
Dengan langkah yang bersemangat, Al kembali lagi ke meja makan. Tentu saja dengan segenggam daun kemangi yang baru saja dipetik dan dicuci bersih olehnya. Ia sudah tidak sabar ingin menikmati ikan bakar yang sedap itu dengan cocolan sambel kecap dan segarnya daun kemangi.
"Wanginya bikin nafsu makan jadi meningkat, nih," sesekali ia mencium daun kemangi yang dipegangnya.
Baru saja beberapa langkah masuk ruangan, langkahnya jadi terhenti. Ia melihat Ken tengah duduk di meja makan. Mulutnya penuh dengan makanan, bahkan kedua pipinya sampai gembul dan sesak. Ia terus mengunyah dan tangannya terus saja memaksa masuk makanan yang tersisa di piringnya. Matanya berkaca-kaca, kedua kakinya sesekali di hentakan ke lantai.
"Sepertinya ia begitu kesal," pikir Al sembari mengamati gadis itu.
Al berjalan pelan ke arah meja, dua langkah lagi sampai di depan Ken. Gadis itu baru menyadari bahwa bosnya sudah ada di ruangan itu lagi. Kini matanya terbelalak namun mulut tetap tertangkup karena penuh dengan ikan bakar yang di santapnya dengan kesal.
"Ikannya mana?" tanya Al setengah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tangannya sembari memperlihatkan daun kemangi yang masih dipegangnya ke arah gadis itu.
Ken nyaris mengeluarkan semua isi mulutnya, namun ia bisa menahannya karena bisa jadi perbuatannya itu akan menambah kekesalan bosnya. Akhirnya ia memilih menelan semua makanan yang ada di mulutnya meski belum sempat mengunyahnya sedikitpun.
Ken tersedak, air putih milik Al ia tengguk hingga habis. Setelah itu ia baru bisa bernafas dan memejamkan mata dan menggelengkan kepalanya cukup lama.
Al yang masih kebingungan menarik kursi yang ada di depan Ken dan duduk dengan tenang di depan meja makan. Ia hanya bisa memandangi ikan bakar yang tinggal tulang dan kepalanya saja. Wajahnya tiba-tiba jadi murung dan lemas. Kemangi yang ia bawa, diletakkan begitu saja di atas meja.
"Aku kira bapak pergi meninggalkan makanan ini karena tidak enak. Aku sedih melihat makanan yang masih utuh ditinggal begitu saja padahal aku sudah capek-capek masak," tangis Ken meledak saat itu juga. Hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini untuk mengungkapkan kekesalan dan rasa malu sekaligus.
"Kenapa dari tadi kok bikin masalah terus?"
"Siapa yang bikin masalah?" tanya Al tidak faham dengan arah pembicaraan gadis itu.
"Aku ke depan ngambil kemangi. Siapa yang bilang makananmu tidak enak," Al berusaha bicara dengan tenang.
Ken makin bingung. Apa yang dikatakan pria itu memang benar. Ia terlalu cepat memutuskan sesuatu berdasarkan pikirannya sendiri.
"Jadi?" tanya Ken bingung.
"Jadi .. jadi? Jadi apa?" gerutu Al kecewa. Sudah capek-capek ngambil lalapan malah yang mau dimakan keburu dihabisin kucing.
"Jadi aku makan, apa? Harusnya aku yang tanya!" ujarnya lagi.
"Kenapa jadi kamu yang marah?" protesnya lagi.
__ADS_1
"Maaf," Ken tertunduk malu. Ia segera sadar akan tindakannya itu.
Lagi-lagi ia berbuat kesalahan. Kali ini malah lebih memalukan. Ia hanya bisa terpaku di tempat duduknya, tidak berani bergeser sedikitpun.
"Aku makan apa? Jangan mentang-mentang udah kenyang kau diem aja,"
"Iya, aku masakin lagi ya?" Ken buru-buru berdiri.
Ken bingung, tergopoh-gopoh ia menuju ke kulkas. Semua box yang berisi lauk ia buka satu persatu. Ada cumi, udang, pilet ikan tapi semuanya masih beku. Jika langsung dimasak pasti akan meledak-ledak.
