Temani Aku, Ken!

Temani Aku, Ken!
Keren


__ADS_3

"Siapa Bram?" tanya Ken.


"Orang yang sering ke rumah. Memang kamu ga pernah ketemu?" tanya Al penasaran.


" Enggak..," sahut Ken sambil menggelengkan kepalanya pelan.


"Ayah Bram importir hasil bumi, ia masih ada hubungan keluarga dengan Pak Komar. Karena sudah kenal baik dengan keluarga kami, Pak Komar minta keluarga itu untuk menampungku sementara waktu. Hampir satu bulan aku tinggal di Bengkalis sebelum akhirnya ikut ayahnya Bram ke Singapura dan dicariin kerja di sana,"


"Kerja? Emang usia berapa saat kabur dari rumah?" tanya Ken menyelidik. ia begitu penasaran, bagaimana Al bisa kerja di negeri orang.


"17 tahun. Waktu itu masih kelas 12,"


"Kok bisa? Emang ngelamar kerja tanpa ijazah, bisa diterima? " Ken terus bertanya karena rasa penasarannya cukup tinggi tentang kehidupan Al.


"Ga ada ijazah juga bisa. Si sana cari kerja gampang, bayarannya tinggi lagi," Al bicara layaknya orang yang pamer.


"Kerja apaan? tanya Ken lagi. Keningnya mengeryit.


"Sortir telor. Ha...ha.... Kerjanya cuma memisahkan telor ayam sesuai ukuran, membersihkan telor dari sisa kotoran, mengemas telor yang dijual ke supermarket. Aku bagian yang pertama. Gajinya lumayan,"


"Kirain kerja kantoran atau apa gitu"


"Ha...ha... kamu lucu, Ken! Emang yang dibilang kerja itu hanya orang kantoran aja. Yang namanya kerja itu melakukan aktivitas dengan tujuan mendapat upah, apapun bidang yang digelutinya. Faham!"


"Iya, aku juga tau," Ken tak mau kalah.


"Meski tukang sortir telor, aku juga pernah jadi pekerja, di negara orang lagi," lanjut Al.


" Iya..iya....Lama ga di sana?" lanjut Ken meneruskan interogasinya.


"Ga, kerja cuma 2 bulan. Selebihnya aku mulai trading lagi. Setahun di sana aku pamit pulang. Karena situasi tidak memungkinkan aku kembali ke Jakarta, akhirnya aku memilih tinggal di Bengkalis lagi, bersama keluarga Bram,"


"Agar keberadaanku tidak di ketahui Maria dan Papaku, saat bikin akun aku menggunakan nama Bram dan juga nomer rekeningnya. Sejak itu Bram sah menjadi manajeku," ujar Al bangga.


"Menejer?" Mata Ken membulat sempurna, sepertinya iya kurang yakin dengan pendengarannya.

__ADS_1


"Iya, Bram yang memegang rekening dan segala transaksi semua atas namanya. Tugasku hanya cari duit dari trading, urusan dll semua ditanganinya. Sebagai mahasiswa fakultas ekonomi ia sedikit banyak faham tentang duniaku jadi aku sangat terbantu sekali olehnya,"


"Rumah itu aku beli dari hasil trading. Aku membelinya 8 tahun yang lalu, namun baru aku tempati 7 tahun terakhir. Ia juga yang mencari lokasi dan mengurus surat-suratnya. Sampai saat ini ia masih bekerja untukku, makanya ia sering ke rumah. Dalam seminggu 3 sampai 4 kali. tergantung kepentingannya,"


"Keren," Mengacung dua jempol ke arah Al.


"Keren, lah. Biar cuma lulusan SMP tapi bisa mempekerjakan sarjana. He..he....," Al memuji dirinya sendiri.


"Iya, bener-bener keren," Ken mengacungkan dua jempolnya lagi ke arah Al.


"Kenapa ada orang tua yang tega sama sana anaknya?" Gumam Ken sedih. Pandangannya kosong. Ia jadi ingat nasibnya sendiri. Hingga sekarang ia bahkan tidak tau siapa orang tuanya.


"Kamu kenapa? Kok mendadak sedih begitu?" Giliran Al yang bingung.


"Bu Ros itu bukan ibu kandungku," ujar Ken pelan.


