
Pulang dari tahanan, Om Ryan segera menemui Al di apartemen. Di sana masih ada Bram. Mereka tengah membicarakan pekerjaan untuk Ken.
Tanpa harus bicara panjang lebar, Om Ryan memutar hasil rekaman pembicaraannya dengan Maria. Flashdisk Voice Recorder yang tersemat di kantong kemeja Om Ryan telah merekam semua pembicaraan Maria tanpa sepengetahuan orang yang di maksud.
"Nih, kita dengar sama-sama," Om Ryan memasang flashdisk-nya ke HP yang sudah di suport OTG.
Semua yang ada di ruang itu menyimak hasil rekaman Om Ryan. Antara kaget, kesal, dan
prihatin terlihat dari ekpresi wajah-wajah mereka.
"Astaga, nih orang sadis banget," Bram begitu kaget mendengar obrolan Maria dan Om Ryan.
"Parah, perempuan, punya anak lagi, kok kelakuannya begini banget," umpat Bram lagi.
"Bisa-bisanya dia bicara dengan santai, seolah-olah apa yang dia perbuat bukan suatu kesalahan besar. Benar-benar parah nih orang," Bram terus mengumpat. Ia sangat geram dengan sikap dingin Maria.
Bram terlihat lebih emosi di banding Al dan Ken. Mungkin karena Al sudah faham dengan sifat Maria, jadi hanya diam saja. Sesekali ia mengeryitkan keningnya.
"Anaknya Fatma kembar? Berarti kau punya saudara kandung, Ken!" Ucap Al, kaget.
"Begitu katanya. Tapi hanya Fatma yang tau keberadaannya," sahut Om Ryan.
"Butuh waktu yang cukup lama untuk menemukan Fatma, ada baiknya Ken dan Tuan Kadir melakukan tes DNA saja. Karena apa benar ia putrinya Fatma, tidak ada yang bisa memastikan," usul Bram.
"Apa itu perlu. Aku sih terserah Ken saja," sahut Al. Ia menatap wajah gadisnya yang terdiam sajak tadi.
"Bagaimana, Ken?" desak Al lagi.
"Masalahnya makin rumit. Awalnya aku tidak mau tau di mana Bu Fatma tapi mendengar keterangan Maria, aku jadi khawatir. Bagaimana jika dia memang pergi ke Arab melakui penyalur gelap? Itu kan sudah lama sekali dan sampai sekarang tidak ada yang tahu keadaannya?" Ucap Ken dengan nada yang begitu sedih.
"Aku akan menemukannya, untukmu. Jangan sedih," Al merapatkan tubuhnya ke arah Ken. Meraih bahu gadis itu dan mengelusnya pelan.
"Jika dia sudah senang di kehidupannya sekarang, aku tidak akan mempermasalahkan kenapa ia tidak perduli padaku? Tapi jika yang terjadi justru sebaliknya aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri, kenapa selama ini tidak punya keinginan untuk mengetahui keberadaannya,"
"Sudahlah, kita belum tau sapa yang terjadi di luar sana. Jangan sedih begitu. Masih ada Pak Kadir yang akan membantu kita mengaku informasi dari keluarganya dan kita datengi yayasan yang di sebutkan Maria itu. Ok!" Ucap Al berusaha menghibur.
"Iya, Ken. Kau jangan menghakimi dirimu sendiri. Cepat atau lambat kau mengetahui hal ini, itu sudah rencana yang ditetapkan Tuhan. Percayakan pada, Al," Om Ryan menimpali.
__ADS_1
"Kapan mau ke yayasan itu?" tanya Al lagi.
"Kita bagi-bagi tugas. Biar aku yang pergi ke yayasan itu. Kalau menghubungi keluarga Bu Fatma ada baiknya Ken sendiri. Mungkin mereka tutup mulut karena Tuan Kadir hanya menjadikan Fatma sebagai istri sirih. Karena tidak punya kekuatan secara hukum, nasibnya jadi seperti itu,"
"Bisa jadi begitu. Om cerdas juga?" Sergah Bram.
"Kau ini. Apa kalian lupa, aku ini mantan kaki tangan Maria," canda Om Ryan.
"Ha...ha....," tawa mereka secara bersamaan.
"Baiknya silaturahmi dulu via telepon, tanyakan kabar dan perkenalkan diri. Jika ada respon baru tanya di mana keberadaan Fatma?"
