Temani Aku, Ken!

Temani Aku, Ken!
Bertemu Om Ryan


__ADS_3

Tiba di kediaman keluarga Chica, Al dan rombongan di sambut ramah oleh panitia penyambut tamu. Meskipun hari ini dijadwalkan hanya menggelar akad nikah, tapi ada tenda berukuran sedang yang dilengkapi barisan kursi dan hidangan di meja prasmanan di depan rumah.


"Selamat datang," ujar salah satu pria yang berdiri paling depan.


"Silahkan... silahkan....pria yang lainnya buru-buru mempersilahkan keluarga mempelai pria untuk menempati tempat duduk yang telah di sediakan.


Sesuai permintaan Al, Ken tidak bergeser sedikitpun dari sisi pria itu. Bahkan Al terus menggenggam erat tangan gadisnya seolah tidak ingin terpisahkan.


"Sinian," seru Al begitu Ken ingin duduk di salah satu bangku yang disampingnya sudah terisi oleh orang.


"Nih, di sini aja," ajaknya lagi. Al memilih bangku paling pojok yang belum terisi. Satu untuk dirinya, dua disampingnya untuk Ken dan Lisha.


Lisha yang berjalan dibelakang mereka sejak turun dari mobil hanya bisa tersenyum. Ia bahagia ketika melihat putranya bahagia. Itu saja sudah cukup, tak ada yang ia inginkan di muka bumi ini selain menebus kesalahannya setelah lama meninggalkan putra tercintanya.


"Mereka pasangan yang cocok ya , nyonya," seru Pak Komar yang diminta ikut masuk oleh Lisha dan duduk di sampingnya.


"Iya, melihat mereka seperti itu aku sangat bahagia," seru Lisha.


"Semoga mereka berjodoh," ujar Pak Komar.


"Aamiin. Lisha menimpali.


Pak Komar juga memperkenalkan ayah Bram pada majikannya itu. Suatu kesempatan yang jarang terjadi, mereka bisa berkumpul seperti ini. Pada kesempatan itu, Lisha tidak henti-hentinya mengucapkan terimakasih pada Pak Komar dan keluarga Bram. Mereka punya andil yang besar dalam hidup putranya itu.


Setelah duduk dengan tenang dan menyapukan pandangannya ke seluruh sudut yang dipenuhi tamu undangan, tatapan Al terpaku pada satu sosok yang sangat ia kenal. Pria yang ada di barisan keluarga mempelai wanita itu tampaknya juga sadar ketika Al memperhatikannya. Apalagi ketika ia melihat Pak Komar dan Lisha yang ada di samping Al.


"Om Ryan," seru Al yang bisa terdengar jelas oleh Lisha dan pak Komar. Spontan kedua orang itu mengarahkan pandangannya mengikuti Al.


"Iya, itu dia," tegas Lisha yang tiba-tiba tampak begitu gusar.


"Benar kan, pak?" Lisha bertanya pada Pak Komar untuk meyakinkan penglihatannya.


"Iya, betul sekali Nyonya," sahut Pak Komar begitu yakin.


"Tenang, Ma. Biar Al yang bicara dengan laki-laki brengsek itu," Al berusaha memenangkan Lisha yang mulai tidak nyaman di tempat itu. Al menggagam tangan mamanya untuk memberi kekuatan.


"Berarti dia keluarganya, Chica," bisik Al dalam hati. Kenapa selama ini Bram tidak pernah cerita. Meskipun Al tidak pernah memberikan Om Ryan pasti Bram tau jika ada keluarga calon istrinya yang punya bisnis seperti yang pernah ia ceritakan.


"Ah, ga beres juga nih orang. Masa sudah lama pacaran dia sampai ga kenal dengan keluarga dekat Chica," gerutu Al.


Meskipun ia begitu geram, namun Al masih bisa menahan diri. Ia tidak segera menghampiri dan menghakimi pria yang sudah terlalu ikut campur dengan urusan keluarganya.


