
Pagi itu, setelah mereka sarapan, Al minta waktu khusus pada Bu Ros. Ia ingin menyampaikan sesuatu pada orang tua asuh kekasihnya.
"Saya minta maaf sebelumnya jika saya berbuat lancang," ucap Al begitu hati-hati. Meskipun posisi Bu Ros masih sebagai asisten rumah tangganya, kali ini ia tidak punya keberanian untuk menatap wajah perempuan itu.
"Iya, Tuan. Semalam Tuan Baron dan Nyonya Lisha juga sudah bicara pada saya,"
Al memberanikan diri menatap Bu Ros yang duduk di depannya. Ia melihat wajah perempuan itu datar-datar saja.
"Semalam saya mendatangi kontrakan Ken dan membawanya ke apartemen. Tolong maafkan saya, Bu. Saya sudah mengambil putrimu tanpa izin,"
"Tuan Al tidak perlu minta maaf, saya tidak akan melarang atau menganjurkan Ken dekat dengan Tuan. Jika sudah begini,saya tidak bisa terlalu ikut campur. Ken sudah dewasa dan pendidikannya cukup cukup baik, saya rasa ia bisa menentukan jalan hidupnya,"
"Bu Ros, tolong jangan panggil saya Tuan. Bukankah aku ini calon menantumu," protes Al Karena perempuan itu terus menerus memanggilnya dengan sebutan Tuan.
"Panggil Aku, Al saja," tambah Al lagi.
"Iya, Al," sahut Bu Ros sedikit canggung.
"Nah kalau begitu kan terdengar lebih akrab," Al tersenyum tipis.
"Ken ada di apartemenku, biarkan dia di sana Bu. Hari ini saya sudah minta Bram untuk mengurus barang-barang yang ada di kontrakan. Mau dipindahkan ke sini atau ke apartemen?" tanya Al dengan sopan.
"Saya jadi malu. Tidak ada barang berharga di sana. Tidak usah dipindahkan. Biar saja, Al,"
"Ga apa, Bu. Bram sudah jalan ke sana kok,"
"Wah saya jadi ga enak, nih," sahut Bu Ros malu.
"Bu, Ken bilang dia akan pulang kampung karena ada urusan yang harus di selesaikan. Bagaimana jika saya ikut? Sekalian cari keberadaan orang tua Ken,"
"Saya sudah putus kontak dengan ibunya Ken. Sejak ia menitipkan anaknya, nomer ponselnya tidak bisa dihubungi lagi,"
"Apa ibu tahu keluarga mereka dan kampung asalnya?"
"Tidak, dia hanya bilang dari Kota D namun tepatnya dimana ibu juga ga tahu,"
"Kalian bisa kenal?"
"Iya, dulu sekali. Kami pernah kerja di Condet. Majikan saya dan majikan ibunya Ken tetangga sebelah rumah. Saya hanya Bertahan 3 tahun saja karena terpaksa pulang kampung, orang tua saya sakit parah. Sedangkan ibunya Ken tetap bekerja di situ sampai terakhir kami ketemu. Ia datang ke kampung saya dan menyerahkan bayinya,"
"Apa kemungkinan dia masih bekerja di situ?" tanya Al penasaran.
"Tidak, saat saya mulai kerja di Jakarta lagi, saya juga sempat datang ke rumah majikannya. Namun yang menjadi asisten rumah tangga di rumah itu sudah beda. Saya tidak bisa ketemu dengan majikannya karena Nyonya besar sudah tidak tinggal di rumah itu lagi,"
"Bisa saya minta alamat majikannya?"
__ADS_1
Bu Ros menyebutkan satu wilayah di Jakarta Timur yang merupakan kompleks perumahan orang-orang berkebangsaan Arab. Al mencatat penjelasan Bu Ros di ponsel miliknya.
"Saya coba cari tau, barang kali ada petunjuk," ucap Al
"Terimakasih, maaf sudah merepotkan. Saya memang sudah punya niat, jika masih ada umur ingin mencari keberadaan orang tua kandungnya. Biar anak itu tidak selalu berpikir jika ia anak dari hubungan di luar nikah,"
"Iya, kita coba dulu. Kalau memang tidak bisa ditemukan aku tidak masalah. Apapun status Ken, aku terima,"
"Terimakasih, Al,"
"Iya, Bu. Ibu juga bisa ke apartemen sekali waktu. Bilang aja mau ke sana, saya anter atau bisa minta tolong pak Komar,"
"Terimakasih, Al. Ibu tidak tahu harus bilang apa padamu,"
"Jangan dipikirkan, kan sudah ku bilang tadi. Aku ini calon menantumu,Bu," ucap Al. Senyum bahagia mengembang sempurna di wajahnya.