"Iya, Om. Nanti biar Bu Ros yang menghubungi mereka. Sepertinya lebih pas. Kabarkan kalau anak Fatma yang ada bersamanya sudah sarjana, mapan, dan ingin menikah. Ia butuh restu orang tuanya," usul Al.
"Ha...ha....otakmu jalan juga, Bro,"
"Biasanya, kalau kabar baik lebih cepat di respon daripada kabar yang menderita. Ini negara +62 log," ucap Al lagi.
"Iya, betul itu. Minta tolong ke Bu Ros. Biar dia yang bicara, yang penting intinya begitu,"
"Ok, untuk sementara urusan Fatma masih menunggu info dari yayasan dan keberhasilan Bu Ros, sekarang bagaimana dengan janji saya dengan Maria?" tanya Om Ryan.
"Itu, Loh! Bantuan advokasi buat Maria?" Om Ryan mengingatkan.
"Oh," gumam Al. Ia diam sejenak dan memandang Bram untuk minta pendapat. Bram tidak menjawab, namun dari ekpresi wajahnya dia tidak keberatan jika permintaan itu diluruskan.
"Kita ga tau apa yang dia katakan itu jujur atau tidak. Siapa tau itu pancingan. Jika janjiku dipenuhi, mungkin dia mau kasih info lebih,"
"Kasih aja. Cari advokat yang baru cari panggung. Atur aja skenarionya, kesannya membela. Ingat, aku mau membantu om Ryan untuk menepati janji, bukan bantuin dia,"
"Iya, Al. Sip. Terimakasih sudah meringankan bebanku" Sahut Om Ryan.
"Oh, ya. Saat aku bicara dengan Maria, ternyata Barent nguping. Jadi dia tau semuanya,"
"Biarin aja, ga ngaruh dia mau tau atau enggak. Dia itu ga bisa apa-apa. Sejak kecil selalu di ketek emaknya," ujar Al begitu sewotnya.
"Hem.....kau bicara seperti itu tidak memikirkan bagaimana perasaan adiknya," cemooh Bram sembari menahan senyum.
__ADS_1
Al langsung mengalihkan pandangannya ke arah Ken, ia lihat wanita itu menundukkan kepalanya. Entah apa yang dipikirkannya.
"Maaf jika aku menyinggung mu," Al menyenggol Ken dengan bahunya. Ia baru sadar, saat ini tidak boleh bicara sembarang tentang Barent dan Tuan Kadir.
"Ah, ngambek tuh," goda Bram lagi.
"Udahlah, itu urusan kalian berdua. Aku mau pamit dulu. Jangan lupa, lusa ada Wawancara, ya," Bram langsung pamit, ia mengingatkan Ken bahwa ia harus melakukan wawancara dengan pihak SDM dan melengkapi berkas lamaran.
"Iya, terimakasih," ucap Ken buru-buru karena Bram sudah mau meninggalkan ruang itu.
"Al, aku juga mau pamit. Mau nebeng sama Bram. Nanti aku kabari secepatnya, ya!" Om Ryan juga bangkit dari tempat duduknya dan mengikuti langkah Bram.
"Kok pada bubar semua? Kompak!" Sergah Al bingung.
"Biar kalian lebih bebas menyelesaikan masalah ini," ledek Bram.
"Halah, bebas yang macem mana maksudmu?" sanggah Al.
"Masa belum faham juga. Hajar aja. Kalau sudah kepepet kan ga minta syarat apa-apa. Ha...ha..... ," ucap Bram lagi sebelum ia benar-benar pergi.
"Sialan, kacau juga loh. Ngajarin ga bener,"
Bram dan Om Ryan sudah pergi dari apartemen itu, kini tinggal mereka berdua. Al dan Ken.
Al melihat aura yang kurang bersahabat dari wajah kekasihnya itu, ia tahu ini pertanda kalau gadis itu mulai ngambek.
********
Semangat 💪💪💪 update walaupun pembacanya sepi🙈🙈🙈.
Untuk kalian yang masih mengikuti kisah Ken feat Al, jangan segan-segan untuk meninggalkan :
* Komentar
* Like
* Vote-nya
__ADS_1
Dukungan dari anda menjadi semangat imbalan yang tak ternilai harganya. Terimakasih....... Happy reading 😘😘😘