Al masih berusaha sabar, ia menunggu ijab kabul selesai baru akan menyelesaikan urusannya dengan Om Ryan. Pikiran dan pandangan tidak lepas sedikitpun dari pria itu. Ia tidak mau jika Om Ryan kabur dari tempat itu untuk menghindarinya.

__ADS_1


Selama acara berlangsung, Al terlihat begitu gusar. Ken yang ada di sampingnya bisa membaca kegusaran hati kekasihnya itu. Karena situasi begitu khusyu, Ken hanya bisa menepuk bahu Al sebentar. Sepertinya itu sudah cukup untuk situasi seperti ini.


********


Usai memberikan ucapan selamat pada Bram dan Chica, buru-buru Al menghampiri Om Ryan yang masih duduk di tempat semula.


"Apa kabar, Om?" sapa Al. Ia memberi kode agar pria itu mau bicara empat mata dengannya.


"Al ya? Aku hampir saja tidak mengenalimu namun begitu ada Nyonya Lisha di sampingmu aku bisa menebak itu kau" ujar Om Ryan berusaha setenang mungkin.


"Iya, semoga Om tidak menganggapku hantu," ceplos Al sekenannya.


"Ha...ha.... Kau bisa saja. Aku tidak pernah berpikir sejauh itu," ucap pria itu mulai menguasai dirinya.


"Baiknya kita di dalam saja. Biar lebih leluasa," ajak Om Ryan. Ia mulai bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke dalam rumah.


Al memberi kode pada Ken dan Mamanya agar tetap di tempat. Dengan santai ia mengikuti langkah Om Ryan dari belakang. Sementara Bram yang masih foto-foto dengan keluarga dan tamu undangan ikut penasaran dengan Al. Kenapa ia bisa mengenal keluarga dari istrinya sedang Al selama ini tidak pernah keluar dari datang?


"Aku senang kau bisa berkumpul lagi dengan mamamu," ucap Om Ryan ketika sudah duduk di sofa ruang tamu. Hanya mereka berdua di ruang itu. Seluruh keluarga dan undangan sedang menikmati hidangan di tenda yang sudah di siapkan di samping rumah.


"Senang atau kaget?" selidik Al dengan mimik tidak sukanya.


"Aku tahu dosaku padamu dan keluarga Tuan Baron di masa lalu begitu menggunung. Jika kau masih menaruh dendam hingga saat ini, aku bisa memaklumi. Dosa-dosaku itu mungkin memang tidak bisa terampuni," ucap pria penuh sesal.


Al memang tidak bisa meminta pertanggungjawaban apapun karena seberapa besar pengaruh orang ini pada kehancuran keluarganya hanya dia dan Maria yang tahu. Apalagi melihat kondisinya yang sekarang ini, sepertinya kehidupannya tidak lebih baik dari waktu itu, saat ia masih sering keluar masuk rumahnya dengan bebas karena menjadi kaki tangan Maria.


"Apa yang bisa ku bantu?" tanya Pria itu cukup serius.


"Apa aku bisa mempercayai mu?" Al belum menjawab pertanyaan Om Ryan justru ia ingin tahu keseriusan orang itu lebih dulu.


"Mendapati Bram bisa hidup enak karena membantu usahamu aku cukup senang. Chica anak dari adik perempuan yang sangat aku sayangi. Aku bahagia ia bisa mendapatkan pendamping hidup yang sangat bertanggung jawab seperti Bram. Karena Bram menggantungkan hidup padamu, tanpa harus diminta aku akan sangat berterima kasih padamu Al. Chica sudah seperti anakku sendiri jadi secara tidak langsung Bram itu adalah mantuku,"


"Baiklah, jika itu alasan anda mau membantuku untuk sementara aku akan percaya padamu. Bantu aku!" pinta Al dengan sepenuh hati.