"Duh, gimana ini?" Pikirannya begitu keras.
Ia berusaha melirik ke arah majikannya itu. Pria itu masih duduk dengan tenang di meja makan. Sepertinya ia memang lapar dan menunggu di buatkan masakan.
"Lauknya masih pada beku," Ken memberanikan diri untuk bersuara.
"Apa aja, yang penting ada," sahutnya tanpa memandang ke arah Keny.
"Telor ceplok, ya!"
"Iya,"
Dalam sekejap telor ceplok itu sudah matang, terlihat bagian pinggirnya gosong dan kulit luarnya kecoklatan.
Dengan langkah pelan dan hati-hati, ia membawa satu telor ceplok yang masih panas itu dan memberikan pada pria itu.
"Ini,"
Tanpa suara, Al mengambil satu centong nasi dan menuangkan ke piringnya. Mengambil telor ceplok yang baru saja di buat oleh Ken berikut beberapa sendok sup jamur. Dengan tenang ia menikmati menu ala kadarnya itu.
"Habiskan makananmu," perintah pria itu karena ia melihat Ken masih saja berdiri di sampingnya.
Buru-buru Ken duduk di tempatnya semula, ia melanjutkan sisa ikan yang belum selesai di santapnya. Ia tidak berani memandang laki-laki yang ada di depannya karena pria itu juga melakukan hal yang sama.
Saat telor itu dipotong, tenyata bagian kuningnya masih cair. Al menyingkirkan telor yang meleleh dan hanya makan bagian putihnya saja.
__ADS_1
Lagi-lagi Ken merasa bersalah, melihat majikannya makan hanya dengan putih telor dan sup jamur sedangkan lauk utamanya ia nikmati sendiri.
"Enak?" tanya Al pada Ken.
"Enak," jawab Ken ragu dan sedikit takut.
"Mau?" Ken coba menawarkan. Setelah ia membalik ikan itu, dagingnya masih lumayan banyak.
Al menyodorkan piringnya ke arah Ken namun ia masih diam. Sesekali ia memandang gadis itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
Ken meletakkan daging ikan yang sudah ia pisahkan dari durinya ke dalam piring nasi Al. Setelah cukup banyak, pria itu menarik piringnya dan mulai menyantap hidangannya lagi.
"Maaf, ya! Besok aku buatkan lagi kalau mau yang seperti ini," ujar Ken masih dengan nada penuh penyesalan.
Al masih diam, ia terus saja makan. Mencocol potongan ikan itu ke dalam sambel kecap yang sudah berantakan. Kemangi dan daun selada juga ia habiskan sebagai pemberi sambel kecap itu.
Melihat pria itu begitu lahap menyantap sisa makanan, Ken makin sedih namun belum bisa menebak apakah bosnya ini akan marah atau tidak?
Satu butir nasipun tidak tersisa dipiringnnya. Kini ia terlihat sedang mencari sesuatu. Karena Ken tidak menyadarinya, akhirnya ia berdiri dari tempat duduknya menuju ke arah wastafel untuk mencuci tangan. Tak lama kemudian ia mengambil gelas yang ada di rak dan mengisinya dengan air hangat.
"Ya Allah, air minumnya kan sudah aku habiska," Ken menepuk keras keningnya hingga pria itu menoleh ke arahnya.
Tanpa berkata apapun, ia kembali ke kamarnya dan meninggalkan Ken yang masih terpaku di meja makan.
"Akankah nasibku akan tamat di hari pertama kerja?"
Ken hanya bisa menyesali perbuatannya. Sikap ceroboh dan terlalu cepat memutuskan sesuatu telah membuatnya harus menanggung malu yang berlapis-lapis hari ini.
******
Happy reading all! Author tidak bosan-bosan minta dukungannya. Mohon untuk tinggalkan
✓ LIKE
✓ KOMENTAR
__ADS_1
✓ VOTE -nya ya.
Apresiasi dari kalian semua membuat saya semakin bersemangat untuk update, terimakasih!!!