Temani Aku, Ken!

Temani Aku, Ken!
Sabtu Pagi


__ADS_3

Al keluar dari kamarnya lebih pagi dalam keadaan sudah perpakaian rapi. Tercium aroma tubuhnya yang wangi meskipun ia masih menuruni anak tangga menuju ruang makan.


Ken sedikit kaget. Selain ia belum selesai menyiapkan sarapan, ia juga masih malu bertemu dengan orang ini setelah apa yang terjadi malam tadi.


"Belum mateng, ya?" tanyanya dengan suara yang lembut. Pria itu menarik kursi dan duduk dengan tenang di depan meja makan yang masih kosong melompong.


"Belum, Pak. Maaf," jawab Ken hati-hati. Dia segera melihat ke arah jarum jam. Ingin memastikan bahwa ia memang tidak salah penglihatan.


Al tau bahasa tubuh Ken yang segera melihat ke arah jam dinding yang terpasang di atas kitchen set, ia tersenyum lembut ke arah gadis itu.


"Aku sudah laper," ujarnya memelas.


"Iya, Pak. Nasinya sudah ada kok. Tinggal lauk dan sayurnya. Sebentar saya siapkan dulu," sahut Ken buru-buru menyelesaikan masakannya.


"Oh, iya. Ada jus jambu. Mungkin bisa minum ini dulu," Ken yang sedang menggoreng sesuatu tiba-tiba menuju ke kulkas dan mengeluarkan satu teko jus yang mulai dingin


"Belum terlalu dingin, kok. Saya baru saya memasukkan di kulkas," jelas Ken sambil menuangkan jus dalam gelas dam memberikan pada Al.


"Ini, Pak. Bisa buat ganjel perut sembari menunggu,"


"Ganjel? Pintu apa di ganjelin," protes Al. Ia meraih gelas yang berisi jus dan meneguknya hingga kosong.


"Nambah, Pak?" tanya Ken yang sudah berada di depan kompor lagi begitu ia melihat gelas itu sudah kering.


"Enggak,"


"Bentar, ini sudah mateng. Tinggal oseng-oseng nya," Ken terus saja bersuara entah bermaksud memberitahu Al agar bersabar atau bicara pada dirinya sendiri.


Bisa juga karena ia panik karena Al tidak pernah menggeser pandangannya. Ia merasa risih diawasi seperti itu, untuk mengurangi ketegangan, ia bicara sekenannya saja.


Tidak lama kemudian, Ken sudah menyelesaikan tugasnya. Perkedel kentang plus daging giling dan oseng brokoli saus tiram sudah terhidang di atas meja.


Tidak lupa, Ken juga menyiapkan piring dan gelas berisi air hangat untuk majikannya itu.


"Silahkan, Pak. Sarapannya sudah siap," ujar gadis itu mempersilahkan.


"Mau ke mana?" tanya Al saat melihat Ken membalikkan badannya hendak meninggalkan ruang itu.


"Duduklah, kita sarapan bareng," ajaknya sebelum Ken memberi alasan.


Seperti biasa, Ken hanya mengikuti perintah. Setelah ia mengambil piring untuk dirinya sendiri, ia duduk di bangku yang persis menghadap Al.


"Sini," Al meraih piring Ken. Ia mengisi piring nasi itu setelah ia melakukan hal yang sama untuk dirinya sendiri.


"Mulai hari ini dan seterusnya, tugasmu bertambah. Temani aku makan,"

__ADS_1


"Iya, Pak," sahut Ken sembari menarik piringnya kembali yang sudah berisi nasi


"Sepertinya dia sudah hafal dengan porsi makanku. Dia mengambilkan nasi tidak kurang atau lebih, pas," bisik Ken dalam hati.


"U..la...la....Jangan salah perasaan, ya!" bisik Ken lagi.


"Kenapa senyum-senyum?" tanya Al. Rupanya ia juga mengamati kelakuan Ken.


"Enggak, Pak.


"Satu catatan lagi. Usahakan mandi dulu baru makan," Al memperingatkan Ken karena ia masih mengenakan pakaian yang semalam. Bisa jadi ia juga belum menyisir rambutnya karena terlihat berantakan dan diikat sekenanya saja.


"Iya, Pak,"sahut Ken dengan malu.