********
Dengan membawa buntelan berisi peralatan rumah tangga yang ada di kontakan Ken, Bram naik ke apartemen Al. Dia di bantu oleh salah satu petugas kemanan yang bertugas pagi itu.
"Baru pindahan, Pak?" tanya Petugas yang bernama Edy. S.
"Enggak, ini barang dari kos-kosan. Karena pemiliknya sudah selesai kuliah jadi barang-barangnya di bawa pulang,"
"Oh, bukankah pemilik kamar itu laki-laki dan jarang datang ke sini?"
"Oh," petugas keamanan itu meletakkan kardus besar yang dibawanya dari mobil Bram di depan kamar Al. Sebelum ia pergi, Bram memberi uang tips padanya.
"Terimakasih, Pak," ucap Bram sembari mengulurkan satu lembar uang 50 ribu.
"Wah bisa ngopi, nih. Terimakasih, ya Bos," ucap pria itu.
"Tok...tok....," suara Bram mengetuk pintu. Meskipun ia punya akses masuk namun ia tidak bisa sembarangan masuk. Ada Ken yang menempati apartemen ini.
"Ceklek," suara pintu di buka. Ken muncul dan memberikan senyum manisnya pada Bram.
"Aku mau anterin barang, semuanya. Tidak ada yang tersisa," Bram menunjuk pada buntelan kain dan satu kardus berukuran besar yang ada di depan pintu. Di sisi ia berdiri.
"Iya, terimakasih," Ken maju satu langkah, ia mengangkat kardus yang ada di depan pintu.
"Jangan, biar aku saja. Aku ga mau di ocehin sama suamimu," tangan Bram menahan kardus yang akan di angkat oleh Ken.
"Kok, gitu?" tanya Ken bingung.
"Udah, buat aku saja," tanpa menunggu waktu, Bram mengangkat kardus itu dan meletakkannya di ruang tamu. Menyusul buntelan dengan ukuran yang lebih besar.
__ADS_1
"Lemarinya terpaksa aku bawa begini, kan ga bisa di pretelin. Kalau yang ini berisi pakaian. Kasurnya aku tinggal, mobilnya ga muat," Bram menjelaskan apa yang sudah dikerjakannya terkait tugas yang diberikan Al padanya.
"Maaf sudah merepotkan,"
"Tidak apa, sudah jadi kewajiban saya melayani majikan," ucap pria itu. Ada nada tidak suka yang terdengar dari nada bicaranya.
"Mau minum apa? Biar aku buatkan,"
"Tidak usah. Terimakasih. Aku mau langsung ke Bandung. Harus cek stockies di sana,"
"Maaf, ya. Aku sudah merepotkan," ucap Ken lagi, ia makin tidak nyaman dengan sikap dingin Bram.
Pria itu membalikkan tubuhnya, namun langkahnya terhenti ketika Al tiba-tiba muncul di tengah-tengah mereka.
"Kau bilang sibuk, jam segini sudah di sini?" tanya Al.
"Aku sudah bilang mau ke Bandung. Kalau aku ke sana dulu baru membereskan barang bisa-bisa kau meradang," sahut Bram lebih ketus.
"Masa sih? Aku tidak mendengar kau bilang mau ke Bandung. Maaf,"
"Hemmm," gumam Bram. Ia menarik nafas beratnya.
"Udah, tunda aja dulu. Kau bisa ke sana besok atau lusa. Kita minum kopi dulu," ucap Al merasa bersalah.
"Stok pakaian kita di beberapa outlet sudah minim. Kasian pelanggan kalau mereka datang tidak ada koleksi yang baru,"
"Sudahlah, jangan dipaksakan ke sana. Ini sudah siang. Kau akan tua di jalan. Akan ku telpon suplayer kita, biar dia kirim barang hari ini juga," Al menengahi.
"Terserah kau, lah," sahut Bram menyerah. Sejak dulu ia memang paling enggan berdebat dengan Al. Mau salah atau benar, ia ga pernah mau mengalah.
"Ayo, duduk sini. Nyonya rumah sudah bikin kopi untuk kita," Al yang lebih dulu duduk di sofa menggeser tubuhnya agar Bram duduk di sampingnya.
"Heh....nyonya rumah. Lebay," guman Bram dalam hati. Ia merasa bosnya ini sudah kehilangan 50% otak warasnya sejak jatuh cinta.
🌳🌳🌳🌳🌳🌳
Terimakasih atas kunjungan, sebelum membaca mohon dibantu
✓ VOTE
✓ LIKE, dan
✓ KOMENTAR-nya
Bagi yang suka spam komentar diperbolehkan kok, agar novel ini tidak sepi seperti kuburan.
__ADS_1
Dukungan dari kalian semua membuat saya makin semangat untuk update, vitamin yang luar biasa mujarabnya untuk menyelesaikan cerita ini. Terimakasih!