"Iya, aku tahu. Fotokopi KTP nya ada padaku. Statusnya masih single. Awalnya aku bingung waktu ia bilang anaknya yang akan menggantikan tugasnya selama ia umroh. Aku pikir kau keponakan atau anak tetangganya, gitu. Aku ga ambil pusing. Sudah percaya sama dia, siapapun yang menggantikannya pasti bisa dipercaya,"


"Terimakasih,"


"Untuk apa?"


"Bu Ros tidak pernah cerita tentang mereka?"


tanya Al.


"Ibu bilang, ia hanya kenal dengan ibuku. Mereka pernah kerja pada majikan yang sama sebelum ibu kandungku itu jadi TKI. Siapa ayahku dia tidak tahu,"


Al bangun dari posisi rebahan. Kini ia duduk di samping Ken. Ia raih bahu wanita itu ke dalam rangkulannya.


"Sabar, ya. Siapapun orang tuamu yang jelas ia sudah mempertimbangkan masa depanmu. Sudah menitipkan dirimu pada orang yang tepat," hibur Al


"Iya, Bu Ros sangat baik. Ia ingin aku bisa sekolah sampai ke jenjang tinggi agar bisa mengubah masa depanku,"


"Iya, dia orang yang baik dan bertanggung jawab," tegas Al lagi. Al mengelus lembut lengan Ken dengan tangan kirinya.

__ADS_1


Al mempererat rangkulannya, Ken makin terbawa suasana. Ia menyandarkan kepalanya pada bahu Al yang kokoh. Harumnya tubuh Al membuat Ken betah berlama-lama terbenam di sama.


"Bagaimana dengan nasib Maria?" tanya Ken yang masih dalam rangkulan pria itu.


"Ulahnya yang menghimpun investasi ilegal ini tercium juga Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Maria diminta mengembalikan seluruh dana yang telah dihimpun saat mediasi dengan perwakilan investor, Maria dan pihak OJK. Sayangnya Maria malah mengabaikannya. Akhirnya kasus berlanjut, Polisi pun menangkap Maria. Ia divonis hukuman penjara selama 10 tahun dan denda Rp200 miliar rupiah,"


"10 tahun untuk investasi bodong?"


"Iya, percobaan pembunuhan tidak dilanjutkan karena Papa bukan Maria yang melakukannya, tapi aku?"


"Om Ryan masih hidup?"


"Entahlah, aku tidak mendengar beritanya lagi,"


"Minggu ini, Maria bebas. Aku akan menyelesaikan permasalahan keluarga ini, termasuk dengan wanita tidak licik itu," tugas Al dengan nada geram.


Ken menarik kepalanya. Ia memandang wajah Al dari samping. Terlihat rahangnya yang mengeras. Sementara matanya terbuka lebar dan menatap tajam ke arah depan.


Ken bisa membaca sinyal kemarahan pria itu. Dengan hati-hati ia mencoba menenangkan Al. Ia memberanikan diri mengelus punggung Al dengan lembut, tanpa berkata sepatah katapun.


Al mengalihkan pandangannya ke samping kiri. Pandangan mereka bertemu. Pria itu tersenyum hambar pada Ken.


"Aku tidak apa-apa," ujarnya. Ia menyentil ujung hidung Ken yang terus menatapnya dengan penuh kekhawatiran. Diperlakukan seperti itu, Ken jadi malu. Kini ia menjatuhkan pandangannya ke lantai.


Al meraih kembali bahu Ken dan membawanya ke dalam rangkulannya. Seperti sebelumnya, Ken tidak menolak. Ia menyandarkan kepalanya di bahu pria itu. Makin rapat dari sebelumnya hingga Al bisa mencium rambutnya yang dibiarkan terurai.


"Temani aku, aku bisa kuat jika kau ada bersamaku," pinta Al dengan nada syarat degan permohonan.


Ken tidak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan. Ken bingung, kemana arah pembicaraan laki-laki yang ada di sampingnya ini?


Al memegang tangan tangan kanan Ken dengan erat. Cukup lama keduanya membisu, tenggelam dalam pikirannya masing-masing.


******


Hay semuanya, maaf ya... aku hanya bisa update satu chapter saja karena terbentur dengan tugas kantor yang harus diselesaikan dan butuh konsentrasi penuh. Terimakasih atas kunjungan dan kesetiaannya mengikuti cerita ini.

__ADS_1


Ditunggu.......


VOTE, like, dan spam komentarnnya.


__ADS_2