"Tentu saja, apa yang kau inginkan dariku?" tanya Om Ryan lagi.


"Mungkin anda tahu jika selama ini Maria tidak bisa trading. Gelar master yang tersemat padanya itu hanya bohong semata, kemampuannya nol besar. Aku yakin ia hanya memanfaatkan kepercayaan orang untuk mendapatkan simpati dan keuntungan. Aku ingin tahu bisnis apa yang ia geluti dan kemana larinya uang yang ia himpun dari investasi itu?"


Om Ryan menarik nafas cukup dalam. Pertanyaan Al ini sangat komplit, ia menduga Al sudah lebih dulu mencari informasi tentang Maria. Penjelasan yang akan diberikannya ini bisa jadi hanya untuk memastikan saja. Jadi ia harus waspada, Ia tidak bisa mengelak dan melindungi Maria lagi.


"Dicari mama?" Ucap Ken yang sudah berdiri di depan pintu. Ia terlihat ragu ketika mengucapkan kalimat itu karena Al dan Om Ryan terlihat begitu serius.


"Iya, sudah pada selesai makan ya?" tanya Al Karena sudah cukup lama ia memisahkan diri dari rombongan.

__ADS_1


"Bukan, mau foto sama pengantin," ucap Ken menjelaskan.


"Oh, iya. Kita harus foto sama pengantin Om biar ada kenang-kenangan," sahut Al. Ia langsung berdiri dari tempat duduknya, dikuti oleh Om Ryan.


"Saya minta jangan kasih tau ke siapapun jika Mama sudah bersamaku. Aku percaya Om bisa melakukannya,"


"Iya, Al. Terimakasih sudah mau memanggilku Om," sahut pria itu terlihat begitu senang.


"Kita atur jadwal untuk ngopi bareng. Biar aku bicarakan sama Bram,"


"Iya, aku siap saja kapanpun kau minta,"


"Terimakasih," ujar Al tersenyum. Senyum pertamanya yang ia tujukan untuk Om Ryan.


Setelah di depan, Al dan Om Ryan segera bergabung dengan rombongannya masing-masing. Bram yang tengah menikmati makan siangnya segera merapat ke tempat duduk Al. Dia ingin tahu, ada apa antara bosnya itu dengan salah satu kerabat istrinya.


"Udah, habiskan makananmu. Tamunya udah nungguin mau salaman. Mereka sudah mau pamitan," ujar Al ketika Bram sudah duduk di sampingnya.


"Mereka juga lagi makan. Ga usah ngeles. Ada apa antara kau dan Om Ryan?" selidik Bram.


"Jika aku menjelaskannya sekarang, mulai detik ini kau harus bekerja. Jangan paksa aku untuk berbuat setega itu padamu. Aku memberikan hak cuti untukmu. Setidaknya kau bisa menikmati malam pertamamu tanpa gangguan pekerjaan," ucap Al.


"Eh, maaf. Kok malam pertama, sih. Maaf salah," Al mengoreksi ucapannya.


"Deh..... ngeledek aja terus," sahut Bram yang merasa Al mulai meledeknya.


"Tapi tetep aja sih malam pertama. Malam dimana kalian bisa melakukan kewajiban dengan tenang dan halal. Bukan dengan sembunyi-sembunyi," celetuk Al lagi.


"Terus aja," gerutu Bram yang mulai panas dengan guyonan Al.


[ Bersambung.......]


*********


Terimakasih atas kunjungan, sebelum membaca mohon dibantu


✓ VOTE


✓ LIKE, dan


✓ KOMENTAR-nya


Bagi yang suka spam komentar diperbolehkan kok, agar novel ini tidak sepi seperti kuburan.

__ADS_1


Dukungan dari kalian semua membuat saya makin semangat untuk update, vitamin yang luar biasa mujarabnya untuk menyelesaikan cerita ini. Terimakasih!


__ADS_2