," seru Pak Parman kaget.
"Itu maling, ia sudah membereskan barang-barang Pak Al," Ken masih berusaha menjelaskan apa yang terjadi pada pak Parman.
"Ken! Dia bukan maling. Ini Bram," ujar pak Parman dengan tegas.
"Bram?" tanya Ken makin bingung.
Pak Parman tidak menanggapi pertanyaan anak Bu Ros itu. Justru ia minta bantuan Ken untuk mengangkat Bram. Memindahkan pria itu ke tempat tidur Al.
"Bantu aku. Cepat," perintah Pak Parman yang sudah lebih dulu mengangkat bagian bahu Bram. Ken diminta untuk mengangkat bagian kaki pria itu.
"Buruan," perintah Pak Parman lagi.
******
Hay semuanya, maaf ya... aku hanya bisa update satu chapter saja. Terimakasih atas kunjungan dan kesetiaannya mengikuti cerita ini.
Aku tetap menunggu
__ADS_1
VOTE, like, dan spam komentarnya di setiap chapter yang aku update.
Happy reading to semuanya 🤗🤗🤗