
Sore hari, Bram masih ada di apartemen Al. Mereka baru saja kembali, seharian ini mereka berbagi tugas untuk mencari informasi. Bram memantau aktifitas Maria setelah keluar dari penjara sedangkan Al mengunjungi kediaman orang tuanya.
Dari hasil investigasinya hari ini di ketahui, wanita itu punya kerja sama dengan pengusaha dan pejabat. Meskipun mendekam di di balik jeruji besi, ia masih tetap menjalankan trading. Bisa dikatakan nasibnya cukup beruntung karena pejabat yang menitipkan uang bisa menjaminnya hingga ia bisa mendapatkan fasilitas yang cukup mewah di tahanan.
"Jadi dia masih mengelola duit orang lagi?" tanya Al saat Bram menjelaskan informasi yang didapatkannya.
"Iya, tapi hanya milik Pak Karto Mulyono"
"Karto Mulyono pemilik Anugrah Travel," selidik Al.
"Iya,"
"Kok bisa?
"Pengusaha itu sudah menitipkan uang pada Maria sejak lama. Begitu macet, ia tidak bisa menarik semua dananya karena Maria sudah tidak punya apa-apa lagi. Setelah terjadi kesepakatan, ia akhirnya memberikan kesempatan pada Maria untuk menyicil uang itu dari hasil trading nya. Ternyata wanita itu cukup beruntung, ia bisa membayar lunas modal beserta profit sang pengusaha hanya dalam waktu 3 tahun di penjara. Kemampuannya ini akhirnya dimanfaatkan oleh orang tersebut untuk mengelola dananya kembali, begitu juga pejabat di lapas itu. Maria bisa hidup enak dengan fasilitas yang nyaman tanpa harus kekurangan uang,"
"Sekarang tetap berlanjut?
"Sepertinya begitu, saat aku membuntutinya ternyata padi tadi ia ke kantor papamu yang ada di Sudirman. Ia sudah membuat janji dengan pengusaha itu,"
"Dia memang piawai membaca market dan punya strategi berdagang yang baik. Tapi entah kenapa ia tidak bisa melakukannya waktu itu. Semua uang member yang masuk ke rekeningnya tidak di kelola malah untuk mendirikan bisnis. Ia hanya mengandalkan hasil kerjaku," keluh Al
"Mungkin karena posisinya sudah terpojok jadi apapun bisa ia lakukan," ujar Bram.
"Bisa jadi," sahut Al.
Al menceritakan pertemuannya dengan Barent dan ajakan kakak tirinya itu untuk mengelola usaha ayahnya.
"Kau menerimanya?" selidik Al
"Tidak,"
"Harusnya kau ambil peluang itu. Kita akan tau bagaimana sikap Barent yang sebenarnya? Apa dia berpihak pada ayahnya atau cuma sandiwara saja?"
"Tapi aku tak sudi deket sama anak dan ibunya itu?" elak Al
"Kalau kau tidak berada di sekitar mereka, bagaimana bisa tau karakter aslinya. Banyak tugas besar yang harus kita selesaikan,"
"Kita pikirkan cara lain, aku tidak mau menginjakkan kakiku di kantor papa atau di diskotik miliknya. Ga sudi!" tegas Al lagi.
"Ceklek," suara pintu dibuka
Pembicaraan mereka terputus karena terdengar seseorang membuka pintu apartemen. Secara bersamaan, Al dan Bram menoleh ke sumber suara.
"Dia!" Bram nyaris terhenyak dari tempat duduknya karena kaget melihat siapa yang masuk ruang itu.
"Hem... rupanya dia punya akses khusus masuk ke sini," ujar Bram begitu sinis ketika ia melihat siapa yang datang.
__ADS_1
"Apa bedanya denganmu, dia juga bekerja denganku," elak Al.
"Maaf, aku kira tidak ada orang. Aku datang membawa pesanan Pak Al," Ken yang masih berdiri di depan pintu belum berani melangkah karena ada Bram yang tengah membicarakan kedatangannya.
"Sini, duduklah di sini," ajak Al dan mempersilahkan Ken duduk di sofa, di sampingnya.
"Hem.....," Guman Bram dengan nada tidak senang.
Al mendelik tajam ke arah Bram, memberi peringatan agar ia tidak berbuat itu pada Ken.
"Dia hampir saja membuatku berdiam di surga," protes Bram menyinggung masalah pemukulan dirinya.
"Aku minta maaf, aku benar-benar tidak tahu jika anda Bram. Aku kira itu maling," Ken minta maaf dengan sungguh-sungguh. Wajahnya ia jatuhkan ke lantai.
"Sudah ga usah dibahas, faktanya kau masih bisa nafas dan otakmu juga masih waras. Kenapa brisik aja,"
"Kok belain dia, harusnya kamu kasih tau ke dia. Jangan sembrono. Kalo aku mati saat itu juga gimana, coba?" Bram masih kesal.
"Dikubur, aku urus ansuransi nya,"
"Al, lu ya," Bram makin geregetan.
Al tidak menanggapi, ia hanya tersenyum melihat Bram yang masih memasang wajah tidak sukanya pada Ken.