"Ken," panggil Al pelan.


"Iya, Pak"


"Kamu punya teman laki-laki?"


"Pacar?" tanya Ken balik untuk meyakinkan.


"Iya," sahut Al singkat. Ia terus saya mengunyah makanannya dengan pelan sembari mengamati ekpresi Ken.


"Tidak," sahut Ken diperkuat dengan gelengan kepalanya.


"Tidak,"


"Orang yang kau suka?" Ken tidak menjawab, la hanya menggelengkan kepalanya.


"Apa dikampusmu tidak ada kaum Adam?" tanya Al lagi.


"Banyak,"


"Dari sekian banyak, apa tidak ada yang kau sukai?"


"Dulu pernah suka sama seseorang, satu angkatan juga. Tapi dia jadian sama anak hukum," jawab Ken jujur.


"Kamu kurang usaha?"


"Bukan begitu. Dia suka sama cewek yang modis dan show up gitulah. Mana mungkin mau sama aku. Jadi ya, begitu,"


"Memangnya kenapa, Pak?"


Ken memberanikan diri bertanya dan memandang Al yang ada di depannya. Sesaat pandangan mereka bertemu namun Al keburu menyendok makanannya.

__ADS_1


"Aku cuma mau memastikan saja. Ini kan akhir pekan. Jangan sampai ada orang yang datang ke sini mengganggu kerjaku," setelah berkata begitu ia segera meyuap makanannya kembali.


"Tidak, aku bisa jamin. Tidak ada yang tau aku ada di sini kecuali ibu,"


"Baguslah,"


"Tapi jika kau ingin keluar juga boleh, kok. Mungkin kau ingin jalan-jalan dengan teman-temanmu," ujar Al lagi.


"Engga, Pak. Aku juga tidak punya teman,"


"Hah.... bagaimana bisa?"


"Ada satu orang yang cukup dekat denganku dari mulai kami kuliah, tapi ia sudah selesai dan kerja. Kalau mau ketemu biasanya malem, atau akhir pekam di warung orang tuanya. Kami kerap menghabiskan waktu di situ hingga subuh,"


"Oh, warung apa?"


"Makan, ga jauh dari kontrak saya,"


"Oh," gumamnya lagi.


"Nanti siang ha usah masak. Aku sudah pesan makan,"


"Iya, Pak,"


Saat mereka sedang asik ngobrol dan menikmati sarapannya, mereka tidak sadar jika sejak tadi Pak Parman berdiri di depan pintu. Diantara ruang tamu dan ruang makan. Ia nyaris tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bosnya makan bareng dengan Ken, anak pembantu di rumah ini. Bahkan mereka bisa ngobrol sesantai itu, sudah tidak tidak terlihat kecanggungan di antara mereka.


"Ada apa dengan mereka?" tanya Pria itu dalam hati.


Ia tidak berani meneruskan langkahnya untuk ke dapur. Dengan pelan, ia mundur dengan teratur. Ia tidak ingin keberadaan di ketahui Al atau Ken yang bisa membuat keduanya merasa tidak enak hati, seperti yang ia rasakan saat ini.


"Ia sudah mulai membuka diri. Baguslah jika begitu. Rumah ini bakal ada tanda-tanda kehidupan," guman Pak Parman dengan sebyum yang mengembang.


"Pinter juga tuh, si Ken. Ilmu apa yang dipakenya hingga Al bisa seakrap itu dengannya," Pak Parman memutar bola matanya dan menaikkan alis matanya sebelah. Jarinya terlihat sedang berhitung.


"Tujuh hari," gumannya lirih.


"Hebat, dalam waktu tujuh hari, gadis itu sudah mencairkan suasana yang begitu beku di rumah ini. Semoga mereka berjodoh. Aku tidak ingin melihat Al terlalu lama kesepian. Kasian anak itu," bisik Pak Parman lagi penuh harap.


******


Happy reading all, terimakasih atas kunjungan setianya!


Jangan lupa vote, like, dan komen yang banyak, ya ( spam komen juga ga apa) biar saya makin semangat untuk update.


Aku juga nulis novel yang lain loh,

__ADS_1


Bukan Yang Pertama


Jangan lupa kepoin juga, siapa tau kalian juga suka sama ceritanya.


__ADS_2