"Maaf, Pak. Tadi aku ke kampus dulu, ambil hasil revisi. Dosennya mau ke luar kota," ujar Ken sembari menyodorkan box yang di tentangnya ke atas meja.
"Kau ke kampus bawa beginian? Apa ga dikira mau dagang?" tanya Al heran. Ia melihat box ukuran sedang yang ada di atas meja.
"Aku juga baru datang kok, ga apa?"
"Emang apaan sih? Sampe dibahas seserius itu?" tanya Bram curiga melihat Al dan Ken yang terus saja membahas box berwarna hijau yang tergeletak itu.
"Udang saos Padang. Pak Al minta dibuatkan untuk makan siang," sahut Ken. Ia belum beani memandang Bram yang Melihat ke arahnya.
"Aku kira apa?" gumannya lirih.
"Al, bagaimana kalau malam ini kita ke diskotik papamu?" Usul Bram, ketika beberapa saat tidak ada yang bersuara.
"Aku tidak akan melakukannya," sahut Al
"Kita nongkrong aja, kan ga semua yang datang ke sana untuk minum dan main perempuan. Kita bisa karaoke, kok. Siapa tau dari situ bisa dapat informasi untuk menyelesaikan masalahmu,"
"Tidak, tidak harus seperti itu. Aku sudah bilang, tidak adak menginjakkan kakiku baik ke diskotik atau ke kantor papaku,"
"Susah juga kau diajak berunding. Keras kepala," omel Bram.
"Bagaimana jika kita yang berangkat?" Bram mengarahkan pandangannya ke arah Ken.
__ADS_1
"Jangan libatkan dia," protes Al yang bisa menangkap isi otak sahabatnya itu.
"Kita kerja sama, toh kau sendiri tadi yang bilang. Dia orang yang bekerja denganmu. Apa salahnya saling membantu dalam kondisi seperti ini," keluh Bram.
"Jika kau keberatan, tinggalkan saja. Biar aku sendiri yang menyelesaikannya,"
"Hem... Aku semakin faham," gumam Bram lagi.
"Apa maksudmu?" selidik Al.
"Semakin kau banyak bicara, aku bisa membaca sikapmu padanya," Bram menjawab sekenannya. Bibirnya ia paksakan untuk tersenyum.
"Maaf, Pak. Saya boleh ijin pulang," Ken merasa tidak nyaman berada di ruang itu. Ia segera minta diri karena tugasnya untuk mengantarkan makanan itu sudah ia selesaikan.
"Nanti kalau makan bisa dipanaskan dulu di microwave," Ken memberi penjelasan lagi.
"Gak nginep di sini aja," sela Bram.
"Bug...," Al melayangkan sikutnya ke arah Bram dan mengenai dada pria itu. Ia sangat kesal dengan omongan yang semakin membuat Aken tidak nyaman berada diantara mereka.
"Maaf, bukannya di rumah itu kalian juga tinggal berdua. Apa bedanya jika di sini?" Ucap Bram lagi.
"Biar dia nunggu rumah, tidak ada yang bisa ia kerjakan di sini. Semua sudah di kerjakan oleh Bik Nur,"
"Siapa lagi tuh? Jangan sampai tuh orang ikut mukul kepala aku jika aku datang ketangkep basah ma dia sebelum kau memperkenalkan diriku padanya," protes Bram. Al dan Ken nyaris tidak bisa menahan tawa mendengar ucapan itu.
"Tidak, dia cuma beres-beres dan ambil cucian. Paling satu atau dua jam di sini, itu juga pagi hari. Dia mengerjakan hal yang sama di beberapa unit kamar di sini,"
"Oh, rupanya kau bisa kenal dengan dia," Bram mulai kagum dengan Al yang sudah bisa cari pembantu sendiri.
"Dia yang menawarkan diri waktu ketemu di lift, abis beres-beres di kamar sebelah. Katanya dia juga yang dulu bekerja dengan pemilik apartemen ini,"
"Oh, baguslah. Baru berapa hari di sini kau sudah bisa mengenal orang di sekitarmu,"
"Kau pikir aku siapa? Patung yang ga bisa apa-apa?" Protes Al kesal.
"Biasanya seperti itu, justru aku kaget melihat kau yang sekarang," sahut Bram.
Mereka terus saja bicara yang tidak penting saling ngeledek satu sama lain dan saling menyudutkan. Ken yang masih duduk di situ hanya bisa senyum melihat tingkah mereka yang seperti anak-anak berebut mainan.
Beberapa menit kemudian, Ken sudah meninggal apartemen Al. Hari sudah menunjukkan pukul 16.50 WIB. Karena kereta pasti padat pada jam segini, Ken memutuskan pulang dengan menggunakan jasa ojol.
****
Hay semuanya, maaf ya... aku hanya bisa update satu chapter saja. Terimakasih atas kunjungan dan kesetiaannya mengikuti cerita ini.
Aku tetap menunggu
__ADS_1
VOTE, like, dan spam komentarnya di setiap chapter yang aku update.
Happy reading to semuanya 🤗🤗🤗